Bagaimana cara kita mencintai pekerjaan kita ?

Dengan menciptakan suasana yang kondusif dan mendukung, maka seseorang dapat fokus dengan pekerjaan dan ataupun aktivitas itu sendiri. Namun semua itu bergantung pada diri sendiri selama orang tersebut mau melakukan. Tidak lupa juga memanajemen diri sehingga hasil dari pekerjaan sendiri dapat dinilai maksimal.

Bagaimana kita mencintai aktivitas dan pekerjaan kita ?

Dunia ini menawarkan kepada kita kebebasan memilih profesi, kebebasan memilih pekerjaan, atau kebebasan memilih bidang prestasi sekehendak kita. Jumlah pilihan itu terus bertambah dan tidak mungkin berkurang. Tak salah memang kalau kita selama ini menyimpulkan bahwa untuk berprestasi di bidang apa pun dibutuhkan pusaka yang bernama bakat yang selalu kita asumsikan sebagai keunggulan bawaan dari lahir yang diberikan kepada orang tertentu dan tidak diberikan kepada yang lain.
Mencintai pekerjaan, mencintai profesi, dan mencintai apa yang kita lakukan akan memperkuat daya tahan kita. Inilah rahasia yang bisa mengungkapkan mengapa orang-orang yang sudah berprestasi tinggi di bidangnya itu rata-rata mempunyai daya tahan yang lebih kuat, jam kerja yang lebih lama, dan tidak mudah dibuat patah arang oleh berbagai jenis kesulitan yang sifatnya sementara.

Semakin kita berusaha keras mengaktualisasikan bakat, semakin kuat pula daya tahannya menghadapi segala kemungkinan yang belum terjadi di depan.

Bagaimana kita mencintai pekerjaan atau profesi kita ? Jadikan pekerjaan atau potensi sebagai sarana Aktualisasi Potensi

Bagi yang telah menemukan bakat, cinta akan mengubah bakat tersebut menjadi prestasi di bidang yang sudah kita pilih. Bakat yang kita miliki baru berupa potensi, tidak langsung menjadi prestasi sebelum ada aksi. Umumnya, aksi tidak hanya dibutuhkan sekali, melainkan berkali-kali.

Eddie Robinson mengatakan bahwa punya bakat merupakan hal biasa dalam kehidupan manusia, yang menyebabkan luar biasa adalah perjuangan memberdayakan bakat itu. Mantan Presiden amerika, Benjamin Franklyn, mengingatkan : “Jangan sembunyikan bakatmu karena bakat itu diberikan untuk digunakan”.

Lalu, rahasia apa yang bisa diungkap di balik kemampuan mereka dalam mempraktikkan sesuatu yang sudah mereka miliki kalau bukan cinta dan mencintai apa yang mereka lakukan?. Oleh karena mereka mencintai, mereka tetap melakukan sesuatu seperti yang dikatakan Iwan Fals

“Dalam membuat lagu, aku tidak menunggu mood. Aku setiap hari bikin lagu. Seperti petani, dari subuh ia bangun ambil cangkul langsung pergi ke sawah dan mencangkul. Tidak pernah beripikir harus mencangkul yang mana dan nggak pernah berpikir mau tumbuh atau terserang hama”.

Ted Williams (1918) mengatakan

“orang selalu berkata kepada saya bahwa bakat dan kejelian saya yang menjadi alasan kesuksesan saya. Mereka tidak pernah berkata tentang praktik, praktik, dan praktik yang saya jalankan”.

Eric Hoffer, penulis dan filsuf Amerika, menyimpulkan bahwa

“Kita sering mendengar omongan orang bahwa bakat yang kita mmiliki akan menciptakan peluang bagi kita. Namun, yang sering kali terjadi dalam praktik hidup bukan itu., kemauan keraslah yang menciptakan peluang dan menunjukkan bakat itu sendiri”.

Referensi

Ubaedy, AN dan Ratrioso, I. 2005. Refleksi Kehidupan (Kisah dan kajian Hidup Orang-orang Ternama). Jakarta : Elex Media Komputindo.

