© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana anatomi dan fisiologi telinga manusia?

image

Telinga merupakan sebuah organ yang mampu mendeteksi/mengenal suara & juga banyak berperan dalam keseimbangan dan posisi tubuh.

Bagaimana anatomi dan fisiologi telinga manusia ?

Telinga merupakan organ yang berfungsi sebagai indera pendengaran dan fungsi keseimbangan tubuh.

Anatomi telinga


Telinga sebagai indera pendengar terdiri dari tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Struktur anatomi telinga seperti diperlihatkan pada gambar dibawah ini.


Gambar Struktur anatomi telinga. Sumber: Fox S

  1. Telinga Bagian Luar

    Telinga luar berfungsi menangkap rangsang getaran bunyi atau bunyi dari luar. Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna auricularis), saluran telinga (canalis auditorius externus) yang mengandung rambut-rambut halus dan kelenjar sebasea sampai di membran timpani.

    Daun telinga terdiri atas tulang rawan elastin dan kulit. Bagian-bagian daun telinga lobula, heliks, anti heliks, tragus, dan antitragus.

    Liang telinga atau saluran telinga merupakan saluran yang berbentuk seperti huruf S. Pada 1/3 proksimal memiliki kerangka tulang rawan dan 2/3 distal memiliki kerangka tulang sejati. Saluran telinga mengandung rambut-rambut halus dan kelenjar lilin. Rambut-rambut alus berfungsi untuk melindungi lorong telinga dari kotoran, debu dan serangga, sementara kelenjar sebasea berfungsi menghasilkan serumen. Serumen adalah hasil produksi kelenjar sebasea, kelenjar seruminosa, epitel kulit yang terlepas dan partikel debu. Kelenjar sebasea terdapat pada kulit liang telinga.

  2. Telinga Bagian Tengah

    Telinga tengah atau cavum tympani. Telinga bagian tengah berfungsi menghantarkan bunyi atau bunyi dari telinga luar ke telinga dalam. Bagian depan ruang telinga dibatasi oleh membran timpani, sedangkan bagian dalam dibatasi oleh foramen ovale dan foramen rotundum. Pada ruang tengah telinga terdapat bagian-bagian sebagai berikut :

    • Membran timpani

      Membran timpani berfungsi sebagai penerima gelombang bunyi. Setiap ada gelombang bunyi yang memasuki lorong telinga akan mengenai membran timpani, selanjutnya membran timpani akan menggelembung ke arah dalam menuju ke telinga tengah dan akan menyentuh tulang-tulang pendengaran yaitu maleus, inkus dan stapes. Tulang-tulang pendengaran akan meneruskan gelombang bunyi tersebut ke telinga bagian dalam.

    • Tulang-tulang pendengaran

      Tulang-tulang pendengaran yang terdiri atas maleus (tulang martil), incus (tulang landasan) dan stapes (tulang sanggurdi). Ketiga tulang tersebut membentuk rangkaian tulang yang melintang pada telinga tengah dan menyatu dengan membran timpani. Susunan tulang telinga ditampilkan pada gambar dibawah ini.

    Susunan tulang-tulang pendengaran
    Gambar Susunan tulang-tulang pendengaran Sumber: Fox S.9

    • Tuba auditiva eustachius

      Tuba auditiva eustachius atau saluran eustachius adalah saluran penghubung antara ruang telinga tengah dengan rongga faring. Adanya saluran eustachius, memungkinkan keseimbangan tekanan udara rongga telinga telinga tengah dengan udara luar.

  3. Telinga bagian dalam

    Telinga dalam berfungsi menerima getaran bunyi yang dihantarkan oleh telinga tengah. Telinga dalam atau labirin terdiri atas dua bagian yaitu labirin tulang dan labirin selaput. Dalam labirin tulang terdapat vestibulum, kanalis semisirkularis dan koklea. Di dalam koklea inilah terdapat organ Corti yang berfungsi untuk mengubah getaran mekanik gelombang bunyi menjadi impuls listrik yang akan dihantarkan ke pusat pendengaran.

    Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semi-sirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan skala timpani dengan skala vestibuli.

    Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Koklea atau rumah siput merupakan saluran spiral dua setengah lingkaran yang menyerupai rumah siput.

    Koklea terbagi atas tiga bagian yaitu:

    • Skala vestibuli terletak di bagian dorsal
    • Skala media terletak di bagian tengah
    • Skala timpani terletak di bagian ventral

    Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfe, sedangkan skala media berisi endolimfe. Ion dan garam yang terdapat di perilimfe berbeda dengan endolimfe. Hal ini penting untuk proses pendengaran.

    Antara skala satu dengan skala yang lain dipisahkan oleh suatu membran.

    Ada tiga membran yaitu:

    • Membran vestibuli, memisahkan skala vestibuli dan skala media.
    • Membran tektoria, memisahkan skala media dan skala timpani.
    • Membran basilaris, memisahkan skala timpani dan skala vestibuli.

    Pada membran membran basalis ini terletak organ Corti dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis Corti, yang membentuk organ Corti.9 Struktur organ Corti ditampilkan pada gambar dibawah ini.

    Penampang koklea dan susunan organ Corti
    Gambar Penampang koklea (gambar a) dan susunan organ Corti (gambar b).Sumber: Fox S.

Fisiologi pendengaran


Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dihantarkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani dan diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan memperkuat getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan foramen ovale. Energi getar yang teiah diperkuat ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan foramen ovale sehingga cairan perilimfe pada skala vestibuli bergerak.

Getaran akibat getaran perilimfe diteruskan melalui membran Reissner yang akan mendorong endolimfe, sehingga akan terjadi gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel.

Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39 - 40) di lobus temporalis.

Mekanisme Pendengaran


Gelombang bunyi merupakan suatu gelombang getaran udara yang timbul akibat getaran suatu obyek. Bunyi yang didengar oleh setiap orang muda antara 20 dan 20.000 siklus per detik. Akan tetapi, batasan bunyi sangat tergantung pada intensitas. Bila intesitas kekerasan 60 desibel di bawah 1 dyne/cm2 tingkat tekanan bunyi, rentang bunyi menjadi 500 sampai 5000 siklus per detik. Pada orang yang lebih tua rentang frekuensi yang bisa didengarnya akan menurun dari pada saat seseorang berusia muda, frekuensi pada orang yang lebih tua menjadi 50 sampai 8000 siklus perdetik atau kurang.

Kekerasan bunyi ditentukan oleh sistem pendengaran yang melalui tiga cara.

  • Pertama di mana ketika bunyi menjadi keras, amplitudo getaran membran basiler dan sel-sel rambut menjadi meningkat sehingga akan mengeksitasi ujung saraf dengan lebih cepat.

  • Kedua, ketika amplitudo getaran meningkat akan menyebabkan sel-sel rambut yang terletak di pinggir bagian membran basilar yang beresonansi menjadi terangsang sehinga menyebabkan penjumlahan spasial implus menjadi transmisi yang melalui banyak serabut saraf.

  • Ketiga, sel-sel rambut luar tidak akan terangsang secara bermakna sampai dengan getaran membran basiler mencapai intensitas yang tinggi dan perangsangan sel-sel ini tampaknya yang menggambarkan pada sistem saraf bahwa tersebut sangat keras.

Jaras persarafan pendengaran utama menunjukan bahwa serabut saraf dari ganglion spiralis Corti memasuki nukleus koklearis dorsalis dan ventralis yang terletak pada bagian atas medulla. Serabut sinaps akan berjalan ke nukleus olivarius superior kemudian akan berjalan ke atas melalui lemnikus lateralis.

Dari lemnikus lateralis ada beberapa serabut yang berakhir di lemnikus lateralis dan sebagian besar lagi berjalan ke kolikus inferior di mana tempat semua atau hampir semua serabut pendengaran bersinaps. Jaras berjalan dari kolikus inferior ke nukleus genikulum medial, kemudian jaras berlanjut melalui radiasio auditorius ke korteks auditorik yang terutama terletak pada girus superior lobus temporalis. Jaras saraf pendengaran ditampilkan pada gambar dibawah ini.

image
Gambar Jaras saraf pendengaran. Sumber: Guyton

Pada batang otak terjadi persilangan antara kedua jaras di dalam korpus trapezoid dalam komisura di antara dua inti lemniskus lateralis dan dalam komnisura yang menghubungkan dua kolikulus inferior. Adanya serabut kolateral dari traktus auditorius berjalan langsung ke dalam sistem aktivasi retikuler di batang otak. Pada sistem ini akan mengaktivasi seluruh sistem saraf untuk memberikan respon terhadap bunyi yang keras. Kolateral lain yang menuju ke vermis serebelum juga akan di aktivasikan seketika jika ada bunyi keras yang timbul mendadak. Orientasi spasial dengan derajat tinggi akan dipertahankan oleh traktus serabut yang berasal dari koklea sampai ke korteks.

Lokalisasi bunyi


Penentuan keras bunyi di tentukan oleh amplitudo suatu getaran suatu membran basilaris dan sel-sel rambut. Peningkatan amplitudo getaran merangsang ujung saraf lebih cepat dan dapat menyebabkan sel-sel rambut pada mambrana basiler yang bergetar mulai terangsang akibatnya menyebabkan sumasi ruang bagi implus. Pada tiap telinga memiliki keseragaman sensitivitas keseragaman pada rentan pendengaran yang berbeda-beda. Sensitivitas terbaiknya berfrekuensi 2 sampai 5 kHz. Pada telinga yang baik membutuhkan intesitas lebih dari 0 dB unuk mendeteksi bunyi berfrekuensi 100 dari pada bunyi berfrekuensi 1000 siklus per detik (Hertz /Hz).

Lokalisasi bunyi membutuhkan kerjasama kedua telinga. Seseorang dapat menentukan bunyi pada arah horizontal melalui perbedaan waktu antara masuknya bunyi ke dalam suatu telinga dengan frekuensi di bawah 2000 Hz dan masuk ke dalam telinga yang lain.

Perbedaan antara intensitas bunyi dalam pada kedua telinga bekerja paling baik bila frekuensi bunyi yang lebih tinggi, karena kepala bertindak sebagai sawar bunyi yang lebih baik terhadap frekuensi lainnya. Mekanisme perbedaan waktu dalam membedakan arah jauh lebih baik dari pada mekanisme intesitas, karena mekanisme ini tidak bergantung pada faktor-faktor luar, melainkan bergantung pada interval waktu yang tepat antara dua sinyal akustik.

Perbedaan waktu datangnya gelombang bunyi pada telinga kanan telinga kiri digunakan untuk mendeteksi sumber bunyi pada bidang datar. Pada bunyi dengan frekuensi kurang dari 2000 Hz struktur bunyi dapat diketahui dengan proses Interaural Time Differences (ITD). Pada frekuensi yang lebih besar dari 2000 Hz, efek dari “bayangan kepala” meningkatkan perbedaan intensitas bunyi antara telinga kanan dan telinga kiri. Perbedaan ini digunakan untuk melokalisasi sumber bunyi.

image
Gambar Lokalisasi sumber bunyi oleh 2 telinga. Panel A: Interaural Time Differences (ITD) Panel B: Interaural Level of Differences Sumber: Grothe B

Apabila seseorang melihat lurus ke arah sumber bunyi maka bunyi akan mencapai kedua telinga dengan jarak waktu yang bersamaan. Sedangkan jika telinga kanan lebih dekat dengan bunyi dari pada telinga kiri maka sinyal bunyi yang berasal dari telinga sebelah kanan akan memasuki otak lebih dahulu dari pada telinga sebelah kiri.

image
Gambar Bayangan bunyi. Sumber: Bess FH

Bayangan kepala atau bayangan akustik adalah area di mana terjadi perlemahan amplitudo bunyi akibat terhalang oleh kepala. Bunyi berjalan menembus dan mengelilingi kepala untuk mencapai telinga. Adanya halangan oleh kepala menyebabkan terjadinya perlemahan amplitudo yang merupakan filter bunyi yang menuju ke telinga. Efek filter ini sangat penting dalam menentukan lokasi sumber bunyi. Telinga yang tertutup bayangan kepala menerima bunyi 0,7 mili detik lebih lambat dibanding telinga yang tidak tertutup bayangan kepala.10

Mekanisme Saraf untuk Deteksi Arah Bunyi


Destruksi korteks pendengaran pada kedua sisi otak, baik yang terjadi pada manusia atau pada mamalia yang lebih rendah menyebabkan kehilangan sebagian besar kemampuan mendeteksi asal bunyi. Jaras pendengaran yang berperan dalam lokalisasi bunyi ditampilkan pada gambar dibawah ini.


Gambar Jaras pendengaran yang berperan dalam lokalisasi bunyi. Sumber: Grothe B

Mekanisme saraf bunyi berlangsung mulai pada nukleus olivarius superior di dalam batang otak. Nucleus olivarius dibagi menjadi nucleus olivarius superior medial dan nucleus superior lateral. Nucleus superior lateral untuk mendeteksi arah sumber bunyi dan nukeus superior medial untuk mendeteksi perbedaan waktu antara sinyal akustik yang memasuki kedua telinga.

