Apakah yang membuat suatu Negara berperang?

Carl von Clausewith, seorang filosof perang dari Jerman, dalam bukunya “On War”, mengartikan perang sebagai “suatu tindakan kekerasan yang dimaksudkan untuk memaksa lawan kita guna memenuhi keinginan kita

“Perang adalah seperti duel akan tetapi dalam skala yang luas”

Dikatakan pula oleh Clausewith bahwa perang bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri.
Perang adalah merupakan kelanjutan politik dengan cara lain” “jika para diplomat gagal menyelesaikan pertikaian dengan cara damai maka para jendral akan mengambil alih tugasnya dengan menggunakan perang sebagai alat untuk menyelesaikan pertikaian.”(Stanford Encyclopedia of Philosophy)

Michael Gelven di dalam bukunya “War and Existence” mengatakan bahwa ”perang adalah konflik bersenjata yang nyata, luas dan disengaja antara komunitas-komunitas politik yang dimotivasi oleh ketidaksepahaman yang tajam atas persoalan kepemerintahan”.

“Perang adalah penggunaan kekuatan masa yang disengaja untuk menyelesaikan perselisihan atas persoalan kepemerintahan”.

“Perang adalah kepemerintahan dengan menggunakan pemukul”.

“Perang adalah gejala antropologis, yaitu tentang kelompok masyarakat mana yang dapat mengatakan apa yang boleh berlaku di suatu wilayah tertentu” (Stanford Encyclopedia of Philosophy).

###Sebab-sebab Terjadinya Perang

Ada dua macam sebab terjadinya perang, yaitu sebab langsung atau casus belli dan sebab-sebab umum. Sebab langsung hanyalah merupakan peristiwa yang mendorong suatu pihak merasa sah dan adil untuk memulai perang atas yang lain. Sebab langsung ini tidak akan timbul seandainya tidak ada sebab-sebab umum yang mendahuluinya.

Sebab-sebab perang bisa bermacam-macam, yaitu sebab-sebab psikologis, sebab-sebab kultural dan ideologis, sebab-sebab ekonomi dan sebab-sebab politis.

A. Sebab-sebab Psikologis

Djamaludin Ancok dalam tulisannya= ”Psikologi dan Perdamaian” (2007) mengatakan bahwa peperangan
adalah suatu jenis tingkah laku dari sekian banyak tingkah laku manusia di dunia ini. Karena perang adalah “tingkah laku” maka penyebab perang dapat dilihat dari beberapa pendekatan yang berbeda antara satu dengan lainnya, yaitu:

  • Pendekatan Motivasional,
  • Pendekatan Reinforsemen,
  • Pendekatan Kognitif, dan
  • Pendekatan Struktur Sosial.

Menurut pendekatan Motivasional sumber penyebab terjadinya peperangan terdapat di dalam diri manusia sendiri. Ada beberapa pandangan tentang aspek Motivasional yang mempengaruhi perilaku perang:

1.Teori Psikoanalisis:

Freud (1932) beranggapan bahwa perang terjadi oleh karena adanya dorongan agresif yang destruktif di dalam diri manusia. Dorongan ini bersumber dari (instinct untuk mati) yang sudah ada sejak manusia dilahirkan.

Dorongan ini timbul karena manusia kehilangan rasa dicintai. Walaupun Freud percaya bahwa akal sehat manusia dapat mengontrol munculnya dorongan untuk membunuh atau merusak, akan tetapi dorongan tersebut tidak pernah bisa dihilangkan karena sudah merupakan kebutuhan dasar manusia, yang tidak berbeda dengan kebutuhan makan dan minum.

Perang, kekerasan terhadap orang lain (pembunuhan), dan kekerasan terhadap diri sendiri (bunuh diri) akan terjadi bila manusia di dalam kehidupannya bersama orang lain mengalami frustasi.

Adler (1956) beranggapan bahwa “dorongan superior” lah yang mendorong seseorang untuk berbuat agresif-destruktif. Pendapat yang sama diajukan oleh Rollo May (1943) yang mengatakan bahwa adanya keinginan manusia untuk “mengukuhkan kembali kekuasaan dirinya” (restructuring of power) yang tadinya tenggelam oleh adanya hambatan dari orang lain mendorong seseorang untuk berbuat agresifdestruktif.

Pengukuhan kembali kekuasaan ini bertujuan untuk menegakkan “indetitas diri” dan “mengaktualisasi diri.”

2.Teori Frustasi-Agresi

J. Dollard dkk. (1939) membuat hipotesis bahwa: “Agresi selalu merupakan konsekuensi dari frustasi, dan keberadaan frustasi selama menyebabkan terjadinya tindakan dalam bentuk agresi

Miller (1941) kemudian memperhalusnya dengan menggantikan kata “always” dengan “usually.” Ditinjau dari teori Frustrasi-Agresi, perang bersumber dari adanya rasa frustasi yang berupa frustrasi terhadap penguasa, ataupun frustrasi terhadap suatu bangsa lain yang ingin berkuasa di bidang politik, ekonomi ataupun aspek lainnya.

Menurut pendekatan Untung-Rugi setiap orang cenderung melakukan perbuatan yang menghasilkan keuntungan atau terhindar dari kerugian. Bandura (1973) mengatakan bahwa perbuatan agresi dilakukan orang karena perbuatan tersebut menghasilkan “reward”. Di dalam bukunya “Agression: A Social Learning Analysis,” Bandura menulis: “Sejumlah besar agresi didorong oleh harapan memperoleh keuntungan”. Contohnya adalah perang yang dilakukan dengan tujuan ”kolonialisasi” atau “ekspansi territorial” yang dapat memberikan keuntungan secara ekonomis.

Menurut pendekatan Kognitif, konflik internasional terjadi karena adanya proses persepsi yang keliru di dalam menanggapi suatu situasi yang terjadi. Ralph K. White (1970) mengatakan bahwa ada enam hal
yang merupakan yang seringkali menimbulkan konflik internasional yaitu:

  1. Pandangan bahwa musuh jahat seperti setan.
    Negara-negara tersebut akan melihat negara musuhnya dalam bayangan yang serba negatif. Masing masing negara melihat musuhnya sebagai “agresor” dan negara tersebut sebagai obyek agresi

  2. Pandangan bahwa diri sendiri jantan.
    White menggunakan kasus perang Vietnam untuk menunjukkan adanya pandangan tersebut. Pidato-pidato yang disampaikan oleh para senator di KongresAmerika Serikat dalam kaitannya dengan perang Vietnam pada umumnya berisikan pernyataan bahwa Amerika harus bersikap jantan, tidak penakut di dalam menghadapi masalah Vietnam. Amerika harus berani berperang demi menjaga nama baik

  3. Pandangan bahwa diri sendiri adalah moralis
    Terjadi ketika negara yang berada dalam konflik dengan negara lain melihat dirinya sebagai
    yang benar, dan Tuhan bersama dia. Buat kebanyakan orang Amerika, segala tindakan Amerika di luar negeri dianggap benar, karena memperjuangkan hak azasi manusia dan menciptakan perdamaian dunia. Pikiran yang berkaitan dengan keuntungan bagi Amerika Serikat sendiri dari tindakannya di luar negeri biasanya tidak begitu terlintas di pikiran mereka.

  4. Tidak memperhatikan hal-hal yang bertentangan dengan keyakinan.
    Dapat dilihat di dalam keadaan konflik orang-orang seringkali tidak mau mengindahkan pendapat dan atau berita-berita yang bertentangan dengan apa yang dia yakini. Segala informasi dari negara musuh dianggap tidak benar. Semua pendapat atau berita yang berasal dari sumber lain yang bertentangan akan dianggap tidak benar dan diabaikan. Pokoknya yang paling benar hanyalah dirinya sendiri.

  5. Tidak adanya rasa empati.
    Terjadi ketika dalam keadaaan konflik negara yang terlibat tidak memiliki sama sekali rasa empati terhadap penderitaan yang dirasakan oleh lawan. Hadirnya rasa empati terhadap penderitaan lawan dianggap suatu “ketidak jantanan” dan hal ini akan memperlemah keyakinan bahwa pihak merekalah yang benar, dan lawanlah yang salah

  6. Keyakinan yang berlebih-lebihan akan kekuatan militer.
    Menyebabkan perang antarnegara yang terjadi ketika masing masing negara merasa yakin akan keampuhan kekuatan militer yang dimilikinya. Masing masing negara yakin bahwa negaranya pasti menang di dalam peperangan. Pikiran yang demikian seringkali hanya merupakan ilusi.

Disamping ke-enam hal tersebut di atas, masih ada lagi suatu bentuk kesalahan pandangan yang dapat menimbulkan konflik internasional, yaitu cara berpikir “hitam-putih.” Cara berpikir ini biasanya hanya melihat sesuatu dari dua kemungkinan “kalau bukan kawan saya, pasti lawan saya” atau ”kalau tidak Amerika, pasti Rusia.” Cara berpikir demikian seringkali menimbulkan kesalahan di dalam melihat sesuatu masalah internasional.

