© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apakah yang dimaksud dengan Zalim?

Banyak sekali ayat-ayat Al Quran yang membahas terkait dengan akhlak zalim pada diri manusia. Berikut adalah ayat-ayat yang ada di AlQuran tentang Zalim :

SYIRIK MERUPAKAN KEZALIMAN YANG PALING BESAR

QS. Luqman [31] : 13

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

ALLAH TIDAK MENGHENDAKI KEZALIM TERHADAP SEMUA MAKHLUKNYA

QS. 'Ali `Imran [3] : 108

Itulah ayat-ayat Allah. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.

QS. 'Ali `Imran [3] : 182

(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.

QS. Al-'Anfal [8] : 51

Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya,

QS. Al-Haj [22] : 10

(Akan dikatakan kepadanya): “Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”.

QS. Ghafir [40] : 31

(Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, 'Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.

QS. Fussilat [41] : 46

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.

QS. Qaf [50] : 29

Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku

ALLAH TIDAK MENYUKAI ORANG YANG ZALIM

QS. 'Ali `Imran [3] : 57

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.

QS. 'Ali `Imran [3] : 140

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,

QS. Ash-Shuraa [42] : 40

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.

ALLAH AKAN MEMBELA ORANG-ORANG YANG DIZALIMI

QS. Al-Haj [22] : 60

Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

ALLAH TIDAK MEMBERI HIDAYAH KEPADA ORANG YANG ZALIM

QS. Al-Baqarah [2] : 258

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

QS. 'Ali `Imran [3] : 86

Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim.

QS. Al-Ma’idah [5] : 51

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

QS. Al-'An`am [6] : 144

dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

QS. At-Taubah [9] : 19

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

QS. At-Taubah [9] : 109

Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

QS. Al-Qasas [28] : 50

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

QS. Al-'Ahqaf [46] : 10

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Quran itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) Al Quran lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim".

QS. As-Saf [61] : 7

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.

QS. Al-Jumu`ah [62] : 5

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

ALLAH MELAKNAT ORANG-ORANG YANG ZALIM

QS. Al-'A`raf [7] : 44

Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada Penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim,

QS. Hud [11] : 18

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka”. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim,

JANJI ALLAH TIDAK DIPEROLEH ORANG YANG ZALIM

QS. Al-Baqarah [2] : 124

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.

ORANG YANG ZALIM AKAN DIMASUKKAN KE NERAKA

QS. 'Ali `Imran [3] : 151

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.

QS. Al-Ma’idah [5] : 29

"Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim".

QS. Al-'A`raf [7] : 41

Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim,

QS. Hud [11] : 113

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.

QS. 'Ibrahim [14] : 22

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.

QS. Al-‘Anbya’ [21] : 29

Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: “Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.

QS. Saba’ [34] : 42

Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa (untuk memberikan) kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain. Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim: “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu”.

QS. Ash-Shuraa [42] : 21

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.

QS. Ash-Shuraa [42] : 45

Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata: "Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal.

QS. Al-Hashr [59] : 17

Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.

ORANG ZALIM BERWALIKAN ORANG ZALIM LAINNYA

QS. Al-'An`am [6] : 129

Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.

QS. Al-Jathiyah [45] : 19

Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. Dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.

ORANG ZALIM TIDAK MELAKUKAN BANYAK HAL KECUALI KEZALIMAN LAGI

QS. Nuh [71] : 24

Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.

ORANG YANG ZALIM TIDAK BISA MENJADIKAN AL-QUR’AN SEBAGAI OBAT

QS. Al-‘Isra’ [17] : 82

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

DI HARI KIAMAT ORANG ZALIM AKAN KETAKUTAN

QS. Ash-Shuraa [42] : 22

Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.

DI HARI KIAMAT, ALASAN ORANG ZALIM TIDAK DITERIMA

QS. Ar-Rum [30] : 57

Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.

QS. Ghafir [40] : 52

(yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.

