Benarkah habbit nongkrong di café menjadi suatu keharusan bagi mahasiswa?


Sumber : Tak Sekadar Kongkow, Ini Manfaat Sering Nongkrong di Cafe - Pikiran-Rakyat.com

Menjadi seorang mahasiswa sangat identik dengan kegiatan bersocial dalam berbagai hal. Seperti rapat, nugas bareng, atau sekedar nongkrong biasa untuk bercanda gurau. Dan rata rata kampus disetiap daerah, memiliki kebiasaan nongkrong yang relative sama. Namun dalam hal lain, nongkrong di cafe secara berlebihan dapat menimbulkan sifat hedonism, dan di sisi lain tidak semua mahasiswa mampu untuk nongkrong di café, sehingga timbul kesenjangan social antar mahasiswa antara yang suka ke café dan yang sebaliknya.
Dan juga di setiap coffee shop memiiki range harga yang berbeda-beda tergantung suasana dan menu yang ditawarkan. Sehingga dalam pemilihan tempat nongkrong juga tak jarang menjadi sumber perdebatan dan perbedaan antara mahasiswa yang memiliki ekonomi baik dan mahasiswa yang memiliki ekonomi kurang.
Melihat fenomena ini menurut anda, esensi sebenarnya dari nongkong itu seperti apa sih? Dan apakah seseorang yang mendedikasikan dirinya sebagai mahasiswa harus bersedia untuk menjadi anak tongkrongan?

1 Like

Hallo kak, wihhh keren banget nihhh topik nya, kebetulan saya juga seorang mahasiswa sekaligus anak tongkrongan juga sihh hehhehehe, Benarkah habbit nongkrong di café menjadi suatu keharusan bagi mahasiswa? Dari sudut pandang saya, habbit nongkrong di cafe tak harus seorang mahasiswa bahkan karyawan kantor pun atau driver ojol pun sering nongkrong di cafe, dan tak selamanya yang nongkrong di cafe adalah seorang mahasiswa, semuanya itu kembali lagi pada kondisi ekonomi dari individu tersebut, dimana jika ekonomi nya cukup maka dia bisa nongkrong di mana saja, dan tak harus di cafe bahkan di mall, hotel dan dimana pun bisa mereka kunjungi baik itu untuk mediskusikan tugas kampus (Jika dia seorang mahasiswa) maupun membahas tentang bisnis (Jika dia seorang entrepreneur), jadi kesimpulan yang saya ambil ialah, nongkrong di cafe bukan merupakan sebuah habbit dari seorang mahasiswa melainkan habbit dari setiap masyarakat baik itu masyrakat kota maupun masyrakat desa yang berkecukupan dari segi ekonomi, dan jika kondisi ekonomi mereka tak tercukupi tentu saja bukan cafe yang menjadi tempat tujuan mereka untuk berdiskusi.

Source:

Saya juga setuju, Kak. Salah satu penyebab adanya habit seorang mahasiswa untuk nongkrong di cafe juga karena kebutuhan dan tuntutan jaman. Tidak seperti anak SMA maupun SMP, mahasiswa sudah dituntut untuk menyelesaikan problem Mereka sendiri tanpa banyak campur tangan dari dosen. Nah, guna menyelesaikan persoalan yang ada para mahasiswa ini biasanya berdiskusi satu sama lain. Jadilah kafe ini sebagai tempat berkumpul sehingga muncul stigma mahasiswa sering nongkrong di kafe. Kehidupan mahasiswa yang serba pas-pas an juga mengharuskan mereka untuk memutar otak bagaimana caranya mendapatkan koneksi internet secara mudah dan murah. Seperti kita ketahui bahwa sebagian besar cafe menyediakan fasilitas Wi-Fi, hal ini dimanfaatkan khususnya oleh mahasiswa tingkat akhir untuk menyelesaikan tugas dengan cara memesan cemilan maupun minuman murah untuk kemudian duduk berjam-jam di kafe sembari mengerjakan tugas. Hal ini sebenarnya bergantung pada tujuan dan lingkungan mahasiswa itu sendiri. Apakah memang kebutuhan atau sekedar lifestyle itu tergantung individu masing-masing.

Referensi :

Kalau menurut saya bukan keharusan, tapi sebuah kebutuhan. Lantas kebutuhan seperti apa yang dimaksudkan?

Hadirnya Cafe di era modern ini menjadi tren di masyarakat, target marketing yang ditujukan oleh para pemilik cafe tentu saja para remaja generasi Z. Adanya media sosial Instagram dan tagar-tagar menjadikan cafe seolah-olah sebagai kebutuhan primer individu.

Nongkrong di cafe menjadi pembuktian identitas kelas sosial seseorang, hanya dengan duduk di cafe lalu memesan menu yang disediakan kemudian memotretnya dan mengunggahnya di media sosial akan mendikte pengikut media sosial mereka seperti apakah kelas sosial individu tersebut. Para pemilik cafe juga rela merogoh kocek demi merombak interior cafe agar bisa sesuai dengan tren “Instragammable” dan menyediakan fasilitas seperti Wifi, AC, Dll.

Bagi mahasiswa sendiri, cafe, diibaratkan sebagai the second home yakni tempat tujuan ketika mereka ingin bertemu sesama mahasiswa, kumpul-kumpul, rapat organisasi, mengerjakan tugas kelompok, atau hanya ingin duduk sendirian sambil mendengarkan musik.

Pertanyaanya adalah? Kenapa harus di Cafe? Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rafika Mustaqimah, representasi cafe menjadi kebutuhan sarana atau simbol seseorang dalam pembuktian kelas sosial yang kemudian seiring berjalannya waktu, representasi cafe kemudian menjadi the second home tujuan generasi muda baik itu mahasiswa atau siswa SMA/SMP

Summary

Skripsi Rafika Mustaqimah Wardah. “Tren Kafe Sebagai Penanda Kelas Sosial”

Setuju kak karena dimasa sekarang, nongkrong untuk beberapa kalangan bisa dikatakan aktivitas wajib. Apalagi sekarang sudah di era teknologi yang dapat menghubungan informasi aktivitas kita melalui Instagram. Anak muda sering kali meng-update aktivitasnya terutama saat mereka berada di coffee shop, mungkin agar dilihat berkelas. Mulai lah banyak dikatakan bahwa aktivitas nongkrong seseorang sebagai gaya hidup.

Betul saya setuju dengan uraian yang kakak sampaiakan.

Tapi di sini saya juga menemukan sudut pandang yang berbeda yang menurut saya menjadi andil besar. Perlu dicermati tampaknya di era sekarang jika hanya berpatok pada sisi ekonomi saja yang menjadikan alasan mahasiswa ataupun seseorang nongkrong di kafe tampaknya kurang pas. Ya kecuali kalau untuk merk minuman yang berlogo perempuan mahkota hijau mungkin masih bisa diperdebatkan, wkwkwk

Sekarang nongkrong di kage bukanlah sesuatu yang dianggap mahal. Di sini saya sekerang menyebutnya sebagai tren tersendiri. Nah dari pengamatan saya, tren tersebut sangat dipengaruhi oleh perkembangan zaman khususnya sosial media yang semakin ng-ehits. Dampak dari sosial media khususnya fitur story sangat menyumbang fenomena tren nongkrong di kafe semakin meningkat, bahkan untuk anak yang masih SMP, SMA sekalipun.

Dari sini sbenernya bisa kita mengerti, bahwa untuk nongkrong di kafe hanyalah bentuk kemajuan tren dalam satu aspek saja. Masih ada aspek lain yang diakibatkan oleh faktor serupa, seperti cara berpenampilan, tren online shop, bidang wisata, dan masih banyak yang lain.