Selanjutnya pendekatan Struktural mengatakan bahwa masalah pada struktur kehidupan
yang ada di masyarakat merupakan sumber terjadinya konflik, kekerasan, atau peperangan. Adanya strata di dalam kehidupan bermasyarakat dan kehidupan bernegara dapat menjadi sumber pertikaian, terutama apabila strata tersebut menjadi sumber ketidak-adilan. Stratifikasi sosial, seperti golongan kaya, golongan menengah, dan golongan miskin dapat menjadi sumber bentrokan dan tindakan kekerasan apabila terjadi ketidak-adilan dalam distribusi kekayaan dalam suatu negara.

Ancaman tersebut dapat terjadi oleh karena pengelompokan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat memberi peluang bagi terjadinya “konflik antar kelompok" Pengelompokan akan membuat perasaan in-group vs out-group semakin jelas.

Anggota-anggota kelompok biasanya merasakan kelompok dialah yang paling baik, dan oleh karena itu harus diperhatikan kesejahteraannya. Pengelompokan ini apabila disertai dengan kompetisi dalam bidang tertentu akan dapat menimbulkan konflik yang meregangkan hubungan antar kelompok.

Di dalam kelompok, orang-orang lebih mudah kehilangan kontrol sosial, sehingga mereka lebih mudah melakukan tindakan-tindakan yang a-sosial. Dalam kelompok, dorongan destruktif yang dimiliki dapat dengan mudah dilepaskan, salah satu cara pelepasannya adalah dengan perang.

B. Sebab-sebab kultural dan ideologis

Adanya perbedaan dalam pandangan dan nilai-nilai di antara anggota masyarakat nasional
maupun internasional secara riel maupun potensial merupakan sumber perselisihan dalam
masyarakat. Sebetulnya tidak ada karakteristik kebudayaan tertentu yang erat kaitannya dengan batas-batas nasional, oleh karena itu perasaan adanya perbedaan kebudayaan
sering menjadi penyebab yang lebih besar terjadinya perang dibanding dengan adanya perbedaan kebudayaan itu sendiri.

Perang Salib Katholik-Protestan atau perang Hindu-Muslim adalah merupakan contoh-contoh perang disebabkan oleh adanya perbedaan dalam sistem nilai, meskipun hal itu bukanlah satu-satunya. Perang dalam masa revolusi Perancis adalah merupakan perang yang diakibatkan adanya pertentangan antara kekuatan demokrasi (liberty, egality, fraternity) melawan kekuatan ortodoks yang konservatif dan feodalistis.

Kemudian Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat merupakan perang yang disebabkan oleh adanya perbedaan ideologi kapitalisme melawan komunisme.

C. Sebab-sebab ekonomi

Ada banyak pendapat tentang perang yang disebabkan oleh alasan-alasan ekonomi.

  • Pendapat pertama mengatakan bahwa perang dilakukan dengan maksud meningkatkan taraf hidup rakyatnya. Jepang, Jerman dan Italia melakukan perang karena mereka merasa dirinya yang membutuhkan daerah yang lebih luas guna menambah sumber penghasilan mereka sehingga rakyatnya akan hidup dengan lebih sejahtera.

  • Pendapat kedua mengatakan perang terjadi karena adanya hambatan-hambatan dalam
    perdagangan. Tarif yang tinggi, pajak impor yang mahal, larangan dan pembatasan ekspor,
    dan lain sebagainya akan mengakibatkan terhambatnya perdagangan antara bangsa-bangsa yang ada di dunia yang akibatnya akan menimbulkan perang. Perang akan dapat dihindari manakala hambatan-hambatan perdagangan tersebut dihapuskan sehingga tercipta sistem perdagangan bebas. Perdagangan bebas akan mendapatkan jalinan hubungan ekonomi antar bangsa di dunia dan hal ini akan merupakan ikatan kuat dipertahankannya perdamaian.

  • Pendapat ketiga mengatakan bahwa perang timbul karena adanya dorongan untuk memperoleh keuntungan yang tinggi dari penjualan perlengkapan-perlengkapan perang. Adanya perang akan mengakibatkan permintaan amunisi perang, senjata, tank, pesawat tempur, peluru kendali, dan lain sebagainya meningkat dan hal ini akan sangat menguntungkan para industrialis-industrialis perang (merchant of dead), bankir-bankir internasional dan kapitalisme wall street yang haus perang (war monger).

