Apakah Yang Kalian Ketahui Mengenai Sejarah Perang Dingin?

Setelah Perang Dunia Kedua berakhir hingga dekade 90-an, dunia terbagi menjadi dua kubu yang saling berusaha menyebarkan ideologi mereka masing – masing. Kubu yang pertama adalah kubu barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dengan negara – negara barat dan kubu yang kedua adalah kubu timur yang dipimpin oleh Uni Soviet dan negara – negara berhaluan komunis. Kedua negara adidaya ini padahal sempat bersatu untuk melawan Hitler dan Nazi Jerman yang berhasil mereka tekan hingga kembali ke Berlin di berbagai pertempuran di front Eropa. Perang Dingin sendiri merupakan sebuah istilah yang dicetuskan oleh seorang ahli politik asal Amerika Serikat, Bernard Baruch pada tahun 1947 untuk menggambarkan hubungan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang saling bersitegang satu sama lainnya, terlebih lagi setelah Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris saat itu menyatakan politik tirai besi setahun sebelumnya. Dunia bahkan pernah hampir mengalami kiamat kecil ketika di tahun 60-an sebuah krisis nuklir antara Amerika Serikat dan Uni Soviet hampir saja meletuskan gendering Perang Dunia Ketiga lebih cepat.

Perang Dingin membawa banyak sekali dampak untuk negara – negara lain di dunia, termasuk untuk negara kita Indonesia yang sempat terseret dalam pusaran Perang Dingin selama beberapa dekade lamanya. Perang urat syaraf yang membawa banyak perubahan dan pergolakan di banyak tempat di dunia.

Untuk itulah, edisi referensi kali ini akan membahas secara lugas mengenai seluk beluk Perang Dingin. Apa sajakah yang youdics sekalian ketahui mengenai Perang Dingin.

Akhir Perang Dunia Kedua : Yalta, Postdam, dan Awal Mula Perang Dingin

Perang Dunia Kedua baru berakhir pada tahun 1945 setelah negara – negara anggota Blok Poros atau Axis seperti Jerman dan Jepang menyerahkan diri kepada pihak sekutu yang saat itu beranggotakan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Uni Soviet. Secara spesifik, Perang Dunia Kedua dikatakan secara de facto berakhir ketika Amerika Serikat menjatuhkan 2 bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang. Disinilah pihak sekutu mulai mengadakan berbagai perjanjian – perjanjian untuk membagi – bagi wilayah – wilayah di akhir dan pasca Perang Dunia Kedua. Pertama – tama, Franklin Delano Roosevelt, Joseph Stalin, dan Winston Churchill bertemu di kota Yalta yang berada tidak jauh dari Semenanjung Krimea pada 4 – 11 Februari 1945…

Pertemuan itu menghasilkan sebuah kesepakatan di antara ketiga negara besar itu yakni, setelah Jerman menyerah tanpa syarat, maka wilayahnya akan dibagi menjadi empat daerah pendudukan yang akan dikontrol oleh Inggris, Prancis, Amerika Serikat, dan Uni Soviet yang nantinya juga akan membagi Berlin, ibu kota Jerman menjadi dua bagian. Ketika akhirnya Jerman benar – benar menyerah tanpa syarat pada Mei 1945 di Reims, ketiga negara besar ini kembali bertemu satu sama lain di Postdam pada bulan Juli hingga Agustus 1945 untuk membahas bagaimana wilayah – wilayah di Jerman itu akan di kontrol dan lebih lanjut lagi membahas mengenai pembagian wilayah Eropa di antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Berdasarkan hasil pembahasan di konferensi Postdam, maka pembagian kontrol atas wilayah Eropa di antara Amerika Serikat dan Uni Soviet adalah sebagai berikut.

Amerika Serikat mengontrol dan mengawasi wilayah barat Eropa bersama Inggris dan Prancis yang mayoritas negara – negara yang berada di kawasan ini adalah seperti Jerman Barat, Belanda, Belgia, Portugal, Spanyol, dan lain sebagainya sementara itu Uni Soviet mendapat jatah untuk mengontrol dan mengawasi wilayah timur Eropa seperti Jerman Timur, Cekoslovakia, Hungaria, Romania, Yugoslavia, Albania, dan yang lain sebagainya. Setelah pembagian ini, Sir Winston Churchill kemudian menyatakan jika “ tirai besi “ telah terbentang di seluruh daratan Eropa pada pidatonya tanggal 5 Maret 1946. Setelah deklarasi tirai besi ini dikumandangkan, secara perlahan hubungan antara Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Soviet yang menjadi kawan saat perang dunia kedua berlangsung kini mulai memudar dan memburuk.

Selanjutnya yang terjadi adalah serangkaian konflik untuk perebutan – perebutan pengaruh di antara wilayah barat dan timur, liberal melawan komunisme. Inggris misalnya, melakukan intervensi terhadap Perang sipil di Yunani untuk mencegah masuknya pengaruh komunisme yang berakhirnya dengan kalahnya pihak DSE (Tentara Demokratik Yunani), yang kemudian dilanjutkan dengan adanya krisis Selat Turki yang dimana Uni Soviet menginginkan kontrol laut di wilayah selat Turki yang mengakibatkan Amerika Serikat memutuskan untuk membantu Turki untuk melawan klaim wilayah yang di lontarkan oleh Uni Soviet.

Selain itu juga, di masa Perang Dunia Kedua, baik Inggris maupun Uni Soviet sama – sama menduduki wilayah Iran dan ketika perang berakhir, Inggris secara perlahan sesuai perjanjian memutuskan untuk mundur dari Iran, sementara Uni Soviet memilih untuk tidak angkat kaki dari sana sehingga memicu konflik baru yang dimana PBB yang saat itu baru terbentuk harus turun tangan dengan banyak negara seperti Amerika Serikat dan Inggris menyerukan jika Uni Soviet harus segera angkat kaki dari Iran dalam sidang dewan keamanan PBB. Tekanan yang diberikan oleh PBB pada akhirnya membuat Uni Soviet mengalah dan angkat kaki dari Iran.

Hal – Hal inilah yang menjadi cikal bakal dari adanya Perang Dingin.

Pembentukan NATO dan Marshall Plan

Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa Barat dan Amerika Utara membentuk sebuah pakta aliansi pertahanan besar yang dinamai sebagai North Atlantic Treaty Organization (NATO) pada 4 April 1949. Uni Soviet yang mengetahui pembentukan dari pakta aliansi tersebut beranggapan jika saat itu negara – negara barat sedang berada dalam rencana untuk mengepung dan menghancurkan mereka. Hal itu juga ditambah dengan adanya Doktrin Truman yang dikeluarkan oleh Presiden AS saat itu, Harry. S. Truman pada tahun 1947 yang isinya adalah komitmen Amerika Serikat untuk membantu setiap negara yang ada di dunia untuk mencegah pengaruh komunisme yang akan disebarkan oleh Uni Soviet. Doktrin ini kemudian menjadi dasar bagi Amerika Serikat dalam menentukan setiap kebijakan geopolitik yang menyangkut upaya membendung pengaruh komunisme.

Momen pembentukan NATO dan lahirnya Deklarasi Truman kemudian dianggap sebagai titik awal dimulainya Perang Dingin. Sementara itu penduduk di hampir seluruh bagian di Eropa mengalami krisis ekonomi yang sangat besar sekaligus kekurangan makanan karena Perang Dunia Kedua menghancurkan banyak kota dan desa disana. Stalin menganggap situasi ini menjadi sebuah win – win solution untuknya karena menurutnya, jika orang – orang semakin menderita maka kecenderungan mereka untuk memeluk komunisme juga akan semakin besar.

