Bagaimana sejarah Pura Maospait Gerenceng Denpasar ?


(Diana Raden Ayu ) #1

Menurut keterangan dari Babad Purana Maospait yang telah dialihaksarakan oleh Wayan S Satria pada tahun 1990 memuat sejarah Pura Maospait. Pada tahun 829 Ś/907 M di Balabatu bertahtalah Patih Jaya Katong yang memiliki keahlian dalam membuat candi. Jaya Katong memiliki putra bernama Arya Rigih dan mempunyai cucu yang bernama Arya Rigis dan Narottama yang mengabdi pada Raja Airlangga. Putra Arya Rigis bernama Arya Kedi mempunyai keturunan Arya Karang Buncing yang juga memiliki keahlian dalam bidang bangunan. Putra Arya Karang Buncing bernama Kebo Waruga/Kebo Iwa yang juga mewarisi keahlian dalam bidang bangunan pada tahun 1185 Ś/1263 M membuat kumpulan taruna yang berjumlah 33 arca batu.

Selain itu pada tahun 1197 Ś/1275 M ia membangun pura diberi nama Dalem Maya yang dipersembahkan untuk pemujaan Ida Betara. Akan tetapi menurut Babad Purana yang memuat keterangan mengenai hal itu tidak mencantumkan tempat dibangunnya pura tersebut.

Setelah pengerjaan pura tersebut, pada tahun 1200 Ś/1278 M Kebo Iwa membangun “Candi Raras Maospait” di daerah Badung. Ada kemungkinan nama asli Candi Raras tersebut bukanlah Maospait, karena pada tahun 1278 M kerajaan Majapahit belum berdiri. Menurut keterangan Babad Purana Maospait pada tahun 1247 Ś/1325 M Bali diperintah oleh Dalem Batu Ireng dengan Patih Kebo Iwa yang menyerukan pada rakyatnya bahwa Bali tidak akan diperintah dari negeri lain dan memiliki pemerintahan sendiri. Hal ini menegaskan bahwa Bali tidak ingin diperintah oleh Jawa.

Berita ini terdengar oleh Majapahit sehingga diutuslah Patih Gajah Mada dan Arya Damar untuk datang ke Bali. Tujuan kedatangan Gajah Mada ke Bali adalah untuk mengundang Kebo Iwa untuk datang ke Majapahit dengan dalih akan diberi wanita cantik sebagai hadiah dari Raja Majapahit.

Menyambut hadiah itu maka Kebo Iwa pun menerima undangan tersebut dan pergi ke Majapahit bersama Gajah Mada dan Arya Damar. Sesampainya di Majapahit, Gajah Mada yang ingin menguji kesaktian Kebo Iwa menyuruhnya untuk membuat sumur. Setelah Kebo Iwa sampai di dasar sumur, Gajah Mada memerintahkan pasukannya untuk menimbun sumur tersebut yang mengakibatkan Kebo Iwa kalah di Jawa.

Cerita rakyat yang masih hidup hingga kini, menceritakan tentang kematian Kebo Waruga (Kebo Iwa) di Majapahit dalam sumur karena ditimbun dengan tanah. Berkat kesaktiannya Kebo Iwa tidak meninggal kecuali dilemparkan lekesan (sirih beserta runtutannya yang diikat dengan benang) kepadanya. Setelah dilemparkan lekesan tersebut Kebo Iwa pun meninggal. Di Bali, ada beberapa arca yang menurut tradisi dianggap berhubungan dengan Kebo Iwa, diantaranya patung besar sedang berbaring di atas tempat tidur tinggi dan didukung oleh 35 pilar di Pura Taro Gianyar. Selain itu, arca yang disimpan di Pura Gudang Blahbatu juga dikatakan sebagai arca Kebo Iwa (Bernet Kempers 1960: 38).

Setelah kematian Kebo Iwa, para Arya Majapahit diperintahkan oleh Raja Majapahit untuk menundukkan Bali di bawah pemerintahan Majapahit. Serbuan pasukan Majapahit memberi kekalahan Dalem Ireng dan mengakibatkan kematiannya pada tahun 1265 Ś/1343 M. Kekalahan Dalem Ireng membawa suatu periode baru dalam pemerintahan Bali yaitu berkuasanya kerajaan Majapahit di Bali yang di wakili oleh Dalem Kresna Kepakisan.

Sewaktu pemerintahan Waturenggong, putra dari Dalem Smara Kepakisan diadakanlah upacara pitra yadnya di Maospait pada tahun 1373 Ś/1451 M. Setelah upacara, Waturenggong memerintahkan Pasek sebagai abdi dalem bertanggung jawab untuk memelihara kelestarian Pura Maospait.

Setelah pemerintahan Waturenggong, Bali pecah menjadi beberapa kerajaan, salah satunya adalah kerajaan Badung. Ketika itu Raja Badung berkeinginan membuat gedong penyawangan untuk menyandingi gedong “Candi Raras Maospait” yang terdahulu. Raja Badung memerintahkan Pasek (abdi dalem) pergi ke Majapahit untuk mengukur candi yang ada di sana.

Uraiannya sebagai berikut:

… caritanĕn Rajia Bandana ana Hyaunira, jaga karya gĕdong penyawangan ke Majapahit angge angabeh gĕdong Candi Raras Maospahit aneng dangu yatika inutus I Pasek Wangayah Mancagraha, lunga maring Majapahit aniru candine anĕng Majapahit. Sampun ping ruwa ping terini lungania, anu pati wawu sira I Pasĕk Wangayah Mancagraha molih amawa sikuting Candi Gedong Majapahit ramia wangayah amanca gerahing gĕdong ika maring Maospahit. Sira I Pasĕk Mancagraha nyencengin Bandung, aguron-guron wewangunan, inabih de Rajia Bandana, ana muwah Bendesa Tonja Parĕng rika. Puput gedongin Majapahit angĕmbari gedong Candi Raras Majapahit, duk, saka, warsaning bumi 1475.

Artinya kurang lebih (terjemahan bebas):

… Ceritakan sang raja (Bandana) berkeinginan untuk membuat persimpangan antara Pura Majapahit di Jawa, untuk disandingkan dengan Pura Maospahit. Untuk itu diutuslah I Pasek Wangayah ke Jawa untuk meniru pura yang ada di Majapahit, dua tiga kali I Pasek Wangayah ke Jawa akhirnya didapatlah ukuran-ukuran tersebut. Beliau I Pasek Mancagraha berkuasa dalam bidang pembangunan pura di wilyah Badung ini, di bantu oleh yang yang mulia Raja Bandana, Bendesa Tonja juga ikut serta di sana. Gedong majapahit itu selesai dibangun tahun 1475 Ś.

Pengerjaan Candi Raras Majapahit baru dapat diselesaikan pada tahun 1475 Ś/1553 M dan dibangun pula Balai Kembar dan Sanggah Kabuyutan (sanggah, paibon).

Atas karyanya itu, Pasek abdi Dalem diberi gelar Pasek Mancagraha Wangaya dan tempat tinggalnya diberi nama Gerenceng. Demikian keterangan Babad Purana Maospait yang menceritakan mengenai sejarah yang melatarbelakangi pembangunan kompleks Pura Maospait.

Peranan Kebo Iwa Dalam Pembangunan Pura Maospait.


Berdasarkan beberapa kutipan dari babad, lontar maupun cerita rakyat yang hingga kini masih ada, Kebo Iwa diceritakan sebagai seorang anak dari sepasang suami istri kaya yang lama tidak kunjung dianugerahi anak.

Kelahiran Kebo Iwa yang memiliki nama Kebo Waruga atau Kebo Taruna membawa kebahagiaan hanya sesaat saja. Hal ini disebabkan Kebo Taruna bukanlah bayi biasa karena memiliki kemampuan makan melebihi orang dewasa dan menyebabkan harta kekayaan orang tuanya habis demi membiayai kebutuhan makan saja. Ia pun tumbuh sebagai pemuda bertubuh tinggi besar atau raksasa sehingga ia pun dipanggil Kebo Iwa yang berarti paman kerbau.

Pada berbagai sumber data yang ada terdapat perbedaan mengenai masa Kebo Iwa hidup. Pada Babad Purana Maospait menyebutkan bahwa Kebo Iwa sudah ada pada abad ke-13 M karena pada masa itu ia sudah mendirikan Pura Dalem Maya pada tahun 1275 M dan membangun “Candi Raras Maospait pada tahun 1278 M.

Sedangkan menurut sumber data lainnya, salah satunya adalah Lontar Pura Gaduh, menyebutkan bahwa Kebo Iwa hidup pada masa pemerintahan Sri Astasuraratnabhumibanten pada abad ke-14 M dan menjabat sebagai patih raja.

Seperti yang tertera pada prasasti Patapan Langgahan yang menyebutkan bahwa Raja Sri Astasura Ratnabhumibanten mulai berkuasa di Bali pada tahun 1337 M.

Perbandingan dalam berbagai sumber data dapat diketahui bahwa ada ketidaksinambungan antara sumber yang satu dengan yang lain sehingga menimbulkan keraguan mengenai masa hidup Kebo Iwa.

Peranan Danghyang Nirartha Dalam Kehidupan Keagamaan Di Bali


Masyarakat Bali mengenal Danghyang Nirartha sebagai tokoh pembaharu ajaran keagamaan dan kemasyarakatan Hindu. Mengenai asal usulnya hanya disebutkan secara tersamar dalam sumber-sumber yang berkenaan dengan tokoh tersebut, sedangkan mengenai kegiatannya selama ia tinggal di Bali, cukup banyak sumber babad yang memberitakannya. Selain itu, ada pula cerita rakyat mengenai bangunan-bangunan yang dahulu didirikan untuk memperingati peristiwa berkenaan dengan singgahnya Danghyang Niratha di tempat-tempat tertentu (Munandar 1999: 197).

