© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana Pendekatan Perilaku Menyimpang Positif (Positive Deviant Behavior)?

positif

Bagaimana pendekatan perilaku penyimpangan positif?

Dalam ilmu-ilmu sosial, pendekatan perilaku menyimpang positif belum banyak dikembangkan dan diteliti lebih dalam karena masih terdapat beberapa perdebatan di dalamnya (Harrison, 2008). Perdebatan terutama terjadi karena sulitnya mengukur keberhasilan dari pendekatan ini dalam dunia sosial. Disamping itu, beberapa perilaku menyimpang dianggap sulit diterima dari sisi positif.

Perilaku Menyimpang Positif menurut Marsh & Schroeder (2002) merupakan suatu fenomena yang ada dibeberapa komunitas masyarakat dimana ada individu-individu yang melakukan tindakan yang tidak biasa. Tindakan yang dilakukan oleh individu itu jarang sekali dilakukan oleh masyarakat. Namun, tindakan yang dilakukan oleh individu tersebut memiliki tujuan untuk mencapai perubahan-perubahan yang positif. Tindakan yang mereka lakukan dapat dikategorikan sebagai perilaku menyimpang positif jika sudah berlangsung terus-menerus dalam beberapa jangka waktu dan terbukti diterima oleh masyarakat bahkan mulai diikuti oleh beberapa masyarakat sekitar.

Pendekatan perilaku menyimpang positif ini pertama kali diterapkan pada bidang kesehatan karena dianggap lebih mudah diukur keberhasilannya. Dalam bidang kesehatan perilaku menyimpang positif diartikan sebagai fenomena yang banyak terjadi di komunitas menengah ke bawah dan ditemukan sekelompok atau individu yang melakukan tindakan yang tidak biasa namun bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan di lingkungannya. Tindakan yang dilakukan biasanya jauh berbeda dengan kebiasaan di masyarakat tersebut (Marsh & Schroeder, 2002).

Perilaku menyimpang positif dalam bidang kesehatan pernah dilakukan oleh pekerja Save the Children pada tahun 1990 di Vietnam (Pascale, 2001). Pendekatan ini digunakan untuk mengatasi permasalahan kekurangan gizi akut pada anak-anak di Vietnam. Mereka bekerja sama dengan masyarakat sekitar untuk menggalakkan program pengentasan masalah malnutrisi ini.

Program diterapkan dengan menyuruh ibu-ibu dalam komunitas tersebut untuk memberi makan anaknya dengan kulit udang atau kepiting ditambah daun kentang yang kaya akan vitamin. Padahal sebelumnya dalam komunitas tersebut kulit udang dan kepiting dianggap tidak bergizi dan tidak boleh dimakan. Selama enam bulan mulai banyak ibu-ibu yang memberi makan anaknya dengan makanan tersebut, ternyata hampir 85% anak-anak kekurangan gizi mengalami kenaikan berat badan yang drastis. Keberhasilan ini kemudian banyak ditiru dibeberapa desa di Vietnam dan dikenal sebagai pendekatan yang sangat berbeda dari pendekatan-pendekatan terbaik yang pernah dicoba sebelumnya (Marsh & Schroeder, 2002).

Penelitian sederhana lainnya yang dilakukan oleh Marsh (2004) pendekatan perilaku menyimpang positif dilakukan pada anak-anak kurang gizi yang ada di Mesir. Sebelumnya ibu-ibu di sana sudah biasa memberikan anaknya dengan makanan bergizi seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, dan telur. Hanya saja ibu-ibu tidak memperhatikan kebersihan dari makanan tersebut, mereka juga tidak terbiasa mencuci tangan sebelum makan bahkan tidak mencuci bahan makanannya dengan baik. Setelah beberapa ibu-ibu diminta untuk memperhatikan kebersihan makanan, tangan, dan wadah makanannya. Keadaan ini berlangsung cukup lama dan berhasil diterima bahkan diikuti oleh hampir semua ibu-ibu yang ada di Mesir.

Dalam penerapannya dibidang kesehatan, perilaku menyimpang positif lebih mudah diterima karena memiliki indikator keberhasilan yang jelas dan mudah diukur dengan angka-angka ataupun persentasi. Sedangkan dalam dunia sosial, keberhasilannya sendiri sangat abstrak. Bahkan untuk mengukur positif atau tidaknya pun bisa berbeda-beda sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Menurut Harrison (2008), perilaku menyimpang positif dalam dunia sosial merupakan suatu keadaan ketika seseorang berhadapan dengan resiko, posisi yang sulit, namun berupaya melakukan tindakan positif yang hasilnya diharapkan mendapatkan respon yang bagus dari masyarakat. Perilaku menyimpang positif dapat terjadi pada siapa saja selama orang tersebut mempunyai keinginan dan kemampuan untuk mewujudkan hal tersebut. Selain itu, ada kondisi psikologis yang memungkinkan seseorang untuk dapat berperilaku positif, yaitu (Spreitzer & Scott 2005):

  • Memiliki Makna
    Makna seseorang terhadap sesuatu merupakan salah satu pengaruh penting dari faktor psikologis yang membuat seseorang dapat berlaku positif dengan adanya pemaknaan terhadap sesuatu maka orang tersebut akan dengan mudah memutuskan untuk melakukan suatu tindakan besar meskipun sudah tahu resiko apa yang akan dihadapinya. Pemaknaan ini yang juga memunculkan motivasi dalam diri seseorang untuk mengubah lingkungannya menjadi lebih baik.