Di sisi yang lain, Amerika Serikat menyadari apa yang sedang terjadi dan segera mengambil tindakan dengan meluncurkan sebuah program yang dinamai sebagai Marshall Plan. Marshall Plan sendiri adalah sebuah program bantuan ekonomi yang dicetuskan oleh George. C. Marshall, Menteri Luar Negeri AS yang tujuannya adalah memberikan bantuan ekonomi terhadap negara – negara di Eropa Barat untuk pemulihan dan pembangunan kembali pasca perang dengan keseluruhan dana yang dikeluarkan oleh AS mencapai 12 milyar dolar saat itu.

Program itu sendiri terbukti berhasil dalam memulihkan perekonomian dan pembangunan pasca perang negara – negara di Eropa Barat yang membuat negara – negara di Eropa timur yang tergabung dalam blok timur di bawah Uni Soviet menjadi sangat iri karena pada dasarnya mereka juga sangat membutuhkan bantuan tersebut dan juga mereka adalah pihak yang terdampak dari Perang Dunia Kedua sama halnya seperti negara – negara penerima bantuan di blok barat. Amerika Serikat sendiri juga sempat menawarkan program ini kepada Cekoslovakia yang merupakan bagian dari blok timur, namun Cekoslovakia menolaknya karena takut dengan konsekuensi yang akan diberikan Soviet jika menerima bantuan tersebut.

Jelas, perbandingan perkembangan ekonomi di Eropa Barat dan Eropa Timur menjadi sangat jomplang yang dimana penerapan program bantuan Marshall Plan di Eropa Barat membuat negara – negara di wilayah tersebut kembali stabil secara ekonomi dan berkembang pesat di bandingkan dengan negara – negara di Eropa Timur yang dimana hal ini membuat Stalin berpikir jika ia harus membuat sebuah program bantuan tandingan untuk menyaingi Amerika Serikat dan Marshall Plan mereka. Stalin kemudian membuat Comecon sebagai program bantuan ekonomi terhadap negara – negara di Eropa Timur dan sekaligus juga mencetuskan Kominform yang bertujuan supaya Uni Soviet memiliki lebih banyak kontrol politik atas wilayah eropa timur.

Contoh paling nyata dari perbedaan ekonomi ini sendiri adalah di Berlin yang saat itu dibagi menjadi dua yakni Berlin Barat dan Berlin Timur. Berlin Barat karena tergabung dengan Jerman Barat yang menerima Marshall Plan menjadi kota yang indah dan berkembang secara ekonomi, sementara Berlin Timur memiliki kondisi sebaliknya, mengalami perlambatan pemulihan ekonomi. Keadaan ini bisa menjadi boomerang untuk Stalin yang takut jika penduduk Berlin Timur akan berbondong – bondong menuju ke Berlin Barat karena kemajuan ekonomi mereka yang pesat dibanding Berlin Timur. Stalin kemudian memutuskan untuk mengambil langkah memblokade jalur darat suplai ke Berlin Barat yang kemudian dibalas dengan oleh Truman dengan mengirimkan suplai lewat udara menuju ke Berlin Barat.

Penerbangan itu sendiri menghabiskan hingga sebanyak 277.804 penerbangan dan 2,3 ton suplai berhasil dikirimkan selama masa itu yang memaksa Stalin untuk mengkahiri blokadenya terhadap Berlin Barat. Sebagai gantinya Uni Soviet kemudian berfokus kepada pengembangan senjata bom nuklir yang dianggap sebagai momen makin renggangnya hubungan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat yang berpotensi untuk menimbulkan perang yang jauh lebih besar dan mematikan dari sebelumnya. Stalin dalam pidatonya di hadapan petinggi Partai Komunis Uni Soviet menyatakan jika Perang antara Uni Soviet dan Aliansi Barat tidak terhindarkan lagi.

China menjadi salah satu ancaman lain dalam Perang Dingin. Selama berpluh tahun lamanya sejak Revolusi Cina yang berhasil menggulingkan Dinasti Manchu berlangsung daratan Cina terus dilanda oleh Perang Saudara antara kaum nasionalis (Kuo Min Tang) dan kaum komunis (Kun Chang Tang) yang dimana kaum komunis yang dipimpin oleh Mao Zedong memenangkan perang dan berhasil mengusir rival politiknya, Chiang Kai Shek dan kaum nasional ke Pulau Formosa yang kelak di pulau itulah negara Taiwan akan berdiri sehingga China saat itu resmi berada di bawah kekuasaan komunis dan berita buruknya adalah China dan Uni Soviet menandatangani perjanjian pertahanan bersama yang tentunya membuat Amerika Serikat menjadi sangat khawatir.

Perang Korea, Naiknya Eisenhower Menjadi Presiden AS, Kematian Stalin, dan Naiknya Khrushchev menjadi Pemimpin Baru Uni Soviet

Perang Korea

Hal lain yang menjadi fokus perhatian Amerika Serikat saat itu adalah semenanjung Korea. Korea ketika Perang Dunia Kedua berakhir terbagi menjadi dua bagian besar yang dipisahkan oleh garis 38 derajat lintang utara. Di bagian utara, Uni Soviet menerapkan pemerintahan komunis yang dipimpin oleh Kim Il Sung, dan sementara di selatan Amerika Serikat menerapkan paham anti komunisme yang dimana dipimpin oleh Rhee-Syng Man. Baik Ree maupun Kim sama – sama memiliki ambisi untuk menyatukan kembali semenanjung Korea dengan pemerintahan dan paham yang dianut masing – masing alis rencana reunifikasi.

Kim Il Sung yang kemudian mendapatkan izin dari Stalin untuk menyerang ke selatan kemudian melakukan invasi pertama pada 25 Juni 1950 yang mengakibatkan Seoul, ibu kota Korea Selatan berhasil direbut oleh Korea Utara serta tumbangnya ibu kota berarti tumbang pula pemerintahan anti komunis di semenanjung Korea. Dewan Keamanan PBB merespons dengan membentuk koalisi yang berisikan 16 negara termasuk AS, Inggris, Prancis, dan Korea Selatan untuk mempertahankan wilayah selatan semenanjug Korea. Tentara Koalisi PBB yang saat itu sudah menguasai Busan. kemudian mendarat di Incheon serta berhasil menekan tentara Korea Utara keluar dari Seoul dan mengembalikan Syngman Rhee ke pucuk kepemimpinan Korea Selatan.

Keadaan di Perang Korea sendiri terus mengalami perubahan – perubahan yang dimana kedua belah pihak mengalami perang yang berimbang hingga akhirnya tentara koalisi PBB berhasil memecah kebuntuan dan berhasil masuk ke wilayah utara semenanjung Korea yang dimana China yang saat itu belum terlibat mulai merasa khawatir dengan perkembangan keadaan yang ada. Sementara itu, Jenderal Douglas MacArthur yang saat itu menjabat sebagai panglima tertinggi militer AS menganggap jika China tidak akan mungkin untuk melakukan intervensi. Tetapi kenyataannya adalah China telah mengirim pasukan dan menyeberang masuk ke wilayah Korea Utara untuk menekan tentara Koalisi PBB yang terus bergerak maju ke arah utara.

MacArthur kemudian mengusulkan kepada Truman jika mengebom kota – kota di China akan membuat China mundur seketika dari Perang Korea. Hal yang jika di lakukan akan menambah garam di atas luka dari situasi yang sudah ada. Tentu saja Truman menolaknya mentah – mentah dan bahkan memecat Jenderal bintang lima yang telah berjasa membawa AS memenangkan Perang Dunia Kedua di teater Asia Pasifik itu. Kehadiran Tentara China di wilayah utara Korea membuat tentara koalisi PBB terpukul mundur. Akan tetapi, Perang tidak berakhir begitu saja karena kedua pihak masih sama kuat dan saling menekan di dekat perbatasan. Pada tahun 1953, perjanjian gencatan senjata di tanda tangani oleh Korsel dan Korut yang masih berlaku hingga saat ini yang secara resmi mengakhiri konflik bersenjata di semenanjung Korea.

