Bagaimanakah Islam melihat nafsu manusia?


(Amalia Laisa) #1

Menurut KH. Ali Usman, nafsu manusia terdiri dari 5 jenis, empat jenis nafsu yang harus dikendalikan dan satu jenis nafsu yang harus dipelihara. Empat nafsu yang harus dikendalikan, yaitu:

1)Nafsu Amarah Bissu’, yaitu nafsu yang sering mendorong manusia untuk berbuat dosa dan kejahatan.

Dan mereka menanyakan kepadamu: "Benarkah (azab yang dijanjikan) itu? Katakanlah: “Ya, demi Tuhanku, Sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya)”. QS. Yunus [10] : 532.

  1. Nafsu Lawwamah, yaitu nafsu dengan jiwa yang amat menyesali diri sendiri seperti

Dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri) [1530]P9F��P. QS. Al-Qiyamah [75] : 2

  1. Nafsu sawwamah, yaitu hawa nafsu yang sering kali menggambarkan dan menghiaskan sesuatu maksiat atau kejahatan menjadi indah dalam angan dan khayalmu.

4)Nafsu Mulhamam, yaitu hawa nafsu yang sering mendorong tingkah laku kekafiran atau kedurhakaan atau ketaqwaan,

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. QS. Asy-Syams [91] :

Sedangkan nafsu yang harus dipelihara, yaitu Nafsu Mutmainnah, yaitu nafsu yang telah mendapatkan tuntunan dan pemelihara yang baik sehingga menjadi tentram, bersikap baik, dapat menolak perbuatan jahat, dan dapat mendorong manusia untuk berbuat kebajikan.


( Aurora Ridha Zetana) #2

Menurut Drs. Totok Jumantoro dalam bukunya yang berjudul “Kamus Ilmu Tasawuf”, nafs diartikan dengan jiwa, diri, dan ego. Nafs adalah dimensi manusia yang berada di antara roh dan jasmani. Di kalangan ahli sufi, nafs diartikan sesuatu yang melahirkan sifat tercela. Al-Ghazali, misalnya menyebut nafs sebagai pusat potensi marah dan syahwat pada manusia dan sebagai pangkal dari segala sifat tercela.

Pengertian ini antara lain dipahami dari hadis, musuhmu yang paling berat adalah nafsumu.

Nafsu juga dimaknai dengan kehalusan rohani. Ia adalah manusia dalam arti kata yang sebenarnya dan juga merupakan jati diri dan substansi manusia. Nafsu juga dimaknai dengan substansi pada diri manusia yang berisikan potensi emosidan syahwat. Makna ini kebiasaannya digunakan oleh kalangan ahli tasawuf karena mereka memaknai nafsu sebagai sumber yang menghimpun sifat-sifat tercela dari manusia.

Dalam Al-Qur’an, kata nafs mempunyai berbagai makna yaitu:

####1.Nafs yang diartikan sebagai diri atau seseorang,

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. QS.,Ali-Imran (3): 61.

####2. Nafs yang diartikan sebagai diri Tuhan

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman. QS.,Al-An’aam (6): 12.38

####3. Nafs yang diartikan sebagai roh

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” QS.,Al-An’aam (6): 93.39

####4. Nafs yang diartikan sebagai jiwa

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) QS.,As-Syams (91): 7.40

####5.Nafs yang diartikan sebagai totalitas manusia,

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. QS.,Al-Maidah (5): 32

####6. Nafs, diartikan sebagai sisi dalam manusia yang melahirkan tingkah laku,

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. QS.,Ar-Ra’d (13): 11.


(Ava Nafiza Wibowo) #3

Allah menyifati nafsu dalam Al-Qur’an dengan tiga sifat: muthma’innah (jiwa yang tenang), lawwamah (jiwa yang menyesal), ammarah bissu’ (jiwa yang menyuruh berbuat jahat).

Nafsu Muthma’innah

Al-nafs yang memiliki ketenangan dan ketenteraman dalam mengemban amanat Allah dan tidak mudah terguncang karena adanya tantangan yang timbul oleh hawa nafsu disebut al-nafs al-muthma’innat. Kepada jiwa ini, Allah menghimbau dengan himbauan sebagai berikut;

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Q.S., Al-Fajr (89): 27-28

Ibnu Abbas berkata “Muthma’innah" artinya yang membenarkan. Qatadah berpendapat muthma’innah yaitu, “hanyalah orang-orang yang beriman, yang jiwanya tenang terhadap apa yang dijanjikan Allah” . Orang yang berjiwa tenang ini akan nampak pada akhlaknya, bersikap tenang, sabar, dan sanggup menerima setiap cobaan dari Allah.

  • Jiwa ini telah mantap imannya dan tidak mendorong perilaku buruk. Jiwa yang tenang yang telah menomor duakan nikmat materi.

