Bagaimana prinsip usaha ciputra yang dapat kita ambil pelajaran ?

ciputra

(Lia Permata Sari) #1

Ir. Ciputra

Ir. Ciputra atau Tjie Tjin Hoan , lahir di Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931, adalah seorang insinyur dan pengusaha di Indonesia. Ia terkenal sebagai pengusaha properti yang sukses, antara lain pada Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang filantropis, dan berkiprah di bidang pendidikan dengan mengembangkan sekolah dan Universitas Ciputra.

Bagaimana prinsip usaha ciputra yang dapat kita ambil pelajaran ?


(Suseno) #2

Berikut adalah artikel dengan judul Ciputra Entrepreneurial Journey yang diambil dari Universitas Ciputra Entrepreneurship Online.

Menurut Pak Ciputra, visi adalah salah satu kekuatan menonjol dari seorang pemimpin dapat digambarkan sebagai kemampuannya dalam "membaca." Membaca, yang dimaksud di sini tentu bukan berarti sekadar membaca sebatas dengan apa yang tampak di permukaan, melainkan mampu mencapai kedalaman. Dalam pembacaan, seberapa dalam seseorang bisa membaca sesuatu simetri dengan seberapa dalam ia bisa mencapai dirinya sendiri. Itulah sebabnya, orang yang mampu membaca sesuatu secara mendalam akan mampu pula merefleksikan apa yang dibacanya untuk perkembangan dirinya.

Bagi Pak Ciputra, visi adalah kemampuan untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Ibaratnya jika ada tiga orang yang melihat seekor ayam yang gemuk. Orang pertama berpikir bahwa ayam tersebut apabila digoreng dan dimakan pastilah nikmat. Orang kedua yang kelaparan mengatakan bahwa jika ayam itu dicuri, maka akan membantu mengatasi masalah laparnya, sedangkan orang ketiga berpikir untuk diternakkan, sehingga ia akan mendapat keuntungan yang makin banyak.

Pak Ciputra menekankan bahwa kita harus bisa melihat lebih dalam, lebih luas dan lebih tinggi, melihat dengan imajinasi. Melalui kemampuannya "melihat” lebih jauh dari apa yang sekadar tampak di permukaan itulah yang memungkinkan proyek-proyek yang ditanganinya selalu sukses dan sebagian besar dapat dikategorikan sebagai pelopor.

Taman Impian Jaya Ancol adalah salah satu contohnya. Kawasan itu dahulu merupakan tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Adriaan Valckenier pada abad ke- 17, yang kemudian popular sebagai tempat wisata. Namun pada masa penjajahan Jepang tidak terurus, sehingga menj adi kotor, kumuh, berlumpur, dan penuh rawa, sehingga ditinggalkan orang. Bung Karno, Presiden RI pertama menginginkan agar Ancol menjadi sebuah kawasan wisata. Ciputra yang selalu mengikuti perkembangan berita tentang Ancol melalui surat kabar bercita-cita membangun kawasan tersebut menjadi "Disneyland."

Berbekal visi itulah pada tahun 1967, Ciputra yang menjabat sebagai CEO PT. Pembangunan Jaya mengajukan konsep pengembangan kawasan Ancol kepada Ali Sadikin, Gubernur Jakarta saat itu. Bang Ali, yang sangat ia kagumi sebagai seorang government entrepreneur langsung menyetujui dan berpesan: “Jadikan Ancol setaraf dengan Disneyland- nya Amerika.” Dari keseluruhan luas 500 hektare lahan yang ada, Ciputra tidak memilih lokasi seluas 10-20 hektare untuk dikembangkan, melainkan justru meminta seluruhnya. Rekannya, Soekrisman dan Hiskak Secakusuma sempat kaget dan bingung karena kondisi lahan yang memprihatinkan, disamping mereka juga memiliki kemampuan modal terbatas. Jika menggunakan definisi entrepreneurship yang dipopulerkan Ciputra yaitu kemampuan untuk mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas (transformatif), maka Disneyland yang Bang Ali inginkan ibarat emas’, sedangkan lahan yang ditawarkan kepadanya sungguh-sungguh seperti kotoran atau rongsokan. Mengingat dulu Ancol adalah area “tempat jin buang anak.”

Lalu apa yang dilakukan oleh Ciputra untuk mengubahnya?

  • Pertama, Pak Ciputra mampu menggunakan imajinasi kreatif untuk melihat sebuah permasalahan dengan kaca mata seorang entrepreneur. Di tempat yang kumuh itu Ciputra melihat berbagai kesempatan terbuka dan membayangkarmya secara kreatif. Ia tidak sedikitpun terpaku pada hambatan, kelemahan, dan kekurangan yang ada, namun justru memilih berfokus pada potensi dan peluang yang dapat diraih. Dengan demikian ia telah menciptakan peluang. Ciputra melihat, lokasi Ancol yang sangat dekat dengan Jakarta dan berada di pinggir pantai merupakan kekuatannya. Demikian juga di Hanoi, pemerintah Hanoi hanya menawarkan lahan 5 hektar, tetapi dengan cerdik Ciputra memperoleh 350 hektar dan dikembangkan menjadi sebuah wilayah baru terbaik di kota Hanoi dengan nama Ciputra International City yang sedang dibangun siang dan malam dan menjadi kebanggan Kota Hanoi.

  • Kedua, melakukan inovasi dengan cara subsidi silang. Sebagian area Ancol dijual untuk membangun profit center, lalu sebagian yang lain tetap dimiliki. Sebagian lagi dibangun untuk disewakan, agar hasilnya dapat digunakan untuk menutup biaya operasional sehari-hari, sementara asetnya tetap dimiliki oleh perusahaan.

  • Ketiga, ia berani mengambil risiko yang terukur (calculated risk). Ciputra berpikir bagaimana cara agar proposalnya menarik dan disetujui Pemda DKI Jakarta. Dalam proposal tersebut ia menyatakan niatnya untuk mengembangkan Ancol, dengan proporsi kepemilikan mayoritas ada pada Pemda DKI Jakarta. Modal sebagian besar akan dipinjam dari bank dan sisanya dari Ciputra dan kawan-kawan (padahal waktu itu modal mereka hanya sedikit sekali). 1:1 meyakinkan Bang Ali bahwa mereka punya manajemen, tenaga, dan gagasan. Pembagian laba ditawarkan 80 persen untuk Pemda DKI Jakarta dan 20 persen untuk mereka. Risiko hutang seluruhnya dijamin oleh Ciputra dan kawan-kawan, termasuk gaji karyawan Ancol yang telah tertunda. Alhasil, Gubernur tertarik dan langsung menyetujuinya.

Singkatnya, kawasan tersebut kemudian dibangun secara bertahap, sehingga kini telah menjelma menjadi kawasan wisata terbesar nomor lima di dunia. Dengan jumlah pengunjung sebanyak 13 juta, Ancol hanya kalah dari Disneyland dan Disney World. Padahal dari segi investasi, kawasan wisata tersebut berkali-kali lipat lebih besar daripada yang digunakan untuk membangun Ancol. Bukan hanya itu, sesudah Go public, Pemerintah DKI Jakarta sebagai pemegang 72 persen saham sudah memetik labanya. PT. Pembangunan Jaya Ancol yang merupakan perusahaan milik daerah, patungan dengan PT. Pembangunan Jaya telah menjadi Perusahaan BUMD pertama yang Go Public, dan BUMD Tbk yang paling berhasil di pasar modal. Ancol bahkan menjadi salah satu kontributor terpenting bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI Jakarta dan pembayar pajak dalam jumlah yang besar kepada Pemerintah pusat, serta menciptakan banyak lapangan kerja.

