Bagaimana cara mengobati atau mengatasi gangguan kepribadian narsistik ?

Gangguan Pribadi Narsistik

Gangguan Pribadi Narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah sebuah tingkatan yang lebih tinggi dari narsis. Bisa dibilang ciri-ciri orang narsis adalah kecintaan yang berlebihan terhadap dirinya sendiri. Sementara pada gangguan pribadi narsistik, ciri narsis akan dibawa ketingkat yang lebih tinggi lagi, semacam arogansi, egoisme, sombong, dll.

Bagaimana cara mengobati atau mengatasi gangguan kepribadian narsistik ?

Cara Mengatasi Kepribadian Narsistik salah satunya adalah dengan menggunakan Terapi Binaural Beats Narsisistic

Terapi ini menggunakan media brainwave dan visualisasi diri yang akan bekerja langsung pada otak Anda, menghilangkan gangguan kepribadian narisisistik dengan mengembalikan fungsi otak serta mengubah cara kerja otak menjadi lebih baik lagi. Stimulasi positifnya akan membawa Anda pada kondisi kenyamanan dan rileksasi yang sangat dalam yang akan menghubungkan Anda dengan pikiran bawah sadar Anda.

Karena pusat dari otak adalah pikiran bawah sadar. Saat Anda telah terhubung dengan pikiran bawah sadar Anda, stimulus-stimulus positif dari terapi ini serta visualisasi diri yang Anda lakukan saat menggunakan terapi ini akan memudahkan Anda menghilangkan gangguan kepribadian narsisistik dari dalam diri Anda, mengubah cara berpikir Anda menjadi lebih baik serta menanamkan kebiasaan baru yang lebih positif dalam diri Anda.

Dengan keinginan dan keyakinan yang kuat dari dalam diri Anda untuk menghilangkan gangguan kepribadian narsisitik serta dengan bantuan Terapi Binaural Beats Narsisistic Therapy, gangguan kepribadian narisistik akan lebih mudah hilang dari dalam diri Anda.

Terapi Untuk Mengatasi Perilaku Narsisme


  1. Terapi Kognitif

Terapi kognitif adalah suatu pendekatan yang mengombinasikan penggunaan teknik kognitif untuk membantu individu memodifikasi mood dan perilakunya dengan mengubah pikiran yang merusak diri. Terapis bertindak seperti pelatih, mengajari kliennya teknik dan strategi yang bisa ia gunakan untuk mengatasi masalahnya. Terapi ini digunakan untuk perawatan sejumlah problem psikologis seperti kecemasan, fobia, dan depresi, pada berbagai macam lingkup. Tercakup didalamnya adalah ahli bedah dan dalam lingkup bidang pelatihan korporat, terutama dengan rujukan manajemen stres.

Dasar terapi kognitif adalah bahwa cara individu merasa atau berperilaku sebagian besar ditentukan oleh penilaian mereka terhadap peristiwa. Evaluasi ini diacu sebagai kognisi, dan terapis kognitif berfokus pada pikiran yang merugikan diri sehingga membuat mood menjadi jelek. Dan terapi kognitif adalah pendekatan yang berorientasi problem dan edukatif, dengan tujuan sebagai berikut:

  • Memperbaiki dan memecahkan kesulitan atau masalah.

  • Membantu klien memperoleh strategi yang konstruktif dalam mengatasi masalah.

  • Membantu klien memodifikasi kesalahan berfikir.

  • Membantu klien menjadi terapis pribadinya sendiri.

Konselor kognitif menerapkan sejumlah teknik perilaku dan kognitif. Teknik kognitif digunakan untuk membantu klien mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memodifikasi pikiran otomatis negatif dan skema, sementara teknik perilaku digunakan untuk membantu klien menguji pikiran otomatis negatifnya (Palmer, 2010).

Perilaku, dalam pandangan ini sangatlah ditentukan oleh pengaruh lingkungannya. John B Watson menekankan betapa dibutuhkanya suatu observasi dan eksperimen yang sistematis untuk mempelajari perilaku. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya.

Segenap perilaku manusia itu dipelajari, termasuk juga perilaku abnormalnya yang dipelajari dengan cara yang sama pada individu lain. Pendekatan ini lebih tertarik pada perilaku- perilaku yang dapat diamati daripada kondisi- kondisi abstrak atau bawah sadar yang merupakan tema pokok psikoanalisa (Wihartati, 2011).

Teori kognitif berpendapat bahwa orang- orang dengan gangguan kepribadian narsistik
terus mengeluarkan ide-ide maladaptif tentang diri mereka sendiri, termasuk pandangan bahwa mereka adalah orang-orang luar biasa yang layak diperlakukan jauh lebih baik dari manusia biasanya. Mereka kurang wawasan atau kepedulian terhadap perasaan orang lain, karena mereka menganggap diri mereka lebih unggul kepada orang lain. Keyakinan ini menghambat kemampuan mereka untuk merasakan pengalaman mereka yang realistis, dan mereka mengalami masalah tentang diri mereka sendiri yang berbenturan dengan pengalaman mereka dari kegagalan di dunia nyata.

