Bagaimana sejarah dan perkembangan fotografi?

Bagaimana sejarah dan perkembangan fotografi?

Fotografi merupakan sebuah seni dan atau ilmu pengetahuan serta praktik menciptakan gambar yang tahan lama dengan merekam cahaya atau radiasi elektromagnetik lain, baik secara kimia melalui film fotografi atau secara eletronik melalui sebuah sensor gambar.
Bagaimana sejarah dan perkembangan fotografi?

1 Like

Fotografi berkembang sebagai dunia teknologi tersendiri dan teknologi fotografi telah mengubah wajah dunia menjadi dunia gambar. Pada awal mula lahirnya fotografi pada masa tersebut dengan ditemukannya sebuah kamera yang sangat sederhana yaitu camera obscura dan berkembang seiring berjalannya waktu hingga sampai ke era kamera digital yang segala sesuatunya serba canggih. Berbagai macam kamera dengan bentuk yang bervariasi dapat kita temukan di sekitar kita. Akan tetapi, apapun kameranya yang digunakan untuk memotret baik analog maupun digital pada prinsipnya sama yaitu merekam sebuah imaji yang dihasilkan melalui lensa.

Kepesatan perkembangan fotografi di dunia, tidak dapat dipungkiri kalau fotografi sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Berbagai macam objek baik mahluk hidup maupun benda mati menjadi suatu hal yang menarik untuk diabadikan dalam media fotografi mulai dari foto jurnalistik, foto dokumenter sampai ke fotografi sebagai media ekspresi seni. Dalam fotografi sebuah kamera bukan hanya sebagai alat dokumentasi, alat untuk “mengabadikan“ suatu peristiwa melainkan juga mampu menciptakan sesuatu yang baru, suatu karya fotografi yang mempunyai nilai seni. Maka fotografi dari awal ditemukan hingga revolusinya yang semakin canggih dalam memenuhi kebutuhan dapat sebagai alat bantu dalam upaya menciptakan imaji-imaji seni visual melalui gagasan, obyek, kreatifitas dan teknologi.

Perkembangan Fotografi


Pertengahan abad XIX hingga menjelang abad XX merupakan masa pengembangan fotografi yang sangat signifikan dalam bentuk dan proses penciptaannya. Pengembangan bentuk di bidang fotografi dalam hal ini berkaitan dengan perkembangan kamera dari camera obscura hingga kamera SLR (Single Lens Reflector), kemudian aplikasi penemuan lensa dan selanjutnya penemuan
negatif film yang terus disempurnakan sehingga memungkinkan orang memiliki
dan memotret dengan mudah. Di sisi lain perkembangan fotografi juga telah memberikan berbagai kemungkinan "kultural‟ bagi manusia untuk menciptakan
bentuk seni yang tidak mungkin dilakukan sebelumnya. Fenomena kemunculan fotografi pada masa tersebut memberikan alternatif baru dalam proses penciptaan seni visual yang menjanjikan adanya suatu tampilan baru.

Berkembangnya fotografi secara perlahan dan pasti telah menemukan jati dirinya untuk disejajarkan dengan bentuk karya seni visual lainnya yang sudah lebih dahulu mapan dalam konstelasi wacana seni visual. Disamping itu, fotografi merupakan suatu bentuk wacana visual yang paling progresif dan memiliki nilai interdisiplin karena nilai perkembangannya dari awal ditemukannya hingga sekarang sangat pesat dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari bahkan sebagai suatu media untuk berekspresi dalam bidang seni.

Perkembangan fotografi selalu mengikuti kemajuan jaman dan teknologi, mulai dari awal ditemukan kamera obscura hingga menjadi kamera digital dengan berbagai keunggulan dan mulai dari film seluloid biasa hingga film negatif infra merah. Hal tersebut menyatakan bahwa fotografi selalu mengikuti perkembangan teknologi dalam waktu yang relatif cepat dan berkembang sebagai dunia teknologi tersendiri. Selain dari perkembangan peranti "keras‟ dari fotografi, perkembangan juga terjadi pada bentuk visualnya dalam proses penciptaannya. Fotografi pada awalnya hanya merupakan sebagai rekaman visual hasil cetak sederhana yang statis dari sebuah obyek. Pada saat itu, fotografi hanya sebatas sebagai alat dokumentasi faktual dari sebuah benda atau situasi yang merupakan bagian dari informasi atau suatu bahan untuk pemberitaan. Akan tetapi, dalam perjalanannya fotografi dipenuhi dengan berbagai kejadian eksperimen kronologis yang menjadi suatu media untuk berekspresi dan alat bantu dalam upaya menciptakan imaji-imaji seni visual melalui gagasan, obyek, kreativitas dan teknologi. Sehingga lahir bermacam jenis bentuk dan gaya atau
aliran dalam fotografi seperti yang di pelopori oleh seorang fotografer di era Victorian, H.P. Robinson dengan penemuannya berupa multiple print di mana pada masa tersebut sempat menghebohkan karena citra foto yang begitu dekat dengan kenyataan yang kemudian gaya foto tersebut menjadi era ilustratif fotografi yang mengarah pada “gerakan senirupa abad 19”. Kemudian lahir dan berkembang gaya dan aliran lainnya seiring dengan perkembangan jamannya karena dengan jenis gaya dan aliran dalam fotografi akan mencerminkan pribadi fotografernya. Seperti hal tersebut di bawah ini mengenai jenis-jenis dalam fotografi terdapat lima kualitas yang unik menurut John Szarko wsky, yaitu:

