Bagaimana cara mengawinkan burung cucak rowo ?

burung
cucak_rowo

(Bima Satria) #1

image

Bagaimana cara mengawinkan burung cucak rowo ?


(Bhanu Wayan Mehrunisa) #2

Berikut beberapa tahan yang harus dilakukan ketika ingin mengawinkan burung cucak rowo agar dapat menghasilkan keturunan yang baik.

Pemilihan induk

Biasanya para penangkar burung cucak rowo memilih cucak rawa yang sehat dan tidak cacat sebagai indukan. Sudrajad (1999) mendefinisikan cucak rawa sehat jika badannya besar, bulu tubuhnya bagus, dan nafsu makan tinggi. Karso (1996) menambahkan bahwa cucak rawa sehat dicirikan dengan tidak sedang sakit. Suara tidak menjadi syarat utama dalam pemilihan induk, hanya sebagian kecil saja induk cucak rawa yang bersuara roppel (bagus) dipilih sebagai indukan.

Penjodohan

Mas’ud (2002) menjelaskan terdapat dua tipe penjodohan cucak rawa yakni menjodohkan secara berkelompok di dalam kandang besar dan menjodohkan di dalam kandang soliter. Proses pembentukan pasangan yang dilakukan oleh pengelola adalah dengan cara menjodohkan beberapa pasang cucak rawa di dalam satu kandang, kemudian diamati perlilakunya. Apabila terlihat ada pasangan cucak rawa yang saling tertarik (diketahui apabila dua ekor cucak rawa saling mendekat dan bermain bersama), maka pasangan tersebut dipisahkan dan dimasukkann kedalam kandang reproduksi.

Sudrajad (1999) melaporkan bahwa ciri cucak rawa yang telah mendapatkan pasangan adalah terlihat saling berdekatan, terlihat tenang, terbang berkejaran serta terkadang terdengar kicauan dari jantan dan betina secara bergantian, namun apabila pasangan tidak cocok ditandai dengan adanya perkelahian diantara kedua pasangan. Proses penjodohan berlangsung selama 2-3 bulan.

Kegiatan penjodohan biasanya dilakukan pada cucak rawa ketika berusia 2-3 tahun.

Peneluran, pengeraman, dan penetasan telur

Peneluran, pengeraman, dan penetasan telur dilakukan di dalam kandang reproduksi. Sudrajad (1999); Mas’ud (2002) melaporkan bahwa pengeraman telur cucak rawa secara alami yakni 14 hari yang dilakukan oleh jantan dan betina secara bergantian. Mas’ud (2002) menjelaskan bahwa proporsi mengeraman induk betina lebih banyak dibandingkan induk jantan.

Piyik cucak rawa yang baru menetas dibiarkan berada di dalam kandang reproduksi bersama induknya selama 5-7 hari pasca penetasan, setelah itu dipindahkan ke dalam kandang inkubator untuk mendapatkan perawatan.

Waktu yang dibutuhkan cucak rawa untuk dapat kembali bertelur adalah 14 hari pasca pengangkatan piyik. Cucak rawa mampu bereproduksi sebanyak 7-8 kali dalam satu tahun.