© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apakah yang dimaksud dengan Teori Tradisi Retorika?

image

Tradisi retorika menjelaskan konteks komunikasi antar personal dan komunikasi massa. Tradisi ini memberikan perhatian terhadap bagaimana proses-proses merancang suatu pesan yang baik sehingga komunikasi dapat berlangsung efektif.

Awalnya retorika berhubungan dengan konsep persiasi, sehingga seringkali dipahami sebagai seni penyusunan argumen, dan pembuatan naskah pidato. Tradisi retorika memiliki 5 karya agung, yaitu penemuan, penyusunan, gaya, penyampaian, dan daya ingat.

Apakah yang dimaksud dengan teori tradisi retorika ?

Teori Tradisi Retorika

Teori Tradisi Retorika (The Rhetorical Tradition) menganggap bahwa Komunikasi Sebagai Seni Berbicara di Depan Publik

Retorika atau dalam bahasa Inggris rhetoric, bersumber dari perkataan latin Rhetorica yang berarti ilmu bicara. Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren dalam bukunya “Modern Rhetoric” mendefinisikan retorika sebagai the art of using language effectively atau seni penggunaan bahasa secara efektif.

Kedua pengertian itu menunjukkan bahwa retorika mempunyai pengertian sempit: mengenai bicara, dan pengertian luas: penggunaan bahasa baik lisan maupun tulisan. Oleh karena itu ada sementara orang yang mengartikan retorika sebagai Public Speaking atau pidato di depan umum; banyak juga yang beranggapan bahwa retorika bukan saja berarti pidato di depan umum, tetapi juga termasuk seni menulis.

Salah satu tokoh retorika pada zaman Yunani, adalah Aristoteles yang sampai kini pendapatnya banyak dikutip. Berlainan dengan tokoh–tokoh lainnya yang memandang retorika sebagai suatu seni. Aristoteles memasukkannya sebagai bagian dari filsafat.

Dalam bukunya “Retorika” dia mengatakan:

“Anda, para penulis retorika terutama menggelorakan emosi ini memang baik, tetapi ucapan–ucapan anda lalu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan retorika yang sebenarnya, adalah membuktikan maksud pembicaraan atau menampakkan pembuktiannya. Ini terdapat pada logika. Retorika hanya menimbulkan perasaan pada suatu ketika, kendatipun lebih efektif daripada silogisme. Pernyataan yang menjadi pokok bagi logika dan juga bagi retorika akan benar, bila telah di uji oleh dasar-dasar logika”.

Demikian Aristoteles, selanjutnya ia berkata bahwa keindahan bahasa hanya dipergunakan untuk empat hal, yaitu yang bersifat:

  • Membenarkan (corrective)
  • Memerintah (instructive)
  • Mendorong (suggestive)
  • Mempertahankan (devensive)

Dalam membedakan bagian-bagian struktur pidato, Aristoteles hanya membaginya menjadi tiga bagian, yakni pendahuluan, badan,dan kesimpulan. Bagi Aristoteles, retorika adalah the art of persuasion. Lalu ia mengajarkan bahwa dalam retorika suatu uraian harus singkat, jelas, dan meyakinkan.

Tradisi retorika memberi perhatian pada aspek proses pembuatan pesan atau simbol. Prinsip utama disini adalah bagaimana menggunakan simbol yang tepat dalam menyampaikan maksud. Dalam media berkaitan dengan proses pembuatan kebijakan keredaksian, merancang program acara, penentuan grafis.

Prinsip bahwa pesan yang tepat akan dapat mencapai maksud komunikator. Kemampuan dalam merancang pesan yang memadai menjadi perhatian yang penting dalam kajian komunikasi.

Faktor-faktor nilai, ideologi, budaya, dan sebagainya yang hidup dalam suatu organisasi media atau dalam diri individu merupakan faktor yang menentukan dalam proses pembuatan pesan. Bahwa pesan dihasilkan melalui proses yang melibatkan nilai-nilai, kepentingan, pandangan hidup tertentu dari manusia yang menghasilkan pesan.

Tradisi retorika dapat menjelaskan baik dalam kontek komunikasi antar personal maupun komunikasi massa. Sepanjang memberi perhatian terhadap bagaimana proses-proses merancang isi pesan yang memadai sehingga proses komunikasi dapat berlangsung secara efektif.