  1. The thing it self, fotografi yang berkaitan dengan hal-hal aktual
  2. The detail, fotografi yang menampilkan pada hal-hal yang tampak pada suatu benda
  3. The frame, hasil karya fotografi yang terseleksi, bukan dirangcang terlebih dahulu
  4. Time, fotografi hasil karya pengabadian waktu dan menjelaskan secara khusus tentang perjalanan waktu
  5. Vantage point, fotografi yang memberikan kita berbagai cara pandang yang baru terhadap dunia kita

Selain itu, klasifikasi juga dilakukan oleh Gretchen Garner dengan menawarkan
enam jenis kategori, yaitu:

  1. Time suspended, fotografi adalah saksi waktu dan merekam pribadi
  2. A wider world, fotografi menunjukkan berbagai bagian dunia yang eksotik,
    tersembunyi dan tempat-tempat yang jauh
  3. Famous faces, melalui fotografi kita akan lebih mengenal orang-orang terkenal
  4. Minute detail, kejelasan optis telah memberikan kesempatan untuk menikmati kekayaan berbagai tekstur yang ada di dunia
  5. Private theater, kamera adalah alat yang mendekatkan mimpi-mimpi fotografer
  6. Pictorial effect, bentuk, warna dan tekstur telah terciptakan melalui fotografi

Fotografi memang memiliki aspek teknologi dan estetika. Sebagai teknologi, fotografi pada awalnya diciptakan sebagai alat rekam. Kamera berikut perlengkapan yang memungkinkannya merekam citra (image) adalah aspek perangkat keras (hardware) teknologi fotografi; sedangkan pengetahuan tentang bagaimana cara menggunakan perangkat tersebut untuk menghasilkan citra adalah aspek perangkat lunaknya (software).

Fotografi berkembang sebagai dunia teknologi tersendiri dan teknologi fotografi telah mengubah wajah dunia menjadi dunia gambar. Pada awal mula lahirnya fotografi pada masa tersebut dengan ditemukannya sebuah kamera yang sangat sederhana yaitu camera obscura dan berkembang seiring berjalannya waktu hingga sampai ke era kamera digital yang segala sesuatunya serba canggih. Berbagai macam kamera dengan bentuk yang bervariasi dapat kita temukan di sekitar kita. Tetapi apapun kameranya yang digunakan untuk memotret baik analog maupun digital pada prinsipnya sama yaitu merekam sebuah imaji yang dihasilkan melalui lensa.

Referensi

Handoko, Aran. Fotografi dalam wacana sejarah. Universitas Negeri Yogyakarta
http://staffnew.uny.ac.id/upload/132319839/pendidikan/Hand+out+sejarah+singkat+fotografi.pdf

Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu “photos” : Cahaya dan “Grafo” : Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.

Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).

Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (exposure).

Sejarah Fotografi Dunia

Perkembangan dunia fotografi memang tidak terlepas dari sejarahnya yang teramat panjang, dimulai dari masa sebelum Masehi hingga ke masa sekarang ini. Kini, fotografi telah menjadi suatu bidang yang amat populer dan dapat dipahami serta dipraktekkan dengan mudah oleh setiap orang. Keadaan seperti ini tidak mungkin tercapai tanpa adanya penemuan atau inovasi yang dilakukan oleh para tokoh. Berikut ini merupakan pemaparan perkembangan fotografi dari mulai penemuan konsep kamera yang paling sederhana hingga ke era fotografi digital :

1. CAMERA OBSCURA

Camera Obscura (selanjutnya ditulis kamera obscura), berasal dari kata dalam bahasa latin yang artinya "kamar gelap‟. Disebut demikian karena pada awalnya kamera obscura memang sebuah ruangan gelap yang memiliki sebuah lensa cembung/lubang kecil di salah satu bagian sisinya. Melalui lensa cembung/lubang kecil inilah, cahaya dari luar akan masuk dan memproyeksikan citra dari obyek/keadaan di luar, ke atas sebuah media. Sebuah kamera obscura berbentuk ruangan, di University of North Carolina at Chapel Hill. Area yang diberi lingkaran berwarna kuning adalah lubang kecil tempat masuknya cahaya.

