Bagaimana cara menguatkan keberanian dalam menjalankan tugas amar makruf nahi munkar?

Terkadang kita sendiri merasa takut untuk melakukan sesuatu yang kita anggap benar, apalagi kalau bertentangan dengan masyarakat umum. Bagaimana cara menguatkan keberanian dalam menjalankan tugas amar makruf nahi munkar ?

Salah satu ketentuan dalam pelaksanaan amar makruf dijelaskan begini: Jika disangka atau diperkirakan ada bahaya, atau rasa takut akan keamanan nyawa dan harta, maka amar makruf tidak wajib dilakukan. Namun jika makruf (kebaikan yang ditinggalkan) atau munkar (keburukan yang dilakukan) adalah hal-hal yang berkaitan langsung dengan perkara-perkara penting agama seperti ushuluddin, Quran, akidah umat Islam, hukum syariat yang sangat penting, maka terdapat pengecualian khusus dalam hal ini, yakni tugas tersebut wajib dilakukan.

Oleh karena itu, rasa takut ini tidak disyaratkan dalam melakukan amar makruf (bagi sebagian orang), karena kalau tidak ,untuk apa para wali-wali Allah Swt berjuang mati-matian demi menegakkan kewajiban ini. Masalah menjaga agama sedemikian pentingnya sehingga Imam Husain rela mengorbankan nyawanya dan sahabat-sahabat tercintanya.

Untuk mendapat keberanian, disebutkan beberapa anjuran dari Al-Qur’an dan riwayat, seperti:

  1. Bertawakal:
    Imam Kadzim As berkata: “Barang siapa yang ingin menjadi orang paling kuat, maka hendaknya bertawakal.” Perawi bertanya seberapakah batasan tawakal? Beliau menjawab: “Tidak takut selain kepada Tuhan.” Imam Ali As berkata: “Tawakal dan berserah diri kepada Allah Swt adalah tumpuan yang paling baik.” Dalam riwayat lain Rasulullah Saw bertanya kepada Jibril tentang tawakal. Jibril berkata: “Tawakal adalah: yakin bahwa makhluk tidak memberikan keuntungan dan tidak membawakan kerugian, tidak memberi dan tidak mengambil, yakni menyadari bahwa makhluk tak memiliki kuasa apapun.”

  2. Takut pada Allah Swt:
    Imam Shadiq As berkata: “Orang yang takut pada Allah Swt maka Allah Swt akan membuat segalanya takut padanya. Adapun orang yang tak takut pada Allah Swt, maka Ia akan membuatnya takut segalanya.”

    Seorang manusia harus takut pada Tuhannya, namun yang dimaksud takut bukan berarti kita takut karena Allah Swt (naudzubillah) menakutkan rupanya. Takut pada Allah Swt memiliki tingkatan beragam.Salah satu bentuk takut pada Allah Swt, adalah takut akan azab dan siksa-Nya di dunia dan di akhirat, dimana azab murka-Nya timbul dikarenakan penentangan terhadap aturan-aturan-Nya. Jika seorang manusia takut pada Allah Swt, maka ia tidak akan melakukan dosa dan menentang-Nya.

    Bentuk takut yang lain adalah takut tunduk di hadapan keagungan Allah Swt. Rasa takut seperti ini yang disebut dalam ayat Al-Quran:

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang alim).” (Qs. Al-Fathir [35] :28)

  3. Mengingat Allah SWT:

    Allah Swt dalam Al-Quran berfirman:

    “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Qs. Al-Ra’ad [13] : 28).

    Yang membuat kita takut adalah kekhawatiran kita akan masa depan yang masih misteri, masa lalu yang suram, kelemahan dalam menghadapi musuh, takut mati dan seterusnya. Namun saat kita ingat bahwa kita memiliki Tuhan pemilik semua ciptaan dengan segala keagungannya ini, maka kita akan merasa aman dan tentram, rasa takut kita pun akan sirna

Referensi :
http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa12079