Bagaimana rasa Empati manusia dibentuk ?

empati

(Musa Firdaus) #1

Empati

Empati merupakan kemampuan untuk berbagi dan memahami orang lain bukan diturunkan secara genetik oleh leluhur kita.

Bagaimana rasa Empati manusia dibentuk ?


(Muhammad Faishal Erwin) #2

Salah satu yang membentu empati manusia adalah Gen, atau dengankata lain ada faktor keturunan. Tim dari Universitas Cambrige bekerja dengan perusahan genetika 23andMe untuk mengambil sampel DNA dari 46.000 orang dan meminta mereka untuk melengkapi kuisioner untuk mengukur tingkat empati yang dikenal dengan Empathy quotient (EQ).

Mereka kemudian membandingkan data genetik dengan skor EQ untuk menentukan seberapa besar keterkaitan empati dengan gen. Ini merupakan langkah penting untuk memahami bagaimana gen berperan dalam membentuk empati seseorang. Termasuk juga memahami faktor non-genetik lain yang mempengaruhi empati.

Meski sudah berhasil menunjukkan peran gen pada rasa empati namun tim peneliti mengakui belum dapat mengidentifikasi secara spesifik gen mana yang terlibat menciptakakan empati tersebut. Selain itu ada beberapa hal lain yang peneliti temukan dari studi itu. Mereka menemukan bahwa perempuan rata-rata lebih berempati daripada pria. Namun mereka tidak menemukan dasar genetik untuk perbedaan tersebut. Dan mereka juga menemukan bahwa varian genetik yang terkait dengan tingkat empati yang lebih rendah juga dikaitkan dengan risiko autisme yang lebih tinggi.

Sumber: sains.kompas.com


(Ayu Paramitha) #3

Berdasarkan hasil sebuah studi ditemukan bahwa akar empati dapat dilacak sejak masa bayi. Pada saat bayi lahir, ia akan terganggu bila mendengar ada bayi lain sedang menangis. Respon tersebut, oleh beberapa ahli dianggap sebagai tanda-tanda awal tumbuhnya empati. Para ahli psikologi perkembangan anak menemukan bahwa bayi merasakan baban stress simpatetik, bahkan sebelum bayi tersebut menyadari bahwa keberadaanya terpisah dari orang lain. Bayi menangis bila anak lain menangis.

Daniel Goleman mengutip Martin Hoffman bahwa akar dari moralitas berada dalam empati karena dalam berbagai kesusahan dengan seseorang kita merasa tergerak untuk membantu. Empati menarik perhatian terhadap masalah-masalah kebutuhan sosial dan ketidak-adilan yang memerlukan tindakan kita. Masalah-masalah sosial menjadi masalah kita karena dengan empati yang mendarah daging kita benar- benar menjadi masyarakat.

Pelajaran pertama tentang empati pada manusia telah dimulai pada masa bayi ketika berada dalam timangan orang tua. Ikatan emosi yang pertama kali dialami ini akan menjadi landasan untuk pembelajaran tentang kerjasama dan syarat-syarat agar dapat diterima dengan baik dalam penerimaan keanggotaan sebuah kelompok.

Hoffman mengemukakan bahwa perkembangan empati terbagi dalam empat tingkatan di masa perkembangan individu, yaitu:

  • Pada umur satu tahun, anak-anak mulai memahami dirinya apabila melihat anak lain jatuh dan menangis.

  • Pada awal usia dua tahun, anak-anak mulai memahami bahwa perasaan orang lain berbeda dengan perasannya, sehingga, anak lebih peka terhadap syarat-syarat yang mengungkapkan perasaan orang lain.

  • Pada akhir masa anak-anak, anak dapat merasakan kesengsaraan suatu kelompok masyarakat, misalnya kaum miskin, kaum yang tertindas, atau mereka yang secara sosial terkucil di tengah-tengah masyarakat.

Maurice pun berpendapat bahwa perkembangan empati akan berjalan dengan baik bila didukung oleh lingkungan tempat tinggal, termasuk bagaimana seseorang bersosialisasi dengan temannya. Begitu pula perkembangan empati pada orang dewasa dituntut untuk ikut merasakan perasaan orang lain. Tentu saja, jika seseorang terampil meraba perasaan dirinya sendiri dan perasaan orang lain, hal ini akan secara langsung memantik sensitifitasnya untuk mengetahui dan merasakan cara pandang orang lain.

Menurut Shapiro, tahap perkembangan empati dibagi menjadi empat, yaitu:

  • Empati Emosi

    Bayi berusia nol sampai satu tahun akan mencoba melihat bayi lain yang sedang menangis dan sering sampai ikut menangis. Psikolog perkembangan, Hoffman, menyebut empati ini sebagai empati global karena ketidak-mampuan anak-anak untuk membedakan antar diri sendiri dan dunianya sehingga menafsirkan rasa tertekan bayi lain sebagai rasa tertekannya sendiri.

  • Empati Egosentrik

    Pada tahap kedua ini, anak yang berusia antara satu sampai dua tahun dapat melihat dengan jelas bahwa kesusahan orang lain bukan kesusahannya sendiri. Sebagian anak balita (baca; anak di bawah umur lima tahun) secara naluriah akan mencoba meringankan beban penderitaan orang lain. Namun, karena perkembangan kognitifnya belum matang, anak-anak seusia ini tidak begitu yakin dengan apa yang harus diperbuatnya dan akhirnya mengalami kebingungan dalam berempati.

