Bagaimana Gambaran Strategi Regulasi Emosi setelah Putus Cinta?

Strategi Regulasi Emosi Pasca Putus Cinta

Reivich & Shatte (2002) mengemukakan beberapa emosi yang biasa dialami individu dengan berakhirnya suatu hubungan percintaan, yaitu kesedihan dan depresi, perasaan bersalah, marah, kecemasan, dan juga perasaan malu.

Bagaimana Gambaran Strategi Regulasi Emosi Pasca Putus Cinta ?

Gambaran Strategi Regulasi Emosi Pasca Putus Cinta


Dari pernyataan beberapa tokoh Psikologi terkait dengan tugas utama perkembangan dewasa awal, salah satu yang dapat diambil kesimpulannya adalah individu yang berada di masa dewasa awal sudah siap dan mempunyai kematangan emosi dalam menjalin sebuah hubungan intim dengan lawan jenis. Hubungan intim terbangun dari interaksi dua orang yang saling memberi serta menerima melalui proses yang dinamis. Hubungan intim merupakan suatu proses yang penuh dengan perubahan, seperti perubahan mood hingga kondisi kesehatan (Brehm, Miller, Perlman, 2002). Wisnuwardhani dan Mashoedi (2012) mengatakan bahwa hal ini juga di sebut dengan interpersonal relationship , yaitu hubungan antar pribadi yang terjadi diantara dua atau lebih individu. Interpersonal relationship pada masa dewasa awal berkaitan dengan pemilihan seorang pasangan hidup (suami atau istri). Terkait dalam memilih pasangan hidup, interpersonal relationship pada masa ini bersifat lebih serius, eksklusif, dan dapat dianggap sebagai tahap pranikah (Santrock, 1999). Penelitian yang dilakukan oleh Kanin, Davidson, dan Sheck (dalam Sears dkk, 1994) menunjukkan bahwa orang yang sedang jatuh cinta dan menjalin sebuah hubungan intim akan mengalami perasaan-perasaaan yang sifatnya psikologis dan diikuti pula oleh beberapa reaksi fisiologis.

Perubahan dan evolusi yang terjadi dalam hubungan intim dapat saja terjadi sampai pada berakhirnya hubungan tersebut. Dari sudut pandang ini, maka pemutusan suatu hubungan ( relationship dissolution ) merupakan hal yang normal terjadi dalam dinamika hubungan intim (Duck & Rollie, 2006). Dalam bahasa Indonesia sehari-hari, berakhirnya hubungan diberi label dengan “putus cinta” atau sudah tidak mempunyai hubungan cinta lagi (KBBI).

Reivich & Shatte (2002) mengemukakan beberapa emosi yang biasa dialami individu dengan berakhirnya suatu hubungan percintaan, yaitu kesedihan dan depresi, perasaan bersalah, marah, kecemasan, dan juga perasaan malu. Emosi-emosi ini akan bertambah rumit apabila individu tersebut putus pacaran setelah melakukan hubungan seksual premarital atau seks pranikah, khususnya pada perempuan. Wanita cenderung memiliki distress pasca putus yang lebih besar dibandingkan dengan pria.

Menurut Gratz & Roemer (2004), individu yang menyadari dan dapat mengendalikan emosinya akan mudah untuk menerima dan memanfaatkan stimulus negatif pada dirinya, dalam kasus ini adalah terkait dengan emosi negatif yang muncul pasca putus cinta. Regulasi emosi merupakan cara individu untuk mengendalikan dan mengontrol emosi yang muncul pada dirinya. Regulasi emosi merupakan hal yang penting bagi setiap individu, agar mampu mengendalikan emosinya, terkhusus di saat dewasa awal sedang menghadapi masalah putus cinta. Gross (2007) menjelaskan bahwa regulasi emosi adalah suatu cara untuk membentuk salah satu atau lebih emosi dan belajar untuk mengungkapkan emosi tersebut. Gross juga menambahkan, regulasi emosi terkait dengan cara emosi dapat dikontrol oleh individu dengan menggunakan berbagai macam strategi.

Terdapat lima strategi regulasi yang dapat dilakukan, yaitu situation selection, situation modification, attentional deployment, cognitive change dan response modulation . Kelima strategi regulasi tersebut didasarkan dari proses emosi yaitu proses situation-attention-appraisal-response . Strategi situation selection dihasilkan dari proses situation. Strategi situation selection memiliki manfaat dalam kurun waktu yang singkat, hal ini dikarenakan individu mencoba untuk menghindari situasi. Strategi situation modification juga dihasilkan dari proses emosi pertama yaitu situation. Situation modification dilakukan hanya pada lingkungan eksternal dan lingkungan fisik. Strategi attentional deployment dihasilkan dari proses emosi tahap kedua yaitu attention. Strategi attentional deployment memiliki berbagai bentuk yaitu menarik diri secara fisik, pengalihan secra internal, dan pengalihan respon. Cognitive change merupakan strategi yang dihasilkan pada tahap appraisal pada proses emosi. Strategi cognitive change digunakan untuk pengalaman atau peristiwa internal, misalnya physiological arousal yang dialami individu terhadap suatu situasi tertentu. Strategi terakhir yang dihasilkan dari proses emosi pada tahap response adalah strategi response modulation . Dalam strategi ini pada umunya, individu dapat melakukan regulasi emosi, jika individu dapat menemukan cara untuk mengekspresikan emosi yang muncul dalam cara yang lebih adaptif daripada maladaptif (Gross, 2007).

Menelaah lebih lanjut, proses emosi berlangsung secara dinamis, sehingga proses emosi dapat terjadi berulang dan berlangsung dalam waktu yang panjang. Oleh karena itu, strategi regulasi emosi dapat terjadi secara berulang dan dinamis. Setiap individu dapat melakukan lebih dari satu atau tidak melakukan strategi regulasi emosi dalam suatu kondisi dan situasi tertentu. Hal ini tergantung pada situasi yang sedang dihadapi individu (Gross, 2007).

Selanjutnya Sheppes (dalam Gross, 2014) menambahkan, terdapat tiga faktor penentu yang mempengaruhi individu memilih strategi regulasi emosi yaitu intensitas emosional, kompleksitas kognitif dan tujuan motivasi. Intensitas emosional adalah dimensi dalam konteks emosional yang berhubungan dengan intensitas situasi dan level dari emosi yang muncul. Kompleksitas kognitif yaitu berkaitan dengan proses kognitif remaja dalam menghadapi suatu situasi dan kemunculan emosinya. Selanjutnya, tujuan motivasi berkaitan dengan dorongan dan pengalaman individu terhadap situasi yang dialaminya.