Seorang terapis menggunakan teknik kognitif akan membantu klien mengembangkan cara-cara yang lebih efektif untuk mendekati masalah dan situasi, akan bekerja dengan klien untuk fokus pada tujuan, dan akan mengajarkan klien cara berpikir lebih tepat dan objektif. Dengan mengambil pendekatan ini, model terapis yang baik perilaku pemecahan masalah dan memberikan klien bantuan praktis dalam menangani berbagai masalah kehidupan. Klien juga mempelajari strategi self-monitoring untuk menjaga kecenderungan impulsif mereka, serta
keterampilan ketegasan untuk meningkatkan hubungan interpersonal. Dan juga terapi kognitif ditujukan untuk orang mengalami gangguan kepribadian narsistik yang berorientasi ke arah meningkatkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang lain dan mengurangi kemegahan klien (Halgin, 2007).

  1. Pendekatan Psikodinamik

Konseling psikodinamika terkait dengan bagaimana kita mengelabui diri kita sendiri dalam hal tujuan, hasrat dan keyakinan kita dan bagaimana pengelabuan itu menciptakan konflik antara tujuan yang kita nyatakan dan tindakan kita. Istilah psikodinamika berarti “langsung terkait dengan hukum tindakan mental”, dan hukum-hukum itu menggunakan anggapan dasar- anggapan dasar bahwa ada beberapa prinsip yang menentukan relasi antara pikiran dan tindakan dan bahwa semua itu bisa dirumuskan sebagai basis untuk intervensi terapeutik. Secara tradisional, prinsip-prinsip yang menggaris bawahi konseling psikodinamika disajikan sebagai derivasi sebagai gagasan aliran psikoanalisis yang didirikan oleh Sigmund Freud, seorang dokter, neurolog, dan psikoanalisis.

Konseling psikodinamika terkini dibangun dari beragam pengaruh teoretis. Salah satu prinsip yang paling fundamental adalah bahwa kita tidak menyadari motif kita, dan bahwa jika motif itu diketahui kita bisa membuat pilihan- pilihan yang lebih baik dan tak begitu bertentangan. Namun sering kali kita menolak atau bersikap defensif untuk mengakui motif- motif yang tersembunyi tersebut, yang diistilahkan sebagai ‟bawah sadar" oleh para teoretikus psikodinamika, sehingga kita tak mampu berubah-kita tampaknya punya kecenderungan untuk mengulang perilaku masa lalu. Pengulangan tersebut muncul karena pengalaman masa kecil, yang pada saat itu perilaku tersebut memungkinkan kita mengatasi problem dengan mengabaikan atau menindas perasaan-perasaan buruk. Dengan demikian, konseling psikodinamika berteori: mengapa kita tak bisa berubah, bagaimana ketidakmampuan itu timbul, dan bagaimana pengaruhnya pada kehidupan kita.

Tujuan dari pendekatan ini adalah membantu klien berbicara dengan lebih bebas, maka pendekatan tersebut digunakan untuk menemukan dan menganalisis kecemasan yang memotivasi hambatan dan resistensi, mengidentifikasi dan menantang hal-hal yang tak diucapkan, dan untuk menarik perhatian pada terjadinya pengulangan perilaku (Palmer, 2011).

Pendekatan psikodinamik itu sendiri merupakan teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Dan pendekatan ini juga dapat digunakan untuk mengobati individu dengan gangguan kepribadian narsistik didasarkan pada awal gagasan bahwa mereka mengalami kekurangan pengalaman kekaguman untuk kualitas hidup yang lebih positif. Terapi ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman perkembangan korektif kepada klien, dimana terapis ini menggunakan empati untuk mendukung pencarian klien untuk pengakuan dan kekaguman. Sehingga orang yang mempunyai gangguan kepribadian narsisme bisa lebih peduli terhadap kondisi disekitar lingkunganya. Tetapi, pada saat yang sama, pendekatan ini digunakan untuk mencoba memandu klien ke arah apresiasi yang lebih
realistis bahwa tidak ada yang sempurna (Halgin, 2007).

Untuk menangani perilaku narsisme tersebut bimbingan dan konseling Islam dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman diri dan lingkungannya serta mampu mengatasi berbagai permasalahan sehingga dapat mencapai kesejahteraan tersebut. semakin dekat seseorang kepada Tuhan dan semakin banyak ibadahnya, maka akan semakin tentramlah jiwanya (Darajat, 1982).

Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk multidimensi yang berarti terdapat beberapa dimensi dalam diri manusia. Istilah Homo Socius yang diungkapkan oleh Aristoteles yang artinya manusia adalah makhluk sosial menunjukkan bahwa manusia memiliki dimensi sosial dalam dirinya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku narsisme haruslah diberikan upaya penanganannya baik berupa bimbingan maupun dengan terapi, diantaranya yaitu terapi kognitif dan pendekatan psikodinamika. Dan dari terapi inilah konselor dapat mengetahui dan membantu klien dalam memahami masalah yang dialami, sehingga klien bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.