DI AKHIRAT ORANG YANG ZALIM INGIN KEMBALI KE DUNIA

QS. Ash-Shuraa [42] : 44

Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: "Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?"

ORANG YANG ZALIM TIDAK ADA PEMBELANYA

QS. 'Ali `Imran [3] : 192

Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

QS. Al-Ma’idah [5] : 72

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

DOA TERHINDAR KEZALIMAN

QS. Yunus [10] : 85

Lalu mereka berkata: "Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang’zalim,

QS. Al-Mu’minun [23] : 94

ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim".

QS. Al-Qasas [28] : 21

Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.

QS. Nuh [71] : 28

Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan".

Apakah yang dimaksud dengan Zalim?

Menurut Bahasa dan Istilah

Kata zulm diartikan meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya dan mempunyai makna dasar kegelapan dan lawan kata cahaya (Shauqi, 2011). Dalam kamus al-Munjid bahwa kata zulm diartikan sebagai seseorang yang suka kemewahan dan juga dikatkan dengan gelapnya malam, serta sesuatu yang buruk akibatnya. Selain bermakna aniaya, zulm juga bermakna meletakkan sesuatu yang bukan pada tempatnya.

Dari sudut makna kebahasaan atau etimologi, zulm itu artinya “gelap”, karena kejahatan itu menimbulkan kegelapan hati. Dengan demikian zulm berarti “orang yang melakukan kegelapan”. Dari pengertian zulm yang berarti gelap, maka kata z}ulm menjadi lawan kata dari nur atau cahaya yang juga berarti terang. Pengertian yang demikian itu, sesungguhnya erat kaitannya dengan sumber kezaliman itu sendiri, yakni hati yang tidak lagi memiliki nurani atau hati yang gelap.

Dalam kamus bahasa inggris, zalim adalah tyranical yang berarti orang yang bersalah, penjahat, orang jahat.4 Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, zalim bermakna aniaya, kebengisan, kekejaman, tidak menaruh belas kasihan, tidak adil, dan kejam.

Macam-macam Kezaliman


Dalam pembagiannya zalim menurut Arif Bijaksana berkata bahwa zalim terbagi menjadi tiga yaitu:

  • Zalimnya Manusia Kepada Allah.
    Perbuatan zalim yang paling besar dalam kategori ini adalah shirik, kufr, dan munafik. Di antaranya adalah sebagai berikut:

    • Syirik
      Syirik berasal dari kata sharika, yashraku, sharikan artinya bercampur, bergabung atau mempersekutukan. Menurut terminologi shirik adalah perbuatan yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain (Margiono, 2011). Shirik merupakan perbuatan dosa yang berat yang tidak dapat diampuni dalam Q.S. Luqman (31): 138

    “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar”

    • Kufur
      Kata kufur dalam pengertian bahasa Arab berarti menyembunyikan atau menutup. Sedangkan menurut syari’at adalah menolak kebenaran dan berbuat kufur karena kebodohannya. Adapun pengertian kufur yang hakiki adalah keluar dan menyimpang dari landasan Iman. Definisi lain menyebutkan Al-Kufr secara bahasa berarti penutup. Sedang menurut syar’i berarti tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, baik dengan mendustakannya ataupun tidak.
  • Zalimnya Manusia Kepada Sesama Makhluk.

    • Fasad
      Kata fasad berasal dari huruf fa-sa-da. Menurut al-Asfihan, makna kata itu berarti keluarnya sesuatu dari keseimbangan, baik sedikit maupun banyak. Kata itu kemudian diterjemahkan sebagai rusak atau sakit. Antonimnya adalah (lawan kata) adalah as-solah, berarti kemashlahatan, manfaat atau kegunaan. Sesuatu yang rusak, memang minimal berkurang nilai kemanfaatan dan kegunaannya. Maka, ia tidak maslahat. Sesuatu yang rusak justru menyusahkan dan merepotkan. Kata di atas dipakai untuk beragam hal seperti jiwa, badan, dan lain-lain yang keluar dari keseimbangan dan keajegan (istiqa>mah) atau melampaui batas normal. Misalnya, orang yang rusak akhlaknya menjadikan beban bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya.