Langkah awal untuk memperoleh kesenangan di tempat kerja adalah percaya bahwa kata-kata “senang” dan “bekerja” berada dalam kalimat yang sama. Pekerjaan terkadang mebuat kita menjadi stress karena banyaknya tugas yang menumpuk untuk itu cintailah pekerjaan Anda. Menjadikan tempat kerja sebagai tempat untuk bersenang-senang merupakan salah satu cara agar tetap ceria.

Namun tetap harus dipahami setelah Anda menyadari bahwa menjadi profesional bukan berarti menjadi sangat serius setiap saat. Anda dapat menemukan kesenangan di tempat kerja sambil meningkatkan produktivitas Anda. Hal itu dapat dicapai jika anda memiliki passion dalam pekerjaan anda dan menjadikan nyaman di tempat kerja.

Aku merasa tidak perlu pensiun selama aku masih bisa bersenang-senang

1. Temukan Pekerjaan sesuai Passion

Bagi sebagian orang, karier yang mereka nikmati dapat berarti mencari pekerjaan yang menggunakan keterampilan yang mereka banggakan. Dalam kasus lain, karier yang kita nikmati dapat berupa pekerjaan yang kita sukai atau sesuai passion kita.

Tidak ada karyawan yang senang bekerja setiap hari, dan bahkan pekerjaan yang kita sukai kadang-kadang bisa membuat frustrasi atau membosankan. Tetapi jika karier Kita adalah sesuatu yang biasanya Kita nikmati dan banggakan, Kita cenderung merasa bahagia di tempat kerja. Lihatlah diri Kita, keterampilan Kita, dan minat Kita, dan temukan sesuatu yang dapat Kita nikmati setiap hari.

2. Temukan Pekerjaan yang memberimu waktu luang

Tidak semua orang membutuhkan karier yang menginspirasi gairah mendalam atau berbicara tentang nilai-nilai pribadi Kita. Bagi banyak orang, pekerjaan adalah sesuatu yang memungkinkan mereka menciptakan gaya hidup yang mereka hargai di luar kantor.

Pertimbangkan seperti apa hidup yang Kita inginkan. Apakah Kita ingin menghabiskan malam hari dan akhir pekan bersama teman? Banyak waktu liburan untuk mengejar hobi Kita? Jadwal yang dapat diprediksi yang memungkinkan Kita untuk berada di rumah bersama anak-anak Kita setiap malam?

3. Bertanggung jawab atas pengembangan profesional dan pribadi

Ambil alih pertumbuhan Kita sendiri dengan berinvestasi dalam pengembangan pribadi dan profesional Kita. Kembangkan rencana dan sasaran untuk karier Kita, kemudian kejarlah.

Mintalah bantuan dari atasan Kita. Cari tugas yang akan membantu Kita mencapai tonggak karir atau mempelajari keterampilan khusus. Kejar peluang dan koneksi yang Kita anggap berharga, bahkan jika majikan Kita saat ini tidak menciptakan peluang itu untuk Kita.

4. Bertanggung jawab untuk mengetahui apa yang terjadi di tempat kerja

Merasa keluar dari lingkaran di tempat kerja, atau mengetahui bahwa Kita kehilangan informasi penting yang dimiliki karyawan lain, dapat membuat Kita merasa tidak puas dan diremehkan. Tetapi jika Kita menunggu orang lain untuk memberitahu Kita, informasi yang Kita butuhkan mungkin tidak akan pernah datang.

Alih-alih menunggu untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan perusahaan Kita, proyek departemen, atau rekan kerja, secara proaktif mencari informasi yang Kita butuhkan untuk melakukan pekerjaan Kita dan membuat keputusan penting. Kembangkan jaringan informasi dan gunakan itu. Secara tegas meminta pertemuan mingguan dengan bos Kita dan mengajukan pertanyaan yang bermakna.

5. Minta umpan balik sesering mungkin

Menerima umpan balik tentang pekerjaan Kita dapat memberikan penguatan positif yang membuat Kita merasa dihargai, atau dapat mengisi keterampilan utama dan memahami kesenjangan yang akan membantu Kita melakukan pekerjaan Kita dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja Kita dengan lebih sukses. Tetapi karyawan yang tidak menerima umpan balik ini dari manajer mereka sering merasa diremehkan, tidak dapat melakukan pekerjaan mereka, dan tidak bahagia di tempat kerja.

Jika Kita tidak menerima umpan balik rutin dari penyelia Kita, mulailah bersikap proaktif tentang memintanya. Mintalah umpan balik dari atasan Kita di akhir proyek besar, atau bicarakan dengan tim manajemen tentang penerapan penilaian karyawan secara teratur untuk membantu semua orang berhasil di pekerjaannya.

6. Buat komitmen dan pertahankan

Salah satu penyebab paling serius dari stres kerja dan ketidakbahagiaan adalah kegagalan untuk memenuhi komitmen. Dalam banyak kasus, karyawan menghabiskan lebih banyak waktu membuat alasan untuk gagal menjaga komitmen dan mengkhawatirkan konsekuensi dari tugas yang tidak lengkap daripada menghabiskan waktu menyelesaikan pekerjaan mereka.

Untuk mengelola tingkat stres dan meminimalkan ketidakbahagiaan di tempat kerja, buat sistem untuk melacak komitmen Kita dan mengelola jadwal Kita. Tetap cukup terorganisir sehingga Kita dapat menilai dengan cepat dan akurat apakah Kita benar-benar dapat berkomitmen untuk permintaan atau tugas baru. Jangan sukarela untuk pekerjaan tambahan atau tugas kantor jika Kita tidak punya waktu.

7. Hindari hal negatif

Berpartisipasi dalam lingkungan kerja yang beracun akan meningkatkan ketidakbahagiaan Kita, tidak peduli seberapa besar Kita menikmati pekerjaan Kita. Memilih untuk bahagia di tempat kerja berarti menghindari percakapan negatif, gosip, dan hubungan kerja yang tidak sehat sebanyak mungkin.

Tidak peduli seberapa positif Kita rasakan, orang-orang negatif memiliki dampak mendalam pada jiwa Kita. Jika Kita menemukan bahwa kelompok-kelompok tertentu di tempat kerja lebih cenderung terlibat dalam perilaku negatif seperti gosip atau mengeluh, cobalah menjauhkan diri dari orang-orang itu. Jika itu tidak memungkinkan, lakukan yang terbaik untuk mengarahkan percakapan ke topik yang lebih positif.

8. Berlatih keberanian profesional

Banyak orang takut konflik, terutama dalam lingkungan kerja ketika konflik terasa dapat memengaruhi masa depan profesional dan keamanan finansial Kita. Jika Kita belum pernah belajar bagaimana terlibat dalam konflik yang berarti, Kita cenderung menganggapnya menakutkan, berbahaya, dan menyakitkan.

Konflik bisa negatif, tetapi jika dilakukan dengan baik, konflik juga dapat membantu Kita menyelesaikan misi kerja dan visi pribadi Kita. Ketika ditangani secara terbuka, dengan komunikasi positif, tujuan yang jelas, dan rasa hormat terhadap rekan kerja dan penyelia Kita, konflik dapat menjadi hal positif di tempat kerja. Berdiri untuk prinsip atau ide yang Kita yakini dapat membantu Kita melayani pelanggan, membuat perubahan yang berarti, dan menjadi lebih sukses di pekerjaan Kita.

9. Cari Teman

Salah satu pertanyaan kunci yang diajukan Marcus Buckingham dan Curt Coffman adalah, “Apakah Kita punya teman baik di tempat kerja?” Karyawan yang melaporkan memiliki pertemanan yang kuat di tempat kerja, terlepas dari apakah pertemanan itu terbawa ke dalam kehidupan luar mereka, lebih cenderung bahagia dan termotivasi di tempat kerja.

Karyawan menghabiskan banyak waktu di tempat kerja; menikmati waktu bersama ada salah satu ciri khas dari pengalaman kerja yang positif. Merasa dipahami dan dihargai oleh bahkan satu rekan kerja, terutama jika itu seseorang yang berinteraksi dengan Kita secara teratur, dapat secara signifikan meningkatkan kebahagiaan harian Kita di tempat kerja.

Menikmati hidup merupakan salah satu hal yang wajib dirasakan setiap orang. Kata menikmati itu sendiri biasanya berporos dari pemikiran setiap orang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dan layak serta menghasilkan perubahan dalam hidupnya.

Enjoyment Of The Job sendiri berarti perasaan senang atau tanpa beban yang dirasakan pekerja saat melakukan pekerjaanya, sehingga dapat menimbulkan antusias serta kepuasan tersendiri dalam melakukanya dan menghasilkan hasil kerja yang optimal.

