Bagaimana cara malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw?

Malaikat Jibril

Bagaimana cara Jibril menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw?

Ada dua cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul:

  1. Pertama, datang kepadanya suara seperti suara dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi faktor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu.

    Cara ini yang paling berat buat Rasul. Apabila wahyu yang turun kepada Rasulullah saw. dengan cara ini, maka ia mengumpulkan segala kekuatan kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya. Dan suara ini mungkin sekali suara kepakan sayap-sayap para malaikat, seperti diisyaratkan dalam hadits:

    “Apabila Allah menghendaki suatu urusan di langit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, bagaikan gemerincingnya mata rantai di atas batu-batu yang licin.”

    Dan mungkin pula suara malaikat itu sendiri pada waktu Rasul baru mendengarnya untuk pertama kali.

  2. Cara kedua: malaikat menjelma kepada Rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia.

    Cara ini lebih ringan daripada cara pertama, karena adanya kesesuaian antara pembicara dengan pendengar. Rasul merasa senang sekali mendengarkan dari utusan pembawa wahyu itu, karena merasa seperti seorang manusia berhadapan dengan saudaranya sendiri.

    Keadaan Jibril menampakkan diri seperti seorang laki-laki itu tidaklah mengharuskan ia melepaskan sifat kerohaniannya. Dan tidak pula berarti bahwa zatnya telah berubah menjadi seorang laki-laki. Tetapi yang dimaksud adalah bahwa dia menampakkan diri dalam bentuk manusia tadi untuk menyenangkan Rasulullah sebagai manusia. Yang sudah pasti keadaan pertama, tatkala wahyu turun seperti dencingan lonceng, tidak menyenangkan karena keadaan yang demikian menuntut ketinggian rohani dari Rasulullah saw. yang seimbang dengan tingkat kerohanian malaikat. Dan inilah yang paling berat.

    Kata Ibnu Khaldun:

    “Dalam keadaan yang pertama, Rasulullah melepaskan kodratnya sebagai manusia yang bersifat jasmani untuk berhubungan dengan malaikat yang rohani sifatnya. Sedangkan dalam keadaan lain sebaliknya, malaikat berubah dari yang rohani semata menjadi manusia jasmani.”

Sumber : http://alhassanain.org/indonesian/?com=content&id=1189