Bagaimana Islam melihat Budaya Malu?

Dalam Bahasa Arab, malu disebut dengan kata “al-Haya’’” yang berarti al-Taubah wa al-Hisymah (merasa bersalah karena telah melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, tidak benar).

Malu (al-Haya’) adalah sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan dalam melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik.

Sifat malu adalah salah satu dari akhlak terpuji yang menjadi keistimewaan ajaran Islam. Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya semua agama itu mempunyai akhlak, dan akhlak Islam itu adalah sifat malu.” (HR. Malik).

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi Rasulullah Saw. bersabda:

“Kekejian itu membuat segala sesuatu menjadi jelek, sebaliknya malu itu selalu membuat segala sesuatu menjadi bagus.” (HR. al-Tirmidzi).

Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa kekejian merupakan sumber dari segala keburukan, sedang sifat malu merupakan sumber dari segala kebaikan dan unsur kemuliaan dalam setiap pekerjaan.

Dalam konteks akhlak, sifat malu ada tiga macam, yaitu malu kepada Allah, hakikat malu, malu kepada diri sendiri, dan malu kepada Orang lain. Orang akan malu kepada Allah jika dia tidak dapat melaksanakan perintah-perintah-Nya atau tidak dapat menjauhi laranganlarangan-Nya.

Sikap malu seperti inilah yang merupakan kunci sukses kita menjadi orang yang bertakwa. Dengan bekal malu ini, seseorang akan berusaha untuk dapat menjadi orang bertakwa yang utuh. Orang yang malu kepada Allah pasti akan malu terhadap dirinya sendiri.

Malu terhadap diri berarti dia akan berusaha mengendalikan nafsunya dari keinginan-keinginan yang tidak baik dan tidak benar. Orang yang malu kepada Allah dan kepada dirinya sendiri pasti akan malu juga kepada orang lain. Dengan malu ini ia akan terpelihara dalam semua perilakunya.

Sikap malu juga merupakan refleksi dari iman seseorang. Malu dan iman memiliki keterkaitan yang kuat. Semakin kuat keimanan seseorang, maka akan kuatlah rasa malunya, demikian juga sebaliknya. Karena itulah, Nabi Saw. menjadikan malu sebagai salah satu bagian dari iman.

Nabi Saw. bersabda:

“Iman itu mempunyai tujuh puluh cabang, yang paling utama adalah (pernyataan) La ilaha illallah (tiada Tuhan selalin Allah) dan yang paling rendah ialah menyingkirkan duri dari tengah jalan, dan malu merupakan salah satu dari cabang iman.” (HR. al-Bukhari).

Dalam hadis yang lain Nabi Saw. bersabda:

Malu itu sebagian dari iman dan iman itu di dalam surga. Lidah yang keji itu termasuk kebengisan dan kebengisan itu di dalam neraka.” (HR. al-Tirmidzi).

###Hikmah Malu

Malu merupakan salah satu sifat teruji yang memiliki hikmah yang cukup besar bagi seorang mukmin untuk mempertahankan keimanannya, malu dan iman merupakan satu kesatuan yang saling mengisi.

Terkait dengan hal ini Nabi Saw. bersabda:

“Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, maka bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lainnya.” (HR. Hakim).

Malu juga berfungsi mengontrol dan mengendalikan seseorang dari segala sikap dan perbuatan yang dilarang oleh agama. Orang yang yang tidak memiliki sifat malu akan bebas melakukan apa saja yang diinginkan hawa nafsunya.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya di antara yang diperoleh manusia dari kata-kata kenabian yang pertama ialah “Jika engkau tidak lagi mempunyai sifat malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu”.” (HR. al-Bukhari).