Sejarah awal dari konsep pemroyeksian/pemantulan cahaya bisa ditelusuri ke tahun 336 SM. Saat itu Aristoteles (384 – 322 SM) melihat bentuk sabit yang tercipta akibat dari peristiwa gerhana matahari sebagian. Bentuk sabit itu terproyeksikan ke atas permukaan tanah, melalui lubang-lubang kecil dari sebuah ayakan. Aristoteles kemudian membuat lubang kecil pada sebuah lempengan logam. Dan ternyata, lubang kecil pada lempengan logam tersebut memang bermanfaat sebagai jalan masuknya cahaya yang memproyeksikan citra dari luar, ke atas sebuah bidang. Peristiwa inilah yang melahirkan apa yang disebut dengan „prinsip optik‟, suatu prinsip yang sangat bermanfaat dalam pengembangan teknologi fotografi (kamera) hingga sekarang.

Perkembangan selanjutnya dilakukan oleh seorang ilmuwan Mesir bernama Abu Ali Al-Hasan Ibn Al-Haitham (965 – 1039 M), atau yang lebih dikenal dengan sebutan„Al-Hazen‟. Al-Hazen adalah orang pertama yang menerapkan prinsip optik pada suatu ruangan gelap. Ruangan gelap inilah yang kemudian disebut sebagai kamera obscura.

Pada abad ke-15, seorang pelukis dan penemu terkenal, Leonardo Da Vinci (1452 – 1519 M), memanfaatkan kamera obscura untuk membantunya membuat lukisan. Ia mengatur sedemikian rupa agar proyeksi cahaya dari luar ruangan bisa jatuh tepat ke atas media lukisnya. Dengan cara itu, ia dapat menyalin citra yang terproyeksi, menjadi sebuah lukisan. Selain itu, Leonardo Da Vinci juga membuat rancangan kamera obscura berbentuk praktis yang bisa dibawa kemana-mana. Akan tetapi rancangan itu tidak sempat ia realisasikan.

2. Tahun 1839 (Penemuan kamera plat logam/kamera foto)

Kamera foto berarti suatu alat yang fungsinya tidak hanya memproyeksikan citra saja, tetapi juga menggambarkan citra tersebut ke atas sebuah media, secara permanen. Kamera foto merupakan hasil pengembangan dari fungsi yang sudah ada pada kamera obscura temuan Al-Hazen. Bila menelusuri sejarah penemuan kamera foto modern, maka kita akan bertemu dengan 4 orang tokoh dari abad ke-19 yang telah berjasa menunjukkan jalan menuju dunia fotografi modern.

Orang yang pertama adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Perancis, Joseph Nicéphore Niépce. Di tahun 1820an ia melakukan eksperimen dengan kamera obscura. Niépce menyisipkan sebuah media ke dalam kamera obscura, agar citra yang terproyeksikan bisa terekam dalam media itu.

Media yang digunakannya adalah sebuah lempengan timah yang diolesi minyak khusus. Lempengan timah ini disimpan di dalam kamera obscura dan terpapar selama 8 jam oleh sinar matahari yang cerah. Citra yang terproyeksi dan terekam pada lempengan timah itulah, yang merupakan foto tercetak pertama yang berhasil dibuat dalam sejarah umat manusia. Foto itu diberi judul “View from the Window at Le Gras”, dibuat pada tahun 1826.

Tahun 1826, Joseph Nicéphore Niépce berkolaborasi dengan seorang seniman dan ahli kimia Perancis bernama Louis JM Daguerre. Niépce meninggal dunia pada tahun 1833. Tapi setelah itu Daguerre terus menyempurnakan eksperimen Niépce. Ia menemukan cara agar gambar yang dihasilkan bisa terekam dengan lebih baik.

Daguerre kemudian menggunakan media berupa lempengan berlapis perak. Sebelum lempengan itu dipapari cahaya, pertama-tama ia mengasapinya dengan uap dari zat yodium, agar lebih sensitif terhadap paparan cahaya. Setelah dipapari cahaya selama 10 menit melalui kamera obscura, lempengan berlapis perak tersebut diangkat dan diasapi lagi oleh uap dari zat merkuri serta dicelupkan dalam larutan garam. Akhirnya muncullah gambar yang kualitasnya lebih baik daripada foto yang dihasilkan selama 8 jam melalui eksperimen Niépce. Gambar yang diambil Daguerre ini dibuat pada sekitar akhir tahun 1838 atau awal tahun 1839. Diberi judul “Boulevard du Temple” dan merupakan foto pertama yang menampilkan citra manusia di dalamnya.

Proses dan perangkat yang dipergunakan Louis JM Daguerre untuk membuat foto, kemudian dipatenkan dan diberi nama "Daguerreotype‟. Daguerreotype menjadi populer dan sering dipergunakan untuk mengambil gambar dari tokoh-tokoh terkenal. Sehingga alat ini bisa disebut sebagai kamera foto pertama yang digunakan di masyarakat.

