Bagaimana Menurut Kalian Mengenai Fenomena Perempuan yang Suka Memamerkan Keseksian dan Lekuk Tubuh di Media Sosial?

Di era seperti sekarang ini, dimana perkembangan teknologi semakin berkembang pesat dan social media merupakan teman sehari - hari bagi hampir sebagian besar umat manusia di dunia ini, membuat banyak orang yang menjadi terobsesi dengan citra diri mereka di media sosial. Salah satu yang menjadi sorotan dalam fenomena ini adalah kaum wanita terutama dalam hal mendapatkan atensi dengan cara memamerkan tubuh mereka dengan pose yang sensual dengan pakaian yang serba terbuka (kadang bahkan sampai setengah telanjang). Sudah banyak sekali contoh di dunia ini yang dimana para pesohor publik seperti selebritis perempuan yang memamerkan lekuk tubuh mereka di media sosial yang pada akhirnya diikuti oleh sebagian besar wanita di seluruh dunia.

Tidak hanya dalam bentuk foto, dengan hadirnya aplikasi social media berbasis video seperti TikTok, Musical.Ly, BigoLive, Snack Video, hingga aplikasi streaming seperti Youtube, Twitch, ataupun OnlyFans, membuat wanita yang menggumbar tubuh mereka menjadi semakin marak. Misalnya saja di TikTok banyak wanita yang menari dengan gaya yang bisa di bilang " provokatif " dengan pakaian yang sangat terbuka. Menurut beberapa sumber yang saya baca, kebiasaan sebagian wanita untuk mengumbar tubuh mereka di media sosial dapati di kategorikan sebagai gangguan esksibionis dan penyimpangan seksual.

Nah menurut youdics sekalian, bagaimanakan pendapat kalian dalam menyikapi fenomena ini dan menurut kalian, faktor apa sajakah yang membuat sebagian kaum wanita rela memamerkan tubuh mereka di media sosial ?

Setau saya kalau untuk platform OnlyFans memang merupakan platform yang banyak dikaitkan dengan para pekerja seks. Meskipun saya tidak tahu pasti, karena tidak pernah mengaksesnya.

Dengan berbagai platform media sosial seperti sekarang, dengan berbagai kecanggihannya, kita tahu bahwa media sosial tersebut bisa dimonetisasi bahkan bisa dijadikan profesi. Salahnya adalah ketika mereka menggunakannya untuk hal-hal buruk seperti yang telah disebutkan di atas. Saya bisa menyebutnya merekapekerja seks berbasis online mungkin ya?

Dalam menyikapi fenomena ini, sebenarnya saya sebagai perempuan tidak bisa berbicara banyak karena tentu, hal tersebut tidak bisa dibenarkan dari segi agama maupun sosial. Kemungkinan besar faktor ekonomilah yang menyebabkan mereka melakukan hal tersebut. Desakan ekonomi, mencari pekerjaan susah, kemudian ada cara mudahnya yaitu dengan menjadi pekerja seks.

Apakah ada faktor lain? Bisa saja. Seperti yang sudah dikatakan di atas, mungkin dengan berpakaian dan berpose seksi menjadi kepuasan pribadi. Ketika foto atau videonya dilikes dan dilihat banyak orang dia menjadi puas.

Mengapa banyak ditemui hal yang demikian? Kita kembali ke hakikat sosial media ini sebenarnya untuk apa. Sosial media menjadi salah satu tempat dimana semua orang memiliki kebebasan berekspresi dan membagikan apapun. Dengan demikian, menurut saya, fenomena tersebut sangat wajar terjadi.