    • Sariqah
      Menurut bahasa sariqah adalah mencuri. Adapun yang dimaksud adalah mengambil barang milik orang lain tanpa hak dengan maksud untuk memiliki dari tempat barang itu disimpan, tanpa pengetahuan pemiliknya.

Secara etimologi al-Zulm berasal dari kata ظلما - يظلم - ظلم yang terdiri dari huruf za, lam, dan mim ( م - ل - ظ ( mempunyai dua arti, yang pertama, yaitu lawan kata dari pelita atau cahaya yang berarti gelap. Yang kedua, menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya.

Dalam kamus bahasa Indonesia kata zalim berarti bengis, tidak menaruh belas kasihan, tidak adil, serta kejam, artinya orang yang berlaku Zalim senantiasa menyakiti hati orang lain baik itu secara lahiriah maupun batiniyah.

Istilah Zulm disamping juga berarti tidak ada cahaya (gelap), aniaya, juga diartikan kejahatan, dosa, kesewenanng-wenangan, dan sebagainya. Kemudian term tersebut digunakan untuk arti kemusyrikan, kefasikan, kemunafikan, kekafiran,dan lain sebagainya. Zulm juga kebalikan dari al-‘Adl, yaitu menempatkan sesuatu bukan pada tempat semestinya baik menyangkut ukuran, waktu, dan tempat.

Secara terminologi Z}ulm diartikan sebagai tindakan melampaui batas kebenaran dan cenderung kepada kebatilan. Lebih lanjut M.Dawam Raharjo dalam bukunya Engsiklopedi al-Qura’an menjelaskan bahwa kata Zalim merupakan segi atau dimensi kekafiran atau kekufuran, dalam bahasa Indonesia istilah lalim atau Zalim itu mengandung konotasi tertentu. Zalim sama dengan kejam yakni tindakan yang tidak berprikemanusiaan. Dalam bahasa Jawa (tepa sahra), maksudnya adalah seseorang yang berbuat kejam itu harus berpikir, bagaimana jika hal itu dikenakan pada dirinya sendiri, akan tetapi Zalim juga mengandung pengertian sewenang-wenang, tidak mengikuti norma susila, norma hukum, menurut kemauannya sendiri, tidak mempertimbangkan hak-hak orang lain.

Al-Z}ulm yang biasa diartikan dengan aniaya adalah suatu perbuatan yang tercela, dimana perbuatan tersebut dapat merugikan orang lain dan juga dirinya sendiri. Beberapa ayat-ayat al- Qur’an menerangkan haltersebut dengan berbagai pengertian dari term al-Z}ulm, antara lain:

  1. Zulm kepada Allah SWT, dalam artian kufur kepada Allah dan
    juga dalam bentuk Syirik sebagaimana firman Allah dalam alQur’an surah al-An’am ayat 21

    image

    "Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar”

  2. Zulm terhadap sesama manusia, Z}ulm yang dimaksud disini adalah bentuk penganiayaan atas kehormatan, fisik, dan hartanya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 188 yang artinya "Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.

  3. Zulm terhadap diri sendiri, hal ini dilakukan dengan cara mengotori dirinya dengan berbagai macam dosa, kejahatan, dan keburukan, berupa perbuatan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.Sebagaimana firman Allah dalam surah al-'Araf ayat 160 yang artinya "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”. Maka memancarlah daripadanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman); “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu”. Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.

Jika memperhatikan term-term al-Zulm serta defenisi-defenisi yang ada di atas, maka penulis menarik sebuah kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan al-Zulm adalah suatu perbuatan tercela yang mana ditujukan kepada Allah, sesama manusia, serta dirinya sendiri.