  • Jiwa ini adalah jiwa yang telah mampu menundukkan kekuatan hawa nafsunya, mampu menetralkannya ketika dorongan hawa nafsunya menggejolak, mampu mengalahkan kekuatan syaitan, stabil dan selalu menetapi kebaikandan tidak mudah goncang dalam kondisi apapun dan dimana pun.

  • Jiwa ini selalu bersabar dalam melakukan kebaikan, menghadapi cobaan dan senantiasa bersyukur dari kebaikan dan nikmat yang diberikan Allah .

  • Jiwa ini menjadikan roh dah qalbnya sebagai raja yang selalu dapat menundukkan hawa nafsunya dan senantiasa merasa bersama Allah.

  • Jiwa ini yang berhijrah dari segala sesuatu yang di benci atau yang dilarang oleh Allah menuju kepada perbuatan yang diridhaiNya. Umpamanya dari sikap ragu-ragu kepada memperoleh keyakinan. Dari bodoh kepada berilmu pengetahuan, dari lalai kepada ingat kepada Allah.

Pemilik nafsu ini dalam hal cara mengetahui asma Allah dan sifat-sifat-Nya selalu merasa tenang dengan pemberitaan dari-Nya dan dariRasul-Nya tentang diri-Nya. Kemudian, ia juga merasa tenang dengan pemberitaan-Nya mengenai apa yang akan terjadi setelah kematiannya, yaitu berupa urusan-urusan alam barzakh dan peristiwa yang mengiringinya. Misalnya, huru-hara kiamat, hingga seolah-olah ia menyaksikannya dengan jelas.

Bahkan, bila ia menemui syubhat dan syahwat, ia akan dudukkan pada wilayah was-was. Yang seandainya ia jatuh dari langit ke bumi, hal itu lebih ia sukai dari mendapatinya. Ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad “kejelasan iman.” Selain itu, ia juga tenang (menghindari) keinginan bermaksiat serta mengalihkannya menuju ketenangan dan kenikmatan taubat.

Dengan begitu, jiwanya menjadi ingat dan anggota tubuhnya menjadi tunduk. Ia berjalan menuju Allah seraya menundukkan kepala karena menyaksikan nikmat-nikmat-Nya serta melihat kejahatan dan aib-aib dirinya. Ia tenang terhadap ketetapan Allah sehingga ia pasrah dan ridha dengan ketetapan-Nya, tidak marah, mengadu, dan merusak keimanannya.

Karena itu, ia tidak berputus asa terhadap apa yangtidak ia peroleh dan tidak merasa terlalu senang terhadap apa yang telah diberikan kepadanya. Sebab, musibah yang menimpa tersebut sudah ditentukan sebelum ia menimpa dirinya. Bahkan sebelum ia diciptakan.

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izinAllah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu Q.S., At-Taghabun (64): 11

Nafsu Lawwamah

Kalau al-nafs dalam pengertian pertama (nafs muthma’innah) kembali ke hadirat Allah, maka al-nafs dalam pengertian kedua tidak, karena keadaannya yang tidak tenang dan menyerupai syaitan. Selanjutnya, al-nafs yang tidak memiliki ketenangan yang sempurna karena menjadi pendorong timbulnya hawa nafsu dan sekaligus juga penentang,

al-nafs al-lawwamah adalah jiwa yang masih mau mengalahkan dirinya ketika lari dalam mengingat dan beribadat kepada Allah

Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Q.S., Al-Qiyamah (75): 2.

Ini adalah jiwa yang memiliki tingkat kesadaran awal melawan nafsu al-ammarah bissu’. Dengan adanya bisikan dari hatinya, jiwa menyadari kelemahannya dan kembali kepada kemurniaannya. Jika ini berhasil, maka ia akan dapat meningkatkan diri kepada tingkat di atasnya (nafsu muthmainnah).

Jiwa bentuk ini terkadang mencela dirinya apabila ia berbuat kesalahan. Jiwa ini selalu menyesali keadaan dirinya yang sulit terlepas dari dosa dan kesalahan. Ia selalu mengakui kebesaran Allah, menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan dan ia mencela dirinya karena selalu mengikuti kata-kata syaitan dan hawa nafsunya.

Ada ulama yang berpendapat, An-Nafs Al-Lawwamah, ialah jiwayang tidak konsisten paada satu keadaan. Ia adalah hati yang banyak berbolak-balik dan berwarna-warni. Terkadang ia ingat dan lalai, menghadap dan berpaling, cinta dan benci, bahagia dan sedih, ridha dan marah, serta patuh dan takut.

lawwamah dibedakan menjadi dua , lawwamah yang tercela dan lawwamah yang terpuji.

  • Lawwamah yang tercela yaitu nafsu yang bodoh dan zalim, semuanya itu dicela olehAllah.

  • Lawwamah yang terpuji yaitu nafsu yang sentiasa berfungsi sebagai peneliti atas setiap tindakan seseorang. Apakah telah mengabdikan diri kepada Allah, beriman dan beramal soleh, serta segala kebaikan yang diperintahkan-Nya.