Contoh lain yang menunjukkan kemampuan Ciputra dalam "melihat" lebih jauh adalah saat ia mengubah suatu daerah yang sebelumnya "kambing pun enggan hidup" menjadi suatu kawasan hunian yang prestisius di Surabaya Barat, yang dikenal dengan nama Citra Raya. Daerah Lakar Santri yang berada di Surabaya Barat tersebut merupakan lahan kosong seluas 1.500 hektar yang gersang, sehingga sulit dikembangkan secara ekonomis menjadi lahan agraris. Pada tahun 1993, dengan ijin Gubernur jawa Timur, Ciputra menggagas pembangunan sebuah kota mandiri yang dilengkapi dengan padang golf internasional 27 lubang, sekolah nasional dan internasional, waterpark terbesar di Indonesia, fasilitas lainnya berupa Universitas Ciputra dengan tema entrepreneur yang sangat populer di Surabaya.

Pada saat mengajukan permohonan pinjaman ke Bank Rakyat Indonesia (BRI), menurut cerita Prof.Dr. Joko Santoso, mantan direktur utama BRI, direksi bank tersebut meminta penjelasan selengkap-lengkapnya sebagai bagian dari penjelasan studi kelayakan yang telah disusun. Hal ini penting karena calon lahan yang akan dibangun sebenarnya memiliki tingkat risiko yang tinggi karena kering dan sulit sumber daya air. Padahal tidaklah mungkin suatu realestat dibangun tanpa air. Di sinilah kemampuan Ciputra untuk senantiasa pantang menyerah diuji.

Sejarah kembali mencatat keberhasilan seorang Ciputra, yang membuat segalanya menjadi mungkin melalui terapan teknologi. Ia menggunakan sumber air sungai Brantas yang dipompa sejauh 8 kilometer ke dalam empat kolam besar, dengan masing-masing dilengkapi sistem pengolahan air bersih. Kolam pertama tanpa system khusus, karena sengaja memanfaatkan kandungan pupuk organik yang terbawa oleh aliran sungai untuk menyirami lahan. Kolam kedua hingga keempat dilengkapi dengan sistem pengolahan air bersih sehingga sampai pada kolam yang keempat menghasilkan air yang sudah layak minum. Proyek itu berjalan dengan sukses, sehingga Citra Raya mampu memosisikan dirinya sebagai "The Singapore of Surabaya" karena kebersihan dan kelengkapannya. Dari nilai tanah yang semula berharga sekitar 5 ribu rupiah per meter persegi saat dibebaskan, kini Anda harus mengeluarkan uang jutaan rupiah per meter persegi untuk mendapatkan kavling di kawasan tersebut.

Proyek-proyek berikutnya, seakan terus bergulir dan semakinbanyak berdatangan. Maka tak heran kalau kemudian Ciputra mendapat kepercayaan dari berbagai pihak untuk bermitra. Seperti halnya tawaran yang datang dari pemerintah Vietnam untuk membangun kota baru seluas 350 hektar, padahal semula hanya berupa proyek seluas 5 hektar yang ditawarkan kepadanya.

Pentingnya Integritas

Keberhasilan Ciputra dalam berbisnis tak terlepas dari peranan integritas, yang mencakup moral serta janji yang harus ditepati sebagai landasan kesuksesan dalam bekerja, berbisnis, dan bermitra dengan orang lain. Dalam upaya meyakinkan mitranya, Ciputra tidak pernah berhenti memikirkan dan menggali manfaat yang akan diperoleh mitranya dari proyek yang akan mereka garap bersama. Bagi Ciputra, memikirkan manfaat yang bakal diperoleh mitra bisnisnya dalam sebuah proyek kerjasama bukan hanya demi memenangkan perundingan, melainkan untuk manfaat yang jauh lebih penting bagi kedua belah pihak, yakni kelanggengan proyek tersebut. Sebab mitra bisnis yang puas adalah rekomendasi yang terbaik untuk mendapatkan mitra bisnis berikutnya.

Kemitraan adalah pertaruhan reputasi citra pribadi seorang Ciputra. Itulah sesungguhnya yang ia lakukan ketika pertama kali mendekati Pemda DKI Jakarta. Ciputra datang dengan konsep membangun Jakarta Raya sebagai ibu kota negara dengan memanfaatkan lahan yang dimiliki Pemda DKI Jakarta. Bahkan dalam akta pendirian PT. Pembangunan Jaya disebutkan bahwa tujuan didirikannya perusahaan itu adalah untuk membantu peremajaan kota serta untuk meningkatkan perolehan pendapatan daerah.

Ketika Ciputra menghadap Gubernur Ali Sadikin dan ditanya tentang apa komitmennya terhadap proyek-proyek yang digagasnya, Ciputra menjawab bukan hanya melalui ucapan tetapi melalui pekerjaan-pekerjaan yang diselesaikannya dengan baik. Bahkan menurut Ciputra, 25 tahun waktu terbaik dalam hidupnya ia dedikasikan untuk Grup Pembangunan Jaya. Terhadap delapan orang Gubernur DKI Jakarta yang ia layani selama lebih dari 40 tahun, ia mengatakan bahwa ia ingin menjadi kuda yang baik, sementara para gubernur itu yang menjadi jokinya. Dengan filosofi tersebut Ciputra tidak mengalami konflik dengan satu gubernur pun. Jika ada perbedaan, Ciputra mencoba menahan diri dan tetap bersikap bijak, sambil mengusahakan pemahaman bersama. Meskipun, menurut pengakuannya, bersabar merupakan hal yang sangat sulit bagi seorang entrepreneur yang kreatif.

Membangun Organisasi Visioner


Dalam keyakinan Ciputra, untuk menjamin keberhasilan suatu bisnis diperlukan organisasi yang solid. Sekuat apa pun visi seorang, entrepreneur, sehebat apa pun kemampuannya bernegosiasi untuk menghasilkan sebuah deal bisnis, pada akhirnya sang entrepreneur harus bekerja melalui organisasinya pula. Keberhasilan sejumlah taipan kelas dunia dan kegagalan mereka juga sangat berkaitan dengan organisasi.

Seorang entrepreneur yang visioner harus membangun organisasi yang visioner pula.

Saat merintis dan mengelola bisnis, banyak entrepreneur yang tergoda untuk hanya mendengarkan dirinya sendiri dan tidak mau mendengar nasihat orang lain di lingkungannya. Orang-orang seperti ini oleh Ciputra digolongkan sebagai orang yang pintar tetapi kurang bijaksana. Orang pintar yang bijaksana di mata Ciputra adalah orang yang tidak menganggap dirinya di atas orang lain, meski pada kenyataan memang kepintarannya lebih tinggi.

Seorang pemimpin entrepreneur yang bijaksana di mata Ciputra adalah pemimpin yang menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui segala hal. Ciputra dalam mempertimbangkan segala sesuatu sampai pada keputusan YA atau TIDAK, selalu melibatkan data pendukung. la akan terlebih dahulu berbicara dengan banyak orang sebelum mengambil keputusan, termasuk dengan para stafnya di lapangan.

"Kalau dihitung, seorang direktur menelepon saya paling-paling sekali dalam seminggu. Tetapi saya menelepon mereka, bisa lebih dari tiga kali sehari. Itu sangat wajar, karena bukan hanya mereka yang membutuhkan saya, tetapi saya pun membutuhkan mereka," begitu Ciputra memberi penjelasan.

Meski pada akhirnya, Ciputra sendirilah yang mesti mengambil keputusan dan memikul tanggung jawab atas keputusan itu. Ada kalanya ia harus memutuskan walaupun hanya ia sendiri yang meyakini keputusan itu. Ketika banyak suara menentang, Ciputra tetap berpegang teguh dengan keputusannya itu. Ia selalu memercayai dan mengikuti intuisinya.

Gaya kepemimpinan Jack Welch, mantan CEO legendaris General Electric (GE) menginspirasikan Ciputra dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin. Welch pernah mengatakan, walaupun ia seorang CEO, ia tidak tahu semua hal mengenai GE. Oleh karena itu Jack mengatakan ia hanya mengontrol Sumber Daya Manusia (SDM) dan keuangan. Sehingga manakala Welch mengunjungi perusahaan-perusahaan di lingkungan GE ia selalu membawa orang keuangan di sebelah kanannya dan orang SDM di sebelah kirinya.

