Bagaimana Menjaga Kesehatan Mental selama Pandemi?

Sejak kasus pertama coronavirus novel 2019 (COVID-19) didiagnosis pada Desember 2019 di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, virus ini telah menjalar ke berbagai negara di dunia. Namun seringkali dampak pandemi ini hanya dibahas dari sudut pandang yang kasat mata. Padahal, selain dampak nyata dan langsung terhadap kesehatan fisik masyarakat, pandemi telah menorehkan dampak mendalam bagi psikologis masyarakat.

Kebijakan Sosial distancing yang diterapkan oleh pemerintah untuk bangsa. Satu sisi, kebijakan ini sangat berperan dalam menekan pertumbuhan virus. Namun di sisi lain, kebijakan ini membuat peningkatan depresi dan stress bagi beberapa orang. Penelitian di New York membuktikan 1 dari 10 orang dewasa mengalami peningkatan depresi, stress dan penggunaan alkohol pada masyarakat selama masa pandemi. Sehingga pemerintahnya telah mengeluarkan kebijakan berupa “ Guide from Mental Healty UK”. Hal ini bertujuan untuk menekan angka peningkatan gangguan mental.

Keadaan ini tidak berbeda jauh dengan Indonesia. Kesehatan mental masyarakat Indonesia perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Pada masa pandemi, ketika masyarakat harus berdiam diri di rumah dan diminta untuk selalu membatasi pergaulannya dengan orang lain. Hal ini menyebabkan manusia semakin khawatir terhadap orang lain yang berada disekitarnya. Faktor lain yang menimbulkan kecemasan manusia adalah terlalu seringnya menerima berita ketakutan mengenai COVID-19 ini dari berbagai media.

Kecemasan yang timbul dari beberapa peristiwa diatas merupakan peristiwa yang wajar. Namun jika masyarakat ini menerima berita buruk setiap hari dan selalu dibayangi oleh COVID-19, ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan mental. Beberapa gangguan kesehatan mental yang muncul dari peristiwa ini adalah kecemasan berlebihan, stress, mudah terbawa emosi, depresi dan sebagainya. Kecemasan dan gangguan mental ini kemudian menimbulkan ketidakseimbangan di otak, yang pada akhirnya timbul menjadi gangguan psikis, atau disebut juga psikosomatik. Ketika seseorang mengalami gejala psikosomatik, maka ia bisa merasakan gejala seperti penyakit COVID-19, seperti merasa demam, pusing, atau sakit tenggorokan, padahal suhu tubuhnya normal.

Hal ini membuat manusia semakin was-was dan menganggap dirinya telah terjangkit. Namun jika dikaji lebih dalam sebenarnya dia sedang mengalami gangguan mental. Kondisi ini sebenarnya bisa diatasi dengan mengenali gejala psikosomatik dan gejala COVID-19 itu sendiri. Jika seseorang mengalami gejala psikosomatik, maka gejala virus yang dialaminya hanya bersifat sementara. Artinya ketika seseorang itu melakukan hal yang membuatnya bahagia, gejala itu akan hilang. Hal ini tentu berbeda dengan gejala yang dialami oleh penderita COVID-19 itu sendiri. Sebenarnya inti dari menghindari penyakit mental ini adalah “Be Happy(berbahagialah)”.

Kecemasan yang muncul merupakan dampak wajar dari pandemi. Namun hal ini tidak boleh dibiarkan, karena dikhawatirkan akan mengalami peningkatan jika tidak segera diatasi. Salah satu kunci mengatasi kecemasan adalah “Be Happy (berbahagialah)”. Artinya kebijakan Sosial Distancing harus dipandang dari kacamata positif untuk membuat diri lebih bahagia. Memanfaatkan kebijakan ini untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi diri.

Pada hakikatnya, kesehatan mental sangat penting bagi masyarakat dan seharusnya menjadi prioritas bersama. Studi para ahli dari Ohio State membuktikan bahwa kesehatan mental juga mempengaruhi imun tubuh. Ketika tubuh sedang mengalami stress hal ini akan mengganggu komunikasi sistem saraf, endokrin (hormon) sistem, dan sistem kekebalan tubuh. Di saat stress tubuh menghasilkan lebih banyak hormon kortisol sebagai bentuk kompensasi.Peningkatan hormon kortisol dalam tubuh akan menyebabkan pembentukan asam arachidonic yang berperan dalam menghasilkan leukosit dan sistem kekebalan tubuh terhambat. Sehingga kekebalan tubuh akan menurun.

Pentingnya menjaga kesehatan mental bagi negara yang terinfeksi COVID-19 telah menjadi perhatian besar. Hal itu pula yang mendorong World Health Organization (WHO) pada Maret 2020 akhirnya merilis panduan bagi masyarakat agar sama-sama menjaga kesehatan mental. Berikut ini merupakan pesan WHO kepada masyarakat melalui artikel yang berjudul “Mental Health And Psychosocial Considerations During The Covid-19 Outbreak”:

COVID-19 telah dan kemungkinan akan mempengaruhi orang-orang dari banyak negara, di banyak lokasi geografis. Ketika merujuk pada orang dengan COVID-19, jangan lekatkan penyakit ini pada etnis tertentu atau kebangsaan. Bersikap empatik terhadap semua orang yang terkena dampak, di dan dari negara mana pun. Orang yang terpengaruh oleh COVID-19 tidak melakukan kesalahan, dan mereka pantas mendapatkan dukungan, kasih sayang dan kebaikan.

Jangan menyebut orang dengan penyakit ini sebagai “ kasus COVID-19 ”, “korban” “keluarga COVID-19 ” atau “Penyakitan”. Mereka adalah “orang yang menderita COVID-19”, “orang yang sedang dirawat COVID-19 “, atau” orang yang pulih dari COVID-19 ", dan setelah pulih dari COVID-19 hidup mereka akan berlanjut dengan pekerjaan mereka, keluarga dan orang-orang terkasih. Penting untuk memisahkan seseorang dari memiliki identitas yang ditentukan oleh COVID-19, untuk mengurangi stigma.

Minimalkan menonton, membaca, atau mendengarkan berita tentang COVID-19 yang menyebabkan anda merasa cemas atau tertekan; mencari informasi hanya dari sumber tepercaya dan Anda dapat mengambil langkah-langkah praktis untuk mempersiapkan rencana Anda dan melindungi diri Anda dan orang-orang terkasih. Aliran laporan berita yang tiba-tiba dan hampir konstan tentang wabah dapat menyebabkan siapa pun merasa khawatir. Dapatkan faktanya; bukan rumor dan keterangan yg salah.

Lindungi diri Anda dan mendukung orang lain. Membantu orang lain dalam waktu yang dibutuhkan dapat bermanfaat baik orang yang menerima dukungan maupun pertolongan. Bekerja bersama sebagai satu komunitas dapat membantu menciptakan solidaritas dalam menangani COVID-19 bersama-sama.

Temukan peluang untuk memperkuat cerita yang positif dan penuh harapan serta citra positif dari orang-orang lokal yang pernah mengalami COVID-19. Misalnya, kisah orang yang telah pulih atau yang telah mendukung orang yang dicintai dan bersedia berbagi pengalaman.

Beri kehormatan kepada petugas kesehatan yang mendukung orang-orang yang terkena COVID-19 di masyarakat. Akui peran yang mereka mainkan dalam menyelamatkan hidup dan menjaga orang-orang terkasih Anda tetap aman.

Tips yang telah dirilis oleh WHO efektif diterapkan untuk mengurangi gangguan mental yang sedang dialami oleh manusia pada masa pandemi. Setiap manusia juga dapat melibatkan masalah gangguan mental yang dimilikinya melalui jalur spritual atau pendekatan kepada tuhan.

Seorang dosen psikologi Universitas Surabaya, Regis Machdy, mengatakan bahwa “Stresor (penyebab stress) berasal dari peristiwa yang netral. Respon kita terhadap stresor tersebutlah yang membuatnya bermakna”.

Perlu dipahami, manusia dapat menganggap pandemi ini sebagai ujian dari tuhan dalam menjalani hidup ini. Tuhan tidak akan menguji makhluknya diluar kesanggupannya, maka dari itu manusia harus selalu optimis dan yakin bahwa badai pandemi ini akan berlalu. Dengan meningkatkan solidaritas antarindividu dan lembaga pemerintahan, pandemi ini dapat ditangani secepatnya. Kelak kita akan keluar dari krisis ini menjadi bangsa yang lebih kuat dari sebelumnya.

Referensi :

  • Cullen,W.,Gulati,G.,& Kelly,B.D.(2020). Mental health in the Covid-19 pandemic. International Journal of Medicine* , 1-2. doi: 10.1093/qjmed/hcaa110
  • Galea,S.,Merchan,&R.,Lurie,N.(2020). The Mental Health Consequences of COVID-19 and Physical Distancing The Need for Prevention and Early Intervention. American Medical Association, E1-E2. doi:10.1001/jamainternmed.2020.1562
  • who.int.(18 Maret 2020). Mental health and psychosocial considerations during the COVID-19 outbreak . Diperoleh 25 April 2020, dari
    https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/mental-health-considerations.pdf
4 Likes