3. 1888/Awal Abad 20 (Penggunaan Film)

Tahun 1888, seorang berkebangsaan Amerika Serikat bernama George Eastman, memperkenalkan kamera yang dijual dengan harga terjangkau dan bernama “Kodak”. Kamera Kodak yang pertama ini sudah terisi dengan sebuah rollfilm hitam putih yang mampu untuk merekam 100 foto.

Perkembangan awal dari film adalah lempengan timah/logam yang dipergunakan oleh Niépce, Daguerre, dan Talbot untuk merekam gambar yang dihasilkan dari alat mereka masing-masing. Akan tetapi lempengan yang telah dilapisi oleh berbagai macam zat kimia itu, tidaklah bisa disebut sebagai film karena gambar yang dibuat, tercetak pada lempengan itu juga. Sedangkan definisi film adalah media yang menyimpan gambar negatif, untuk kemudian diproses agar bisa tercetak pada media lain. Adapun film seperti yang kita kenal sekarang ini, ditemukan oleh George Eastman, pendiri dari perusahaan Kodak, pada tahun 1884. Film jenis pertama ini berupa kertas yang diolesi dengan jel khusus yang kering. Baru pada tahun 1889, Eastman berinovasi dengan membuat film berbahan plastik transparan. Film ini terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar, yaitu plastik khusus yang dicampur dengan nitrat dan kapur barus.

Pengembangan pun terus dilakukan, film yang lebih modern dan biasa kita gunakan terdiri 3 hingga 20 lapisan, dan merupakan campuran dari berbagai bahan kimia. Adapun unsur-unsur yang terdapat pada film itu akan menentukan sensitifitas, kontras, resolusi dan efek-efek lain pada foto yang dibuat. Menjelang akhir abad 20, muncul "film‟ jenis baru. Film baru itu adalah film elektronik (media penyimpanan data) yang digunakan pada kamera digital. Karena lebih murah dan bisa digunakan berulang-ulang, kini orang lebih memilih untuk memanfaatkan fotografi digital dan film elektronik tadi. Hasilnya pun bisa menyamai bahkan melebihi kualitas dari foto yang dihasilkan film konvensional.

4. Fotografi Digital

Fotografi digital merupakan salah satu inovasi terbaik dalam dunia fotografi. Kehadirannya telah mengubah paradigma masyarakat yang menganggap bahwa fotografi adalah suatu bidang yang mahal dan sulit untuk dikuasai. Fotografi digital benar-benar bisa memberikan kepraktisan dan kemudahan bagi setiap orang untuk membuat sebuah foto yang bagus. Dengan perkembanganteknologi yang pesat, dan beragam fitur untuk membuat foto yang baik, muncul sebuah ungkapan bahwa “setiap orang bisa menjadi fotografer profesional”.
Bila ditelusuri dari sejarahnya, maka kita akan kembali ke tahun 1960an. Di mana dunia sedang mengalami revolusi besar-besaran di bidang teknologi. Eugene F. Lally, seorang teknisi dari Jet Propulsion Laboratory adalah orang pertama yang mencetuskan ide untuk mendigitalisasi sebuah foto. Saat itu tujuannya adalah untuk mempermudah pengiriman foto secara langsung dari misi-misi luar angkasa Amerika Serikat.

Pada tahun 1970an, dunia jurnalistik turut mempengaruhi kemunculan kamera digital. Saat itu, terdapat sebuah tuntutan untuk menghadirkan foto dari suatu peristiwa yang terjadi, secepat mungkin. Maka digunakanlah media pemindai foto (scanner). Sebuah foto dipindai menjadi data elektronik, kemudian dikirimkan melalui jalur telepon. Akan tetapi, cara ini juga masih dianggap merepotkan, karena terjadi penurunan kualitas gambar yang cukup signifikan dan proses pengiriman foto pun masih memerlukan waktu yang relatif lama.

Untuk menjawab persoalan ini, diperlukan suatu kamera yang bisa secara langsung menciptakan foto yang berupa data elektronik. barulah pada bulan Desember tahun 1975, seorang teknisi dari perusahaan Kodak yang bernama Steven Sasson, menjadi orang pertama yang menemukan Kamera Digital.

Kamera yang dibuatnya, menggunakan sensor CCD sebagai media penerimaan gambar dan hanya mampu menghasilkan foto hitam putih dengan resolusi sebesar 0,01 megapixel (320 x 240 pixel). Media penyimpanannya adalah sebuah kaset tape, sedangkan untuk melihat hasil gambar, kamera ini harus disambungkan terlebih dahulu dengan sebuah televisi. Kamera ini mempunyai bobot seberat 3,6 kg dan membutuhkan waktu tak kurang dari 23 detik untuk memproses satu buah foto.

Walaupun kamera digital model pertama ini masih belum praktis dan belum sepenuhnya menjawab persoalan-persoalan yang terjadi, tapi alat ini telah menjadi awal mula dari kemudahan dan kepraktisan teknologi fotografi digital yang kita nikmati sekarang ini. Setelah penemuan dari kamera digital model pertama, kamera-kamera digital selanjutnya terus bermunculan dengan perbaikan-perbaikan dari model sebelumnya, dengan berbagai fitur serta kemampuan yang baru.