Bila bunyi masuk pada satu telinga maka telinga pertama akan menghambat neuron-neuron pada nukleus olivarius superior lateral dan penghambatan berlangsung selama kurang lebih satu mili detik. Nukleus terdiri atas sejumlah besar neuron yang mempunyai dua dendrit utama, satu yang menonjol ke kanan dan satu yang menonjol ke kiri. Sinyal pada akustik dari telinga kanan mengenai dendrit kanan, dan sinyal dari telinga kiri mengenai dendrit kiri. Intensitas eksitasi setiap neuron sangat sensitiv terhadap perbedaan waktu spesifik antara dua sinyal akustik yang berasal dari kedua telinga.

Neuron yang di dekat dengan perbatasan nukleus berespon secara maksimal terhadap perbedaan waktu yang singkat, sedangkan neuron di dekat perbatasan yang berlawan berespon terhadap perbedaan waktu yang sangat panjang dan di antara perbedaan waktu yang sangat singkat dan panjang terdapat perbedaan waktu yang sedang, sehingga pola spasial stimulasi neuron berkembang dalam nukleus superior medial.

Bunyi yang datang langsung dari arah depan kepala menstimulasi satu perangkat neuron olivarius secara maksimal dan bunyi yang sudut berbeda menstimulasi perangkat neuron pada sisi yang berlawanan di depan neuron. Orientasi spasial dijalarkan pada seluruh jalur ke korteks auditorius, di mana arah bunyi ditentukan oleh lokus neuron yang dirangsang secara maksimal. Sinyal pada penentuan arah bunyi dijalarkan melalui jaras yang merangsang lokus dalam korteks serebral. Mekanisme untuk mendeteksi arah datangnya bunyi kembali menunjukan bagaimana informasi dalam sinyal sensorik diputuskan ketika sinyal melalui tingkat aktivitas neuron yang berbeda dalam kualitas arah sumber dipisahkan dari kualitas gaya bunyi pada tingkat nukleus olivarius superior.

Anatomi Alat pendengaran


Telinga merupakan alat pendengaran pada manusia. Pada keadaan normal manusia memilki sepasang telinga yang terletak di sisi kanan dan kiri kepala. Telinga terdiri dari 3 bagian besar, yaitu:

  1. Telinga Bagian Luar.
    Telinga bagian luar terdiri dari daun telinga dan Meatus Acusticus Externus. Daun telinga berfungsi sebagai pengumpul getaran-getaran udara yang menghasilkan bunyi, sedangkan Meatus Acusticus Externus berfungsi mengalirkan getaran-getaran tersebut dari dasar daun telinga ke membrana tymphani (selaput gendang telinga)

  2. Telinga Bagian Tengah.
    Telinga bagian tengah terdapat di dalam Os. Temporale. Bagian ini terdiri dari cavum tymphani dan recessus epitymphani. Cavum tymphani merupakan suatu ruangan yang berisi uara yang terbawa masuk melalui ductus auditorius yang bermuara di naso-pharynx. Di dalamnya terdapat 3 buah tulang pendengaran yaitu Malleus, Incus, dan Stapes yang secara berantai melanjutkan getaran-getaran yang diterima oleh membrana tymphani melintasi cavum tymphani menuju ke telinga bagian dalam.

  3. Telinga Bagian Dalam.
    Telinga bagian dalam terdiri dari dua bagian yaitu bony labyrinth dan cochlea. Pada bony labyrinth terdapat tiga ruangan yaitu Os. Petrosa, Os. Temporale, Vestibulum Canalis Semicircularis. Pada bagian-bagian ini terdapat ductus-ductus yang saling berhubung dan bentuknya sesuai dengan bony labyrinth , yaitu membranous labyrinth yang berisi endolimfe. Pada cochlea terdapat spiral organ dari corti, suatu rangkaian susunan epitel yang terdapat pada membrana basilaris.

Fisiologis Pendengaran


Getaran suara ditangkap oleh daun telinga lalu disampaikan ke liang telinga, mengenai membran timpani dan menggetarkan membran timpani tersebut. Getaran membran timpani akan menggerakan tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain. Tulang stapes akan menggerakan foramen ovale dan perilimfe. Getaran tersebut akan diteruskan atau dibelokan.

Membran timpani akan mendorong endolimfe dan membran basalis, ujung sel rambut dalam keadaan istirahat yang jadinya berkelok-kelok menjadi lurus. Perudahan rangsangan fisik pada skala media dan skala timpa menjadi rangsangan listrik, karena ada perbedaan ion Kalium dan ion Natrium. Rangsangan listrik akan diteruskan ke cabang-cabang nervus VII, kemudian diteruskan ke pusat sensorik pendengaran di otak yang berada di lobus temporalis ( The Journal of the Indonesia Public Association.,2001 )

1 Like