Setiap orang memiliki pandangan, keyakinan, dan preferensi masing-masing mengenai apa-apa yang mereka lakukan di media sosial. Kita sendiri tidak seberhak itu untuk menghakimi perbuatan mereka. Lalu mengenai fenomena perempuan yang suka memamerkan bagian tubuhnya, saya paham dan yakin pasti banyak para perempuan yang menganggap bahwa bentuk tubuhnya adalah istimewa dan dijadikan daya tarik tersendiri, baik oleh sesama perempuan maupun lawan jenisnya. Bergerak dari pemikiran itu, mereka bisa jadi merasa bahwa ‘hal yang indah’ harusnya dibagikan agar semua orang tahu dan merasakan kebahagiaan yang sama.

Namun, kembali lagu bahwa tidak semua orang berpikir demikian dan berkeyakinan bahwa bagian tubuh seharusnya dilindungi dan disimpan untuk dirinya sendiri, dalam artian bukan suatu hal yang harus disebarluaskan di media sosial. Lalu bagaimana sikap kita? Tergantung pribadi masing-masing. Jika kalian tidak merasa terganggu dengan pemandangan yang demikian, ya cukup lewati saja dan simpan untuk diri sendiri. Namun, jika merasa terganggu, cukup dengan jangan mengunjungi profil dan konten yang sama.

Sah-sah saja. Selama itu tidak menyalahi ketentuan penggunaan media sosial terkait seharusnya tidak masalah.

Ada beberapa media sosial yang dikenal ketat terhadap konten-konten yang mengandung unsur ketelanjangan dan pornografi. Mereka ingin menciptakan media sosial yang sehat bagi semua umur termasuk remaja dibawah 18 tahun. Namun ada juga beberapa media sosial yang toleran terhadap hal semacam ini, seperti katakanlah Reddit dan Twitter. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, tetap taati syarat dan ketentuan media sosial.

Soal “provokatif” atau tidaknya, ini sebenarnya hal yang relatif. Mungkin buat sebagian orang memamerkan tubuh merupakan hal yang tidak bisa diterima karena latar belakang budaya dan keyakinannya. Namun mungkin buat sebagian orang bisa diterima. Tubuh perempuan menjadi hal yang “wah” dan mengundang perhatian karena konstruksi sosial kita yang menseksualisasi bagian tertentu dari tubuh perempuan. Norma-norma yang berlaku membuat kita tidak terbiasa melihat tubuh perempuan yang terbuka di ranah publik. Para pembuat konten pun lantas memanfaatkan atensi yang diberikan oleh orang-orang yang hidup dalam norma-norma ini demi meraup keuntungan.

Sebenarnya itu hanya karena kita sajalah yang menganggap ketelanjangan sebagai hal yang tabu yang negatif. Ketelanjangan tidaklah selamanya negatif. Karena ketelanjangan dibatasi justru masyarakat kita yang hidup dalam konstruksi sosial tersebut menjadi penasaran dan “doyan” ketika melihat wanita yang bagian tubuhnya terlihat sedikit saja.

Lihatlah suku-suku di pedalaman yang berpakaian minim. Apakah mereka menganggap lekuk tubuh wanita sebagai hal yang menarik perhatian? Sepertinya tidak, karena mereka menganggap itu hal yang biasa, mereka tidak menseksualisasi hal tersebut.

Sebenarnya saya sendiri juga sering bertanya-tanya mengapa mereka melakukan hal tersebut walaupun mereka pasti punya alasan sendiri. Tapi karena konteksnya di sini adalah sosial media, maka saya rasa saya tidak apa-apa untuk mengunggah foto maupun video tersebut. Siapa kita yang bisa memaksakan benar atau tidaknya suatu tindakan menurut pendapat kita kepada orang lain. Justru, kita yang malah terlihat seperti mempermalukan diri sendiri. Hargai saja apa yang orang lain unggah di media sosial dan diblokir saja jika memang tidak ingin melihat konten-konten seperti ini.

Jika bukan di media sosial pun, hal ini sering terjadi misalnya saja saat seorang perempuan memakai pakaian yang terbuka. Sebenarnya, tidak ada yang salah banyak alasan pribadi yang bisa mendasarinya. Misalnya saja, penghargaan terhadap diri sendiri, ingin dipuji, hingga alasan komersil.