Ciputra berpendapat bahwa Emotional Quotient (EQ) lebih penting dari Intelligence Quotient (IQ).

Gaya Kepemimpinan dan Teamwork


Dengan kepemimpinannya, Ciputra telah membangun tiga grup perusahaan yang dikenal memiliki manajemen organisasi bercitra modern. Ciputra mematok standar yang tinggi bagi orang-orang yang bekerja dalam grup bisnisnya, sehingga ia dengan tegas dapat berkata bahwa biasanya orang terbaik sudah dengan sendirinya diberikan tanggung jawab yang besar, sedangkan mereka yang biasa-biasa saja dengan sendirinya pula mendapatkan posisi lain sesuai dengan kapasitasnya.

Selama menahkodai perusahaannya, Ciputra mengatakan bahwa dulu ia telah melalui tiga fase gaya kepemimpinan berdasarkan filosofi Ki Hajar Dewantoro. Pada usia muda ia memimpin dari depan, atau Ing Ngarso Sung Tulodo , berada di depan sebagai pelopor untuk membeti arahan, contoh dan teladan. Ciputra mengatakan bahwa seorang pemimpin yang hanya berpidato dan memberikan pengarahan saja bukanlah pemimpin yang efektif. Begitu ia melakukan lain dari yang ucapkan maka runtuhlah kepercayaan organisasi terhadapnya. Pada fase berikutnya ia memimpin dari tengah, atau Ing Madyo Mangun Karso . Di sini ia bersama-sama dengan tim menggali ide dan mendiskusikan untuk selanjutnya diputuskan bersama. Fase terakhir, ia memimpin dengan mendorong dan memberi semangat dari belakang, atau Tut Wuri Handayani.

Akan tetapi dalam sepuluh tahun terakhir ini, peran dan kepemimpinannya telah banyak mengalami pergeseran. Ciputra kini lebih beperan sebagai Mentor bagi para anggota Komisaris dalam organisasinya. Dalam posisinya ini, Ciputra membiarkan organisasinya dikelola penuh oleh para profesional, sehingga malah banyak ide-ide yang bergulir dari sana. Sebagai mentor, ia layaknya seorang "provokator" yang bertujuan mengubah mindset semua orang kepercayaannya untuk berpikir kreatif dan " out of the box ."

Soal mengubah mindset inilah yang belakangan menjadi kegiatan utama yang telah membuat dirinya serasa lebih "hidup" dan bergairah. Bukan hanya ke dalam oraganisasinya perubahan mindset itu ia kampanyekan, akan tetapi juga keluar, kepada seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia. Mindset entrepreneurship itulah yang belakangan ia serukan ke segenap penjuru negeri. Dalam peran inilah Ciputra telah menjadi "the transformer," yang mentransformasi segala sumber daya, baik itu sumber daya alam, lebih-lebih sumber daya manusia, hingga mencapai kemungkinan tertingginya.

Dahulu Ciputra menerapkan sistem Reward and Punishment kepada seluruh karyawan perusahaannya. Karyawan yang berhasil meraih kinerja sangat baik akan mendapat kompensasi berupa imbalan, sedangkan yang gagal mendapat sanksi. Sekarang ia lebih menekankan management by consensus, artinya bahwa keputusan itu dibuat bersama, jika berhasil, maka kompensasinya akan ditentukan bersama, sebaliknya jika ada kesalahan maka akan didiskusikan di dalam tim untuk disepakati sanksinya serta mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. Dari sini karyawannya diajak belajar untuk berani mengambil risiko yang terukur. Ciputra mentoleransi adanya kesalahan, selama bukan kesalahan pelanggaran moral, ada alasannya dan dapat diperbaiki, karena menurutnya dengan kesalahanlah seseorang jadi belajar. Namun seorang pemimpin tidak boleh berpikir gagal. Sekali sebuah langkah diambil, tidak ada alasan untuk berpikir mundur lagi. Pikiran seorang pemimpin harus tertuju pada keberhasilan. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana menjadikan tantangan dapat ditaklukkan dengan berbagai ikhtiar untuk suatu hasil yang membanggakan.

Bagi Ciputra, apa yang mendominasi pikiran seorang pemimpin entrepreneur, itu pula yang akan menjadi kenyataan. Jika seorang pemimpin meluangkan waktu untuk berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan gagal, maka itu pula yang bakal terjadi. Sebaliknya, jika seorang pemimpin memikirkan keberhasilan, maka keberhasilanlah yang akan ia dapatkan. Berpikir optimistis, bagi Ciputra adalah bekal yang sangat bernilai untuk berhasil.

Mengenai teamwork, Ciputra berpendapat bahwa pertama-tama seorang pemimpin harus memikirkan apa manfaat bagi seseorang yang bergabung dalam tim organisasinya. Pemimpin membentuk teamwork untuk mencapai suatu manfaat. Jika ia mengajak orang lain bergabung, ia harus memikirkan apa imbalan yang dapat diperoleh orang tersebut atas kontribusi yang diberikan. Jadi teamwork harus dapat memberi manfaat, baik bagi organisasi maupun bagi anggotanya.

Selanjutnya pemimpin harus bersikap adil terhadap anggota tim dalam organisasinya. Pada waktu sang pemimpin mengendarai skuter, anak buahnya dapat mengendarai sepeda. Namun jika saat anak buahnya mengendarai skuter dan sang pemimpin mengendarai Rolls Royce, berarti sudah tidak ada keadilan, karena kesenjangan terlalu jauh. Dalam teamwork, jika kita adalah pemimpin, kita harus lebih bermanfaat dari yang lain. Makin tinggi pangkat dan jabatan kita maka kontribusi yang kita berikan harus semakin besar. Bukan waktu yang menjadi ukuran kontribusinya, namun gagasan dan pemikiranlah yang harus diperhitungkan. Kepercayaan juga sangat penting untuk dibangun oleh seorang pemimpin dalam mengelola teamworknya.

Menurut Ciputra, memberikan kepercayaan lebih penting dari sekadar memberikan uang. Dengan kepercayaan kepada tim, organisasi jadi lebih luwes dalam bergerak dan mengurangi birokrasi.

Melalui penanaman nilai-nilai kepemimpinan dan teamwork di atas, Ciputra telah menyiapkan regenerasi kepemimpinan dalam organisasi perusahaannya. Melalui teamwork yang telah dibangunnya pula lab bisnis kelompok Ciputra dapat keluar dart kemelut krisis ekonomi.

Di bawah kepemimpinannya, pada tahun 1997, ketika krisis ekonomi dan mulai menghadapi kebangkrutan, Ciputra justru mengumpulkan karyawan dan keluarganya untuk membangun kembali Ciputra Group dengan perlahan-lahan. Melalui prinsip hidup yang kuat, Ciputra mampu melewati masa itu dengan baik. Ciputra selalu berprinsip bahwa jika kita bekerja keras dan berbuat benar, Tuhan pasti membuka jalan, seperti adanya kebijakan moneter dart pemerintah, diskon bunga dart beberapa bank sehingga ia mendapat kesempatan untuk merestrukturisasi hutang-hutangnya. Akhirnya ketiga grup itu dapat bangkit kembali.

Memang, dia tidak menjadi konglomerat nomor satu atau nomor dua di Indonesia, tapi dia adalah yang terbaik di bidangnya: realestat. Grup Ciputra berkembang menjadi perusahaan pengembang property multinasional, dan kini mampu melakukan ekspansi usaha di dalam dan luar negeri. Setelah krisis berakhir, Ciputra tetap melakukan ekspansi di Vietnam, India, Kamboja, dan Cina. Ia juga merancang proyeknya di Asia, Timur Tengah, dan Eropa Timur.

Pesan Kepemimpinan


Menyusuri Kisah perjalanan hidup dan sepak terjang Ciputra di bisnis properti, kita menemukan begitu banyak pelajaran yang dapat kita tarik. Mulai dari kisah masa kecilnya yang serba susah, memulai usaha pada saat masih kuliah, hingga ketika ia mulai mencetak keberhasilan demi keberhasilan. Semuanya begitu inspiratif dan memperkaya wawasan. Tanpa bermaksud membatasi makna ataupun insight yang dapat Anda temukan, ada beberapa poin kunci yang perlu kita renungkan:

Secara eksistensial, kita tidak pernah bisa memilih: ingin lahir dari orang tua yang mana, miskin atau kaya, dalam suku bangsa apa, serta lingkungan masyarakat yang mana. Namun demikian, kita tidak boleh terperangkap hanya hidup berdasarkan eksistensi. Ada esensi yang mesti kita cari. Kehidupan "menugasi" kita untuk menemukannya, karena kalau tidak, hidup kita akan terasa hampa dan sia-sia. Inilah yang oleh Stephen R. Covey disebut " finding your own voice," sementara Martha Beck menyeru, " finding your own North star ." Singkatnya, kalau toh kini lahir dari keluarga miskin yang tidak berpendidikan, atau kita memiliki orangtua yang begitu buruk sekalipun, semua itu hanyalah eksistensi, bukan esensi. Sehingga tidak dapat dijadikan alasan untuk menyerah pada keadaan, atau hanya menyalahkan keluarga, lingkungan, masyarakat, atau pemerintah. Karena seperti bunyi ungkapan: "The winner takes a responsibillity, the loser lay blame," si Pemenang ambil tanggung jawab, si Pecundang menyalahkan.

Secara sederhana dapat dikatakan, kualitas kepemimpinan yang paling utama adalah memiliki kekuatan transformatif. Artinya seorang pemimpin mesti mampu mentransformasikan, seonggok kotoran menjadi emas. Bukan hanya sebatas mentransformasikan lahan atau produk dan jasa menjadi sesuatu yang lebih bernilai, tetapi juga mentransformasikan potensi sumber daya manusia. Melalui keteladanan, pemberdayaan, dan pembelajaran dari sang pemimpinlah akan lahir generasi pemimpin-pemimpin baru.

Pemimpin, sebagaimana ditunjukkan oleh Ciputra, tidak menghabiskan waktunya dengan menjawab pertanyaan "bagaimana caranya," akan tetapi langsung menangani tujuannya. Mengenai hal ini Warren Bennis mengungkapkarmya dengan bagus, "Para manajer mengatasi masalah, tetapi pemimpin menemukan masalah. " Seperti halnya ketika Ciputra mengajukan proposal pembangunan Ancol kepada Gubernur DKI, sesungguhnya ia telah menemukan "sebuah masalah." Atau pada saat ia berniat mengembangkan daerah Lakar Santri di Surabaya Barat, ia pun sekali lagi menemukan "masalah."

Akan tetapi di atas semuanya, Ciputra memiliki karakter yang kuat sebuah kualitas yang bukan hanya mutlak dibutuhkan bagi seorang pemimpin, tetapi juga merupakan prasyarat yang mesti dipenuhi agar seorang pemimpin dapat bertahan lama. Karena, kharisma maupun kepandaian memang dapat mengantar seseorang mencapai puncak, akan tetapi hanya karakterlah yang memungkinkannya tetar) bertahan di puncak. Sikap Ciputra yang tergambar dalam pengajuan proporsi bagi hasil, 80 persen untuk Pemda DKI Jakarta dan persen dirinya, adalah sikap win-win yang tidak serakah. Begitu juga pada saat ia lebih sering berpikir tentang keuntungan yang bakal diterima oleh mitranya, atau integritas yang secara panjam lebar ia sampaikan, flu semuanya bersumber dari karakternya yang baik. Kualitas-kualitas itulah yang memungkinkannya memperoleh reputasi tinggi, dan bertahan hingga empat dekade. Boleh dibilang, tanpa karakter tersebut, maka segala kemampuannya seperti yang diurai di atas, nyaris tak ada gunanya.


(Vina Shaw) #3

Barangkali ada yang bertanya, apa yang dapat digali dari seorang Ciputra untuk dibagikan kepada orang-orang yang masih hijau dalam dunia bisnis?

Bisakah mereka yang digolongkan sebagai entrepreneur junior pun mungkin belum patut, belajar langsung dari Ciputra, bukankah Ciputra telah menjadi seorang konglomerat papan atas, taipan, supra-entrepreneur yang mungkin telah berada ‘dilangit ke tujuh’ dan hanya cocok bicara tentang proyek triliunan rupiah?

Pertanyaan-pertanyaan itu sangat wajar di tengah banyaknya persepsi dan pencitraan yang disematkan kepada tokoh sekaliber Ciputra Namun, yang sering dilupakan orang adalah perjalanan Ciputra menjadi pengusaha papan atas di Tanah Air bukanlah sebuah proses instan apalagi melalui jalan pintas. Sama seperti kebanyakan pebisnis pemula dimanapun di dunia ini titik berangkat Ciputra dalam berbisnis tidak jauh berbeda dengan titik berangkat para anak-anak muda dan pebisnis pemula. Tantangan yang dihadapi Ciputra dari dulu sampai sekarang sangat mungkin juga akan berulang, baik dalam versi serupa maupun dalam berbagai bentuk lain, menghampiri anak-anak muda yang merintis bisnis atau merencanakan berbisnis.

Pertanyaan tentang bagaimana manfaat pengalaman seorang Ciputra dibagikan kepada para anak- anak muda yang ingin jadi entrepreneur juga akan makin terjawab bila kita sempat membaca buku karya George H.Ross bersama Andrew James McLean, yang berjudul Trump Strategies for Real Estate.

Kita mengenal Donald Trump, multimiliarder di bisnis properti negeriPaman Sam, dan belakangan ini lebih populer lagi lewat acara televisinya, Apprentice . Sudah dapat ditebak jika buku itu bercerita tentang strategi Trump dalam berinvestasi dan mengembangkan bisnis real estate. Yang menarik, ternyata Ross dan McLean mempersembahkan buku ini bukan bagi para pengusaha besar sekelas Trump , melainkan kepada investor-investor kecil yang ingin belajar meraih sukses dari apa yang dilakukan oleh para pengusaha besar.

Ross, yang sudah menjadi penasihat Trump selama puluhan tahun, percaya bahwa sesungguhnya bukan skala bisnis yang jadi soal penting, melainkan bagaimana strategi dalam berinvestasi dan mengembangkan bisnis. Itulah sebabnya Ross dan McLean mengatakan bahwa prinsip berbisnis yang sukses di bisnis berskala raksasa juga berlaku di bisnis-bisnis berskala kecil lainnya.

Bagi Ciputra, sedikitnya ada tiga ciri utama seorang entrepreneur, yaitu :

  • Pertama, seorang entrepreneur mampu melihat peluang bisnis yang tidak dilihat atau tidak diperhitungkan oleh orang lain. Ia melihat kemungkinan dan memiliki visi untuk menciptakan sesuatu yang baru yang memicu semangatnya untuk bertindak.

  • Kedua, seorang entrepreneur adalah orang yang bertindak untuk melakukan inovasi, mengubah keadaan yang tidak/kurang menyenangkan menjadi keadaan seperti yang diinginkan. Tindakanlah yang membuat entrepreneur menjadi inovator.

Ketiga, seorang entrepreneur adalah pengambil resiko, baik resiko bersifat finansial (rugi), maupun resiko yang bersifat mental (dianggap gagal).

Dengan tiga ciri pokok tersebut, seorang entrepreneur sejati seperti seorang “perintis kawasan baru”, “penjelajah rimba raya”, atau juga “pendaki gunung” yang selalu mencari puncak-puncak taklukkan baru. Mereka bermimpi, atau maju bergerak menuju tantangan dan tidak gentar memikul resiko. Ringkasnya entrepreneur sejati berani rugi, berani malu dan juga berani terkenal.

