Bagaimana proses memahami kebutuhan pengguna menggunakan metode User Story?

manajemen_produk

(Miska Nourma) #1

Sebelum membuat suatu produk atau layanan, kita harus mengetahui apa saja kebutuhan user yang dituju agar produk atau layanan yang dibuat bisa berguna. Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan User Story. Bagaimana ya detil-detilnya mengenai User Story?


(Prima Rizki Maulidina) #2

User Story adalah bagian dari pendekatan Agile yang mengalihkan fokus dari menulis kebutuhan menjadi menceritakannya. Semua user story mencakup satu atau dua kalimat tertulis dan serangkaian percakapan mengenai fungsionalitas yang diinginkan.

User story adalah deskripsi singkat dan sederhana dari fitur yang diceritakan dari sudut pandang orang yang menginginkan fungsionalitas baru, biasanya pengguna atau pelanggan sistem. User story membantu menyederhanakan deskripsi dari sebuah kebutuhan.

Penulisan User Story

User Story biasanya ditulis dalam template sederhana, yaitu:

Sebagai [jenis pengguna], saya ingin [fitur/sasaran] sehingga [alasan].

Contohnya,

  1. Sebagai pengguna Messenger, saya ingin mengunggah foto sehingga saya bisa berbagi foto kepada teman-teman saya.

  2. Sebagai seorang administrator, saya ingin menyetujui foto-foto sebelum terkirim sehingga saya bisa memastikan foto-foto tersebut tidak melanggar peraturan.

User story harus ditulis dalam bahasa yang sederhana sehingga tim pengembang dan pembuat produk dapat memahami apa yang diinginkan user dan mengapa hal tersebut diingkan.

Terdapat beberapa kiat-kiat yang dapat diterapkan untuk menghasilkan user story yang bagus, antara lain:

1. Utamakan Pengguna

Sesuai namanya, sebuah user story menggambarkan bagaimana seorang pengguna menggunakan produk tersebut yang diceritakan dari sudut pandang pengguna. User story sangat membantu untuk mendapatkan fungsi tertentu, seperti mencari produk atau melakukan pemesanan. Gambar berikut menggambarkan hubungan antara pengguna, user story, dan fungsionalitas produk yang disimbolkan oleh lingkaran.

Jika Anda tidak tahu siapa pengguna dan pelanggan dan mengapa mereka ingin menggunakan produk tersebut, maka sebaiknya tidak perlu menulis user story. Lakukan penelitian pengguna yang diperlukan terlebih dahulu. Jika tidak, Anda mengambil risiko menulis cerita spekulatif yang didasarkan pada keyakinan dan gagasan — tetapi tidak pada data dan bukti empiris.

2. Gunakan Persona untuk Menemukan User Story yang Tepat

Persona adalah karakter fiktif yang didasarkan pada pengetahuan dari kelompok sasaran. Biasanya terdiri dari nama dan gambar, karakteristik, perilaku, sikap yang relevan, dan sebuah tujuan.

Tujuan menggunakan persona adalah untuk mendapatkan manfaat yang ingin dicapai persona atau masalah yang dimiliki persona. Setelah itu, gunakan tujuan persona untuk mengidentifikasi fungsionalitas produk. Apakah yang harus dilakukan produk untuk menyelesaikan masalah yang dimiliki persona? Apakah yang harus dilakukan produk untuk memenuhi tujuan persona? Dengan ini, user story dapat dibuat dengan tepat.

3. Buat Cerita yang Berkolaborasi

Cerita dari pengguna tidak boleh diserahkan kepada tim pengembang. Pemilik produk dan tim harus mendiskusikan cerita dari pengguna secara bersama. Hal ini membangkitkan kreatifitas dan pengetahuan tim sehingga user story yang dihasilkan lebih baik.

4. Buat User Story yang Sederhana dan Ringkas

User story harus mudah dimengerti, buatlah agar sederhana dan ringkas. Hindari istilah yang membingungkan dan ambigu, dan gunakan active voice. Fokus pada hal yang penting. Gunakan template seperti yang sudah ditulis di bagian Penulisan User Story di atas agar lebih mudah.

5. Mulailah dengan Epik

Epik atau epics adalah cerita yang besar, samar, dan kasar. Hal ini biasanya dipecah menjadi beberapa user story dari waktu ke waktu, memanfaatkan feedback dari user untuk prototype awal dan peningkatan produk.

Memulai dari pik memungkinkan Anda untuk membuat sketsa fungsionalitas produk tanpa memikirkan detilnya. Hal ini berguna untuk mendeskripsikan produk dan fitur baru karena memungkinkan untuk mendapatkan cakupan kasar, dan itu memberi Anda waktu untuk belajar lebih banyak mengenai cara terbaik untuk mengatasi kebutuhan pengguna.

Hal ini juga mengurangi waktu dan upaya yang diperlukan untuk mengintegrasikan wawasan baru. Jika Anda memiliki banyak cerita rinci dalam produk, sering kali menjadi rumit dan menyita waktu.

6. Perbaiki Cerita sampai Siap

Pecah cerita menjadi cerita yang lebih kecil dan rinci hingga siap yaitu jelas, layak, dan dapat diuji. Semua anggota tim pengembang harus memiliki pemahaman bersama tentang makna cerita; cerita tidak boleh terlalu besar dan harus ada cara yang efektif untuk menentukan apakah ceritanya sudah siap.

7. Buat Kriteria Penerimaan

Saat memecahkan epik menjadi cerita yang lebih kecil, tambahkan kriteria penerimaan. Kriteria penerimaan melengkapi narasi: Mereka memungkinkan Anda untuk menggambarkan kondisi yang harus dipenuhi sehingga cerita selesai. Kriteria memperkaya cerita, membuat cerita dapat diuji, dan memastikan bahwa ceritanya dapat didemonstrasikan ke pengguna dan pemangku kepentingan lainnya.

8. Gunakan Kartu Kertas

Pendekatan ini memberi tiga manfaat. Pertama, kartu kertas murah dan dapat digunakan. Kedua, kartu kertas memfasilitasi kolaborasi; setiap orang dapat mengambil kartu dan menuliskan ide. Ketiga, kartu dapat dengan mudah dikelompokkan di atas meja atau dinding untuk memeriksa konsistensi dan kelengkapan, dan untuk memvisualisasikan ketergantungan.

9. Pertahankan Cerita Anda Terlihat (Visible) dan Dapat Diakses

Cerita dibuat untuk mengkomunikasikan informasi. Jangan sampai tidak terlihat. Buatlah agar terlihat, seperti letakkan di dinding. Hal ini dapat memupuk kerjasama, menciptakan transparansi, dan membuatnya jelas.

SampleProductCanvas

10. Jangan Hanya Mengandalkan User Story

User story dapat menangkap fungsi produk, tetapi kurang cocok untuk menggambarkan perjalanan pengguna (user journey) dan desain visual. Oleh karena itu, lengkapi user story dengan teknik lain seperti story map, diagram alur kerja (workflow), sketsa, dan mockup.

Selain itu, user story tidak menggambarkan persyaratan teknis. Jika Anda perlu menggambarkan elemen arsitektural seperti komponen atau layanan yang harus dilakukan, tuliskan cerita teknis menggunakan bahasa pemodelan seperti UML.

Referensi: