Bagaimana Cara Mengatasi "TOXIC PRODUCTIVITY"?

image

Memiliki pengalaman kerja yang banyak, pengalaman organisasi yang banyak, magang di company ternama, sering ikut konferensi internasional merupakan cita-cita kebanyakan mahasiswa saat ini. Tidak ada yang salah terkait hal itu, namun akan menjadi salah jika hal itu merusak regulasi diri, dan menjadi perilaku yang toxic. Salah satu contohnya diantara mereka bahkan rela untuk mengurangi jatah tidur mereka dalam sehari untuk menggapai target mereka. Jika hal ini terus berkelanjutan, maka hal ini tentu akan berdampak pada kesehatan mental yang buruk, salah satunya stress kronis bahkan depresi.

Menurut temen-temen Youdics, bagaimana cara mengatasi “toxic producvity” di kalangan mahasiswa khususnya generasi milenial saat ini?

1 Like

Betul sekali pernyataannya. Di era pandemi ini, banyak organisasi, perusahaan dan sejenisnya yang membuka peluang bagi kaum milenial untuk menambah pengalaman. Generasi milenial saat ini pun cenderung ingin meningkatkan dirinya secara berlebihan sehingga dapat menjadi toxic bagi diri sendiri. Menurut aku sendiri perilaku seperti ini dapat sama berbahayanya dengan perilaku workaholic, bahkan dapat lebih berbahaya.
Adapun cara mengatasinya versi aku sendiri, sebagai berikut :
Utamakan Kualitas bukan Cuma Kuantitas
Dengan banyaknya peluang yang terbuka tentu sangat menggiurkan. Mulai dari volunteering, internship, lomba, conference, hingga berbagai program kampus merdeka :face_with_hand_over_mouth:, semuanya sangat menggiurkan untuk diikuti dan dapat mempercantik CV.
Namun, perlu diingat bahwa waktu dan energi yang kita miliki itu terbatas. Untuk menyelesaikan tugas dari semua proyek yang kita ikuti secara maksimal akan sangat berat. Besar kemungkinan, proyek yang dikerjakan berakhir asal jadi saja. Akibatnya, penilaian kamu di mata perusahaan ataupun organisasi tersebut pun akan buruk. Pun karena fokus kamu terpecah, pengalaman yang kamu ambil bisa saja tidak melekat. Terlebih bila program yang kamu daftar sama sekali tidak terkait dengan perkuliahan kamu. Alhasil, niat untuk sambil menyelam minum air tak terpenuhi. Malah berakhir rugi. Kesehatan mental dan fisik pun dapat terganggu.
Jadi, baiknya kita menyadari kapasitas diri. Produktivitas tidak melulu dinilai dari seberapa banyak kegiatan yang kamu ikuti, tapi juga dari seberapa banyak kegiatan mempengaruhi perkembangan kehidupan kamu.
Thanks, CMIIW.

1 Like

Orang yang berada dalam situasi toxic productivity beranggapan bahwa ia wajib untuk selalu mengembangkan diri. Mereka akan merasa bersalah saat tidak produktif.
Dan sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, oleh karena itu cobalah lakukan hal berikut ini untuk mengurangi toxic productivity.

1. Menyadari bahwa terdapat masalah didalam diri

Untuk dapat keluar dari situasi toxic productivity , seseorang harus mempunyai kesadaran dari dirinya sendiri. Apabila orang tersebut tidak menyadari bahwa dirinya sedang bergumul dengan permasalahan toxic productivity , maka langkah selanjutnya adalah sia-sia. Cobalah untuk mengenali diri sendiri, orang yang terjebak dalam produktivitas beracun dapat merasa bergitu bersalah saat harus rehat sejenak dari pekerjaan.

2. Bekerja secara efektif dan efisien

Usahakan untuk dapat work smart daripada work hard . Melansir dari Huffpost , seorang Konsultan SDM dan penulis buku, Laurie Ruettimann, menyarankan agar para karyawan bisa lebih efektif dan efisien dalam bekerja. Hal sederhana yang bisa dilakukan contohnya apabila ada sesuatu yang bisa cukup disampaikan melalui email, maka tak perlu harus melakukan video conference yang menghabiskan waktu lebih banyak.

3. Mengapresiasi diri

Cobalah untuk tetap bisa mengapresiasi diri sendiri, contohnya melakukan hobi atau membeli sesuatu untuk diri sendiri yang favorit. Menonton film favorit di saaat waktu rehat sambil makan camilan mampu meningkatkan semangat dan suasana hati.