SEJARAH FOTOGRAFI INDONESIA

Sejarah fotografi di Indonesia dimulai pada tahun 1857, pada saat 2 orang juru foto Woodbury dan Page membuka sebuah studio foto di Harmonie, Batavia. Masuknya fotografi ke Indonesia tepat 18 tahun setelah Daguerre mengumumkan hasil penelitiannya yang kemudian disebut-sebut sebagai awal perkembangan fotografi komersil. Studio fotopun semakin ramai di Batavia. Dan kemudian banyak fotografer professional maupun amatir mendokumentasikan hiruk pikuk dan keragaman etnis di Batavia. Kassian Cephas (1844-1912): Yang Pertama, yang Terlupakan Cephas lahir pada 15 Januari 1845 dari pasangan Kartodrono dan Minah. Ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah anak angkat dari orang Belanda yang bernama Frederik Bernard Fr. Schalk. Cephas banyak menghabiskan masa kanak-kanaknya di rumah Christina Petronella Steven (siapa). Cephas mulai belajar menjadi fotografer profesional pada tahun 1860-an. Ia sempat magang pada Isidore van Kinsbergen, fotografer yang bekerja di Jawa Tengah sekitar 1863-1875. Tapi berita kematian Cephas di tahun 1912 menyebutkan bahwa ia belajar fotografi kepada seseorang yang bernama Simon Willem Camerik.

Kassian Cephas memang bukan tokoh nasional yang dulunya menenteng senjata atau berdiplomasi menentang penjajahan bersama politikus pada zaman sebelum dan sesudah kemerdekaan. Ia hanyalah seorang fotografer asal Yogyakarta yang eksis di ujung abad ke-19, di mana dunia fotografi masih sangat asing dan tak tersentuh oleh penduduk pribumi kala itu. Nama Kassian Cephas mungkin baru disebut bila foto-foto tentang Sultan Hamengku Buwono VII diangkat sebagai bahan perbincangan.Dulu, Cephas pernah menjadi fotografer khusus Keraton pada masa kekuasaan Sultan Hamengku Buwono VII. Karena kedekatannya dengan pihak Keraton, maka ia bisa memotret momen-momen khusus yang hanya diadakan di Keraton pada waktu itu. Hasil karya foto-fotonya itu ada yang dimuat di dalam buku karya Isaac Groneman (seorang dokter yang banyak membuat buku-buku tentang kebudayaan Jawa) dan buku karangan Gerrit Knaap (sejarawan Belanda yang berjudul “Cephas, Yogyakarta: Photography in the Service of the Sultan”.

Foto tidak sekedar menyimpan estetika dan keindahan. Tetapi lebih dari itu foto juga sanggup bertutur bahkan menyimpan beragam nilai termasuk bukti otentik dari kebaradaan suatu peristiwa dan sejarah. Kita seringkali disadarkan banyak hal melalui pesan yang diurai oleh sebuah foto. Seperti foto yang terjadi pada hari jumat 17 Agustus 1945 di Jakarta. Hari itu sebuah negara yang bernama Indonesia resmi menyatakan kemerdekaannya dengan di tandai oleh pembacaan teks proklamasi yang di wakii oleh Ir Soekarno dan Hatta. Moment tersebut menjadi moment paling penting dan bersejarah bagi bangsa indonesia. Dan hal tersebut tampaknya sangat disadari oleh Mendoer bersaudara Alexius Impurung Mendoer(1907-1984) dan Frans Soemarto Mendoer (1913-1971 ). Alex dan Frans tidak bisa berbuat banyak ketika tentara jepang merampas kamera dan film hasil jepretan mereka di moment bersejarah itu. Beruntung berkat kecerdikan mereka Frans berhasil mengelabui tentara jepang dan menyembunyikan salah satu rol film hasil bidikannya di bawah pohon dihalaman kantor harian Asia Raya. Meski berhasil menyembunyikan bukan berarti masalah sudah terselesaikan karena upaya untuk mencuci negatif yang di tanam juga membutuhkan suatu perjuangan exstra.