Definisi Zalim


Perkataan zalim berasal dari kata zulm yang mempunyai beberapa pengertian, diantaranya ia berarti meletakkan sesuatu tidak kena pada tempatnya, menghampiri kemurkaan, penindasan dan mempercepatkan sesuatu sebelum tiba masanya. Perkataan zulm dari segi bahasa mengandung empat pengertian apabila dihubungkan dengan para nabi dan rasul yaitu orang yang dibuktikan maksum perkataan-perkataan yang tidak membawa maksud dosa dan salah adalah lebih wajar. Jika diambil pengertian menghampiri kemurkaan Tuhan, ini jelas menunjukkan tuhan memberi tahu adam seandainya beliau menghampiri pohon itu, dia hanya akan mendekatkan dirinya dalam kesusahan. Dalam konteks ini, perkataan itu juga dapat digunakan dengan maksud mempercepatkan sesuatu sebelum tiba masanya. Dalam hal ini walaupun Adam sudah ditetapkan oleh Tuhan akhirnya akan turun ke bumi, tetapi seandainya dia mendekati pohon khuldi, dia akan diturunkan ke bumi lebih cepat.

Selain itu juga pengertian zalim yang berasal dari bahasa Arab, dengan huruf “dho la ma” (ظ ل م ) yang bermaksud gelap. Di dalam al-Qur’an menggunakan kata zhulm selain itu juga digunakan kata baghy , yang artinya juga sama dengan zalim yaitu melanggar haq orang lain. Namun demikian pengertian zalim lebih luas maknanya ketimbang baghyu , tergantung kalimat yang disandarkannya. Kezaliman itu memiliki berbagai bentuk di antaranya adalah syirik. Kalimat zalim bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidak adilan dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat zalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.

Makna kata zalim adalah: “ wadl’u syai-a fi ghairi mahallihi” artinya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Di dalam al-Qur’an untuk menyebut orang seperti ini selain “ zhulm ” juga digunakan kata “baghy” yang maknanya juga sama dengan zalim yaitu melanggar hak orang lain. Namun demikian pengertian zalim lebih luas maknanya daripada “baghy” kezaliman itu memiliki beberapa bentuk diantaranya adalah syirik. Sebagaiman dijelaskan dalam QS. Lukman(31): 13

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Berikut ini kata-kata dalam al-Qur’an tentang kata zalim.

Dianiaya 15 ﻳﻆﻞﻣﻮﻦ
Kezaliman 7 ﻆﻞﻢ
Kezaliman 8 ﻆﻝﻣﺎ
Kezaliman 2 ﻆﻞﻣﻪ
Kezaliman 3 ﻆﻞﻣﻬﻡ
Menzalimi 5 ﻆﺎﻞﻢ
Menzalimi 4 ﻆﺎﻞﻣﺔ
Menzalimi 33 ﻆﺎﻞﻣﻮﻦ
Menzalimi 2 ﻆﺎﻞﻣﻴﻦ
Menzalimi 91 ﻆﺎﻞﻣﻴﻦ
Lebih aniaya 16 ﺃﻆﻞﻢ
Kezaliman 1 ﻆﻞﻮﻢ
Kezaliman 1 ﻆﻞﻮﻤﺎ
Menganiaya 5 ﻆﻼﻢ
Secara zalim 1 ﻤﻆﻞﻮﻤﺎ
Gelap 1 ﺃﻆﻞﻢ
Gelap gulita 1 ﻣﻆﻞﻤﺎ
Kegelapan 1 ﻣﻆﻞﻤﻮﻦ
Kegelapan-kegelapan 23 ﻆﻞﻣﺎﺖ
Jumlah 315

Namun qur’an juga menyebut beberapa kata yang semakna dengan kata zhalim, yaitu hadhama dan janafa. Kata hadhama hanya disebut satu kali dalam qur’an yang ternyata juga dirangkai dengan kata zhalim, yaitu dalam Q.S. Thaha(20):112

Dan Barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam Keadaan beriman, Maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.