Bagi Ciputra, entrepreneur yang berkemungkinan sukses biasanya adalah seorang yang tidak cepat puas, yang ingin mengetahui sesuatu lebih banyak lagi sampai ia dapat memahami dan mewujudkan sesuatu dari yang baru diketahuinya itu. Ciputra adalah orang yang tak pernah berhenti bekerja dan belajar demi menciptakan sesuatu yang lebih bernilai. Ia bahkan tidak malu belajar dan merasa bangga serta berterima kasih jika ada banyak orang yang mengajarkan sesuatu yang baru kepadanya.

Bagaimana jika orang merasa tak berbakat, tetapi ingin memiliki bisnis sendiri?

Pertanyaan ini bersifat paradok. Sebab, bakat seseorang umumnya menumbuhkan minatnya terhadap sesuatu. Seperti bakat Pak Ciputra sebagai entrepreneur dalam industri properti membuatnya amat berminat, melihat, mendengar, bermimpi, dan memperbincangkan hal-hal yang bertalian dengan dunia properti. Jadi, jika seseorang berminat untuk memiliki usaha sendiri, maka minatnya itu sendiri harus dimengerti sebagai bakat dan potensinya sehingga, tak usah pusing soal apakah kita berbakat atau tidak. Sepanjang ada hasrat besar untuk menjadi entrepreneur, anggap saja itu merupakan petunjuk kita bahwa kita berbakat. Lalu cobalah membangun visi, mencari menginovasi dan menciptakan suatu produk, dan belajar mengambil resiko tahap demi tahap, bulatkan tekad untuk menjadi pengusaha, menjadi pebisnis, menjadi entrepreneur.

Perlukah pendidikan formal bagi seorang entrepreneur?

Sebagai manusia pembelajar, entrepreneur belajar dari semua hal, bahkan dari tempat-tempat yang banyak orang mungkin tidak membayangkannya sabagai tempat belajar. Ciputra belajar dari bawahannya, Ciputra belajar dari persoalan yang dihadapinya, bahkan Ciputra belajar dari semua orang yang pernah berhubungan dengannya. Pengakuan semacam ini tampaknya memang sudah umum kita dengar dari banyak entrepreneur sukses. Karena demikian besarnya penekanan pentingnya belajar dari segala hal, muncullah anggapan bahwa ternyata belajar menjadi entrepreneur tidak perlu berbekal pendidikan formal. Sekolah formal sebagai tempat belajar yang saangat mendasar dianggap tidak penting lagi. Apalagi aneka buku yang sering mempertanyakan arti pentingnya sekolah. Seolah-olah karena secara spesifik sekolah formal tidak mengajarkan bagaimana cara berbisnis, maka untuk menjadi entrepreneur pun dianggap tidak perlu dibekali dengan pendidikan.

Pengalaman dan perjalanan hidup Ciputra menunjukkan bahwa pendidikan dan ilmu menjadikan orang pintar. Entrepreneur yang berbekal pendidikan dan pengalaman juga semakin lama akan semakin pintar. Tetapi diatas kepintaran, Ciputra percaya ada kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaanlah seorang entrepreneur dapat menghindarkan diri dari kesalahan yang tidak perlu. Dalam merintis dan mengelola bisnis, seorang entrepreneur sering kali dihadapkan pada tantangan untuk hanya mendengarkan dirinya sendiri dan tidak mau mendengarkan nasihat dari lingkungannya. Orang-orang seperti ini bagi Ciputra digolongkan sebagai orang pintar tetapi kurang bijaksana. Orang pintar yang bijaksana di mata Ciputra adalah orang yang tidak menganggap dirinya diatas orang lain meskipun kepintarannya pada kenyataannya memang demikian. Seorang entrepreneur yang bijaksana di mata Ciputra adalah pemimpin yang menyadari bahwa dirinya idak mengetahui segala hal.

Entrepreneur yang paling berbakat pun tetap manusia biasa, dan anda tidak tidak harus menjadi orang jenius dalam semua bidang untuk menjadi entrepreneur sukses. Setahu saya. Li Kha Sing juga bukan orang jenius disegala bidang. Namun ia berhasil menjadi entrepreneur sukses, baik di Negerinya maupun di mancanegara. Kita hanya perlu jenius dalam bidang yang sesuai dengan bakat pilihan hidup kita, dan untuk itu kita harus terus belajar.

Ciputra telah mempraktikkannya. Lebih dari itu, sepanjang 40 tahun lebih perjalanan hidupnya sebagai entrepreneur, Ciputra tak pernah jemu untuk berhenti sejenak, melihat dan mendengarkan, entah itu dari para bawahan, kolega, dan terutama pelanggan-pelanggan perusahaannya. Tidak perlu dipertanyakan bila salah satu nasihat yang ingin disampaikannya kepada para anak muda yang mempersiapkan diri atau perjalanan menjadi entrepreneur, adalah selalu bersikap bijaksana.

Pintar itu penting, tetapi sediakan waktu untuk berhenti sejenak, melihat dan mendengar apa yang dikatakan orang lain.

Menggali Ide-Ide Bisnis


Ir. Ciputra memang dikenal sebagai orang yang tidak pernah kehabisan ide bisnis. Antonius Tanan, salah seorang eksekutif profesional di Grup Ciputra, ketika menulis tentang perjalana bisnis Ciputra dalam buku Menjadi Manusia Unggul yang Disertai Tuhan (2004), menyebut bahwa inovasi adalah Trade Mark Ciputra. “Ia adalah seorang yang tidak pernah lelah untuk mencipta dan berinovasi bahkan sampai pada usia 75 tahun seperti sekarang. Ide-ide baru yang unik bahkan provokatif tidak sedikit muncul darinya bila anda berbincang dengannya,” tulis Antonius Tanan.6 Tidak mudah membayangkan bagaimana seseorang sanggup untuk terus bertekun di sebuah bisnis yang selama empat dekade dan tak pernah bosan menggulirkan ide-ide baru. Tetapi Ciputra memang tak pernah kehabisan ide. Ia bahkan kerap menjadi provokator bagi jajaran manajemen di Grup Ciputra manupun di kelompok bisnis lain yang lebih dulu ia dirikan, untuk menggali dan memunculkan ide-ide baru.

Terkadang kami merasa jenuh dalam memenuhi ekspektasi Pak Ciputra. Tetapi itu semua sangat berarti bagi kami. Itu membuat kami tangguh dan teruji,” kata Budi Karya Sumadi, CEO PT.Pembangunan Jaya ancol, eksekutif yang pernah mendapatkan gemblengan Ciputra.

Walaupun penilaian orang sedemikian rupa terhadap Pak Ciputra, ia selalu membantah bila dikatakan seorang jenius. Menurut dia, modal paling mendasar yang ia punyai ketika memulai bisnis adalah semangat dan kepercayaan diri. Selebihnya adalah keyakinan bahwa bekerja keras dan upaya yang sungguh-sungguh akan membuahkan hasil.

Bagaiman Ciputra menemukan ide-ide bisnis? Bagaimana pula ia mengelola dan mengembangkan ide-ide tersebut? Bagaimana ia membangun keyakinan tentang adanya peluang pada setiap langkah bisnisnya? Apakah semua itu datang begitu saja dalam mimpi-mimpinya itu ketika berhadapan dengan dunia nyata?

Bagi entrepreneur yang tidak mempunyai kepercayaan diri yang besar seperti Pak Ci; yang merasa kurang mampu mendapatkan ide-ide bisnis; yang merasa terbentur dan takut mencoba menerjuni bisnis dengan alasan tak punya ide atau konsep bisnis untuk dijalankan; yang menganggap dunia bisnis telah penuh sesak dan tak ada kesempatan lagi bagi seorang pemula untuk menggarapnya.