Alex dan Frans terpaksa harus bergerak diam-diam untuk mengelabui tentara jepang dengan cara mengendap dan memanjat pohon. Semua dilakukan pada malam hari sampai akhirnya keduanya berhasil melompati pagar di samping kantor Domei (sekarang kantor berita ANTARA ) untuk sampai di sebuah lab foto. Foto pembacaan Proklamasi kemerdekaan Indonesia itu sendiri pertama kali di tayangkan di media masa pada tanggal 20 februari 1946 oleh Harian Merdeka. Sayangnya negatif dan foto bersejarah tersebut hilang entah kemana,ada dugaan semua dokumentasi milik kantor berita Antara tersebut ikut terbakar pada suatu peristiwa di tahun1965. Sebenarnya siapakah Alex dan Frans Mendoer ? Keduanya adalah merupakan putra daerah Kawangkoan,Manado,Sulawesi Selatan. Saat di yogyakarta ,Frans lebih banyak meliput suasana perang dan kehidupan rakyat yogya. Salah satu foto karyanya adalah foto penyambutan Panglima Besar Jendral Soedirman oleh letnan kolonel Soeharto dan Rosihan Anwar di Stasiun Tugu atas perintah Raja Yogyakarta,Sri Sultan Hamengkubuwono IX . Foto tersebut juga menjadi salah satu foto karya monumental Frans Mendoer yang meninggal dunia 24 April 1971 di rumah sakit Sumber Waras Jakarta dengan kesederhanaannya. Tetapi karya dari pahlawan bersenjatakan kamera ini sangat jauh dari sederhana

Fotografi berasal dari istilah Yunani : photos yang berarti cahaya dan graphein yang berarti menggambar. Istilah tersebut pertama kali oleh Sir John Herschel pada tahun 1839. Jadi arti kata fotografi adalah menggambar dengan cahaya. Prinsip kerja yang paling mendasar dari fotografi sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu.

Pada waktu itu telah diketahui bahwa apabila seberkas cahaya menerobos masuk melalui lubang kecil ke dalam sebuah ruangan yang gelap, maka pada dinding di hadapannya akan terlihat bayangan dari apa yang ada dimuka lubang. Hanya saja bayangn yang terlihat dalam keadaan terbalik. Ruangan seperti inilah yang disebut sebagai camera obscura ( camera : kamar, obscura : gelap). Dari sinilah lahir istilah Camera. Prinsip ini telah digunakan oleh ilmuwan Arab Ibnu al Haisan sejak abad ke-10. Lalu pada abad ke-15 Leonardo da Vinci, mencoba menguraikan kerja kamar gelap ini dengan lebih terperinci.

Perkembangan selanjutnya kamera obscura ini menjadi alat bantu untuk membuat gambar bagi para seniman di Eropa. Penemuan teknik fotografi dalam satu hal telah mengurangi daerah gerak seni lukis, karena fotografi yang dengan cepat dan tepat mampu merekam objek itu menggantikan sebagian fungsi seni lukis yaitu fungsi dokumentasi dan fungsi penyajian presentasi realistik bagi objek-objeknya.

Pada mulanya kamera ini tidak begitu diminati, karena cahaya yang masuk amat sedikit, sehingga bayangan yang terbentuk pun samar-samar. Pengguna- annya terutama masih untuk menggambar benda-benda yang ada di depan kamera. Penggunaan kamera ini baru populer setelah ditemukannya lensa pada tahun 1550. Dengan lensa pada kamera ini, maka cahaya yang masuk ke kamera dapat diperbanyak, dan gambar dapatdipusatkan, sehingga menggambar menjadi lebih sempurna.

Tahun 1575 kamera portable yang pertama baru dibuat, dan penemuan kamera ini untuk menggambar makin praktis. Baru tahun 1680 lahir kamera refleks pertama, namun penggunaannya masih untuk menggambar, karena bahan baku untuk mengabadikan benda-benda yang berada di depan lensa selain dengan menggambar masih belum ditemukan. Jadi pada zaman tersebut kamera masih dipakai untuk mempermudah dalam menggambar. Dimana hasil dari kamera tersebut masih belum dapat direproduksi, karena belum ditemukannya film negatif.

Sejarah penemuan film dimulai ketika orang berusaha untuk dapat mengabadikan benda yang berada di depan kamera, sudah mulai berkembang sejak abad ke-19, dengan adanya penemuan penting oleh Joseph Niepce, seorang veteran Perancis. Ia bereksperimen dengan menggunakan Aspal Bitumen Judea . Dengan pencahayaan 8 jam, ia berhasil mengabadikan benda yang berada di depan lensa kameranya menjadi sebuah gambar pada plat yang telah dilapisi bahan kimia tersebut. Namun melalui percobaan ini masih belum dapat membuat duplikat gambar.

Kemudian lahirlah Collodion, bahan baku fotografi yang dikenalkan oleh Frederick Scott Archer, dengan menggunakan kaca sebagai bahan dasarnya. Proses ini adalah proses basah. Bahan kimia kimia tersebut dilapiskan ke kaca, kemudian langsung dipasang pada kamera abscura, dalam gambar yang dihasilkan menjadi lebih baik. Cara ini banyak dipakai untuk memotret diseluruh Eropa dan Amerika, sampai ditemukan bahan gelatin dan ditemukan bahan kimia yang dapat digunakan untuk proses kering.

Tahun 1895, George Eastman membuat film gulung (roll Film) dengan bahan gelatin, yang dipakai untuk memotret (mengabadikan citra alam) sampai sekarang. Penemuan-penemuan tersebut di atas telah mempermudah kita dalam mengabadikan benda-benda yang berada di depan lensa dan memproduksinya, sehingga para fotografer, baik amatir maupun profesional dapat menghasilkan suatu karya seni tinggi, tanpa perlu terhalang oleh teknologi.

Dalam era modernisasi fotografi menampakkan perkembangannya yang cukup besar dengan menampilkan fotografi digital , merekam gambar dengan sistem perpaduan teknologi komputer yang banyak dipergunakan sebagai alat penyimpan dokumentasi yang pengertiannya gambar atau pola, bentuk yang ingin dibuat arsip penyimpanannya melalui proses fotografi semi digital atau foto digital . Pada foto semi digital proses pemotretan, gambar masih direkam pada film yang berseluloid, kemudian film yang sudah merekam gambar diproses dan menghasilkan gambar kemudian diproses lagi melalui s canner menjadi data digital untuk di simpan dalam disket atau hardisk .

Pesatnya perkembangan fotografi di dunia, tidak dapat dipungkiri menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Berbagai macam objek baik mahluk hidup maupun benda mati menjadi suatu hal yang menarik untuk diabadikan dalam media fotografi mulai dari foto jurnalistik, foto dokumenter sampai ke fotografi sebagai media ekspresi seni.

Fotografi merupakan teknik untuk menghasilkan gambar yang tahan lama melalui suatu reaksi kimia yang terjadi ketika cahaya menyentuh permukaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sejarah fotografi saat ini berhutang banyak pada beberapa nama yang memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan fotografi sampai era digital sekarang. Munculnya fotografi tidak ditemukan begitu saja namun sudah mengalami fase perintisan yang cukup panjang oleh para tokoh-tokoh perintisnya. Prinsip awal fotografi telah dikenal sejak abad ke 5 SM oleh ilmuwan Cina bernama Mo Ti yang menyebutkan bila seberkas cahaya yang memancar dari suatu benda diloloskan melalui sebuah lubang kecil ke dalam sebuah ruangan yang gelap, maka bayangan benda tadi akan diproyeksikan sesuai dengan bentuk aslinya secara terbalik. Teori tersebut juga diperkuat oleh beberapa ilmuwan dari barat seperti Aristoteles. Dari hal tersebut pada hakikatnya prinsip-prinsip dasar yang digunakan dalam fotografi bertumpu pada dua ilmu yaitu ilmu fisika dan ilmu kimia. Dari ilmu fisika dilakukan dengan observasi terhadap sinar yang memancar dari suatu objek yang menembus masuk melalui lubang kecil 2 (pinhole) ke dalam ruang gelap akan menghasilkan bayangan dari benda objek tadi secara terbalik serta tepat sesuai dengan aslinya. Dari sinilah ditemukan apa yang disebut dengan camera obscura yang berarti “ kamar gelap ” (camera=kamar, obscura=gelap).

Era 1000 M

Kita mencatat nama Al Hazen, seorang pelajar berkebangsaan Arab yang menulis bahwa citra dapat dibentuk dari cahaya yang melewati sebuah lubang kecil, hal ini dikemukakannya pada tahun 1000 M.

Era 1400 M

Kurang lebih 400 tahun kemudian, Leonardo da Vinci juga menulis mengenai fenomena yang sama. Namun, Battista Della Porta, juga menulis hal tersebut sehingga dia yang dianggap sebagai penemu prinsip kerja kamera melalui bukunya, Camera Obscura

Awal abad 17

Ilmuwan Italia, Angelo Sala menemukan bahwa bila serbuk perak nitrat dikenai cahaya, warnanya akan berubah menjadi hitam. Bahkan saat itu, dengan komponen kimia tersebut ia telah berhasil merekam gambar-gambar yang tak bertahan lama. Hanya saja masalah yang dihadapinya adalah menyelesaikan proses kimia setelah gambar-gambar itu terekam sehingga permanen.

Era tahun 1727

Pada 1727, Johan Heinrich Schuize, profesor farmasi dari Universitas di Jerman juga menemukan hal yang sama pada percobaan yang tak berhubungan dengan fotografi. Ia memastikan bahwa komponen perak nitrat menjadi hitam karena cahaya dan bukan oleh panas.

Era tahun 1800

Pada tahun 1800, Thomas Wedgwood, seorang berkebangsaan Inggris, bereksperimen untuk merekam gambar positif dari citra yang telah melalui lensa pada kamera obscura yang sekarang ini disebut kamera, tapi hasilnya sangat mengecewakan. Akhirnya ia berkonsentrasi sebagaimana juga Schuize membuat gambar-gambar negative pada kulit atau kertas putih yang telah disaputi komponen perak dan menggunakan cahaya matahari sebagai penyinaran.