  • Pendapat keempat disampaikan oleh kaum Marxis yang mengatakan bahwa perang sangat erat kaitannya dengan kolonialisme dan imperialisme. Keduanya merupakan akibat yang langsung dari adanya kapitalisme. Kapitalisme telah menyebabkan terjadinya produksi yang melebihi kebutuhan di dalam negeri.
    Over produksi ini terjadi karena kaum kapitalis telah membayar buruhnya dengan cara yang tidak wajar sehingga mereka bisa menumpuk keuntungan. Untuk mengatasi over produksi mereka terpaksa menyalurkan hasil produksinya ke daerah-daerah yang belum maju dan di daerah-daerah tersebut mereka memanamkan modalnya serta mendapatkan bahan mentah guna mendukung produksinya.
    Sejalan dengan semakin berkembangnya daerah tersebut sebagai daerah pamasaran akan hasil-hasil produksinya dan sumber penyediaan barang mentah yang diperlukan maka kebutuhan akan perlindungan keamanan atas kepentingan mereka di daerah tersebut menjadi semakin besar. Untuk itu kemudian diciptakanlah kekuasan-kekuasaan kolonial yang didukung dengan kekuatan senjata.
    Sebagai akibatnya konflik kepentingan antara kaum kapitalis untuk mengeskploitir daerah tersebut melawan kepentingan rakyat yang bersangkutan untuk melindungi hak-hak mereka sering terjadi dan berakhir pada terjadinya perang.

Kapitalisme akan memperluas daerah kolonisasinya (kolonialisme) ke seluruh penjuru dunia (imperialisme) apabila eksploitasi di daerah tersebut telah habis.

D. Sebab sebab politik

Perang terjadi karena tidak adanya lembaga pemerintahan yang efektif. Dengan kata
lain perang timbul karena adanya anarki, yaitu suatu kondisi di mana inidividu atau kelompok
individu mencoba hidup tanpa pemerintahan yang efektif. Keadaan demikian menyebabkan tiadanya kerjasama atau tiadanya kepastian untuk bertindak di antara unsur-unsur yang ada dalam masyarakat (nasional maupun internasional) dan pada akhirnya menyebabkan terjadinya perang.

Perang mungkin juga terjadi karena adanya usaha dari setiap negara untuk selalu mendapatkan, memelihara, meningkatkan dan mendemonstrasikan power mereka guna menjamin keamanan nasionalnya. Di dalam keadaan tanpa adanya lembaga supranasional ini maka setiap negara harus mengandalkan kekuatan sendiri di dalam usahanya untuk menjamin keamanan nasionalnya yang besarnya diukur berdasar kemampuannya untuk membeayai perang.

Negara-negara yang memiliki persamaan kepentingan atau setidak-tidaknya kepentingan mereka tidak bertentangan cenderung untuk membentuk aliansi apabila mereka merasa power yang dimilikinya tidak cukup untuk menopang keamanan nasionalnya di dalam melawan kekuatan negara lain. Sebaliknya, aliansi semacam ini akan menimbulkan meningkatnya rasa tidak aman atas diri negara lain dan oleh karena itu mereka juga akan berusaha untuk mengimbanginya dengan meningkatkan power -nya, kalau perlu juga dengan jalan membangun aliansi.

Dan karena power itu sifatnya relatif, maka tidak akan pernah ada satu negara pun atau kelompok negara pun yang merasa telah terjamin keamanan nasionalnya apabila power yang mereka miliki secara riil bukan yang paling besar.

Jadi, ketakutan dan kekhawatiran suatu negara atas adanya ancaman dari negara lain terhadap keamanan nasionalnya dan sampai akhirnya terjadi perang adalah merupakan akibat dari usaha sia-sia untuk mencapai keamanan itu sendiri.

Namun, sangat sulit untuk menentukan apakah suatu perang disebabkan oleh alasan
psikologis, kultural ideologis, ekonomi ataupun politik. Yang jelas, di dunia ini tidak ada sebuah
perang pun yang mempunyai sebab tunggal karena perdamaian adalah merupakan keseimbangan
dari banyak faktor yang ada dalam masyarakat.

Perdamaian yang memiliki derajad yang berbeda-beda adalah suatu kondisi di mana individu atau kelompok individu dalam suatu masyarakat termasuk masyarakat dunia terbebas dari penggunaan kekuatan fisik di dalam berhubungan satu dengan yang lain.

Sebab-sebab perang adalah senantiasa berupa elemen-elemen ataupun kekuatan-kekuatan fisik oleh individu atau kelompok individu atau kelompok masyarakat atau negara untuk melawan yang lain.