Terpilihnya Dwight. D. Eisenhower Sebagai Presiden AS dan Nikita Khrushchev Sebagai Pemimpin Baru Uni Soviet

Pada tahun 1952, Amerika Serikat mengadakan pemilu dan Dwight. D. Eisenhower, salah seorang mantan Jenderal AS yang berjasa saat Perang Dunia Kedua terpilih menjadi Presiden AS menggantikan Truman. Sementara itu, setahun berikutnya, Joseph Stalin meninggal dunia pada 1953 karena mengalami peradangan otak yang cukup parah. Nyawa Stalin sendiri tidak tertolong karena banyak dokter terbaik di Uni Soviet telah dimasukan ke Gulag (kamp kerja paksa) atau dibunuh serta sisanya yang tidak dikirim ke gulag ataupun dibunuh merasa takut untuk merawatnya. Hal ini sendiri berkaitan dengan tuduhan yang dialamatkan kubu Stalin kepada para dokter yang diklaim akan merencanakan pembunuhan kepada Stalin pada 1951 – 1953.

Pengganti Stalin adalah Nikita Khrushchev. Begitu ia naik ke tampuk kekuasaan tertinggi di Uni Soviet, Khrushchev langsung mencanangkan program yang disebut “ De-Stalinisasi “ yang dimulai sejak tahun 1956 untuk membersihkan pengaruh – pengaruh Stalin mulai dari merobohkan patung – patung Stalin hingga mengubah nama kota Stalingrad yang saat itu di dedikasikan untuk Stalin semasa menjabat menjadi Volgograd. Khrushchev sendiri pun juga menawarkan sedikit kebebasan untuk warga Uni Soviet.

Selain itu, Khrushchev juga berhasil memadamkan api – api pemberontakan yang terjadi di negara – negara Eropa Timur seperti Pemberontakan Jerman Timur pada 1953, Revolusi Hungaria pada 1956, dan Protes besar – besaran di Kota Poznan, Polandia pada 1956 yang semuanya dipadamkan dengan cara keras dan brutal kendati Khrushchev menyetujui beberapa tuntutan reformasi yang diserukan di Poznan.

Khrushchev juga kemudian melakukan berbagai macam pemboikotan dan pelarangan terhadap apapun yang berbau barat dan kapitalis, seperti misalnya melarang lukisan modern, musik Jazz, dan puisi. Tetapi pelarangan – pelarangan itu pun juga ada yang berasaskan selera pribadi dari Khrushchev sendiri. Budaya populer dari barat pun sebenarnya juga di gemari oleh penduduk Uni Soviet, tetapi karena pelarangan dan pembatasan tadi, siapapun yang melanggar aturan – aturan di atas seperti misalnya menempel poster – poster yang berhubungan dengan budaya populer barat bisa saja di tangkap oleh otoritas keamanan Uni Soviet. Hal ini menunjukan jika Soviet saat itu benar – benar sangat tertutup dan ketat jika berbicara soal urusan kebebasan ekspresi budaya.

Perang dingin pun berlanjut dengan aksi mematai – matai satu sama lainnya. Amerika Serikat melalui CIA, sementara Uni Soviet melalui KGB. KGB sendiri memiliki banyak sekali mata – mata yang mereka kirimkan ke AS dan melebur layaknya warga AS pada umumnya. Satu dari mereka pernah berhasil tertangkap oleh otoritas Amerika, yakni seorang agen KGB bernama Rudolf Abel yang memiliki nama samaran, William August Fisher dan pekerjaan samaran sebagai pelukis di Amerika. Begitu juga dengan Amerika Serikat yang juga gencar melakukan usaha – usaha spionase terhadap Uni Soviet guna mendapatkan informasi penting mengenai kelemahan apa saja yang bisa digunakan untuk untuk menekan Uni Soviet.

Amerika Serikat sendiri pernah kecolongan dengan terbongkarnya beberapa rahasia intelijen mereka ke Soviet yang disebarkan oleh salah satu mantan anggota Proyek Manhattan bernama Klaus Emil Julius Fuchs yang membocorkan banyak sekali informasi mengenai Manhattan Project yang digarap oleh Amerika, Kanada, dan Inggris dengan imbalan sebesar 5 juta dollar Amerika. Selain itu teknologi spionase pun juga semakin berkembang dengan kehadiran teknologi seperti pesawat intai yang bisa mematai – matai wilayah lawan tanpa terdeteksi.

Amerika Serikat sendiri pun pernah kecolongan ketika beberapa pilot mereka yang ditugasi untuk mematai – matai wilayah Soviet dengan pesawat terbang di tembak jatuh dan misi mereka terbongkar. Para pilot itu diadili di Moskow dan dijebloskan ke penjara dengan keamanan ketat. Pada akhirnya, AS dan Soviet saling melakukan perjanjian tukar menukar yang dimana AS mendapatkan kembali pilot – pilotnya sementara Soviet mendapatkan kembali Rudolf Abel dalam sebuah pertukaran dramatis di sebuah jembatan di perbatasan Berlin Barat dan Berlin Timur.

Pada tahun 1950-an, paham McCarthyisme yang dicetuskan oleh seorang senator Amerika bernama Joseph McCarthy berkembang dengan pesat di Amerika Serikat. Secara definisi, McCarthyisme adalah sebuah praktik membuat tuduhan subversi atau pengkhianatan tanpa mempertimbangkan bukti terutama yang berhubungan dengan komunisme dan sosialisme. Istilah ini lazim digunakan pada tahun 1950 – 1956 ketika Amerika Serikat berada pada “ Ancaman Merah Kedua “ setelah Perang Korea berakhir.

Paham McCarthyisme ini sendiri berorientasi kepada pemberian tekanan politik terhadap kaum komunis, serta kampanye rasa takut akan hadirnya komunisme di lembaga – lembaga Amerika Serikat dan aksi spionase yang dilakukan oleh agen – agen Uni Soviet. Pada dasarnya, paham McCarthyisme sendiri merupakan gabungan dari Kebebasan berpendapat dan berbicara yang dibenturkan dengan ketakutan terhadap komunisme. Akibatnya, ribuan orang Amerika Serikat dituduh sebagai simpatisan komunis dan menjadi subjek penyelidikan agresif dan interogasi di hadapan panel, komite, dan lembaga pemerintah atau swasta. Targetnya sendiri adalah karyawan pemerintahan, pegiat industri hiburan, pengajar dan aktivis dari serikat pekerja.
Perlombaan Luar Angkasa, Perang Teknologi, dan Pakta Warsawa

Perang Dingin pun berlanjut ke fase perang perlombaan program angkasa antara Uni Soviet dan Amerika Serikat pada dekade 60-an. Uni Soviet secara mengejutkan berhasil mengirim satelit pertama yang mengorbit di luar angkasa bernama Sputnik pada tahun 1957 dan pada tahun 1961, berhasi mengirim manusia pertama ke luar angkasa yang dimana manusia itu adalah Kosmonot Yuri Gagarin. Selain itu Soviet pun juga sudah membuat progress yang signifikan dalam produksi misil, rudal, dan nuklir mereka dalam upaya mereka menandingi AS dan sekutunya.

Bahkan untuk menunjukan progress tersebut, Khrushcev membuat sebuah pameran teknologi Amerika Serikat di Moskow pada 1959 yang juga di hadiri oleh Richard Nixon. Pameran sebenarnya dibuat hanya untuk memperolok – olok teknologi AS dan menunjukan jika Uni Soviet sudah berada beberapa langkah di depan dengan segala pencapaian luar angkasanya tersebut.

Untuk urusan perang angkasa, Amerika tidak tinggal diam begitu saja dengan membalasnya dengan keberhasilan mereka mengirim Alan. B. Shepard sebagai orang Amerika pertama di luar angkasa pada 1961 dan juga berhasil mengirim John Glenn sebagai orang Amerika ketiga yang pergi ke luar angkasa dan orang Amerika pertama yang mengorbit bumi dengan mengelilinginya sebanyak tiga kali pada 1962. Amerika sendiri pun juga semakin digdaya dalam program luar angkasannya dengan berhasil mengirim 3 orang astronot yakni Neil Armstrong, Edwin Aldrin, dan Michael Collins untuk mendarat di bulan pada 1969 dalam misi Apollo 11.