Tahun 1824 setelah melalui berbagai proses penyempurnaan oleh berbagai negara, akhirnya Joseph Nieephore Niepee, seorang lithograph berhasil membuat gambar permanen pertama yang disebut “FOTO”. Pembuatannya dengan tidak menggunakan kamera, melalui proses yang disebutnya Heliogravure atau proses kerjanya mirip lithograph dengan menggunakan sejenis aspal yang disebutnya Bitumen of Judea sebagai bahan kimia dasarnya. Agustus 1827, setelah saling menyurati beberapa waktu sebelumnya, Niepee berjumpa dengan Louis Daguerre, pria Perancis dengan beragam keterampilan tapi dikenal sebagai pelukis. Mereka merencanakan kerjasama untuk menghasilkan foto melalui penggunaan kamera. Tahun 1829, Niepee secara resmi bekerja sama dengan Daguerre tetapi Niepee meninggal dunia pada tahun 1833. Pada tanggal 7 Januari 1839, dengan bantuan seorang ilmuwan untuk memaparkan secara ilmiah, Dagurre mengumumkan hasil penelitian. Penelitiannya selama ini kepada Akademi Ilmu Pengetahuan Perancis. Hasil kerjanya yang berupa foto-foto yang permanen itu disebut Daguerretype yang tak dapat diperbanyak atau reprint atau repro. Saat itu Daguerre telah memiliki foto studio komersil dan Daguereetype tertua yang masih ada hingga kini diciptakannya tahun 1837.

Tanggal 25 Januari 1839, William Henry Fox Talbot, seorang ilmuwan Inggris memaparkan hasil penemuannya berupa proses fotografi modern kepada Institut Kerajaan Inggris. Berbeda dengan Daguerre, ia menemukan sistem negative-positif (bahan dasar: perak nitrat, diatas kertas). Walaupun telah menggunakan kamera, sistem itu masih sederhana seperti apa yang sekarang kita istilahkan: Contact Print (print yang dibuat tanpa pembesaran atau pengecilan). Juni 1840, Talbot memperkenalkan Calotype perbaikan dari sistem sebelumnnya juga menghasilkan negative diatas kertas. Dan pada Oktober 1847, Abel Niepee de St Victor keponakan Niepee memperkenalkan penggunaan kaca sebagai base negative menggantikan kertas. Pada januari 1850, seorang ahli kimia Inggris Robert Bingham memperkenalkan penggunaan Collodion sebagai emulsi foto yang saat itu cukup popular dengan sebutan WET_PLATE Fotografi. Setelah berbagai perkembangan dan penyempurnaan, penggunaan rol film mulai dikenal. Juni 1888, George Eastman seorang Amerika menciptakan revolusi fotografi dunia hasil penelitiannya di tahun 1877. Ia menjual produk baru dengan merk KODAK berupa sebuah kamera box kecil dan ringan yang telah berisi rol film (dengan bahan kimia perak bromide) untuk 100 exposure. Bila seluruh film diguakan, kamera ini yang diisi film dikirim ke perusahaan Eastman untuk diproses. Setelah itu kamera dikirimkan kembali dan telah berisi rol film yang baru. Berbeda dengan kamera masa itu yang besar dan kurang praktis, produk baru tersebut memungkinkan siapa saja dapat memotret dengan leluasa. Hingga kini perkembangan fotografi terus mengalami perkembangan dan berevolusi menjadi film-film digital yang mutakhir tanpa menggunakan rol film. Selanjutnya secara bertahap, fotografi berkembang ke arah penyempurnaan teknik dan kualitas gambarnya sampai pada akhir abad ke-19 fotografi telah mencapai kualitas hasil yang mendekati seperti yang dikenal sekarang.

Sebenarnya perkembangan foto seni di Indonesia sendiri telah berkembang di akhir abad 18. Orang Indonesia yang telah membuat foto-foto indah menawan di dalam studio maupun di alam bebas, foto-foto itu jelas sekali bernapaskan seni seperti yang dikenal sekarang. Obyek, lighting, dan komposisinya jelas sekali diperhitungkan dengan teliti saat pengambilan gambar. Pencetakan fotonya pun sangat brilian, sehingga hasil fotonya menjadi indah dan menawan bagaikan lukisan foto piktorial. Perbedaan yang dapat dilihat dengan jelas adalah sebagian besar foto terekam beku. Jika memotret manusia, maka si model diwajibkan diam dalam beberapa saat. Hal ini dikarenakan teknologi fotografi saat itu masih sederhana. Body kamera berukuran besar sedangkan filmnya masih dalam bentuk lembaran (bukan rol), bahkan bahan dasarnya kaca atau seluloid, dngan kepekaan (ASA) yang masih rendah. Mekanis pada lensa juga sangat sederhana, bahkan banyak lensa yang mempunyai sat bukaan diafrgama dan tidak disertai lembaran daun diafragma sehingga pemotretan dilakukan dengan cara membuka dan menutup lensa.

http://staffnew.uny.ac.id/upload/132319839/pendidikan/Hand+out+sejarah+singkat+fotografi.pdf

http://e-journal.uajy.ac.id/179/3/2TA13124.pdf