Kondisi jiwa seperti ini adalah kondisi perang intern dalam jiwa antara kebaikan dan kejahatan, antara syaitan dan hawa melawan ruh dan qalb, antara kebenaran dan kebatilan, antara apa yang diinginkan (disukai) Tuhan dan yang dibenci-Nya. Jiwa seperti ini juga belum stabil, masih selalu mengalami goncangan dan kegelisahan, kesedihan dan penyesalan serta pengakuan.

Diantara sifat-sifat tercela dari nafsu lawwamah ini adalah:

  • Menyadari kesalahan diri atau menyesal berbuat kejahatan.
  • Timbul perasaan takut kalau bersalah.
  • Kritis terhadap apa saja yang dinamakan kejahatan.
  • Heran kepada diri sendiri, mengira dirinya lebih baik dari orang lain(ujub).
  • Berbuat suatu kebaikan agar dilihat dan dikagumi orang (riya’).
  • Menceritakan kebaikan yang telah diperbuatnya supaya mendapatpujian orang (sum’ah).

Maka barang siapa yang merasatergetar dihatinya dengan sifat-sifat tercela tersebut, itulah tandanya ia termasuk dalam kategori naafsu lawwamah. Nafsu ini terdapat pada kebanyakan awam, tapi derajatnya sedikit tinggi dari nafsu ammarah. Sifat-sifat tercela pada orang nafsu lawwamah ini tidak akan dapat dikikis habis kecuali dengan berusaha dan berlatih melepaskan diri dari belenggu hawa nafsu, di samping terus–menerus berjuang (mujahadah) dijalan Allah.

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. Q.S., Al-Ankabut (29): 69

Dalam jiwa ini terdapat kebaikan yaitu: pengakuanakan kelemahan diri, kekuasaan Allah, penyesalan, dan kesadaran bahwa dia bersalah dan juga terdapat jenis keburukan yaitu kejahatan yang dilakukannya dengan sadar dan sengaja karena mengikuti kehendak hawa nafsu dan syaitan. Jiwa inilah yang berada pada bentuk pertengahan. Jika kekuatan ruhaninya lebih dari hawa nafsunya, maka ia mampu terlepas dari kejahatan dan jika satu saat kekuatan ruhaninya lebih lemah dari dorongan hawa nafsunya, maka jatuhlah ia kedalam lembah dosa dan kehinaan.

Nafsu Ammarah Bissu’

Al nafs yang menenggelamkan dirinya dalam kejahatan mengikut nafsu marah, syahwat, perut, dan godaan syaitan dinamakan al-nafs al-amarat bi al-su’ (jiwa yang jahat karena suka mendorong orang berbuat dosa).

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberirahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. Q.S., Yusuf (12): 53.

Nafsu ammarah adalah nafsu yang tercela, sebab ia selalu mengajak kepada kezaliman. Tidak seorang pun yang terlepas daripada nafsu ini,kecuali orang yang memperoleh pertolongan Allah.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan,maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.

Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Q.S., An-Nur (24): 21.

Perangai orang yang mempunyai nafsu ini memperturutkan kehendak hawa nafsu dan bisikan syaitan. Karena itu nafsu ammarah ini kerjanya senantiasa menyuruh berbuat maksiat, baik ia tahu perbuatan itu jahat atau tidak, baginya baik dan buruk adalah sama saja. Kejahatan dipandangnya tidak menjadikan apa-apa bila dikerjakan. Bahkan dia tidak mencela kejahatan, tapi sebaliknya dia selalu sinis dan suka mencela segala bentuk kebaikan yang diperbuat orang lain.

Orang yang jiwanya dalam kondisi ini juga seharusnya menyadari dirinya dan bertaubat kepada Allah serta membersihkan hatinya dari segala kotoran dengan memaksanya berbuat baik dan meninggalkan segala macam bentuk kejahatan. Jika tidak, jiwa ini juga akan selalu menjadi perusak karena sifatnya yang selalu condong pada kejahatan.

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. Q.S., Al-Baqarah (2): 205.

Sebagian dari sifat-sifat orang yang mempunyai nafsu ammarah ini ialah:

  • Bakhil dan kikir.
  • Tamak dan loba kepada harta benda.
  • Berlagak sombong dan takabbur (membanggakan diri).
  • Suka bermegah-megahan dan bermewah-mewahan.
  • Ingin namanya terkenal dan popular.
  • Hasad dan dengki.
  • Berniat jahat dan khianat.
  • Lupa kepada Allah

Jiwa golongan ini adalah bentuk jiwa terendah, jiwa yang telah dikuasai hawa nafsu dan syaitan dan bahkan orang yang memiliki kondisi jiwa seperti ini hampir sama kondisinya seperti syaitan yang juga selalu mengajak manusia kepada kesesatan.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apayang mereka ada-adakan. Q.S., Al-An’aam (6): 112.

Rasulullah juga mengajarkan

“Segala puji bagi Allah. Kami senantiasa memuji, meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amal perbuatan kami.”