Ttensi di antara kedua negara pun juga semakin memanas ketika uji coba – uji coba senjata nuklir seperti salah satunya uji bom Hidrogen yang dilakukan oleh AS pada 1954 di Bikini Atoll dan uji coba Tsar Bomba di Pulau Novaya Zemla pada 1961 oleh Uni Soviet.

Ketika Jerman Barat bergabung dengan NATO pada tahun 1955, Khrushchev merespons dengan membentuk aliansi tandingan bernama Pakta Warsawa yang beranggotakan negara – negara Eropa Timur yang berhaluan komunisme. Sesuai namanya, pembentukan pakta ini sendiri ditanda tangani di Warsawa, Polandia.

Era Baru Perang Dingin : Kennedy, Khrushchev, Tembok Berlin, dan Krisis Nuklir Kuba

Tembok Berlin

John. F. Kennedy berhasil memenangkan pemilu AS tahun 1960 dan menjadi Presiden AS ke-35 menggantikan Dwight. D. Eisenhower. Sementara itu Uni Soviet di sisi lain terus menggenjot produksi teknologi militernya terutama misil dan rudal. Kehidupan orang – orang di bawah pengaruh komunisme pun juga tidak mengalami perubahan yang signifikan dengan tingginya angka kemikinan dan kelaparan. Berlin kembali menjadi sorotan dalam hal ini karena perbedaannya yang sangat kontras di wilayah barat dan timur. Berlin Barat adalah kota yang maju dan sangat berkembang pesat, sementara Berlin Timur adalah kota yang cukup tertinggal di banding tetangganya tersebut dengan kemiskinan yang merajalela di setiap sudut kota.

Pada masa itu juga, orang – orang dari Berlin Barat maupun Berlin Timur bisa berpergian secara bebas tanpa ada halangan apapun. Terutamanya untuk penduduk Berlin Timur yang menganggumi kemakmuran di Berlin Barat yang perlahan membuat mereka begitu tertarik untuk meninggalkan sisi timur kota menuju ke barat kota dengan harapan kehidupan yang lebih baik di bawah kontrol negara – negara barat. Menurut laporan, jutaan orang Berlin Timur menyeberang ke Berlin Barat dan menyebabkan pabrik – pabrik di Jerman Timur kehilangan banyak pekerjanya yang otomatis membuat kegiatan produksi menjadi menurun yang akhirnya berujung kepada makin merosotnya ekonomi di bagian timur Jerman.

Khrushchev sangat kesal dengan keadaan itu dan ia pun tidak mau keadaan seperti t uterus berlanjut hingga berlarut – larut. Khruschev lalu mulai mengancam Kennedy supaya Amerika angkat kaki dari Berlin Barat, tetapi ancaman itu ditolak mentah – mentah oleh Kennedy yang mengatakan jika Berlin Barat adalah wilayah territorial yang berada di bawah kontrol Amerika dan begitu juga sebaliknya dengan Berlin Timur yang pembagiannya memang sudah sesuai dengan perjanjian Postdam yang pendahulu mereka sudah sepakati.

Tetapi blunder Kennedy terlihat disini dengan mengatakan jika “ Berlin Timur adalah milik Uni Soviet “ yang bisa diartikan jika Uni Soviet dapat melakukan apapun yang mereka inginkan terhadap Berlin Timur mengingat itu adalah “ milik mereka “ seperti yang diucapkan Kennedy. Pernyataan blunder Kennedy tersebut kemudian disambut dengan ide Khrushcev yang berniat membangun semacam pemisah antara Berlin Barat dan Berlin Timur dengan membangun tembok di perbatasan keduanya. Pada 13 Agustus 1961, pembangunan tembok Berlin pun dimulai dan selesai tidak lama kemudian. Pembangunan ini sendiri juga bertujuan untuk mencegah lebih banyak orang dari Berlin Timur yang yang ingin menyeberang ke Berlin Barat.

Dampak dari pembangunan tembok Berlin ini sendiri memberikan dampak yang sangat besar seperti terpisahnya orang – orang dari keluarga dan kerabat – kerabat mereka. Selain itu setiap harinya banyak orang mempertaruhkan hidup mereka untuk melewati tembok pemisah tersebut hanya untuk menyeberang ke sisi barat yang lebih baik ketimbang di timur yang kebanyakan berakhir dengan kegagalan. Banyak orang – orang yang meninggal ketika berusaha untuk melewati tembok secara paksa karena ditembaki oleh para penjaga tembok. Perbatasan resmi tembok Berlin di namai sebagai checkpoint Charlie.

Selain itu, tembok Berlin juga sejatinya menunjukan bahwa komunisme itu sendiri adalah sebuah kegagalan seperti yang Kennedy pernah ungkapkan sebelumnya. “ Demokrasi itu sendiri tidak akan pernah sempurna, tetapi setidaknya kita tidak membangun tembok untuk membuat orang – orang kita diam di tempat “. Sejatinya sejak tembok Berlin selesai di bangun, para diplomat AS masih boleh untuk menyeberang ke sisi timur sesuai kesepakatan yang dicapai oleh AS dan Uni Soviet sebelumnya tetapi Uni Soviet sendiri mulai melarang para diplomat AS masuk ke Jerman Timur setelah beberapa lama.

Hal ini membuat Amerika Serikat marah dan mengirimkan banyak tank untuk disiagakan di checkpoint Charlie sebagai ajang ujung kekuatan pada bulan Oktober 1961. Uni Soviet membalas dengan hal serupa dengan mengirimkan tank – tank mereka ke perbatasan sehingga posisi moncong – moncong meriam tank dari kedua pihak saling berhadap – hadapan satu sama lain seolah siap saling tembak kapan saja. Posisi siap tempur seperti itu dipertahankan selama 16 jam lamanya oleh AS dan Soviet sementara negara – negara lainnya sudah siap – siap jika seandainya perang benar – benar akan meletus di antara AS dan Soviet.

Hal ini kemudian diselesaikan dengan Kennedy yang berinisiatif menelepon Khruschev untuk memintanya secara sukarela memundurkan tank – tanknya beberapa langkah dari perbatasan dan tank – tank Amerika pun akan melakukan hal yang serupa. Khrushchev menyetujuinya dan memundurkan tank – tanknya. Tank – tank Amerika pun juga melakukan hal serupa sehingga kejadian yang berpotensi untuk menimbulkan perang terbuka bisa selesai dan kehancuran massal umat manusia yang ditakutkan tidak terjadi. Tetapi semua ini baru saja dimulai.

Krisis Nuklir Kuba

Kuba juga memainkan pusat perhatian di dalam pusaran Perang Dingin. Pada tahun 1959 dua orang tokoh dari Kuba yakni Fidel Castro dan Che Guevara berhasil memimpin revolusi Kuba dan menggulingkann Fulgencio Batista dari jabatan kepemimpinan di Kuba. Amerika menyadari jika berhasilnya revolusi yang dilakukan oleh Castro dan Guevara berarti Kuba yang jaraknya tidak begitu jauh dari daratan utama Amerika Serikat telah menjadi basis baru komunisme mengingat baik Castro maupun Che sama – sama menganut paham Sosialisme, Marxisme, dan Leninisme. Ini tentunya menjadi ancaman tersendiri bagi Amerika yang kemudian berupaya untuk melakukan sesuatu. Mereka mulai melatih orang – orang buangan dari Kuba dengan pelatihan militer dan berharap jika mereka dapat melakukan sebuah upaya penggulingan terhadap Castro dan rezimnya seperti yang Amerika lakukan dengan Revolusi Guatemala yang berhasil mereka hentikan melalui operasi PBSuccess pada tahun 1954.