Ciputra selalu punya mimpi. Mimpi itu terus menghuni benaknya ketika bangun, tidur dan terjaga lagi. Dalam rinciannya, mimpi-mimpi itu tidak selalu persis. Tetapi garis besarnya sangat jelas. Ia ingin selalu menciptakan aneka ragam bangunan yang indah dipandang, kuat, kokoh, disenangi siapa saja yang berada di dalamnya, bernilai guna bagi sebanyak mungkin orang. Mimpi-mimpi semacam itu menjadi bagian dari dirinya sejak memutuskan terjun sebagai entrepreneur selepas menyelesaikan studinya di Jurusan Arsitektur ITB. Hingga kini pun, ketika ia telah ditempatkan sebagai salah seorang pelopor bisnis properti di Tanah Air, Ciputra tetap mengembangkan mimpi-mimpinya.

Mimpi-mimpi Pak Ciputra terkadang luar biasa, bahkan kerap tak terjangkau oleh pikirannya pada saat ia memimpikannya. Namun ia sudah sangat terlatih untuk mendaki gunung-gunung impiannya dan tidak mau berhenti jika belum mencapai puncak pendakiannya. Kalaupun upaya merealisasikan hal itu akan memerlukan waktu lima, sepuluh atau bahkan dua puluh tahun, ia akan terus mengerjakannya dengan semangat.

Segala pikirannya terpusat pada fokus tunggal. Pak Ci selalu mengajarkan bahwa,”Bagi seorang pekerja keras, meskipun itu di langit, harus tetap kita kejar. Andai tidak terpenuhi, kita sedang dalam proses ke sana.”

Fokus tunggal adalah merealisasikan apa yang telah ia tetapkan untuk direalisasikan.

Semua visi atau mimpi besar Ciputra selalu terkait dengan bidang usaha yang sekaligus bidang pengabdiannya, yakni sebagai pembangun dan pengembang kota-kota baru. Ia melihat dunia disekitarnya dalam persfektif itu. Ia menempatkan dirinya untuk tenggelam dalam dunia pembangunan kota-kota baru. Bagi Ciputra tak ada hal lain yang lebih menarik dibandingkan soal ide dan gagasan yang mengarah pada proses pembangunan kota baru. Ia merasa bangga dengan rancangan kota-kota baru yang pernah ia kerjakan. Sebagai contoh adalah master plan proyek Ciputra Hanoi International City dengan luas 315 Ha. Ciputra mengatakan bahwa itulah proyek real estate terindah di Hanoi. Namun bila ditanya manakah proyek yang terbaik yang ia lakukan maka jawabannya sangat gamblang: “My next Project…” tidak heran bila ia sampai sekarang terus bermimpi membangun kota-kota baru.

Begitulah Ciputra mengajarkan kepada setiap entrepreneur tentang pentingnya memilih bidang usaha yang bisa membuat kita menemukan mimpi-mimpi terbaik. Bidang usaha yang cocok dengan minat, pendidikan, bakat-bakat terbaik kita. Bidang usaha yang menumbuhkan mimpi-mimpi, dimana mimpi-mimpi itu justru sekaligus memasok energi dan membuat kita bersemangat untuk berusaha, terutama jika sejumlah tantangan menghambat langkah ke depan. Bidang usaha yang benar-benar sesuai dengan anatomi kejiwaan kita, sehingga tak pernah ragu untuk tetap fokus berusaha, sekalipun itu memerlukan waktu lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun. Bidang usaha yang membuat kita dengan senang hati dan penuh suka cita rela bekerja keras, dan bukannya mencoba mencari jalan pintas yang melecehkan harkat dan martabat kemanusian kita. Bidang usaha yang membuat kita tumbuh menjadi manusia yang lebih baik, dan menjadi entrepreneur sejati yang pantas dibanggakan oleh masyarakat dan Bangsa Indonesia.

Sesungguhnya pengalaman para entrepreneur menunjukkan ide bisnis dapat ditemukan di mana saja. Ide bisnis dapat muncul dalam perjalanan ketika anda membaca sebuah harian sore di masa liburan. Barangkali pula dari perbincangan dengan seorang rekan yang membutuhkan sesuatu dari dia dan lantas anda menangkapnya sebagai peluang bisnis. Bahkan apa yang dilakukan pesaing pun sebenarnya dapat menjadi sebuah ide bisnis yang baik. Mien R Uno seorang kawan baik Ir. Ciputra selalu teringat kebiasaan Pak Ci untuk membawa tape recorder ke mana-mana untuk merekam ide-ide yang melintas di kepalanya.

Menggali dan mengumpulkan ide bisnis yang didorong oleh mimpi sang entrepreneur, menurut Rodney Overton (2002) adalah salah satu tahap paling awal dari suatu bisnis.

Ada berbagai cara orang mengumpulkannya. Namun Overton mengatakan walaupun ide bisnis ada yang muncul secara tiba-tiba, pencarian ide-ide bisnis sebaiknya dilakukan secara sistematis.

Overton mengatakan, pada dasarnya ada empat sumber ide-ide bisnis:

  • Inspirasi
  • Peristiwa kebetulan (serendipity)
  • Konsumen
  • Tehnik-tehnik formal

Kategori di atas tentu saja bukan sebuah pengkotak-kotakan yang kaku, melainkan suatu alat penjelas untuk menggambarkan bagaimana entrepreneur menggali ide-ide bisnis. Pak Ci menggali ide-ide bisnis dari apa dan siapa saja yang mungkin ia temukan. Apakah itu sebuah perjalanan bisnis ke luar negeri, seperti ketika di Dubai dan berbagai negara lain di Eropa beberapa waktu lalu ataukah kunjungan ke sebuah proyek di pelosok negeri ini, itu semua sering kali mendatangkan inspirasi baginya untuk mendapatkan ide-ide bisnis. Mengamati apa yang dilakukan oleh kompetitor juga memicu ide-ide bisnis bagi Pak Ci.

Pak Ci selalu mengantongi sebuah buku catatan kecil, tempat dia mencatat hal-hal menarik yang ia temukan, disamping untuk menuliskan apa saja yang ia harus kerjakan hari itu. Ide-ide bisnis yang ia catat itu, ia baca kembali manakala ia punya waktu yang cukup. Ide itu ia bicarakan dengan para stafnya untuk menguji kemungkinan untuk direalisasikan. Sama seperti Pak Ci, seorang calon entrepreneur harus membiasakan diri mencatat ide-ide bisnis lebih baik ketimbang tidak mempunyainya sebab ia akan sangat berguna manakala anda membutuhkannya.

Pelajarilah hal-hal terbaik, dan tirulah itu,” kata Pak Ci, dalam strategi perusahaan, cara ini kerap disebut sebagai metode benchmarking .

Meniru adalah proses inovatif jika yang kita lakukan adalah meniru praktik-prakti terbaik, mengambil puncak-puncak pencapaian itu dan diramunya menjadi sesuatu yang lebih baik dan lebih bernilai sesuai dengan konteks usaha kita sendiri.

Benchmarking adalah suatu langkah untuk mencapai hasil terbaik dengan menetapkan suatu batu penjuru yang akan diacu, ditiru bahkan bila memungkinkan, dilampaui. Sang batu penjuru itu pada umumnya adalah praktik-praktik terbaik yang sudah teruji membuat suatu perusahaan mencapai hasil terbaik pula di bidangnya.

Bagi Pak Ci, dalam mengawali langkah menjadi entrepreneur, seseorang harus mengarahkan pikirannya kepada praktik-praktik terbaikyang pernah ada di bidang yang ingin di geluti sang calon entrepreneur. Bagi Pak Ci, meniru adalah bagian dari pekerjaan seorang entrepreneur. Hal itu makin ia yakini setelah ia membaca buku karya Malcolm Gladwell (2001) dengan judul Tipping Point, How Little Things Can Make A Big Difference. Dalam buku yang menjadi international best seller itu ia belajar bahwa ada hal-hal kecil yang bisa berdampak lebih besar salah satunya bagi Ciputra adalah kegiatan “meniru” secara kreatif.