Terlihat dalam terjemahan di atas bahwa antara kata zhalim yang diterjemahkan dengan “tidak adil” hampir sama dengan kata hadhama yang diartikan dengan pengurangan hak. Dengan demikian, keadilan adalah menyangkut masalah hak seseorang apakah terpenuhi haknya atau tidak.

Ketidakadilan juga disebut dengan menggunakan kata jenafa, ayat yang menjelaskan hal ini yaitu Q.S al-Baqarah(2):182

(akan tetapi) Barangsiapa khawatir terhadap orang yang Berwasiat itu, Berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, Maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Ayat tersebut berkaitan dengan masalah wasiat. Dalam ayat tersebut kata janafa diterjemahkan dengan berat sebelah. Itu artinya bahwa keadilan yang dituntut dalam ayat ini khususnya soal berwasiat adalah tidak berat sebelah.

Tinjauan Umum Perilaku Zalim

1. Inventarisir Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Zalim
Q.S Al. Baqarah : 165

dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

"Ayat sebelumnya di akhiri dengan sebuah pernyataan aksiomatis: لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ [ la-ayātin liqawmin ya’qilŭn , (di situ) pasti ada tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang menggunakan akal ]? Karena melalui ayat 164 itu kita bisa melihat bahwa kehadiran Allah dalam kehidupan ini begitu jelas bagi akal, sejelas matahari di siang bolong. Namun, kendati begitu, banyak saja manusia—makhluk berakal ini—yang mengambil tandingan-tandingan bagi-Nya, yang mereka perlakukan sebagaimana atau bahkan melebihi perlakuan mereka terhadap-Nya: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً ( wa minan-nāsi man yattakhidzu min dŭnillāɦi andāda , dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah ). Mereka mengaku menyembah kepada Allah, tetapi mereka rela mengabaikan ibadah kepada-Nya demi memenuhi keinginannya memperoleh materi. Mereka mengaku beriman kepada Allah, tetapi mereka lebih mengutamakan hukum buatan manusia ketimbang hukum-Nya.

Mereka mengaku mengagungkan Allah, tetapi takutnya kepada sesama melebihi takutnya kepada-Nya. Mereka mengaku anti syirik, tetapi tak pernah berani meluruskan rajanya yang jelas-jelas menjadi sekutu tiranik penguasa imperialis yang tiap hari merampas tanah-tanah saudaranya. Semua yang mereka takuti selain Allah itulah yang disebut أَندَاد ( andād , bentuk jamak dari nidd yang artinya peer, equal, match, colleague, counterpart ). Mereka mencintai أَندَاد ( andād, sekutu-sekutu ) itu sepertimana mereka mencintai Allah: يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ ( yuhibbŭnaɦum kahubbillāɦi , mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah ). “ Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka’. ” (39:8).

Q.S Huud : 101

dan Kami tidaklah Menganiaya mereka tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri, karena itu Tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa dibinasakannya mereka itu bukanlah tindakan aniaya dari Dia, tetapi mereka sendirilah yang menganiaya dirinya yang menyebabkan Allah terpaksa mengambil tindakan demikian. Mereka mempersekutukan Allah, mengadakan kerusakan di muka bumi terus-menerus sehingga azab tidak dapat ditunda-tunda daripadanya. Andaikata mereka dibiarkan dalam keadaan yang demikian berlarut-larut, niscaya mereka akan tetap saja demikian malah bertambah-tambah penganiayaan, kejahatan dan pengrusakannya di muka bumi sebagaimana tercantum di dalam Alquran :

Artinya:
> Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (Q.S. Nuh: 27)

   Rasul-rasul yang diutus kepada mereka cukup gigih dan tangguh memberikan pelajaran dan petunjuk, tetapi mereka tetap saja angkuh dan membangkang. Apabila diberi ancaman, mereka makin membangkang dan menentang karena mereka terlalu percaya bahwa tuhan-tuhan sembahan-sembahannya itulah yang akan menyelamatkannya dari segala marabahaya dan azab yang akan menimpanya, padahal apabila Allah swt. telah memutuskan akan menurunkan azab dan membinasakan suatu kaum, maka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah swt. itu tidak akan bermanfaat sedikit pun dan tidak mempunyai daya sama sekali untuk menahan dan menghalangi keputusan Allah itu. 

