Bagaimana sejarah Pembantaian Mandor Oleh Tentara Jepang (1943-1945) ?

Peristiwa Mandor

Peristiwa Mandor adalah peristiwa pembantaian massal yang menurut catatan sejarah terjadi pada tanggal 28 Juni 1944. Peristiwa Mandor ini sendiri sering dikenang dengan istilah Tragedi Mandor Berdarah yaitu telah terjadi pembantaian massal tanpa batas etnis dan ras oleh tentara Jepang.

Bagaimana sejarah Pembantaian Mandor Oleh Tentara Jepang (1943-1945) ?

Di daerah Mandor, Kalimantan Barat pernah terjadi peristiwa pembantaian atau genosida paling mengerikan. Sebanyak lebih dari 20.000 orang dibantai dengan keji meski tak salah apa-apa. Mayat-mayat korban itu akhirnya dikubur menjadi satu hingga susah untuk diidentifikasi.Menurut saksi mata, banyak penduduk usia di atas 12 tahun dikumpulkan. Mereka ditembak, ditutup kepalanya dengan plastik lalu dipenggal dengan samurai. Ada juga yang dibunuh dengan memasukkan air dari selang ke dalam mulut. Pemerintah Jepang ingin membuat Jepang kedua di tempat ini. Semua orang dewasa dibunuh dengan keji lalu yang anak-anak akan dididik dengan ajaran Jepang yang keras.

Peristiwa kelam ini berlangsung selama 2 tahun berturut-turut tepatnya antara 1943 - 1945, pada daerah Kecamatan Mandor, Kab Landak, Provinsi Kalimantan Barat. terjadi pemutusan generasi penerus Kalbar oleh jepang ( Genosida ), yaitu semua orang yang diketahui berumur 12 tahun ke atas akan di bunuh dan di libas dengan keji oleh pasukan huru hara Jepang.

Lalu anak-anak Pribumi Kalbar yang di bawah umur 12 tahun akan di didik oleh Tentara Jepang, selebihnya akan di gantikan oleh imigran epang untuk menempati Kalbar yang akan di jadikan sebagai negara Boneka tersebut.

Rakyat Kalbar khususnya mandor menjadi resah bukan kepalang, kepanikan dimana-mana, teriakan mempertahankan hidup tak dapat lagi disembunyikan, mungkin pada saat itu rakyat Kalbar menganggap ini tak ubah seperti Neraka buatan yang di ciptakan oleh dari Tangan Keji penguasa Jepang pada saat itu.

Pemerkosaan, perampokan, perampasan, dan penindasan menjadi menu kejam untuk Rakyat yang tak mengerti apa-apa.

Oleh karena itu, akhirnya membuat para cendikiawan, raja, tokoh suku, pemuka masyarakat dan beberapa Panembahan Kalbar menjadi bersatu padu untuk merundingkan, tentang bagaimana cara memukul mundur Jepang agar tindakan semena-mena ini dapat di hentikan. Namun hasil musyawarah rundingan tersebut tercium oleh endusan Jepang. Kecurigaan jepang semakin menjadi-jadi seketika mendapat informasi mengenai kedatangan dua utusan cendikiawan berasal dari Banjarmasin, yang bernama dr Soesilo dan Malay Wei.Akhirnya pada tanggal 28 Juni 1944, pasukan jepang dengan mudah menggagalkan rencana para cendikiawan tersebut, dengan diawali penculikan dan pembunuhan besar-besaran, Jepang memulai kembali untuk meluluh lantakan kekuatan Kalbar pada saat itu.

Masyarakat juga akan mendapatkan jemputan paksa oleh pihak Jepang yang menyungkupi kepala mereka dan akan di giring ke dalam Truck juga. Peristiwa penculikan dengan penungkupan kepala tersebut dikenal dengan istilah “Oto Sungkup”.Lalu setibanya di mandor, korban penculikan tersebut disuruh berkerja mati-matian, seperti pada program Jepang yang sangat populer yaitu Romusha.

Singkat kisah, setelah Hiroshima dan Nagasaki di Bom oleh sekutu Amerika, membuat Jepang kewalahan dan dilanda panik dalam menyusun kekuatan militer, terlebih Rezim Jerman yang pada saat itu yang merupakan sekutu Jepang telah menandatangani instrumen penyerahan diri pada tanggal 8 Mei 1945.Khususnya di Kalbar, momen tersebut benar-benar di manfaatkan untuk melakukan pemberontakan dalam tujuan mengusir Jepang secara besar-besaran. Semangat pemuda Kalbar semakin menjadi-jadi ketika tentara Jepang benar-benar kewalahan menghadapi kekompakan dan geriliya para rakyat.

Sumber :