Ciputra juga belajar tentang hal ini dari pebisnis sukses lainnya yakni, Sam Walton sebagai pemilik dan pendiri Wal Mart, jaringan supermarket terbesar sekarang di Amerika Serikat. Sebagai entrepreneur Sam mempelajari dan meniru habis-habisan apa yang dilakukan oleh pesaingnya, K Mart, yang menjadi pemimpin pasar kala itu.

Sam Walton meniru semua yang dilakukan K Mart dari bagaiman mendesain outlet , menetapkan harga, melayani pelanggan, bahkan sampai pada bagaimana barang-barang K Mart ditata. K Mart kala itu dianggap yang terhebat dan Sam berprinsip semua yang terbaik itu harus ditirunya. Apa hasilnya? Sekarang Wal Mart-lah yang paling besar, mengalahkan K Mart yang dulunya ditiru.

Dari cerita Sam Walton itu, Pak Ci mengambil benang merah filosofinya:

jangan malu meniru, tetapi tirulah yang terbaik untuk menjadikan anda lebih baik lagi. Itu sangat dia diyakini.

Proses inovasi Ciputra mungkin lebih jelas dipahami dengan meminjam gagasan Paul Geroski dan Costas Markides. Beberapa waktu yang lalu, dua ilmuawan dari London Business Scholl ini meluncurkan sebuah studi di Jurnal Strategy Business dengan judul Colonist and Consolidator . Disini mereka menyitir ada dua pengertian inovasi.

  • Inovasi pertama adalah inovasi dalam bentuk invensi atau temuan baru, ini dapat berarti sebuah penemuan yang menciptakan produk dan jasa yang sebelumnya tidak pernah ada atau dapat juga temuan terhadap suatu tehnologi untuk menciptakan atau memproses sesuatu.

  • Inovasi kedua, adalah proses merealisasikan sebuah temuan baru menjadi produk komersial yang dapat diterima pasar. Peran entrepreneur sebagai inovator tampaknya lebih dominan pada jenis inovasi yang kedua.

Sedangkan pada inovasi jenis pertama para ilmuawanlah yang menjadi penentunya. Inovasi jenis kedua yang terjadi sesungguhnya adalah proses belajar, baik oleh entrepreneur sebagai produsen maupun para konsumen sebagai sumber ide bisnis.

Selanjutnya, perkembangan pasar sebagai pendorong inovasi jenis kedua, berlangsung dua tahap. Tahap pertama adalah fase eksplorasi yang dipenuhi ketidak pastian di mana muncul perusahaan-perusahaan pioner yang dalam istilah Geroski dan Markides disebut perusahaan kolonis, perusahaan menjelajah ide-ide dan temuan. Sedangkan fase kedua adalah ketika perusahaan pioner saling bersaing dengan model bisnis masing-masing sambil belajar dari bertemunya permintaan dan penawaran di pasar yang sedang tumbuh. Pada tahap ini, perusahaan yang menjadi pemenang adalah perusahaan yang bertipe konsolidator, perusahaan yang mampu mengkonsolidasikan prakti-praktik terbaik untuk menghasilkan produk yang secara komersial terdepan memasuki pasar.

Studi Geroski dan Markides ini dengan sendirinya membenarkan pendapat Ciputra bahwa inovasi juga adalah proses meniru dan meramu berbagai praktik-praktik terbaik untuk menghasilkan produk atau jasa yang baru yang lebih baik dan bernilai dari yang ditirunya.

Memulai Bisnis Baru


Entrepreneurship adalah peoses melakukan sesuatu yang baru (kreatif) dan sesuatu yang berbeda (inovatif) dengan tujuan menciptakan kesejahteraan untuk individu dan memberi nilai tambah bagi masyarakat. Raymond W.Y.Kao (1995)

Sosok Ciputra sangatlah cocok dengan definisi Kao tersebut. Sebagaimana telah kita pelajari sebelumnya, Ciputra melakukan baik hal yang kreatif (baru), maupun hal yang inovatif (berbeda), sehingga karya-karyanya diterima dan dinikmati oleh masyarakat luas.

Sejumlah ahli manajemen mengatakan bahwa manusia dewasa rata-rata membuat 300 keputusan per hari, dari yang sepele sampai yang penting dan menentukan hidup mereka. Artinya, setiap tahun orang dewasa, anggap saja usia 18 tahun ke atas membuat sekitar 109.500 keputusan dalam hidupnya. Jika asumsi diatas diterapkan dalam kehidupan Ciputra yang telah melewati usia 74 tahun, maka 6.132.000 keputusan. Jumlah keputusan yang luar biasa banyak dan karenanya tentu sulit diingat. Namun pada kenyataannya, Ciputra menganggap hanya ada sepuluh keputusan yang sangat menentukan dan bersifat historis sehingga dikenal orang seperti sekarang ini. Hanya ada sepuluh keputusan fundamental yang membuatnya disebut sebagai pelopor dan inovator dalam industri properti, juga pengusaha yang tahan banting lintas generasi di panggung bisnis Tanah Air.

Berikut adalah 10 keputusan besar Ciputra yang menentukan perjalanan hidupnya,

  1. Mengejar ilmu pengetahuan sampai ke Pulau Jawa. Keputusan ini dibuat ketika ia masih menjelang remaja, berusia 12 tahun;

  2. Menikahi Dian Sumeler dan sebagai konsekuensinya Ciputra harus bekerja sambil kuliah untuk menopang keluarga. Mereka menikah di Bandung tahun 1954, saat Ciputra berusia 23 tahun dan masih kuliah di ITB. Dari pernikahan ini lahirlah empat orang anak, yakni Rina Ciputra, Junita Ciputra, Candra Ciputra, dan Cakra Ciputra. Inilah cikal-bakal pendiri Grup Ciputra;

  3. Mendirikan usaha biro konsultan Daja Cipta yang kemudian menjadi PT Perentjana Djaja. Ini dilakukan Ciputra ketika masih kuliah di tingkat tiga ITB, bersama dua orang temannya, Budi Brasali dan Ismail Sofyan. Ia mendirikan usaha ini dengan meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai karyawan dan keputusan ini sekaligus mempersiapkan wadah bisnis masa depan. Jadi, dengan dorongan untuk bertahan hidup, ia memulai suatu usaha yang ternyata kelak membawanya ke kancah bisnis dalam skala yang luar biasa.

  4. Pada tahun 1960, Ciputra memutuskan menjadi pengembang ( developer ) dan menyerahkan pengelolaan perusahaan konsultan perencanaan kepada kedua orang rekannya. Sebagai arsitek muda berusia 31 tahun dan baru tamat, ia berhasil meyakinkan Soemarno Sosroatmodjo, gubernur Jakarta kala itu, untuk mendirikan perusahaan patungan dalam bidang properti antara dirinya dengan pihak lain, termasuk Hasyim Ning (Dasaat), yaitu PT Pembangunan Jaya. Maka dibangunlah Proyek Pasar senen. Lima tahun kemudian ia berhasil meyakinkan Gubernur Ali Sadikin untuk mendirikan PT Pembangunan Jaya Ancol yang merupakan usaha patungan antara PT Pembangunan Jaya dengan Pemda DKI;

  5. Ketika Ciputra bersama-sama dengan beberapa temannya di PT Perendjana Djaja; Budi Brasali, dan Ismail Sofyan, ditambah teman lainnya, Sukirman dan Secakusuma, mendirikan Grup Metropolitan Development. Perusahaan ini menjadi salah satu grup bisnis properti terkemuka yang sukses membangun Wisma Metropolitan, Wisma WTC, Hotel Horison, Metropolitan Mal, Pondok Indah, Puri Indah, dan lain- lain. Keputusan ini meningkatkan skala bisnis dengan kerja sama yang diperluas, sampai sekarang, Ciputra masih menjadi Presiden Komisaris di kelompok usaha ini;