Pernyataan Nabi di atas terbukti di jaman sekarang ini. Orang tidak lagi berbuat malu ketika auratnya dilihat orang lain, bahkan sengaja dipertontonkan untuk membuat sensasi dan mengajak orang lain masuk dalam perangkapnya. Orang tidak malu lagi melakukan suap, baik yang menyuap maupun yang disuap merasa bangga memberitahukan kepada orang lain. Dan masih banyak lagi contoh yang lain. Di sinilah malu sangat berharga untuk mengontrol keinginan manusia dalam mengumbar nafsunya.

Hilangnya rasa malu merupakan awal dari bencana kehancuran moral manusia

####Konsep malu dalam perspektif Islam

Kaum muslimin memahami malu bagian dari iman berdasarkan hadits “Al Hayaa u min al iman”. Bila dikaji lebih dalam, maka kata haya’ di atas diambil dari kata hayat atau kehidupan. Hal ini mengindikasikan bahwa rasa malu ini merupakan pondasi dari adanya kehidupan.

Orang yang tidak memiliki malu malu bukanlah orang yang memiliki kehidupan yang sebenarnya. Ia pun diartikan sebagai suatu perasaan buruk atau tidak nyaman yang disertai dengan perasaan, lalu bila melakukan suatu hal buruk yang bertentangan dengan nilai yang dipahami.

Lebih dari itu, dari hadits di atas dipahami pula bahwa rasa malu berkaitan erat dengan keimanan. Rendahnya rasa malu berimbas pada rendahnya keimanan yang dimiliki. Namun malu yang seperti apakah yang dimaksud dalam cakupan al haya’ ini?

Rasulullah SAW bersabda:

“Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah SAW berkata : iman itu lebih dari tujuh puluh atau lebih dari enam puluh cabang rantingnya yang terutama adalah kalimat lailahailla allah dan serendah-renahnya ialah menyingkirkan gangguan di jalan dan malu adalah sebagian dari iman”.

Imam Nawawi menyebutkan bahwa hakikat rasa malu itu muncul dalam bentuk sikap meninggalkan perbuatan jelek, dan perbuatan dzalim. Seorang sufi besar Imam Junaid menerangkan bahwa rasa malu muncul dari melihat besarnya nikmat Allah, sedangkan ia merasa banyak kekurangan dalam menngamalkan ketaatan kepada-Nya.

####Kedudukan malu dalam Islam
Sebagai makhluk sosial, manusia diberi kemampuan untuk membangun komuniksi serat interaksi. Dalam kedua proses tersebut terjalin suatu mekanisme pendistribusian tanggung jawab. Ada hal-hal yang secara aklamasi diseakati menjadi bagian tanggung jawab bersama (soccial obligation) yang dalam konteks agama biasa disebut fardlu kifayah.

Social obligation ini adalah keniscayaan yang diberikan Allah SWT dalam rangka kompetisi dalam kebaikan, dan rasa malu merupakan salah satu parameter untuk mengukur seberapa besar kontribusi seseorang dalam menjalankan kewajiban sosialnya. Hal ini mempertegas pernyataan Nabi Muhammad SAW :

“Imron bin Husain r.a kata : rosulullah SAW bersabda : malu itu tidak akan menimbulkan sesuatu kecuali kebaikan semata”.

Fungsi malu sebagai stabilitar kehidupan juga bisa dipahami dari hadist lain, yakni

“Jika Allah SWT ingin menghancurkan debuah kaum, dicabutlah dari dari mereka rasa malu”.

Bila rasa malu telah hilang maka yang muncul adalah sikap keras hati, Bila sikap keras hati membudaya, Allah mencabut dari mereka sifat sikap amanah (kejujuran dan tanggung jawab), bila sikap amanah telah hilang maka yang muncul adalah para pengkhianat.