Danghyang Nirartha datang dari Jawa Timur ke Bali pada akhir abad ke- 15 M semasa kekuasaan Kerajaan Majapahit diambang keruntuhannya. Babad Dalem mengungkapkan bahwa pengembaraannya ke wilayah Timur Majapahit dimulai atas permintaan Danghyang Panataran (Rai Putra 1995: 33; Munandar 1999:197).

Sedangkan Babad Pasek menyatakan bahwa Danghyang Nirartha adalah brahmana dari Daha, pergi ke wilayah Majapahit ke daerah Panataran dan menemui Danghyang Panataran serta menetap di sana hingga berputra dua orang laki-laki (Sugriwa 1975: 79; Munandar 1999:197).

Uraian selanjutnya mengenai kisah hidup Danghyang Nirartha, selain di dalam Babad Dalem, Babad Pasek dan Babad Ksatrya Taman Bali diuraikan secara khusus dalam kitab Dwijendra Tattwa. Dalam kitab itu diuraikan kehidupannya yang dimulai sejak ia bermukim di Panataran, menjadi murid Danghyang Panawaran atau disebut juga Danghyang Panataran, mengabdi pada Dalem Waturenggong, hingga ia moksa di Pura Luhur Hulu Watu (Uluwatu) (Sugriwa 1991: 61; Munandar 1999: 197).

Jika nama Danghyang Panataran yang disebut dalam Babad Dalem dan Babad Pasek ialah tokoh agama tertinggi yang dihubungkan dengan Candi Panataran (mengurus dharma lpas Palah/Panataran), maka dapat diketahui pula bahwa Danghyang Nirartha dahulu bermukim cukup lama di Kompleks Panataran.

Atas anjuran Danghyang Panataran pula, maka Danghyang Nirartha meninggalkan Jawa Timur menuju Bali. Sebagai pendeta Hindu yang hidup pada saat Candi Panataran masih berfungsi, sangat mungkin Danghyang Nirartha memang tahu betul kehidupan keagamaan di kompleks Candi Panataran pada waktu itu. Dengan demikian dapat diduga bahwa pembaharuan Danghyang Nirartha terhadap agama Hindu Bali berdasarkan pada pengetahuan keagamaannya pada waktu ia tinggal di Panataran (Munandar 1999: 197 198).

Ketika Danghyang Nirartha tiba di Bali, pada waktu itu Bali diperintah oleh Dalem Waturenggong (1460-1558 M) yang berkedudukan di Gelgel. Bali pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong berada dalam masa kejayaannya. Dalam kitab Dwijendra Tattwa disebutkan bahwa Danghyang Nirartha sempat pula mengadakan perjalanan dan mengajarkan agama Hindu di wilayah kekuasaan Dalem Waturenggong di luar Bali, yaitu di Sasak (Lombok) dan Sumbawa (Sugriwa 1991:44-50; Munandar 1999: 198).

Sementara itu, Babad Dalem menguraikan bahwa setelah tiba di pulau Bali Danghyang Nirartha berjalan menyusuri pantai selatan Pulau Bali dan di beberapa tempat membangun pura sebagai tempat pemujaan. Pura-pura yang dapat dihubungkan dengan tokoh Danghyang Nirartha di antaranya; Pura Goa lawah, Pura Tanah Lot, Pura Bukit Payung, Pura Rambut Siwi dan Pura Purancak.

Selain itu, ada pula pura yang telah didirikan sebelum kedatangannya dan kemudian ditambah pelinggih atau bangunan suci oleh Danghyang Nirartha, misalnya Pura Dasar Bhuwana Gelgel dan Pura Uluwatu (Soebandi 1983: 28-29, 79-80; Munandar 1999: 199-200).

Uraian Babad Dalem menyatakan bahwa Dalem Waturenggong sangat menghormati Danghyang Nirartha. Hal ini terlihat ketika Danghyang Nirartha tiba di pulau Bali, Dalem Waturenggong segera menyuruh seorang pejabat Gelgel untuk menjemputnya serta telah disediakan pula asrama (katyagan) sebagai tempat tinggal Danghyang Nirartha.

Selain itu Babad Dalem juga menguraikan Dalem Waturenggong sangat memuliakan sang pendeta, terlihat pada tiap bulan purnama dan bulan mati selalu ada upacara untuk raja yang dipimpin oleh pendeta Nirartha, sehingga wibawa raja semakin tinggi, karena para dewa selalu bersemayam dengan sang raja (Agastia 1992/93: 67-68: Rai Putra 1995: 37: Munandar 1999: 201-202).