  6. Pada usia 50 tahun (1980) ia meendirikan Grup Bisnis Ciputra, sebuah grup bisnis yang ia dirikan bersama istri dan empat orang anaknya yang baru tamat dari luar negeri. Melalui grup ini, pengembangan bisnis terfokus pada bidang properti dan melakukan pengembangan pasar ke kota-kota besar di luar Jawa.;

  7. Mengembangkan usaha ke luar negeri. Ini di mulai pada pertengahan tahun 1990-an di Vietnam;

  8. Keputusan untuk memercayai campur tangan Tuhan terhadap masa depan bisnisnya;

  9. Mengembangkan pelayanan sosial dalam bidang pendidikan dengan mendirikan sejumlah sekolah dari tingkat dasar hingga universitas;

  10. Memilih strategi untuk fokus pada bisnis properti dan mengarahkan Grup Ciputra menjadi multi national corporation (MNC). Strategi konglomerasi yang aneka ragam bidang bisnis digantikan dengan fokus hanya pada bisnis properti, tetapi meluas ke berbagai negara. Pengembangan pasar properti dilakukan ke mancanegara, meski lokasi kantor pusat operasi tetap di Indonesia. Grup Ciputra sudah lebih dari 10 tahun membuka usaha di Vietnam dan tahun 2004 lalu mulai membuka bisnis di India juga. Dalam waktu dekat, Kamboja, Cina, dan Timur Tengah menjadi lahan pengembangan usaha berikutnya. Strategi yang akan ditempuh adalah bekerja sama dengan pemilik tanah, memanfaatkan kekuatan brand Ciputra, sehingga perusahaan mendapatkan fee dari brand value dan technical expertise.

Sepuluh keputusan bersejarah di atas menjadi pijakan yang kokoh bagi kiprah Ciputra selanjutnya. Dan tentu saja semua tidak berlangsung mulus begitu saja. Ada banyak masalah dan tantangan yang harus dilewati agar kelompok bisnis yang didirikannya tetap langgeng.

Sampai tahun 2005, ia telah membangun 22 kota baru di dalam dan luar negeri, dengan luas puluhan ribu hektar. Sejauh ini tidak mudah menemukan orang yang pernah membangun lebih banyak kota dibandingkan Ciputra yang bahkan masih terus ingin membangun kota-kota berikutnya.

Ciputra sebagai entrepreneur pencipta bisnis-bisnis baru tentu akan membawa kita kepada pertanyaan, jika seorang Ciputra dapat mencapai semua itu, dari manakah seorang caoln entrepreneur yang ingin seperti dia dapat memulainya? Maka, pengalaman Ciputra memberikan jawaban yang sederhana: mulailah dari apa yang ada pada diri kita; mulailah dari apa yang bisa kita lakukan. Coba sadari pengetahuan apa yang kita miliki, atau keahlian apa yang sesungguhnya bisa dijadikan pijakan awal, dan adakah kawan-kawan yang bisa diajak ikut berbisnis?

Ciputra mempunyai cara sendiri menggambarkan Dream Big, Start Small. Katanya,

“Membangun sebuah perusahaan adalah bagaikan membangun sebuah air terjun artifisial. Satu persatu bungkah batu-batu besar kita letakkan. Dengan cermat kita atur dan kita seimbangkan peletakkannya, sehingga kekuatan alam kemudian menciptakan alur air yang estetis menuju ke satu titik perlimbahan.

Ketika memutuskan untuk meninggalkan perusahaan konsultannya dan memasuki dunia baru sebagai pengembang, Ciputra menyedari betul bahwa yang ada pada dirinya adalah keahliannya sebagai arsitek dan mimpi- mimpinya yang siap direalisasikan. Namun di sisi lain, Ciputra juga menyadari bahwa dunia properti yang dia masuki harus didukung oleh dua faktor kunci: keahlian ( skill ) dan fasilitas (tanah). Itulah alasannya Ciputra datang menemui Pemerintah DKI Jaya yang kala itu dipimpin oleh Gubernur H.Soemarno Sosroatmodjo. Kejadian itu tahun 1961, ketika Ciputra berusia 30 tahun dan baru lulus dari Jurusan Arsitektur ITB.

Mulailah dari apa yang ada pada diri kita; mulailah dari apa yang bisa kita lakukan. Coba sadari pengetahuan apa yang kita miliki, atau keahlian apa yang sesungguhnya bisa dijadikan pijakan awal, dan adakah kawan-kawan yang bisa diajak ikut berbisnis? Mulailah dari langkah-langkah kecil, sambil merajut visi dan mimpi berikutnya.

Ciputra masih dengan jelas mengingat bagaimana ia sampai pada langkahnya ini.

“Saya memilih DKI sebagai mitra bisnis, karena saya tahu dia punya fasilitas (tanah). Saya punya keahlian dan orang, tetapi saya tidak punya uang. Yang penting di dunia properti dua hal, management skill dan tanah. Kalau ada skill, tanah itu menyusul, dengan adanya skill dan tanah maka uang akan datang dengan sendirinya” kata Ciputra.

Bahkan dalam melanjutkan ekspansinya ke luar negeri seperti ke India, negara-negara teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Libya prinsip seperti inilah yang ia ingin jalankan. “ Tujuan saya ke Timur Tengah, adalah mencari mitra bisnis di sana yang punya tanah,” ada dua alasan mengapa Ciputra selalu mencari mitra bisnis dalam penyedian lahan. Alasan pertama, bila ia datang ke suatu negara untuk membeli tanah, ia pasti memerlukan modal yang besar. Sedangkan bila bentuknya adalah bermitra, tanah itu akan mendatangkan manfaat bagi kedua belah pihak secara berkesinambungan. Alasan kedua, adalah karena Ciputra memang memiliki keunggulan dalam konsep dan eksekusi pembangunannya, sehingga kemitraan itu akan menjadi saling melengkapi.

Sampai dewasa ini pola kemitraan merupakan strategi Ciputra dalam mengembangkan kelompok bisnisnya. Bahkan, penekanannya terhadap pola kemitraan tampaknya merupakan penemuan kembali strategi yang dulunya sempat ia tinggalkan. Ciputra bercerita, pada masa sebelum krisis, ia sempat meninggalkan prinsip kemitraan itu dengan jalan sendiri. Kelompok bisnisnya cukup banyak meminjam dari bank untuk pembelian tanah. Ketika krisis ekonomi terjadi, pinjaman yang sebagian besar denominasinya adalah mata uang asing, membengkak. Untungnya, masalah ini sudah dapat diatasi dengan melakukan restrukturisasi pembayaran utang. Dan ,itu menjadi pelajaran bagi Ciputra.

Sekarang saya kembali ke resep saya mula-mula. Saya bermitra dengan orang yang punya tanah. Dulu, di awal langkah saya sebagai entrepreneur, saya, bermitra. Kemudian sesudah besar saya jalan sendiri. Pinjam uang dari bank. Setelah krisis, kembali ke resep semula. Resikonya lebih sedikit. Sesudah tanah itu bangun, dijual lalu bagi hasil.

Carilah mitra bisnis yang melengkapi keunggulan anda. Pola kemitraan akan memperkecil resiko masing-masing pihak dan memperbesar kemungkinan berhasilnya, karena dapat mempermudah dan mempercepat proses bisnis itu sendiri.

Sumber : Wadhan, Konsepsi semangat kewirausahaan ciputra : Kesesuaian dengan Konsep Ekonomi Islam, STAIN Pamekasan

Referensi :

  • George H.Ross dan Andrew James McLean, Trump Strategies for Real Estate, John Wiley and Sons, Inc, 2005.
  • Ciputra dan Antonius Tanan, Menjadi Manusia Unggul yang Disertai Tuhan , Penerbit Betlehem, 2003
  • Rodney Overton, Are You an Entrepreneur?, Wharton Books, 2002
  • Raymond W.Y. Kao, Entrepreneurship- A Wealth Creation and Value- Adding Process , Prentice Hall, 1995.