Salam kenal kak saya asal Medan, Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara…
menurut pandangan saya kalau dikatakan “habbit” bisa sih, tapi bukanlah suatu keharusan yaa, banyak juga kok mahasiwa yang senang nongkrong di taman, perpustakaan, bahkan sering juga saya lihat mahasiswa ngumpul versi low budget di kost an temen…
Dengan dua pandangan yang berbeda, jika mahasiswa menjadikan suatu keharusan, sepertinya kurang tepat, namun jika mahasiswa mempunyai Habbit berupa kegiatan berkumpul yang sering disebut dengan kata nongkrong itu sangat tepat. sebab selain menghilangkan rasa penat dengan bertemu teman sejawat, di sisi lain mahasiswa juga membutuhkan suasana yang berbeda untuk dijadikan tempat berdiskusi, nugas, atau mungkin sekedar menghilangkan rasa bosan…

Sumber terkait : 16 Tempat para mahasiswa menghabiskan waktu saat nggak ngampus

Wah menarik juga ya untuk di bahas. Mengenai nongkrong, perlu di garis bawahi nih nongkrong seperti apa yang di maksud. Karena bagi saya, ada 2 jenis tongkrongan nih. Ada yang nongkrong membawa habbit baik, ada juga yang nongkrong membawa habbit buruk. Selama saya kuliah sih, setiap nongkrong pasti pembicaraannya berbobot, bermakna dan bermanfaat banget. Tapi habbit nya yang berbeda. Ada yang nongkrong inget waktu, ada juga sampai lupa waktu. Ada yang pada akhirnya membuat aktivitas bermanfaat, ada juga yang malah ngerencanain hal-hal yang berisiko besar. Kalau di bilang suatu keharusan sih ya harus. Kalau ga nongkrong, jadinya ga sosialisasi ya ga baik juga. Semakin sering nongkrong, semakin terbuka wawasan dan pemikiran kita. Kalau diem terus malah jadi ga ngenalin dunia luar.

Jadi bagi aku harus banget bagi mahasiswa nongkrong. Tapi ya nongkrong yang membawa manfaat bukan ujung-ujungnya maksiat hehe.

Nah kalau ini pendapatku, bagaimana pendapatmu??

wah, baik ka terima kasih atas pertanyaanya
nongkrong di cafe sebuah keharusan bagi mahasiswa?
menurut aku pribadi tidak harus untuk nongkrong di cafe karena memang tidak ada yang mengharuskan untuk nongkrong di cafe.

namun jika kita lihat apa yang menjadi penyebab atau alasan mahasiswa banyak yang nongkrong di cafe

  1. Tempat Nyaman Menghilangkan Rasa Bosan
    Alasan utama kenapa cafe jadi pilihan tempat nongkrong karena lebih nyaman dan santai dibandingkan restoran atau warung kopi. Restoran terkesan lebih formal and usai makan konsumen akan langsung pulang. Sedangkan warung kopi lebih terkesan terlalu tradisional. Generasi milenial membutuhkan tempat seperti cafe yang nyaman demi menghilangkan rasa bosan dari kegiatan sehari-hari. Baik itu belajar di kampus atau lelah dengan pekerjaan padat setiap minggunya.
  2. Nongkrong Sudah Menjadi Gaya Hidup agar Eksis Gaya hidup juga menjadi alasan besar mengapa budaya nongkrong terus dilakukan. Karakter generasi milenial adalah ingin agar eksistensinya terus dihargai secara sosial. Oleh karena itu tidak sedikit yang datang ke cafe untuk benar-benar menikmati sajian kopi atau makanan.
  3. Promosi Menarik dari Sosial Media
    Kebiasaan nongkrong juga tidak terlepas dari peran besar sosial media. Anak muda milenial merupakan generasi yang mengalami transisi teknologi analog berubah ke digital. Pada masa-masa inilah sosial media begitu banyak digunakan. Sosial media seperti Instagram mampi menampilkan foto atau video dari berbagai jenis cafe dengan lokasi menarik.
  4. Tempat Nyaman untuk Nugas dan Kerja Tak dapat dipungkiri bahwa cafe adalah tempat yang nyaman, tidak terlalu ramai seperti restoran. Ruang yang lega serta fasilitas lengkap membuat cafe jadi tempat paling nyaman bagi mahasiswa mengerjakan tugas, skripsi atau tesis.

perlu disampaikan kembali, nongkrong sendiri bukan suatu keharusan tetapi suatu keinginan, baik dari keinginan diri sendiri maupun orang lain. tidak memaksakan diri untuk mengikuti kebiasan orang lain jika diri sendiri masih perlu hemat dan tidak ingin. serta kita bisa dilingkungan rumah sendir secara bersama-sama dan sebagainya.

mungkin hanya itu pendapat dari aku

Referensi: