Bagaimana mengatasi perasaan takut tertinggal (FOMO)?

Pernah merasa cemas ketika kurang aktif di media sosial? Pernah merasa tertinggal ketika melihat orang lain wisuda duluan? Ternyata itu adalah gejala FOMO, lho!

Singkatnya, FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa takut ketinggalan yang dialami seseorang. Ini adalah salah satu gejala psikologis jika seseorang merasa cemas ketika melewatkan suatu peristiwa atau informasi. FOMO dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang umur dan jenis kelamin.

Dilansir dari Statistica pengguna media sosial di dunia mengalami peningkatan sebesar 44% selama masa pandemi. Przybylski, dkk (2013) menjelaskan bahwa seseorang yang merasakan FOMO akan sering membuka media sosial, entah untuk melihat teman-temannya atau hanya sekedar mengunggah tentang dirinya. Orang yang merasakan FOMO akan gelisah dan menderita ketika orang lain tidak menyukai dan mengomentari unggahannya, mereka ingin menunjukkan bahwa media sosial adalah panggung pertunjukkan baginya karena dapat memberikan kesan yang berbeda dibandingkan orang lain.

FOMO muncul salah satunya karena adanya keterasingan diri dari dunia nyata, sehingga mereka yang merasakan FOMO akan selalu mencari pengakuan di dunia maya. Itulah sebabnya mengapa orang yang merasakan FOMO akan menderita ketika tidak mendapatkan perhatian di dunia maya.

menurut Youdics, bagaimana cara agar kita mengatasi perasaan FOMO ini?

2 Likes

FOMO

FOMO singkatan dari Fear of Missing Out, adalah sebuah gangguan mental di mana kita merasa cemas dan khawatir apabila orang lain, teman kita, melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih baik atau lebih menyenangkan dari kita dan kita ingin selalu terhubung dengan apa yang mereka lakukan. Biasanya FOMO disebabkan oleh kecanduan bermain media sosial.

Beberapa tips yang bisa dipraktekkan untuk mengtasi FOMO :

  1. Mengurangi penggunaan media sosial yang terlalu berlebihan. Cobalah untuk mengatur waktu dalam bermain media sosial dan kurangi secara perlahan. Hal ini mampu menyadarkan kita bahwa kita tidak benar-benar membutuhkannya setiap saat.
  2. Menikmati momen yang sedang dijalani. Lebih baik kita menikmati apa yang sedang kita jalani sekarang daripada kita pusing memikirkan atau membandingan hidup dengan orang lain.
  3. Mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Waktu untuk bermain media sosial bisa diganti dengan aktivitas lain yang lebih bermanfaat, seperti berkumpul dengan teman, mendengarkan musik, membaca, dan lain-lain. Hidup pun akan menjadi lebih produktif.
  4. Jangan sibuk untuk mencari perhatian. Membagikan momen-momen berharga di media sosial bukanlah hal yang salah. Tetapi, jangan sampai kita hanya terfokus untuk menyaingi kehidupan orang lain dengan cara membagikan apa pun yang kamu jalani di media sosial hingga tidak benar-benar menikmati momen tersebut.
  5. Menentukan atau mencari priotitas dalam hidup. Mentukan prioritas hidup dan berusahalah untuk mencapainya dengan sepenuh hati. Merasa termotivasi oleh kesuksesan orang lain sangatlah bagus, tetapi jangan sampai itu membuatmu patah semangat atau minder. Karena setiap orang memiliki prioritas hidup yang berbeda-beda.
  6. Selalu bersyukur. Kita memiliki keluarga, teman, pekerjaan, kesehatan, dan banyak hal lain yang bisa disyukuri. Tak hanya itu, setiap pengalaman hidup pun patut disyukuri karena baik pahit atau manis, semuanya pasti mengajarkan sesuatu bagi kita.

Cara Mengatasi FOMO Fear of Missing Out

Bagaimana mengatasi FOMO atau ketakutan ketinggalan update atau hal-hal baru menyenangkan dari orang lain? Berikut ini sejumlah tips yang dapat diterapkan:

  1. Menerima diri sendiri
    hal pertama yang harus disadari setiap orang bahwa ia tidak mungkin untuk terus mengikuti perkembangan setiap saat. Seseorang tidak mungkin untuk terus berada dalam keadaan menyenangkan dan belum tentu mempublikasikannya di dunia maya.

Jika ia sadar dan merasa bahwa setiap orang wajar untuk memiliki kekurangan, maka perasaan untuk ketinggalan dari orang lain bukanlah suatu kesalahan. Kita juga tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain karena setiap orang berbeda-beda dalam menjalani hidupnya.

  1. Membatasi penggunaan media sosial dan gawai pintar**
    Perasaan FOMO ini seringkali dipicu oleh update atau postingan orang lain di media sosial. Karena itu, dengan membatasi diri sejenak untuk tidak melihat Instagram, Facebook, atau status media sosial orang lain dapat mengurangi FOMO.

Namun, untuk menghindari hal ini, bukan berarti menghentikan penggunaan media sosial sama sekali. Anda dapat menjadwalkan diri kapan menggunakan media sosial seperlunya saja.

Misalnya, ketika dalam perjalanan berangkat kerja di pukul 06.30 hingga 07.30 di pagi hari atau di waktu-waktu tertentu saja, bukan secara impulsif membuka media sosial tanpa tujuan sama sekali.

  1. Koneksi nyata lebih penting daripada koneksi maya
    Orang yang merasa tertekan atau dalam keadaan sulit sering kali mencari dukungan atau bantuan dari orang terdekatnya. Hal ini menunjukkan bahwa rasa kesepian dan terasing merupakan isyarat dari pikiran bahwa kita membutuhkan hubungan sosial yang lebih erat dengan orang lain.

Oleh karena itu, koneksi maya lewat media sosial bukanlah solusi jitu untuk mengatasi hal tersebut.

Perasaan FOMO biasanya akan luntur dengan sendirinya jika seseorang lebih mengutamakan koneksi nyata, pertemuan langsung, alih-alih saling pamer lewat media sosial ataupun merasa iri dengan kehidupan orang lain yang diposting lewat Instagram, TikTok, ataupun Facebook.

  1. Hargai diri sendiri
    Laman Very Well Mind juga menuliskan bahwa dengan menghargai diri sendiri dapat meningkatkan perasaan bersyukur dan mengurangi FOMO.

Jika seseorang fokus pada hal-hal baik yang ia miliki dan bersyukur atasnya, perasaan untuk iri dan merasa kekurangan akan jarang dirasakan.

Menghargai diri sendiri dapat dilakukan dengan menyadari bahwa seseorang memiliki banyak hal yang dapat ia syukuri dalam hidupnya.

Selain itu, dengan membantu orang lain yang sedang kekurangan juga menunjukkan bahwa hidupnya, dalam kadar tertentu lebih baik daripada sebagian orang yang ternyata tidak lebih beruntung daripada dirinya.

1 Like

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membagikan pendapatnya.
Yapp hal terpenting untuk mengatasi sifat FOMO ini adalah dengan banyak-banyak bersyukur terhadap apa yang ada di dalam diri kita. Jika seseorang melakukan lebih baik dari kita, maka yang harus kita lakukan adalah memperbaiki kesalahan dan mengembangkan agar mendapat hasil yang lebih baik lagi.
Jangan terlalu mencari perhatian orang lain, karena terlalu caper juga tidak baik bahkan dapat menyebabkan sakit pada diri kalian sendiri.

jangan lupa bersyukur dan selalu bahagia. :slight_smile:

bener banget selama pandemi ini aku merasa bahwa FOMO meningkat terutama dikalangan mahasiswa karena aku sendiri merasakannya. menurutku FOMO ini muncul karena tidak efektifnya proses perkuliahan sehingga mahasiswa merasa memiliki banyak waktu luang dan mencari informasi akan pengembangan diri seperti training, volunteer, pengurus organisasi, seminar dan lainnya. FOMO ini timbul pada ku karena aku merasa insecure disaat ada temanku yang memiliki privillage bisa memiliki kemampuan yang lebih unggul juga merasa bahwa semuanya itu harus dimiliki karena merasa bahwa persaingan semakin ketat sehingga harus memiliki kemampuan diatas rata-rata. aku pernah mengalami FOMO hingga aku drop dan sakit. caraku mengatasi FOMO ini adalah:

  1. kita harus tahu paham bahwa manusia memiliki keterbatasan dan bukan makhluk sempurna, kita tidak harus memiliki semua kemampuan, tapi kita harus ahli pada 1 atau 2 bidang agar hasil yang kita dapatkan maksimal
  2. membuat schedule/time table akan aktivitas kita agar tidak terdapat jadwal kegiatan double supaya kita bisa fokus akan aktivitas tersebut. karena jika multitasking itu akan memberatkan nantinya.
  3. berani menolak ataupun meninggalkan hal/aktivitas yang sekiranya kurang memberikan dampak positif kepada kita. ya aku paham semua kegiatan yang membangun soft/hard skill itu memberikan dampak positif, tapi kita harus paham kita berada di interest yang mana, tidak harus memasukkan semua kegiatan kedalam wishlist karena kita bukan robot yang bisa beraktivitas 24/7.

Menjawab pertanyaan diatas. Saya ada membaca beberapa cara mengatasi FOMO di rumah di sebuah website. Berikut antara lain:

  1. Fokus pada kelebihan ang dimiliki diri sendiri dibanding kekurangan. Emang hal ini tidak mudah, tetapi dengan adanya pengaruh sosial media yang kuat. Tetapi cobalah untuk memilih orang-orang yang dapat memberikan aura positif dan sembunyikan orang-orang yang menurut kita dapat memunculkan perasaan FOMO kembali.

  2. Kurangi akses sosial media yang dapat membuat gangguan ini menyerang kembali, menonaktifkan sosial media sampai diri kita sendiri merasa baik.

  3. Nikmati semua yang dimiliki, dengan fokus melakukan pekerjaan rumah, tentu perasaan negatif yang ditimbilkan FOMO dapat diredam. Cara ini juga dapat membuat kita lebih menghargai segala hal yang dimiliki tanpa membandingkan dengan orang lain.