Bagaimana Hukumnya Meringkas (Jama') Sholat Wajib 5 Waktu?

Sholat

Di dalam ajaran agama islam yang jelas dan tegas, Allah yang Maha pengasih dan penyayang tetap memberikan rukhsoh dalam menjalankan ibadah. Bagaimana hukumnya meringkas (jama’) sholat wajib 5 waktu?

Sholat jamak merupakan kegiatan menggabungkan dua sholat menjadi satu waktu. Misalnya dhuhur dan azar dijadikan satu, ditunaikan saat waktu dhuhur saja. Sehingga saat waktu ashar, kita tidak perlu melakukan sholat lagi.

Sholat jamak adalah rukhsah yang diberikan untuk orang-orang berpergian jauh atau kondisi darurat lain. Ketika mereka kesulitan melakukan ibadah sholat, maka sholatnya boleh dijamak.

Keringanan untuk menjalankan sholat jamak ini tentu bukan tanpa dasar. Hal ini dilandasi oleh dalil-dalil dan hadist yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan sholat jamak saat perang tabuk.

Dari Muaz menceritakan bahwasanya Nabi Muhammad saw dalam Perang Tabuk apabila beliau berangkat sebelum tergelincir matahari, beliau mengakhirkan shalat Dhuhur sehingga beliau kumpulkan pada shalat Asar (beliau shalat Dhuhur dan Asar pada waktu Asar). Jika beliau berangkat sesudah tergelincir matahari, beliau melaksanakan shalat Dhuhur dan shalat Asar sefuiligus, kemudian beliau berjalan. Jiknbeliau berangkat sebelum Maghrib, beliau mengakhirkan shalat Maghrib sehingga beliau mengerjakan shalat Maghrib beserta Isya; dan jika beliau berangkat sesudahwaktu Maghrib, beliau menyegerakan shalat Isya dan beliau shalat Isya beserta Maghrib. (H.R. Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmizi).

Perlu diketahui bahwa sholat yang bisa dijamak adalah:

  • Sholat dzuhur diringkas dengan Sholat Ashar, atau sebaliknya.
  • Sholat Maghrib diringkas dengan Sholat Isyak, atau sebaliknya.
  • Sedangkan sholat subuh tidak diperbolehkan untuk dijamak dengan sholat lainnya.

Orang yang Diperbolehkan Sholat Jamak

Tidak semua orang diperboleh sholat jamak. Hanya orang-orang tertentu saja yang mendapatkan keringanan ini, diantaranya yaitu:

  • Melakukan perjalanan (safar)
    Musafir atau orang-orang yang melakukan perjalanan jauh diperbolehkan melakukan sholat jamak. Dengan ketentuan jarak yang ditempuh melebihi 2 marhalah atau lebih dari 89 kilometer.

  • Orang yang sakit
    Seseorang yang sakit parah, sehingga tidak memungkinkan berdiri atau duduk. Bahkan kondisinya sangat lemah untuk digerakkan, maka diperbolehkan melakukan sholat jamak.

  • Ada udzur yang mendesak
    Untuk orang yang memiliki udzur sangat mendesak, maka diperbolehkan melakukan sholat jamak. Misalnya saja hendak melakukan operasi atau pemeriksaan di dokter yang mana ia tidak mungkin meninggalkan maka solatnya boleh dijamak. Namun, perlu dicatat bahwa hal ini sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan.

    Pendapat ini didasari oleh hadist:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ di Madinah padahal tidak ada rasa takut, tidak pula ada hujan” (HR Bukhari dan Muslim).

    Abu az Zubair bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat demikian. Kata Sa’id, “Hal itu sudah kutanyakan kepada Ibnu Abbas. Jawaban Ibnu Abbas, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin untuk tidak menyusahkan satupun dari umatnya’.

  • Jamaah Haji yang Hendak ke Muzdalifah
    Orang-orang yang menunaikan haji dan kesulitan melakukan sholat tepat waktu, maka diperbolehkan melakukan sholat jamak. Khususnya saat hendak berpergian ke Muzdalifah. Hal ini didasari hadist:

    Dari Abi Ayyub al-Anshari ra. Bahwa Rasulullah SAW menjama’ Maghrib dan Isya’ di Muzdalifah pada haji wada`. (HR Bukhari ).

  • Saat Hujan
    Terdapat sebuah hadist yang memperbolehkan kita untuk melakukan sholat jamak di saat hujan. Namun sholat yang boleh dijamak hanya Maghrib dan Isya. Sedangkan untuk sholat Dzuhur dan Ashar tidak ada keterangannya.

    Pendapat ini didasari hadist:

    Dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Rasulullah SAW menjama’ zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya` di Madinah meski tidak dalam keadaan takut maupun hujan.” (HR Muslim 705).

    Dari Nafi’ maula Ibnu Umar berkata, ”Abdullah bin Umar bila para umaro menjama’ antara maghrib dan isya’ karena hujan, beliau ikut menjama’ bersama mereka”. (HR Ibnu Abi Syaibah).

    Dari Ibnu Abbas RA. Bahwa Rasulullah SAW shalat di Madinah tujuh atau delapan. Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya`”. Ayyub berkata, ”Barangkali pada malam turun hujan?”. Jabir berkata, ”Mungkin”. (HR Bukhari dan Muslim).

Syarat Sahnya Sholat Jamak

Sebagaimana sholat fardhu pada umumnya, terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi agar sholat jamak sah di sisi Allah Ta’ala. Diantaranya yaitu:

  • Berwudhu untuk menghilangkan najis.
  • Menutup aurat.
  • Menghadap kiblat.
  • Menjalankan rukun sholat fardhu sebagaimana umumnya.
  • Niat sholat jamak.
  • Kedua sholat dilakukan secara berurutan tanpa diselingin aktivitas apapun. Jadi setelah salam, langsung berdiri lagi untuk sholat kedua. Tidak perlu dzikir, mengobrol, makan atau lainnya.

Jenis-Jenis Sholat Jamak

Sholat jamak tentu boleh dijadikan main-main. Semisal kita sedang malas lalu menjamak sholat. Atau mau pergi ke mall lalu menjamak sholat. Tentu hal itu salah ya! Sholat jamak hanya boleh dilakukan oleh seseorang yang benar-benar dalam kondisi darurat.

Adapun jenis sholat jamak dibedakan menjadi 2 macam yakni jamak taqdim dan jamak takhir.

  • Jamak Taqdim
    Jamak Taqdim yaitu meringkas atau mengerjakan 2 sholat fardhu sekaligus di waktu sholat yang pertama. Yakni:

    Sholat Dzuhur dan Ashar, dikerjakan saat waktu Dzuhur.
    Sholat Maghrib dan Isya’, dikerjakan saat waktu Maghrib.

  • Jamak Takhir
    Jamak Takhir yaitu meringkas atau mengerjakan 2 sholat fardhu sekaligus di waktu sholat yang terakhir. Yakni:

    Sholat Dzuhur dan Ashar, dikerjakan saat waktu Ashar.
    Sholat Maghrib dan Isya’, dikerjakan saat waktu Isya’.

Sumber : http://www.akidahislam.com/2016/09/niat-syarat-dan-tata-cara-sholat-jamak.html?m=1