Tidak sedikit orang, tidak bisa menikmati hidupnya hanya karna tidak menikmati pekerjaanya. Konsep menikmati pekerjaan berbeda dengan konsep berkerja keras, dalam menikmati pekerjaan seseorang sudah pasti mencintai pekerjaan yang dilakukan itu. hal ini belum tentu terjadi dengan berkerja keras, dalam bekerja keras, sangat mungkin seseorag berkerja keras hanya didorong oleh sebuah keterpaksaan, tekanan atasan, tuntutan pekerjaan atau hanya sebuah pertanggung jawaban moral semata. Menikmati pekerjaan bukan bearti bermalas-malasan.

Dengan menikmati pekerjaan justru seseorang akan didorong untuk berkerja sebaik-baiknya dengan dasar ketulusan dan cinta akan pekerjaan.

“Jika memang memungkinkan pilihlah bidang pekerjaan yang benar-benar diminati, sehingga anda biasa merasa nyaman dan menikmati bidang pekerjaan yang dilakukan” Dale Carnegie.

Adapun beberapa cara untuk mencintai pekerjaan :

  1. Percaya dan setia pada sebuah proses.
    Untuk menjadi kupu-kupu yang cantik seekor ulat harus bersabar untuk menjalani sebuah proses. Demikian juga dengan pekerjaan, kita harus menghargai prosesnya, karna jika kita pahami, sebenarnya setiap tahap yang kita lewati mengandung nilai hidup yang sangat berharga. kesabaran, mental serta skill akan terasah lewat serangkaian proses tersebut.

  2. Melihat manfaat jangka panjang.

  3. Antusias terhadap pekerjaan.
    Bila tidak menyukai pekerjaan, tentu akan sangat sulit menyelesaikan tugas-tugas kantor. Karna itu bersikaplah seolah-olah menikmati dan menyukai pekerjaan. Berikan perhatian penuh terhadap hal yang sedang dilakukan. Tersenyum atau berdiri dengan tegak dapat membantu untuk lebih bersikap antusias.

  4. Lihat sisi positif
    Walau merasakan pekerjaan sangat menjenuhkan, tidak pernah selesai, atasan yang galak atu rekan kerja yang menyebalkan, tetapi cobalah untuk melihat hal positifnya. Bandingkan keadaan anda dengan orang lain yang tidak seberuntung anda. Dengan penghasilan yang tidak sebanyak anda. Cobalah untuk menungat bagaimanasaat anda berusaha mendapatkan pekerjaan ini. Dengan mengungat perjuangan untuk medapatkan pekerjaan tersebut, dapat membantu anda untuk lebih mencintai pekerjaan, dan pada akhirnya dapat menikmati pekerjaan.

  5. Akrab dengan rekan, atasan, dan bawahan.
    Bekerja paling nyaman apabila kita selalu berpikir positif, jangan selalu berpikir atasan hanya selalu menyuruh anda, tanpa memikirkan anda, jangan selal berpikr bawahan adalah orang yang bisa anda suruh tanpa sebuah alas an. Selalu berpikr kantor adalah rumah kedua dan keluarga anda.

Menikamati pekerjaan merupakan hal yang sangat penting, ini dikarenakan menikmati pekerjaan itu memiliki suatu nilai dan hasil didalamnya, yakni kepercayaan terhadap pemikiran yang ada. Kecendrungan dalam menghasilkan sesuatu, serta mencegah efek negative dari ganguan yang terjadi.

Menurut David Goodrich, mantan ketua dewan direktur B.F Goodrich company, kunci utama meraih sukses adalah menikmati pekerjaan.”jika anda menyukai apa yang sedang dilakukan, anda bisa bekerja hingga waktu yang lamatanpa terasa seperti bekerja sama sekali, anda seperti sedang bermain-main saja”.

Seseorang yang berkerja keras namun tidak menikmati perkerjaanya, tidak akan merasakan kepuasan kerja yang sebenarnya.

“Untuk apa berkerja keras, justru yang palng pentung itu adalah menikmati pekerjaan yang anda lakukan!” begitu kutipan dari Bob Sadino yang tertulis dalam buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”.

Referensi :