© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana Asal-Usul Perangko?

Berkirim surat melalui jasa pos dengan perangko barangkali terdengar jadul buat kamu. Meskipun jasa pos sudah semakin jarang digunakan, namun tampaknya para pengoleksi perangko atau filatelis masih eksis saat ini.

1 Like

Meskipun jasa pos sudah semakin jarang digunakan, namun tampaknya para pengoleksi perangko atau filatelis masih eksis saat ini. Bahkan ada beberapa orang yang masih menggunakan perangko untuk mengirimkan surat atau kartu pos karena merasa ada nilai romantisme yang tidak dapat tergantikan.

Perangko pertama kali diperkenalkan di Inggris pada tanggal 1 Mei 1840 oleh Rowland Hill. Karena itulah, sampai sekarang negara Inggris mendapat perlakuan khusus, yaitu tidak perlu mencantumkan nama negara di atas perangko. Perangko resmi pertama ini bergambar Ratu Victoria dengan harga satu penny. Perangko ini dicetak dengan tinta hitam dan oleh karena itu, maka perangko ini dikenal dengan nama The Penny Black.

Cerita dibalik munculnya ide perangko dari Sir Rowland Hill ini cukup menarik. Suatu ketika, Sir Rowland Hill melihat seorang pengantar surat menyerahkan sebuah surat kepada seorang gadis. Setelah mengamati surat itu dengan teliti, gadis itu kemudian mengembalikan surat itu kepada pengantar pos dan menolak melunasi biaya pengiriman surat dengan alasan bahwa ia tidak punya uang. Sir Rowland Hill mendekati gadis tersebut kemudian bertanya mengapa dia menolak menerima surat tersebut. Jawaban gadis tersebut ternyata mengejutkan. Surat yang ternyata datang dari kekasihnya itu memuat beberapa tanda atau kode yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Tanpa harus membuka surat itu pun, gadis itu sudah dapat mengetahui apa isi surat dari sang kekasih. Jadi, buat apa ia harus susah-susah membayar ongkos kirim surat? Hal ini membuat Sir Rowland gusar, karena bila hal tersebut sering terjadi, alangkah ruginya dinas pos dan karyawan yang bekerja disana.

Selain itu, yang membuat Sir Rowland memikirkan perangko adalah hasil observasinya ketika menekuni bidang perpajakan, ilmu administrasi, dan perkembangan sosial ekonomi di Inggris pada masa itu. Pada tahun 1930, ketika negara Inggris berkembang menjadi negara industri, transportasi mengalami kemajuan yang cukup menggembirakan. Pada waktu itu, Rowland Hill memikirkan bagaimana mendapatkan pemasukan uang untuk kas kerajaan dari pajak pengiriman surat-surat. Pikiran Rowland Hill juga diganggu dengan pemberian hak khusus bagi anggota majelis parlemen untuk dapat mengirim surat secara gratis tanpa batas. Sistem pembayaran biaya pengiriman surat oleh penerima juga banyak merugikan dinas pos. Dari situlah perangko bermula dan kemudian sistem ini digunakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sumber:

Diambil dari sumber buku “Mengenal filateli di Indonesia” oleh Richard Susilo, kata Prangko berasal dari kata Franco. Asal kata ini diperkirakan berasal dari seseorang dengan kewarganegaraan Itali yaitu Francesco de Tassis dari keluarga Thurn and Taxis. Rute pengantaran surat pos yang pertama pada tanggal 18 Januari 1505. Pengantaran surat pos hanya terbatas di kalangan bangsawan atau raja saat itu. Pengantaran surat di jarnan dulu dilakukan berbagai cara, antara lain dengan menggunakan merpati pos, kuda, ataupun hanya dengan berjalan kaki.

Kantor pos mulai dikenal pada abad ke-19. Cara pengiriman maupun sistem pembayaran pun berbeda dibandingkan zaman sekarang. Pada saat itu si penerima suratlah yang harus membayar ongkos kirimnya. Oleh sebab itu sulit ketika seseorang yang tidak punya uang saat itu bila menerima surat. Apalagi jika surat itu merupakan surat penting. Namun kemudian, akhirnya diputuskanlah bahwa pengirimlah yang membayar biaya surat.

Namun kemudian mulailah muncul kejadian yang merugikan pihak pos. Hal ini menarik perhatian seorang bangsawan Inggris, Sir Rowland Hill. Kemudian beliau mengajukan sebuah tulisan yang berjudul " Post Office Reform. Its Importance and Practicability.” Isinya mengenai pembaharuan sistem pos yang berlaku, yaitu biaya pos yang sama untuk seluruh bagian Inggris sampai dengan kiriman yang beratnya setengah ons. Berikut isi rincian proposal:

  1. Ongkos pengiriman surat harus diturunkan, apabila ongkos pengiriman surat turun, diharapkan terjadi peningkatan arus surat, peningkatan jumlah surat yang dikirim.

  2. Untuk lebih mendorong masyarakat agar lebih saling berkirim surat, perlu ditetapkan biaya pos yang seragam dengan tidak memandang jarak tempuh surat tersebut.

  3. Untuk menghindari penyalahgunaan biaya pengiriman surat, maka biaya pos harus dibayar di muka dengan menempelkan secarik kertas tanda pelunasan yang saat ini kita kenal dengan nama prangko.

Setelah mengalami perdebatan panjang, akhirnya usul ini disetujui parlemen Inggris dan ketetapan itu mulai berlaku resmi mulai tanggal 1 Januari 1840. Pada akhirnya dibuatlah prangko Penny Hitam yang terkenal itu. Rowland Hill mencontohnya dari gambar sebuah medali peringatan yang dibuat oleh William Wyon. Medali berukir gambar Ratu Victoria (hanya bagian kepala). Dari gambar tersebut Rowland Hill merancang prangko Black Penny dengan dibantu Charles serta Frederic Heath (ayah dan anak) untuk pewarnaannya. Sedangkan pencetak prangko pertama ini adalah Perkins, Bacon and Co. Prangko bernilai nominal satu Penny. Berkat usaha keras Sir Rowland Hill, kini ia dijuluki sebagai Bapak Prangko Internasional. Pada tanggal 6 Mei 1840, prangko Black Penny ini resmi dikeluarkan oleh Dinas Pos Inggris dengan jumlah 68.158.080 keping.

Prangko yang dibuat sebelum 6 Mei 1840 bukanlah prangko pertama yang resmi. Hal ini disebabkan prangko sebelum tanggal 6 Mei 1840 hanya dipakai oleh badan organisasi tertentu saja dan kaum bangsawan atau raja-raja. Jadi tidak berlaku untuk masyarakat umum. Sedangkan prangko Black Penny diresmikan oleh pemerintah saat itu dan dapat dipakai oleh semua orang untuk biaya pengiriman surat serta sesuai dengan tujuan dari prangko itu sendiri.

Sedangkan di Indonesia, dulu bernama Pemerintah Hindia Belanda, pada tanggal 1 April 1864 menerbitkan prangko pertama kali. Prangko tersebut berwarna merah anggur dengan harga nominal 10 sen dan menampilkan gambar Raja Willem III. Pada awalnya prangko hanya memuat gambar Kepala Negara (Raja dan Ratu), Lambang negara atau angka yang menunjukkan harga nominal saja. Perkembangan selanjutnya memunculkan prangko dengan berbagai macam rancangan. (Susilo, 2002)