  • Empati Kognitif

    Empati kognitif, dimulai pada anak usia enam tahun dengan tanda ia mulai mampu memandang sesuatu dengan perspektif orang lain. Empati ini, memungkinkan seorang anak untuk mengetahui kapan ia bisa mendekati teman yang sedang sedih dan kapan ia harus membiarkannya sendiri. Empati kognitif tidak memerlukan komunikasi emosi—misalnya: menangis— karena dalam usia ini seorang anak sudah dapat mengembangkan acuan atau model tentang bagaimana perasaan seseorang dalam situasi yang menyusahkan, baik itu diperlihatkan atau tidak.

  • Empati Abstrak

    Menjelang berakhirnya masa anak-anak antara usia sepuluh sampai dua belas tahun, anak-anak mengembangkan emosi tidak hanya kepada orang yang dikenal atau dilihatnya secara langsung, tetapi juga terhadap kelompok orang yang belum pernah dia jumpai sebelumnya.

Referensi : Shapiro.L.E., Mengajarkan Emosional Intelegensi Pada Anak, Terj. Alex .T. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997).


(Denta Ileana Akleema) #4

Menurut Davis (1996), proses empati terbai kedalam empat tahapan, yaitu:

1. Antecedents

Antecedents yaitu kondisi-kondisi yang mendahului sebelum terjadinya proses empati. Meliputi karakteristik observer (personal), target atau situasi yang terjadi saat itu. Empati sangat dipengaruhi oleh kapasitas pribadi observer. Kemampuan empati yang tinggi, salah satunya dipengaruhi oleh kapasitas intelektual untuk memahami apa yang dipikirkan dan drasakan oleh orang lain, atau kemampuan untuk memahami apa yang terjadi pada orang lain. Juga dipengaruhi oleh riwayat pembelajaran individu sebelumnya termasuk sosialisasi terhadap nilai-nilai yang terkait dengan empati.

Namun, karakteristik yang paling penting adalah perbedaan individual, dimana ada individu-individu yang secara natural cenderung untuk berempati tehadap situasi yang dihadapi.

2. Processes

Terdapat tiga jenis proses empati, yaitu non-cognitive processes, simple cognitive processes, dan advance cognitive processes .

  • Pertama, non-cognitive processes. Pada proses ini terjadinya empati disebabkan oleh proses-proses non kognitif, artinya tanpa memerlukan pemahaman terhadap situasi yang terjadi.

  • Kedua, simple cognitive processes. Pada jenis empati ini hanya membutuhkan sedikit proses kognitif. Misalnya jika seseorang melihat tanda-tanda kurang nyaman pada orang lain atau juga pada saat itu antara observer dan target keduanya sama-sama berada pada situasi yang kurang nyaman akan membuat observer mudah berempati. Atau ketika kita dating pada acara pernikahan dan wisuda maka kita akan menunjukkan sikap bahagia, sebaliknya saat kita menghadiri acara pemakaman tentu saja kita akan menunjukkan peeasaan duka cita. Empati yang kita munculkan tidak membutuhkan proses yang mendalam, karena situasi-situasi tersebut mudah dipahami.

  • Ketiga, advance cognitive processes. Pada proses ini kita dituntut untuk mengerahkan kemampuan kognitif kita. Hoffman (1984) menyebutnya dengan language mediated association, dimana munculnya empati merupakan akibat dari ucapan atau bahasa yang disampaikan target. Misalnya ketika ada seorang istri mengatakan “saya telah diceraikan oleh suami”. Barangkali ketika mengatakan kalimat itu, target tidak menunjukkan wajah sedih, ia datar-datar saja mengatakannya. Namun observer meresponnya dengan sikap empatik. Sikap empatik yang ditunjukkan oleh observer ini merupakan proses yang mendalam, membutuhkan pemahaman yang tinggi terhadap situasi yang sedang terjadi.

3. Intrapersonal Outcomes

Hasil dari proses berempati salah satunya adalah hasil intrapersonal, terdiri atas dua macam affective outcome dan non affective outcome . Affective outcome terdiri atas reaksi-reaksi emosional yang dialami oleh observer dalam merespons pengalaman- pengalaman target.

Affective outcome dibagi lagi ke dalam dua bentuk, yaitu parallel dan reactive outcomes .

  • Parallel outcome sering disebut dengan emotion matching , yaitu adanya keselarasan antara yang kita rasakan dengan yang dirasakan atau dialami oleh orang lain. Misalnya kita dapat memahami masalah sesungguhnya yang dialami oleh target. Kita melakukan proses atau marah ketika melihat target diperlakukan tidak adil.

  • Reactive outcomes didefinisikan sebagai reaksi-reaksi afektif terhadap pengalaman-pengalaman orang lain yang berbeda.

4. Interpersonal Outcomes

Bila intrapersonal outcomes itu berefek pada diri observer maka interpersonal outcomes berdampak kepada hubungan antara observer dengan target. Salah satu bentuk dari interpersonal outcomes adalah munculnya helping behavior (perilaku menolong). Selain perilaku menolong, empati juga dihubungkan dengan perilaku agresif. Menurut Davis empati berhubungan negatif dengan perilaku agresif. Semakin baik akurasi empati maka akan semakin kecil terjadinya perilaku agresif.