Kepercayaan mereka kepada sembahan-sembahannya itu tidak lain kecuali hanya menambah kebinasaan dan kehancurannya. Mereka percaya bahwa sembahan-sembahan itu akan menimpakan malapetaka kepada Nabi yang diutus sebagaimana diceritakan Allah swt. di dalam firman-Nya mengenai kaum Nabi Hud a.s.:

Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan Kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu." Huud menjawab: "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, (Q.S. Hud: 54)

Q.S. Al. Maa-idah: 72

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

Allah swt. menegaskan dengan sesungguhnya bahwa orang-orang Nasrani adalah orang-orang kafir karena mereka berkeyakinan bahwa Allah itu adalah Isa Al-Masih anak Maryam. Pendirian inilah yang menjadikan mereka itu kafir dan sesat, oleh sebab mereka berlebih-lebihan memuji Isa a.s. sebagaimana orang Yahudi keterlaluan pula menghina Isa terutama terhadap Maryam. Pendirian orang-orang Nasrani terhadap diri Isa a.s. tersebut adalah suatu pendirian yang dianut oleh mayoritas golongan Nasrani dan siapa di antara mereka yang menyimpang dari pendirian tersebut, maka dianggaplah murtad. Orang-orang Nasrani berpendirian bahwa Tuhan itu terdiri dari unsur-unsur yang mereka namakan tiga oknum, yaitu Bapak, Putra dan Ruhul Kudus. Isa adalah putra, Allah adalah Bapak yang menjelma pada anak yang merupakan Ruhul Kudus dan mereka adalah tiga kesatuan yang tidak terpisah-pisah. Dengan demikian Allah itu adalah Isa dan dan Isa itu adalah Allah. Pendirian mereka ini sangat menyimpang dari kebenaran, karena Isa sendiri berkata kepada Bani Israel supaya mereka menyembah Allah, yaitu Tuhannya Isa dan Tuhannya Bani Israel. Jadi ayat ini jelas menunjukkan pengakuan langsung dari Isa bahwa Tuhan yang disembah itu adalah Allah semata. Tegasnya seruan-seruan Nabi Isa kepada Bani Israel seperti yang diterangkan oleh ayat ini untuk menegaskan agama Tauhid. Hal itu dapat dilihat di dalam kitab-kitab Injil asli. Selanjutnya Allah swt. menerangkan bahwa Isa dengan tegas berkata bahwa orang-orang yang mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu baik dengan malaikat atau dengan bintang atau dengan batu, maka orang itu tidak akan mendapat surga dan tempatnya adalah di dalam neraka, karena orang yang mempersekutukan Allah itu adalah orang-orang yang berbuat lalim kepada diri mereka itu sendiri yang karenanya tidak wajar mendapat pembelaan dan pertolongan Allah.

Referensi :
  • Wan Zailan Kamaruddin bin Wan Ali, Siapa Itu Nabi-Nabi , PTS.Millennia SDN.BHD, Selangor Darul Ehsan, 2004.
  • Quito R. Motinggo, Keajaiban Cinta: Membuat Hidup Lebih Berenergi dan Dinamis, Mizan, bandung, 2005, hlm: 83
  • Departemen Agama R.I, Al-Hikmah, al-Quran dan Terjemah, Diponegoro, Bandung, 2010, hlm
  • Ali Nurdin, Quranic Society: Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal Dalam Al-Qur’an, Erlangga, Bandung, 2006,