Ketiha hari yang ditentukan untuk operasi penggulingan Castro tiba, Kennedy berusaha untuk sangat menutupi keterlibatan Amerika Serikat dalam operasi tersebut dengan cara mengurangi bantuan udara pesawat – pesawat Amerika di atas Teluk Babi dan hasilnya, Invasi teluk babi gagal total. Kendati berhasil memukul balik upaya kudeta tersebut, Castro merasa jika posisinya masih belum aman.

Sementara Uni Soviet berhasil mengembangkan beberapa misil nuklir dengan daya jelajah menengah yang bisa mencapai Amerika Serikat dan kebetulan Kuba adalah tempat yang sangat tepat untuk meletakan misil – misil nuklir tersebut. Castro sendiri yang mengusulkan kepada Khrushchev jika Uni Soviet dapat meletakan misil – misil mereka di Kuba karena mereka sama – sama menganut komunisme dan juga anti-Amerika. Pada 14 Oktober 1962, sebuah pesawat pengintai AS mendapati dan memotret sesuatu yang janggal di Kuba yang ternyata sesuatu yang janggal itu setelah diteliti adalah tempat – tempat instalasi misil nuklir milik Uni Soviet dan Kennedy pun langsung diberitahu mengenai hal tersebut oleh para penjabatnya.

Amerika sangat menyadari apa yang sedang terjadi, mengingat misil – misil itu berada di jarak yang sangat pas untuk diluncurkan ke hampir semua wilayah AS dan Kennedy tahu jika ia harus bertindak ekstra cepat. Amerika Serikat berada di ambang kepanikan karena sewaktu – waktu, Uni Soviet bisa saja meluncurkan misil – misil itu ke kota – kota di AS. Kennedy kemudian memutuskan untuk melakukan rencana blokade terhadap perairan Kuba. Angkatan Laut AS mengumumkan jika mereka akan melakukan operasi “ stop and search “ terhadap kapal – kapal Uni Soviet yang mengarah ke Kuba dan akan menenggelamkan siapapun yang tidak patuh terhadap peringatan yang diberikan.

Sebagai respons, Uni Soviet meningkatkan status siaga militer mereka ke tingkat maksimum alias siap tempur kapan saja dan Amerika Serikat juga melakukan hal yang sama dengan di saat yang sama, mulai membuat rencana untuk menyerang Kuba. Tensi di antara kedua negara menjadi sangat panas dan setiap pihak bersiap – siap dengan meletusnya Perang Dunia Ketiga jika salah satu negara baik AS maupun Soviet melancarkan serangan duluan.

Kennedy kemudian masih berusaha melobi Khrushchev melalui telepon untuk memindahkan misil – misil itu dari Kuba yang dijawab dengan respons penolakan dari Khrushchev. Untuk pertama kalinya dalam sejarah militer Amerika Serikat, tingkat kesiagaan angkatan bersenjata AS naik ke level DEFCON 2 yang artinya adalah perang nuklir mungkin akan terjadi dan Angkatan bersenjata AS diminta untuk bersiap tempur dalam waktu kurang dari 6 jam setelah status DEFCON terkonfirmasi. Jika level DEFCON mencapai level 1 maka artinya perang nuklir sudah meletus.

Uni Soviet berhasil menembak jatuh sebuah pesawat pengintai U2 yang terbang di atas wilayah Kuba yang mengakibatkan sebuah kapal selam yang berada di perairan Karibia dekat kejadian penembakan pesawat mata – mata itu sempat mengira jika perang sudah dimulai dan dua perwira senior kapal selam tersebut memberikan perintah untuk menembakan torpedo nuklir mereka, tetapi untung saja perwira senior ketiga di kapal selam tersebut, Vasili Arkhipov menolak keras keputusan tersebut karena bisa jadi perang sebenarnya belum dimulai, dan memang itulah yang terjadi. Jika saja kapal selam itu menembakan torpedo nuklir mereka, maka perang dunia ketiga benar – benar akan terjadi.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga sudah menyelesaikan persiapan akhir untuk menginvansi Kuba, tetapi tiba – tiba pada malam hari sebelum invasi dimulai, Khruschev dan Kennedy secara mengejutkan menyepakati beberapa hal yang membuat krisis yang sudah mendidih itu mendingin secara perlahan – lahan. Melalui sambungan telepon, Khrushchev meminta Kennedy untuk memindahkan misil – misil milik Amerika yang berada di Turki dan sebagai gantinya, Khrushchev akan memindahkan misil – misilnya keluar dari Kuba. Kennedy sendiri menyetujuinya. Amerika lebih dulu memindahkan misil – misilnya dari Turki sementara Uni Soviet menyusul dengan memindahkan misil – misil mereka dari Kuba. Dunia sekali lagi bisa bernafas lega karena hal ini.

Kemudian, hubungan antara Uni Soviet dan Amerika Serika sendiri sempat sedikit membaik setelah insiden panas di Kuba tersebut dan kedua negara pun menyetujui perjanjian yang disebut sebagai Partial Nuclear Test Ban Treaty yang ditandatangani tahun 1963. Khruschvev sendiri kemudian digantikan oleh Leonid Brezhnev. Di sisi lain, Kennedy sendiri juga tidak menyelesaikan masa jabatannya sebagai Presiden ketika ia dibunuh oleh Lee Harvey Oswald dengan cara ditembak di bagian kepala pada November 1963 ketika ia sedang melakukan kunjungan ke Dallas, Texas dan digantikan oleh wakilnya Lyndon. B. Johnson.

Baik Amerika Serikat dan Uni Soviet menyadari betul prospek apa yang akan ditimbulkan dari perang nuklir, tetapi itu tidak serta menghentikan perlombaan senjata yang dilakukan oleh kedua negara adidaya tersebut di era 60 – 70-an. Kemudian Intelijen AS mendapatkan informasi jika sebenarnya jika hulu ledak nuklir Uni Soviet tidaklah sekuat seperti yang mereka bayangkan sebelumnya dan pada faktanya Amerika lebih unggul.

Johnson, Brezhnev, dan Perang Vietnam

Doktrin MAD diperkenalkan di masa ini. MAD merupakan singkatan dari Mutually Assured Destruction. Doktrin ini sendiri secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut : Jika kedua pihak tahu jika mereka akan hancur oleh sebuah perang nuklir, maka tidak ada dari mereka yang akan berani mengambil resiko untuk memulainya. Hal ini untuk menghindari insiden yang terjadi di Kuba tidak terulang lagi. Tetapi tanpa perang sekalipun, dunia sudah merasakan efek dari senjata nuklir.

Pada tahun 1966 misalnya, di atas langit sebuah kota kecil bernama Palomares di Spanyol, sebuah pesawat bomber Amerika Serikat bertabrakan dengan sebuah pesawat tanker di udara menyebabkan empat bom hydrogen jatuh dan mendarat di dekat kota yang ada di bawahnya, tetapi tidak meledak, tetapi radiasi yang ditimbulkan juga tidak bisa dianggap sepele karena mencemari tanah, air, dan udara yang ada di sekitar kota tersebut. Amerika sendiri membutuhkan dua setengah bulan untuk mencari salah satu bom yang jatuh tersebut yang hilang di lautan dan kasus ini sendiri juga menandai keempat belas kalinya Amerika kehilangan sebuah bom nuklir sejak tahun 1950. Tidak ada yang tahu berapa jumlah bom yang hilang dari tangan Uni Soviet.

Perang Vietnam dan Perang Proxy

Setelah pembunuhan Kennedy, Lyndon.B.Johnson yang sebelumnya merupakan wakil kennedy menjadi Presiden ke-36 AS dan jauh di wilayah timur sudah ada konflik yang terjadi tepatnya di wilayah Asia Tenggara. Pada tahun 1950-an, Vitenam berhasil mengusir penjajah mereka yakni Prancis dari tanah Indocina dan Vietnam sendiri kemudian terbagi menjadi dua bagian. Vietnam Utara dengan pemerintahan komunis dan Vietnam Selatan dengan Pemerintahan Anti-Komunis.