4. Menjalani kehidupan dengan seimbang

Sadari bahwa kehidupan profesional dan pribadi harus seimbang. Untuk mengatasi terjebak dalam produktivitas beracun, mulailah untuk mengatur waktu lebih baik lagi. Perlu diingat, hidup bukanlah sebuah perlombaan, jalani kehidupan yang membuat nyaman.

Sumber

Bekerja Sewajarnya, Ini 4 Tips Atasi Toxic Productivity

1 Like

Menjadi produktif merupakan hal yang positif. Akan tetapi, tentu saja apapun yang berlebihan justru akan menjadi buruk, atau dalam hal ini disebut toxic productivity . Akibat pandemi, banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi produktif. Tak jarang pula yang merasa tertinggal dan berusaha untuk memaksakan dirinya agar banyak kegiatan selama berdiam di rumah. Mungkin, kamu pun ikut berpartisipasi melakukan hal serupa dan justru merasa tertekan akibat hal ini. Jangan-jangan, produktivitas tidak sehat ini ternyata sudah kamu rasakan. Ciri utama yang dirasakan adalah menjadi tidak bisa diam dan harus melakukan sesuatu secara terus menerus.

Cara untuk mengurangi atau mengatasi toxic productivity, bagaimana caranya?

  • Buat target yang realistis. Ketika menentukan tujuan, janganlah muluk-muluk agar terhindar dari toxic productivity. Selain itu, jadilah fleksibel mengenai rencana yang dibuat.

  • Ingat kembali pentingnya istirahat. Ada yang bilang istirahat hanya untuk orang yang lemah. Padahal, istirahat adalah kebutuhan semua orang. Justru, orang yang beristirahat optimal akan lebih produktif dibanding yang tidak.

  • Mindfulness. Mindfulness adalah cara kita terhubung dengan momen saat ini dan mengundang untuk mengamati dan menerima apa yang sedang terjadi tanpa menghakimi. Dengan mindfulness , kita bisa mulai mengetahui kebutuhan dan keinginan tubuh sendiri.

1 Like

Di usia muda seperti saat ini, menjadi produktif merupakan hal yang positif. Akan tetapi, tentu saja apapun yang berlebihan justru akan mendatangkan hal yang kurang baik, atau yang dalam hal ini disebut toxic productivity. secara sederhana toxic productivity adalah produktivitas yang tidak baik karena sudah berlebihan. Menurut Study Breaks, toxic productivity cukup mirip dengan kecenderungan workaholism atau kecanduan kerja. Orang-orang yang telah mengalami toxic productivity cenderung sengaja membuat diri lelah sebisa mungkin untuk mencapai sesuatu tanpa kenal istirahat.

Menurut Creative Cultivate, ada lima cara untuk mengatasi kebiasaan toxic productivity, yaitu:

  1. Buat target yang realistis
    Ketika menentukan tujuan, janganlah muluk-muluk agar terhindar dari toxic productivity. Selain itu, jadilah fleksibel mengenai rencana yang dibuat. Jika harus melakukan pengaturan ulang agar sesuai dengan agenda tidak terduga, lakukanlah. Tidak apa-apa, lho, mengurangi satu atau dua aktivitas dalam sehari.
  2. Ingat kembali pentingnya istirahat
    Ada yang bilang istirahat hanya untuk orang yang lemah. Padahal, istirahat adalah kebutuhan semua orang. Justru, orang yang beristirahat optimal akan lebih produktif dibanding yang tidak. Jika menjadi produktif adalah tujuanmu sehari-hari, penting untuk menjamin istirahat yang cukup setiap harinya.
  3. Mindfulness
    Mindfulness adalah cara kita terhubung dengan momen saat ini dan mengundang untuk mengamati dan menerima apa yang sedang terjadi tanpa menghakimi. Dengan mindfulness, kita bisa mulai mengetahui kebutuhan dan keinginan tubuh sendiri. Oleh karena itu, hal ini penting bagi kesehatan dan bahkan meningkatkan kemampuan berpikir logis dan fungsi kritis otak.
  4. Minta pengawasan
    Jika sulit untuk mengendalikan diri sendiri dalam menghindari toxic productivity, carilah orang yang bisa memantaumu dan mengingatkan jika produktivitas harian sudah mulai melewati batas. Sebaiknya, orang kepercayaan ini bisa memberikan saran yang bermanfaat.
  5. Buat peraturan
    Buatlah beberapa peraturan yang harus dipatuhi, seperti tidak boleh menggunakan smartphone saat makan, tidak boleh bekerja lebih dari tiga jam tanpa istirahat, bekerja 40 jam maksimum dalam seminggu, makan dua kali sehari, dan lain-lain.
Summary

https://glints.com/id/lowongan/toxic-productivity/#.YRxefi0RphA

1 Like