Dalam hal hubungan antara Danghyang Nirartha dengan Raja Waturenggong menurut Berg dapat disamakan dengan hubungan antara Airlangga dengan Pendeta Bharada. Para pendeta itu dapat disebut sebagai “pendeta pribadi” raja yang merupakan sumber kekuatan gaib bagi raja (Berg 1974: 33; Munandar 1999: 203).

Berdasarkan berbagai tinggalan arkeologi dan sumber tertulis di Bali, sebelum kedatangan Danghyang Nirartha pada paruh terakhir abad ke-15 M telah dikenal agama Hindu dan Buddha. Bukti-bukti artefak keagamaan menunjukkan bahwa agama Hindu lebih banyak dipeluk masyarakat dari pada agama Buddha.

Bangunan-bangunan sucinya kebanyakan berasal dari abad ke-11-13 M, ada yang berupa candi yang dipahatkan di dinding tebing (candi Gunung Kawi, Tampak Siring), Goa Pertapaan buatan (goa Gajah, goa Garbha), ceruk-ceruk pertapaan (Gunung Kawi, candi Padas Jukut Paku, candi Padas Krobokan), pemandian/sumber air suci/ partithan (tirtha di air Hampul), bangunan candi lengkap (di pura Mangening) dan juga arca-arca dewa yang disimpan di beberapa pura (Munandar 1999: 207).

Agaknya kedatangan Danghyang Nirartha dari Majapahit ke Bali membawa pula aspek-aspek kehidupan keagamaan yang dikenal saat itu di Majapahit. Berdasarkan bukti-bukti arkeologi, dalam abad ke-14 M di wilayah Jawa Timur ada suatu gejala baru yakni tidak terdapat arca-arca utama yang disembah dan adanya pembuatan kompleks bangunan suci yang terbagi dalam tiga halaman, misalnya candi Panataran yang berorientasi ke puncak gunung Kelud dan candi Sukuh berorientasi ke puncak gunung Lawu (Bernet Kempers 1959: 90-91, 101-103; Munandar 207).

Selain itu pula, ada kegiatan pembuatan bangunan suci yang diadakan di lereng-lereng gunung, seperti di Gunung Penanggungan, Arjuno, Lawu, Wilis (Van Romont 1951; Quaritch Wales 1953: 120-130; Bernet Kempers 1959: 99- 104; Munandar 1999: 207).

Kemungkinan lainnya, Danghyang Nirartha membawa pula pemikiran keagamaan dari Majapahit ke Bali. Hal itu dapat diketahui lewat bukti-bukti arkeologi adanya bentuk bangunan suci yang berbeda wujud fisiknya dengan bangunan suci yang telah dikenal sebelum kedatangan Danghyang Nirartha (Munandar 1999: 207).

Peranan Danghyang Nirartha Terhadap Konsep Pembangunan Pura Maospait


Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di Bali, sebelum kedatangan Danghyang Nirartha menunjukkan agama Hindu lebih banyak dianut dibandingkan dengan agama Buddha. Tinggalan arkeologis yang ditemukan menunjukkan bahwa kemungkinan pada abad ke-11-13 M bentuk bangunan keagamaan yang ada di Bali belum memiliki bentuk seperti pura yang terdiri atas tiga halaman.

Setelah kedatangan Danghyang Nirartha ke Bali, kemungkinan bentuk bangunan keagamaan di Bali berubah bentuk menjadi pura dengan tiga halaman dengan mengadaptasi bentuk bangunan keagamaan di Jawa Timur antara lain Candi Panataran. Bentuk bangunan Pura Maospait pada awalnya belum berbentuk pura yang terdiri atas tiga halaman, karena berdasarkan Babad Purana Maospait bangunan didirikan pertama kali pada tahun 1278.

Sebelum kedatangan Danghyang Nirartha hanya berupa satu bangunan saja. Bangunan itu kemungkinan Candi Raras Maospait yang ketika itu belum bernama Candi Raras Maospait, karena pada masa Bali pura belum diberi nama dan hanya menggunakan kata Hyang yang menunjukkan tempat pemujaan.

Setelah kedatangan Danghyang Nirartha, penggunaan nama Hyang diganti dengan pura, ia pun mengubah bentuk bangunan pura-pura yang ada di Bali. Tidak menutup kemungkinan jika pembangunan Pura Maospait selanjutnya mengikuti bentuk pura pada umumnya karena seperti yang telah diuraikan sebelumnya bangunan yang pertama kali dibangun adalah gedong Candi Raras Maospait dan pada perkembangan selanjutnya dibangun bangunan-bangunan pelengkap hingga dibagi menjadi tiga halaman.


(Diana Raden Ayu ) #2

Foto-foto Pura Maospait Gerenceng