Bunga Tanpa Nama

Jeffri. Menemukan bunga pada siang itu. Sepulang bekerja, setangkai tulip putih ada di bawah pintu rumahnya. Dilihat dari sisi manapun, Jeffri tiada menangkap adanya pesan. Setidaknya, nama pengirim. Namun mata telanjang sungguh tak mendapat petunjuk. Murni sebatang tulip dengan plastik membalut badan. Jeffri berterima kasih atas hal itu, tetapi letih mengambil porsi yang lebih besar, mendominasi fisik maupun isi kepala. Tanda tanya tersudutkan dalam ruang sempit. Tak payahlah mengambil pusing lagi, dibawa masuk bunga itu, menjadi penghias dalam vas pemberian ibunda. Raga tiada menunggu untuk menyatu dengan kasur. Terkatuplah mata, mengetuk dunia bawah sadar.


Lagi.

Tulip putih. Di tempat yang sama. Setangkai. Tiada huruf yang tertera, inisial sekalipun. Namun Jeffri malas bertanya-tanya. Ada pekerjaan kantor yang harus diutamakan bila tak ingin seantero ruangan mendengar nama lengkapnya disebut dari kantor direktur. Reputasinya bisa hancur nanti. Tangan membuka kunci, menggiring bunga itu ke vas yang sama.


“Enggak usah sembunyi-sembunyi lagi deh.”

Di hadapan Whisnu, ialah sesosok penuh Jeffri. Siluetnya mewarnai wajah dan sekujur tubuh, menghalangi pantulan sinar dari jendela rumah makan.

“Hah?” Dahi mengerut.

“Kau yang mengirimkan tulip putih itu kan? Soalnya seminggu ini kau sering pulang lebih awal.”

“Lalu?”

“Kau meletakkan setangkai tulip di bawah pintuku.”

“Asal kau tahu saja aku enggak ada waktu untuk mampir ke rumahmu.” Whisnu menghela napas. “Enggak ingat aku pernah bilang, aku harus mengurus keponakan juga?”

Memori yang disebutkan menghantam sel-sel otaknya, memutar kembali kata-kata sama persis. “Karena itu kau selalu pulang lebih awal akhir-akhir ini?”

Angguk pelan menjadi respons.

“Kalau bukan kau, terus siapa?”

“Mana kutahu? Kenapa enggak coba cari saja?”

“Masalahnya enggak ada nama pengirimnya!” Suara meningkat seoktaf lebih tinggi. Hampir-hampir menarik perhatian karyawan di sekitar.

“Terus, kenapa pula kau langsung menuduhku?” Whisnu mengambil sesendok terakhir nasi padang, membawanya ke dalam mulut. Gigi mengoyak butir-butir nasi dan sayur nangka sembari menunggu jawaban terlontar.

“Aku merasa kau punya banyak salah padaku, jadi kupikir itu inisiatifmu meminta maaf.”

Menelan lumatan makanan, terdengar kekehan. Jeffri tak repot-repot menggubris lagi dan lanjut menyantap rendang.

Whisnu mengangkat gelas es jeruknya, menenggak isinya hingga mengaliri tenggorokan. Manis dalam gulanya mengambil alih rasa gurih yang dicecap pada nasi padang. “Tanya tetanggamu. Aku yakin pasti mereka melihatnya kalau sudah semingguan ini dapat kiriman yang sama.”

Iris Jeffri menangkup daging yang tinggal dua di piringnya. Batin menimang-nimang saran tersebut. Pasalnya, ia tidak memiliki hubungan sedekat itu dengan orang sekitar rumah. Anehlah bila tiba-tiba dirinya mendatangi salah satu dari mereka, menanyakan perihal bunga yang begitu sepele.

“Akan kucoba nanti.”


Kegelisahan mendatangi salah satu dari tetangga menjadi perasaan yang sia-sia untuk dipikirkan. Pekerjaan lebih cepat selesai. Bersama Whisnu, ia melangkah keluar dari gedung. Keduanya mengambil angkutan umum dengan arah yang berlawanan. Di tengah jalanan padat, roda-roda berjalan mengadat-adat, Jeffri memanjat keinginan untuk bertemu pengirim bunga. Tak ragu ia melayangkan protes, hei tak bisakah kau menyetir lebih cepat?!

Dan di sinilah dia. Dua pasang mata saling bertemu.

“Apa maksudmu mengirimkan tulip ini, Bianka?”

Bianka, sosok yang dicari-cari, berusaha mengulum senyum. Sendu tergurat dalam wajah rupawan, tetapi kilap penuh harap terpancar dalam bola matanya. “Kau suka ketika aku memberimu tulip putih.”

Kesadaran mendebur bagai ombak. Bahwa bahasa bunga menggantikan permohonan maaf dari mulut Bianka. “Aku sudah tidak menyukainya lagi.”

“Aku tahu. Tapi, bukan cuma itu yang ingin kusampaikan.” Menarik napas, Bianka menuntaskan konversasi keduanya.

“Kembalilah padaku.”


Takut. Ketika legam menjadi kelambu. Menyelimuti sampai ujung cakrawala. Kopi terasa dingin. Hangatnya berpindah ke pelupuk mata Jeffri, menitikkan air mata melaju bersama bunyi mesin kendaraan, mendistorsi kesenyapan pukul satu. Terngiang akan kata yang enggan lepas dari pangkal lidah, kendati dada sudah terasa sesak.

Adalah ego yang menetap, menggerogoti benak dengan perasaan yang mengacak. Tiada enggan meninggalkan tempat barang seinci. Menyeru keputusan menggantungkan kata-kata terakhir Bianka dalam kelambu legam. Bukannya ia tak mau, aku sangat mau!

Namun, jalinan tali kasih dengan Bianka tahun lalu berakhir hanya karena kerapuhannya. Jeffri butuh tempat bersandar ketika ia jatuh dan Bianka adalah orang pertama dalam pikirannya.

Sayang, Bianka tak berpikir demikian. Ekspektasinya akan pemuda itu runtuh. Kebencian memilih meninggalkan Jeffri. Egois kan? Jeffri membatin, kendati mengaku bahwa ia tak jauh berbeda. Enggan memikirkan perasaan Bianka. Sembarangan bersandar. Bilamana ia menyambut tangan Bianka dengan segera kala itu, Jeffri tidak yakin apakah sanggup menahan keinginan untuk bersandar. [end]


(https://www.goodfon.com/wallpaper/tsvety-tiulpany-belye-temnyi-fon-svet-klumba-sad-vodoem-vesn.html)

1 Like