Vietnam Utara di pimpin oleh Nguyen Tat Tanth atau yang lebih dikenal sebagai Ho Chi Minh dan Vietnam Selatan dipimpin oleh Ngo Dinh Diem. Keduanya sama – sama seorang diktaktor yang bermimpi untuk bisa menyatukan Vietnam di bawah pemerintahan mereka sendiri. Sebelumnya pola seperti ini ditemukan saat Perang korea dalam kasus Syngman Rhee dan Kim Il Sung yang juga menginginkan reunifikasi semenanjung Korea. Vietnam Utara kemudian membentuk Front Pembebasan Nasional yang biasa dikenal juga sebagai Vietcong untuk melaksanakan sebuah kampanye perang gerilya ke Vietnam Selatan dengan bantuan Uni Soviet.

Amerika Serikat tidak tinggal diam dan kemudian mengirim beberapa penasihat militer untuk melatih para prajurit Vietnam Selatan untuk menghadapi ancaman tersebut, tetapi Presiden Diem dengan kebijakan brutal-nya terus menekan orang – orang Vietnam Selatan supaya mendukung Vietcong. Selama beberapa waktu berikutnya, situasi mulai meningkat menuju ke titik puncak. Amerika mulai merasa takut dengan efek domino yang mungkin akan terjadi, dengan berasumsi jika seandainya Vietnam Selatan jatuh ke tangan komunis, maka apakah Kamboja selanjutnya ? kemudian ke Laos, ke Thailand, ke Burma, dan kemudian ke India ? Jadi pertimbangan inilah yang membuat Presiden Johnson harus membuat pilihan antara kehilangan Vietnam Selatan atau mulai mengirim pasukan.

Johnson memilih opsi pertama. Pada tahun 1965, Amerika resmi mengirim pasukan mereka ke Vietnam dan sejak saat itulah, Amerika merasakan sebuah perang yang sangat lain ketimbang perang yang selama ini mereka alami dan perang ini tentunya akan menjadi bagian yang tak terlupakan dalam sejarah AS. Amerika Serikat sangat kesulitan untuk menang di Vietnam karena ribuan tentara AS yang saat itu rata – rata masih berusia muda dikirim untuk melawan pasukan buas yang menggunakan daerah hutan belantara yang lebat sebagai perisai yang membuat para pasukan Amerika sering kali kebingungan menentukan dimana pasukan musuh berada dan yang paling buruk adalah seringkali karena kebingungan ini, penduduk sipil yang tidak tahu apa – apa juga ikut terseret dalam baku tembak yang brutal.

Kota Saigon yang berada di Vietnam Selatan terus menerus diserang oleh pihak Vietcong dan Amerika meluncurkan operasi - operasi pengemboman di wilayah utara yang dinamai sebagai Operation Rolling Thunder. Sementara itu Vietcong menggunakan jejak Ho Chi Minh untuk bergerak melewati Laos dan Kamboja untuk memberikan bantuan suplai terhadap operasi untuk merebut kota Saigon yang sedang berlangsung.

Perang Vietnam sendiri merupakan perang yang sangat panjang dan brutal serta Perang Vietnam sendiri kemungkinan juga menjadi konflik terbesar selama Perang Dingin jika dibandingkan dengan konflik – konfllik lainnya yang memberikan sinyal sebuah titik balik.

Di bawah ancaman perang nuklir yang masih terjadi, Amerika Serikat dan Uni Soviet saling membuat hubungan mereka semakin konstruktif dan hasilnya perang ideologi mereka semakin menjauhi potensi yang bisa menimbulkan konflik langsung di antara kedua negara dan lebih mengarah ke usaha untuk mempengaruhi pecahnya perang – perang proxy di seluruh dunia.

Perang Proxy sendiri adalah sebuah konfrontasi antar dua kekuatan besar dengan menggunakan “ pemain pengganti “ untuk menghindari konfrontasi langsung dengan alasan untuk mengurangi resiko konflik langsung yang beresiko kepada kehancuran fatal.

Selain di Vietnam misalnya, pada tahun 1967 di daerah timur tengah, Uni Soviet memberikan bantuan kepada negara – negara Arab yang saat itu melawan Israel dalam Perang 6 hari yang berakhir dengan kemenangan Israel yang saat itu mendapat bantuan dari Amerika Serikat, dan Amerika Serikat kembali menunjukan dukungannya kepada Israel dalam Perang Yom Kippur pada tahun 1973.

Kemudian dalam Perang saudara Angola, Amerika Selatan mendukung pihak selatan yang bertempur melawan Uni Soviet yang dibantu oleh Kuba dan konflik di antara Somalia dan Ethiopia pun tidak lepas dari adanya perang dingin yang dimana Somalia mendapatkan bantuan dari Uni Soviet sementara Ethiopia mendapatkan bantuan dari Amerika serikat yang dimana dalam konflik ini kedua pihak saling bertukar tempat beberapa kali dalam memberikan dukungan mereka ke negara – negara yang sedang berkonflik mengikuti rezim yang berkuasa di masing – masing negara.

Atau contoh lainnya adalah ketika Uni Soviet membantu Indonesia dengan memberikan bantuan persenjataan dalam upaya Indonesia merebut Irian Barat dari tangan Belanda yang merupakan salah satu sekutu utama Amerika di NATO pada tahun 1961.

Amerika Serikat sendiri pun terus bergerak menekan pengaruh komunisme di Amerika Tengah yang salah satunya dilakukan dengan membiayai gerakan kontra junta sosialis di Nikaragua dan masih banyak lagi perang – perang proxy yang terjadi di seluruh dunia selama perang dingin berlangsung. Intervensi dari Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam perang – perang proxy ini sendiri telah membunyikan alarm penderitaan kemanusiaan yang terjadi di negara – negara dunia ketiga.

Dan teurtama penderitaan kemanusiaan yang dialami oleh semua pihak di Vietnam disiakan secara langsung melalui TV – TV di Amerika. Amerika sendiri saat itu mengalami banyak perubahan yang signifikan terutama dalam hal kebudayaan dengan munculnya tren hippie di kalangan masyarakatnya. Perubahan kebudayaan ini pada akhirnya menimbulkan protes – protes yang meminta Pemerintah AS segera menghentikan Perang Vietnam. Mayoritas orang Amerika tidak menyetujui bagaimana cara Johnson menghandle Perang Vietnam.

Pada tahun 1968, Richard Nixon menggantikan Johnson sebagai presiden AS berikutnya di tengah keadaan Perang Vietnam yang semakin tidak terkendali untuk kubu Amerika Serikat dan opini masyarakat yang semakin geram dengan adanya perang tersebut, Nixon kemudian membuat kebijakan untuk memulangkan tentara Amerika Serikat yang ada di Vietnam dan mengakhiri keterlibatan Amerika di Vietnam pada tahun 1973. Pada tahun 1975 atau dua tahun berikutnya, Vietnam Selatan akhirnya jatuh ke tangan komunis.

Kelanjutan Perang Dingin

Perang Dingin mulai mengambil banyak kerugian untuk Amerika Serikat dan Uni Soviet dari berbagai sisi, terutama finansial. Di Uni Soviet misalnya, sebagian besar budget atau anggaran yang ada masih dialokasikan ke sektor militer dan pertahanan sementara ekonomi Uni Soviet pun tidak mengalami perubahan yang signifikan dengan tingginya tingkat kemiskinan dan orang – orang Uni Soviet juga tidak mendapatkan akses yang sama terhadap barang – barang dan juga gaya hidup seperti orang – orang di barat, serta Uni Soviet sendiri pun juga tidak memenangkan perang angkasa lagi karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Amerika Serikat berhasil menandingi Soviet dengan berhasil mendaratkan tidak satu tapi tiga manusia pertama di bulan melalui misi Apollo 11 pada tahun 1969.

Baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet sadar jika mereka harus mulai mengurangi pengeluaran mereka untuk menyelamatkan ekonomi masing – masing yang membuat kedua belah pihak menyambut gencatan senjata dengan tangan terbuka atau yang biasa disebut sebagai détente. Sebagai tindak lanjutnya, Nixon mengunjungi Moskow pada tahun 1972 yang menjadikannya sebagai Presiden AS pertama yang melakukannya dan kemudian Brezhnev melakukan hal yang sama dengan mengunjungi Amerika Serikat setahun berikutnya yang dimana ia mengunjungi ibu kota Amerika di Washington D.C.

Pada masa ini pula, beberapa perjanjian ditanda tangani oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet termasuk perjanjian SALT (Strategic Arms Limitation Talks) pada tahun 1972 yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan senjata nuklir. Hubungan Amerika Serikat dengan China juga perlahan membaik melalui diplomasi ping pong yang mengacu pada kejadian dimana ketika tim tennis meja Amerika Serikat mengadakan sebuah tur ke China disambut dengan baik oleh masyarakat China, kendati China sendiri saat itu masih menekankan propaganda anti kapitalis. Nixon sendiri bahkan sempat mengunjungi China pada tahun 1972 sebagai bentuk upaya memperbaiki hubungan Amerika dengan para raksasa komunis.

Semuanya berjalan baik untuk pemerintahan Nixon hingga skandal politik Watergate yang menyeret namanya sebagai salah satu pelaku utamanya membuat Nixon terpaksa mengundurkan dari jabatan Presiden AS dan memberikan jabatan presiden kepada wakilnya yakni Gerald Ford. Ketika naik menjadi Presiden, hal pertama yang dilakukan Ford adalah memaafkan semua kesalahan Nixon yang dimana di mata masyarakat AS merupakan simbol persekongkolan dan korupsi. Setelah Gerarld Ford lengser dari kekuasannya, pada pemilu 1976, Jimmy Carter terpiih sebagai presiden AS yang baru.

Carter dan Brezhnev kemudian saling bertemu di Vienna, Austria dan menandatangai Perjanjian SALT kedua. Walaupun AS dan Soviet saat itu bisa bersepakat dalam beberapa hal, tetapi tidak lantas menjadikan tensi di antara kedua belah pihak padam begitu saja. Sekali lagi Uni Soviet berhasil menekan upaya reformasi dan pemberontakan yang terjadi di blok timur seperti Krisis Polandia dan Musim Semi Praha. Hal itu belum ditambah dengan Krisis Misil Eropa yang misil – misil jenis baru berdaya jelajah menengah dengan fitur yang telah diimprovisasi banyak di pasang berbagai sudut di benua Eropa.

Pada tahun 1979, Uni Soviet memutuskan untuk mengivansi Afganistan untuk mencegah pemberontakan islamik yang disponsori oleh Amerika Serikat dan sebagai respons terhadap krisis – krisis yang sudah disebutkan sebelumnya, Kejuaraan Olimpiade sampai di boikot. Para kaum konservatif dalam pemerintahan AS menilai jika kebijakan Amerika Serikat mulai menjadi terlalu lunak dan pada tahun 1980, setelah pemilu yang kesekian kalinya, Ronald Reagan terpilih menjadi presiden Amerika Serikat yang baru menggantikan Jimmy Carter.

Reagan mengkhawatirkan tindakan Uni Soviet yang mulai menyalahi Hak Asasi Manusia dan kemudian memberikan pidato yang dimana Reagan menggangap jika Uni Soviet adalah sebuah “ kerajaan yang jahat atau evil empire “. Reagan juga berniat memperbarui era perlombaan senjata dengan menggunakan kemajuan teknologi dalam komputerisasi dan laser. Hal ini membuatnya mencetuskan Space Defence Initiative atau yang biasa dikenal sebagai Star Wars atau Perang Bintang yang merujuk kepada sebuah perisai anti serangan nuklir yang di bentangkan di seluruh Amerika Serikat, tetapi banyak orang yang meragukan rencananya dan menganggap jika rencana tersebut adalah sebuah kebodohan.

Uni Soviet membalas dengan tindakan retorik dan Amerika kembali bersiap untuk berperang. Amerika Serikat dan Uni Soviet juga semakin merasa terancam setelah hubungan mereka dengan China terputus. Tensi Perang Dingin kembali meningkat ketika pada tahun 1983, Uni Soviet menembak jatuh sebuah pesawat komersial Korea Selatan yang terbang melewati wilayah udara mereka. Sementara itu Leonid Brezhnev semakin tua dan kemudian meninggal dunia yang kemudian digantikan oleh Yuri Andropov yang kemudian meninggal tak lama kemudian dan digantikan oleh Konstantin Chernenko yang juga meninggal tak lama kemudian. Pada akhirnya Mihail Gorbachev naik menjadi pemimpin Uni Soviet yang baru pada tahun 1985.

Gorbachev, Glasnost dan Perestroika, dan Perubahan di Blok Timur

Mikhail Gorbachev dianggap sebagai game changer dalam perang dingin yang masih berlangsung. Filosofi pemerintahannya sangat berbeda dari para pendahulunya seperti Stalin, Khrushchev, dan Brezhnev. Gorbachev merasa alasan utama sistem perekonomian Uni Soviet mengalami kesulitan dan stagnansi selama berpuluh tahun lamanya disebabkan karena sistem yang ada di Soviet tidak mengizinkan orang – orang Uni Soviet mendapatkan kepuasan dari pekerjaan mereka.

Yang dimaksud dengan tidak mendapatkan kepuasan disini adalah mereka tidak mendapatkan hak untuk bebas berbicara dan berpendapat dan hidup dalam ketakutan. Gorbachev menginginkan masyarakat Uni Soviet senang dan segera mengimplementasikan kebijakannya yakni glasnost dan perestroika yang bertujuan untuk memberikan ruang untuk keterbukaan, transparansi dan restrukturisasi sistem politik dan ekonomi Uni Soviet. Dan kebijakan ini segera memberi efek dengan orang – orang kini bisa mengkritisi pemerintahan Uni Soviet , kemudian mereka dapat menikmati budaya pop barat yang selama ini dilarang di Uni Soviet, dan juga selain itu mereka pun juga sudah dapat menikmati produk – produk dari barat.

Gorbachev juga tahu jika perlombaan senjata antara Amerika Serikat dan Uni Soviet harus dihentikan untuk menyelamatkan ekonomi Uni Soviet yang sedang terpuruk dan hubungan yang baik dengan barat harus segera dibentuk. Sebuah dialog antara Reagan dan Gorbachev menghasilkan sebuah perjanjian baru yang dinamai sebagai perjanjian INF yang mengatakan jika semua rudal atau misil berjarak menengah milik kedua negara akan dimusnahkan. Setelah perjanjian itu, Reagan cenderung lebih lunak terhadap Uni Soviet. Tetapi apa artinya semua reformasi ini untuk negara – negara di blok timur ?

Setelah pernyataaan itu, para pemimpin Hungaria kemudian mulai merencanakan suatu bentuk pemerintahan baru yang bersifat bebas dan pemilu yang diikuti oleh banyak partai. Polandia menyusul dengan mengadakan pemilu pada Juni 1989 yang berakhir dengan kemenangan Partai Solidaritas Polandia yang merupakan partai anti Soviet yang memenangkan 99 dari 100 kursi di senat Polandia. Selain perubahan tersebut, pembatas – pembatas kawat berduri yang membatasi antara barat dan timur di Hungaria mulai dibuka yang pada akhirnya menandai runtuhnya tirai besi di Eropa. Kendati demikian tidak semua pemimpin blok timur senang dengan adanya perubahan tersebut. Seperti misalnya Jerman Timur yang saat itu masih berada di bawah kekuasaan seorang stalinis garis keras bernama Erich Honecker. Saat itu penduduk Jerman Timur masih ketakutan untuk keluar ke Jerman Barat karena mereka masih terperangkap di balik tembok Berlin.