Bila para pengkhianat telah merajalela, maka Allah mencabut rahman-Nya. Bila rahmat Allah telah hilang maka yang muncul adalah manusia laknat. Bila manusia laknat merajalela, maka Allah Allah akan mencabut dari mereka tali-tali Islam (kedamaian hidup)”

Menerangkan makna Hadits ini, Syeikh Muhammad Al Ghazali berkata dalam bukunya Khulukul Muslim :

”Bila seorang tidak mempunyai rasa malu dan amanah (tanggung jawab), ia akan menjadi keras dan berjalan mengikuti kehendak hawa nafsunya. Tak peduli apakah yang harus menjadi korban adalah mereka yang tidak berdosa .ia rampas harta dari tangan-tangan mereka yang fakir tanpa belas kasihan, hatinya tidak tersentuh oleh kepedihan orang-orang lemah yang menderita. Matanya gelap, pandangannya ganas. Ia tidak tahu kecuali apa yang memuaskan hawa nafsunya. Bila seseorang sampai tingkat perilkau seperti ini, maka telah terkelupas darinya fitrah agama dan terkikis habis jiwa ajaran Islam."

####Keistimewaan sifat malu
Rasa malu mendapat kedudukan yang sangat mulia dalam syariat Islam. Begitu juga banyak hal-hal yang bisa dikaji dari rasa malu itu. Berikut adalah keistimewaan-keistimewaan dari rasa malu :

  1. Al-haya’ miftah kully khair.
    Didasarkan dalam hadist yang menyatakan malu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan. Busyair Bin Ka’b seorang tabiin mengatakan bahwa rasa malu itu ilmu hikmah, darinya muncul kelembutan, keteguhan serta ketenangan. Begitu juga pendapat Ibnu Qoyyim di atas, “malu adalah akhlaq yang paling utama dan paling mulia”.

  2. Rasa malu merupakan keistimewaan dan tabiat manusia.
    Rasa malu adalah sifat yang selaras dengan fitrah manusia karena pada awal diciptakannya manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Dengan kesempurnaan jasmani dan rohaninya, manusia disempurnakan juga dengan akal pikirannya sehingga mendorong mereka untuk merasa malu terhadap hal-hal yang tidak manusiawi. Meskipun rasa malu sudah tertanam secara sebagai fitrah manusia, namun juga membutuhkan usaha dan pengetahuan serta didasari niat yang ikhlas karena Allah.

  3. Rasa malu adalah bagiaan dari keimanan.
    Disebutkan dalam beberapa hadist, yang esensinya adalah korelasional antara iman dan rasa malu seperti hadist yang menyatakan keimanan dan rasa malu adalah satu bagian, satu dengan lainya tak dapat dipisahkan.

####Macam-macam malu
Menurut Imam Ibnu Qoyim Al-jauziyyah malu itu dibagi menjadi 10 macam, yaitu :

  1. Hayatul jinayah : seperti rasa malu Nabi Adam saat lari di surga.

  2. Hayaut taqshir : seperti rasa malu para mailakat yang bertasbih siang dan malam tanpa henti-henti dan merasa lelah.

  3. Hayaul ijla’ : rasa malu yang lepas dari sifat keterburukan

  4. Hayaul haram : seperti rasa malu Rasulullah Saw ketika sekelompok kaum mengundang beliau ke walimah Zainab, kemudian mereka duduk sangat lama di acara tersebut, maka Rasulullah berdiri namun beliau tetap malu untuk mengajak pulang

  5. Hayaul hisymah : seperti rasa malu ’Ali bin Abi Thalib untuk menanyakan masalah madzi pada Rasulullah Saw karena keberadaan Fatimah putri beliau di sisinya

  6. Hayatul istihqar : seperti rasa malu seorang hamba saat berdo’a kepada Allah

  7. Hayaul mahabbah : seperti malu seseorang terhadap orang yang dicintainya

  8. Hayaul Ubudiyah : yaitu rasa malu yang muncul dari rasa cinta dan rasa takut

  9. Hayaus syarafi wal izah : yaitu rasa malu yang timbul karena kemuliaan dan keagungan

  10. Hayaul mar’i min nafsi : yaitu rasa malu seseorang yang sangat tinggi dan mulia atas keridhoannya terhadap segala kekurangan yang ada pada diriny.