  • Mempunyai Fokus terhadap orang lain
    Selain pemaknaan terhadap diri sendiri, perilaku menyimpang positif membutuhkan fokus terhadap orang lain. Fokus ini yang kemudian mendorong munculnya rasa empati muncul sehingga keinginan untuk bertindak positif semakin kuat. Argumen ini membuat seseorang mendasari perilaku positifnya untuk melayani atau mempersembahkannya kepada orang lain dari pada memuaskan kebutuhannya sendiri.

  • Mampu Membuat Keputusan diri
    Seseorang yang mampu membuat keputusan terhadap dirinya sendiri dan menentukan nasibnya sendiri biasanya sangat mandiri dan memiliki tujuan-tujuan yang terarah. Tujuan-tujuan mereka dalam menentukan sesuatu biasanya bukan karena mendapatkan tekanan dari faktor eksternal namun lebih kepada konsep diri yang telah terinternalisasi. Kuatnya tujuan dan kemandirian seseorang ini yang kemudian mendorong ia untuk melakukan suatu tindakan yang positif sekalipun hal tersebut dipandang aneh dan tidak biasa dalam masyarakat tersebut.

  • Pengalaman Keberhasilan pribadi
    Keberhasilan seseorang merupakan suatu pencapaian seseorang terhadap tugas yang ia lakukan. Ketika seseorang merasakan keberhasilan maka ia akan percaya terhadap potensinya dan lebih berani untuk menghadapi kemungkinan kegagalan. Perasaan keberhasilan yang tinggi kemudian mendorong seseorang untuk menetapkan tujuan yang lebih tinggi dan memiliki komitmen yang kuat untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini juga yang kemudian memotivasi seseorang untuk melakukan tindakan yang positif dan berani untuk bertindak sekalipun yang dilakukan belum pernah dilakukan atau sulit untuk diterima.

  • Memiliki Keberanian
    Keberanian merupakan keinginan yang sangat kuat dan berani menanggung resiko untuk sesuatu yang dianggap benar orang tersebut. Tanpa keberanian untuk mengambil resiko perilaku menyimpang positif tidak mungkin terjadi. Hal ini karena ia harus melakukan suatu tindakan diluar norma yang diantut kelempok yang dianggap menyimpang. Tidak adanya keberanian membuat seseorang berada dalam zona nyaman. Keberanian membantu seseorang untuk mengganti rutinitasnya yang nyaman dengan suatu terobosan yang awalnya tidak nyaman namun kemudian memberi dampak yang besar bagi dirinya dan masyarakat di sekitarnya.

Selain ciri-ciri tersebut Spreitzer & Scott (2005) mengatakan seseorang yang melakukan tindakan perilaku menyimpang positif tentunya diharapkan menghasilkan hasil yang baik. Hasil yang terlihat tersebut merupakan indikator dari perilaku dan diharapkan dapat memberikan pengaruh positif tidak hanya kepada individu tersebut namun bagi masyarakat sekitar yang dianggap memiliki perilaku menyimpang. Indikator tersebut adalah :

  1. Kesejahteraan subyektif
    Kesejahteraan subyektif ini yang diharapkan dapat dirasakan oleh mereka yang sebelumnya dianggap berperilaku menyimpang. Dengan berperilaku positif mereka menemukan kesejahteraannya sendiri yang mungkin tingkat kepuasannya berbeda-beda dalam setiap individu.

  2. Relasi yang berkualitas
    Relasi yang berkualitas ini diharapkan muncul dari mereka yang melakukan tindakan positif dengan lingkungannya yang dianggap masil negatif. Seseorang yang dianggap telah melakukan tindakan positif diharapkan mampu membangun hubungan yang fleksibel, kuat, dan berani menyuarakan pendapatnya sehingga hubungannya dengan lingkungan semakin baik. Tentunya relasi ini diharapkan dapat memberikan pengaruh positif sehingga lingkungannya yang masih negatif dapat bergerak ke arah yag lebih positif.

  3. Efektifitas yang berlangsung lama
    Keberhasilan seseorang yang berperilaku positif diharapkan tidak berlangsung hanya sebentar. Namun, keberhasilan yang baik diharapkan dapat berlangsung lama dan masih tetap efektif bagi lingkungan atau mungkin diterapkan ditempat lain.

Sebagai pendekatan yang terbilang jarang digunakan dalam penelitian sosial, pendekatan perilaku menyimpang positif memang masih memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan dari pendekatan ini antara lain:

  • Pendekatan perilaku menyimpang positif dalam dunia sosial masih sulit diukur keberhasilannya. Hal ini karena dunia sosial bersifat abstrak dan luas. Dalam dunia kesehatan pendekatan ini bisa diukur dengan menurunnya angka malnutrisi dalam suatu komunitas. Sedangkan dalam dunia sosial pengukurannya masih sulit. Keberhasilan baru dapat dilihat dalam waktu yang cukup lama dan bila sudah terbukti ada perubahan perilaku yang secara efektif sangat berubah.
  • Masih minimnya penelitian pendekatan perilaku menyimpang positif dalam dunia sosial bila ada publikasinya sangat jarang.

Meskipun demikian, pendekatan perilaku menyimpang positif juga memiliki kekuatan untuk melihat berbagai masalah sosial yang ada. Menurut Marsh (2004), pendekatan ini secara efektif dalam memberikan solusi untuk memecahkan masalah sosial dengan dengan cara sederhana, biaya yang murah, namun bila berlangsung lama akan sangat efektif. Dikatakan efektif karena pendekatan ini membuat orang yang melakukannya mengalami perubahan perilaku. Perubahan perilaku yang berlangsung lama dapat memunculkan kebiasaan sehingga pelakunya dapat terus melakukan perilaku positif. Pendekatan ini juga mudah diterima dan dilakukan oleh masyarakat setempat karena bertujuan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas pribadinya.