Tetapi solusi lain ditemukan. Jadi, untuk pergi ke Jerman Barat tanpa melewati tembok, mereka bisa menggunakan perbatasan Hungaria yang pembatas kawat durinya sudah dibuka yang menjadikan musim panas tahun itu menjadi ajang liburan orang Jerman timur ke Hungaria. Mereka pergi kesana dan kemudian mengendarai mobil dan menggunakan beberapa metode lainnya menuju ke perbatasan Austria hingga sampai ke Jerman Barat. Honecker yang mengetahui ini merasa marah dan kemudian memblokade semua perjalanan dalam bentuk apapun ke Hungaria. Tetapi itu tidak cukup menghentikan arus perjalanan orang Jerman Timur menuju ke wilayah Barat, ketika ribuan orang Jerman Timur berhasil pergi ke Jerman Barat melalui Kedubes Jerman Barat di Praha , Cekoslovakia dan mendirikan beberapa kamp pengungsi di halaman kedubes sebelum pada bulan September-nya, mereka diizinkan untuk melanjutkan perjalanan ke Jerman Barat dengan kereta api.

Orang – orang yang masih berada di Jerman Timur kini ingin memulai aksi selanjutnya untuk kebebasan mereka dengan melakukan berbagai macam protes dan demonstrasi yang berkembang semakin besar tiap harinya dengan polisi rahasia yang berpakaian orang biasa berusaha membaur ke dalam kerumunan dan menghentikan demonstrasi yang terjadi. Tuntutannya hanya satu yaitu. Jerman bersatu. Kemudian otoritas keamanan pun tidak sanggup lagi menahan gelombang protes dan demonstrasi yang semakin membesar dan kabar buruknya adalah, demonstrasi yang paling besar belum terjadi.

Honecker kemudian merespons dengan mengusulkan jika demonstrasi yang terjadi harus ditekan dengan kekuatan represif. Tetapi semuanya telah menyadari jika semua demonstrasi yang terjadi ini terlalu besar untuk sekedar ditekan dan semua anggota politbiro Jerman Timur mengambil suara untuk menendang Honecker dari kekuasaannya sebagai pemimpun Jerman Timur. Pada tanggal 4 November 1989 , sekitar 500.000 orang penduduk Jerman Timur berhasil menguasai jalanan – jalanan di Berlin Timur dan di mata mereka masih ada satu target lagi yang harus segera di hancurkan yaitu Tembok Berlin.

Tekanan yang diberikan oleh para penduduk Jerman Timur sangat besar dan pada 9 November 1989 pemerintah Jerman Timur mengumumkan jika larangan berpergian dari timur ke barat dihapuskan dan kebijakan baru tersebut tidak diartikan untuk dilaksanakan hari itu juga melainkan akan mulai berlaku pada esok harinya yang berarti para penjaga perbatasan masih boleh menembaki siapapun yang berusaha untuk menerobos perbatasan. Tetapi malam itu, sebuah kerumunan yang sangat besar berkumpul di area titik perbatasan dan para penjaga merasa sangat kewalahan dengan jumlah massa yang sangat besar itu.

Dan saat yang bersejarah itu pun tiba. Setelah beberapa dekade lamanya para penduduk di Jerman saling terpisah dan terbelenggu dalam pemberlakukan larangan bepergian, untuk pertama kalinya orang – orang di perbolehkan untuk melintasi perbatasan. Kejadian itu membuat penduduk Jerman Barat dan Jerman Timur seolah tidak percaya apa yang telah terjadi. Hal itu disambut dengan sukacita dan mereka berpesta sepanjang malam itu. Beberapa dari mereka mulai memanjat dinding dan mulai merusaknya. Pada akhirnya tembok itu runtuh dan tirai besi dinyatakan telah berakhir. Setahun kemudian, Unifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur pun tercapai. Jerman resmi menjadi sebuah kesatuan lagi setelah sekian lama terpisah.

Setelah itu beberapa negara Eropa Timur pun menyusul perubahan tersebut seperti Bulgaria yang mengadakan pemilu, revolusi damai di Ceko, dan Romania yang akhirnya terlepas dari belenggu komunisme melalui revolusi yang cukup keras yang menandai berakhirnya pengaruh komunisme di Eropa timur. Amerika Serikat memutuskan untuk lebih baik membiarkan segalanya berjalan dengan apa adanya. Reagan sendiri kemudian digantikan oleh George H.W. Bush.

Kejatuhan Uni Soviet dan Akhir dari Perang Dingin

Di Uni Soviet, Gorbachev memberikan kebebasan untuk orang – orang Uni Soviet melakukan demonstrasi dan ketika izin itu diberikan, orang – orang kemudian mulai turun ke jalan dan menyerukan untuk mengakhiri pemerintahan satu partai komunis yang selama ini berkuasa di Uni Soviet dan Gorbachev menyetujuinya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di adakan di Uni Soviet yang dimana para kandidat yang tidak mewakili partai komunis boleh mengajukan diri. Boris Yeltsin yang merupakan rival berat dari Gorbachev memimpin sebuah gerakan demokratik. Disinilah semuanya menjadi serba membingungkan.

Topik pembubaran Uni Soviet merupakan sebuah topik yang sangat kompleks. Secara geografis, Uni Soviet dibentuk dengan ikut menyertakan beberapa negara – negara satelit Soviet dan yang paling besar ukuran wilayahnya adalah Republik Soviet Russia. Yeltsin sendiri kemudian terpilih menjadi presiden Rusia dan mulai mengajukan kedaulatan terhadap Gorbachev dan Uni Soviet. Para kaum komunis garis keras merasa sangat jijik dengan kebijakan Gorbachev kemudian menculik Gorbachev dan berusaha untuk mendirikan pemerintahan darurat untuk sementara waktu. Tetapi Yeltsin dan para pendukungnya berkumpul di Gedung Putih di Moskow dengan membawa kekuatan militer untuk membebaskan Gorbachev yang ditahan oleh kaum komunis garis keras.

Para komunis garis keras itu mengalah dan kemudian membebaskan Gorbachev. Yeltsin sendiri ternyata sudah melakukan deal – deal politik dengan Ukraina dan Belarus di belakang Gorbachev sebagai bagian dalam upaya pembubaran Uni Soviet dan membentuk Federasi Russia. Dengan kata lain, dalam pandangan Yeltsin, Gorbachev sudah tidak lagi berada di tampuk kekuasaan dan tidak lagi memiliki otoritas apa – apa. Gorbachev sendiri legowo dengan keadaan yang memang sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Uni Soviet sudah pasti akan bubar dan tinggal menunggu waktu saja.

Hal ini juga membuat tensi – tensi dan juga ancaman dari perang nuklir yang sudah berlangsung selama puluhan tahun akan mendekati akhirnya dengan terbentuknya pemerintahan demokratik di berbagai negara satelit yang dulunya menjadi bagian dari Uni Soviet, dimulai dari pembentukan Federasi Rusia pada 26 Desember 1991 yang dengan ini secara resmi mengakhiri Perang Dingin yang sudah terjadi selama beberapa dekade lamanya dan juga secara resmi menjadi hari dimana Uni Soviet dibubarkan. Pembubaran Uni Soviet ditandai dengan penurunan bendera Uni Soviet dari puncak Kremlin di Moskow dan menaikan bendera Federasi Rusia sebagai gantinya. Sebelumnya, Pakta Warsawa sendiri sudah dibubarkan sejak bulan Juli 1991.

Referensi :

  1. Britannica, T. Editors of Encyclopaedia (2021, June 21). Cold War. Encyclopedia Britannica. Cold War | Summary, Causes, History, & Facts | Britannica
  2. Cold War Timeline
  3. NCpedia | NCpedia