Daya tarik logis dan emosional menjadi ciri khusus teori-teori retorika. Tradisi ini memandang bahwa aktivitas seorang komunikator diatur oleh seni dan metode. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa kita itu sangat kuat dan berkuasa. Karena itulah, informasi memang penting dalam pembuatan keputusan sehingga komunikasi dapat dievaluasi dan diperbaiki. Adapun varian dari tradisi ini dapat dibagi menajdi beberapa era yaitu:

  1. Era klasik, dimana terjadi pertarungan antara dua aliran, yaitu sophis dan filosof yang mana aliran sophis beranggapan bagaimana kita dapat berargumen untuk memenangkan suatu perkara melalui retorika tidak peduli apakah itu benar atau tidak dan berlawanan dengan aliran filosif yang menganggap bahwa Retorika hanya digunakan untuk berdialog untuk mendapatkan kebenaran yang absolute.

  2. Era Abad pertengahan, dimana studi tentang retorika berfokus pada pengaturan gaya, namun retorika pada abad pertengahan dicela sebab dianggap sebagai ilmu kaum penyembah berhala dan tidak perlu dipelajari sebab agama Kristen dapat memperlihatkan kebenarannya sendiri.

  3. Era Renaissance, dimana masa ini dianggap sebagai kelahiran kembali retorika sebagai suatu seni.

  4. Masa Pencerahan, dimana retorika menjadi sarana untuk menyampaikan suatu kebenaran. Hal ini menjadikan retorika kembali menjadi citra yang baik seperti saat ini.

  5. Era Kontemporer, era ini ditandai dengan pemanfaatan media massa untuk menyampaikan suatu pesan baik secara verbal maupun visual pada media massa.

  6. Postmodernisme, dimana aliran ini merupakan alternatif yang dimulai dari asumsi dan nilai- nilai acuan yang berbeda, untuk menghasilkan suatu retorika yang berbeda pula.

Apakah anda senang mempelajari bagaimana berkomunikasi secara efektif, khususnya dimuka umum? Maukah anda menjadi pembicara mungkin seorang politisi atau mentri? Apakah seni publik sebagai sebuah simbol pernyantaan menipu anda? Apakah anda suka mempelajari wacana serta memikirkan makna dan akibatnya? Jika demikian, mungkin anda terseret dalam tradisi retorika pada teori komunikasi.

Saat ini, kata retorika sering mengalami penyempitan makna-kosong atau kata-kata ornamen yang berlawanan dengan tindakan. Bagaimanapun, dalam keadaan yang sesungguhnya, kajian retorika mempunyai sejarah yang berbeda di belahan Barat , abad ke-5 sebelum masehi di Yunani. Kajian retorika secara umum didefinisikan sebagai simbol yang digunakan manusia.

Pada awalnya, ilmu ini berhubungan dengan persuasi, sehingga retorika adalah seni menyusun argumen dan pembuatan naskah pidato. Kemudian, berkembang sampai meliputi proses ”adfjusting ideas to people and people to ideas” dalam segala jenis pesan. Fokus dari retirika telah diperluas bahkan lebih lingkup segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk mempengaruhi lingkungan disekitarnya dan untuk membangun dunia tempat tinggal.

Gagasan Utama Dari Tradisi Retorika

Pusat dari tradisi retorika adalah kelima karya agung retorika-penemuan, penyusunan, gaya, penyampaian, dan daya ingat. Semua ini adalah elemen-elemen dalam mempersiapkan sebuah pidato, sedangkan pidato orang Yunani dan Roma kuno berhubungan dengan ide-ide penemuan, pengaturan ide, memilih bagaimana membingkai ide-ide tersebut dengan bahasa, serta pada akhinya, penyampaian isu dan daya ingat. Dengan perubahan pada retorika, kelima karya agung ini telah mengalami kesamaan perluasan.

Penemuan sekarang mengacu pada konseptualisasi-proses saat kita menentukan makna dari simbol melalui interprestasi, respons terhadap fakta yang tidak mudah kita tentukan pada apa yang telah ada, tetapi menciptakannya melalui penafsiran dari kategori-kategori yang kita gunakan. Penyusunan adalah pengaturan simbol-simbol-menyusun informasi dalam hubungannya diantara orang-orang, simbol-simbol, dan konteks yang terkait.

Gaya berhubungan dengan semua anggapan yangterkait dalam penyajian dari semua simbol tersebut, mulai memilih sistem simbol sampai makna yang kita berikan kepada semua simbol tersebut, sebagaimana dengan semua sifat dari simbol, mulai dari kata-kata dan tindakan sampai pada busana dan perabotan. Penyampaian menjadi perwujudan dari simbol-simbol dalam bentuk fisik, mencakup pilihan non-verbal untuk berbicara, menulis, dan memediasikan pesan.

Akhirnya, daya ingat tidak lagi mengacu pada penghafalan pidato tetapi dengan cangkupan yang lebih besar dalam mengingat budaya sebagaimana dengan proses persepsi yang berpengaruh pada bagaimana kita menyimpan dan mengolah informasi

Tanpa mengesampingkan pemiliahan simbol dan media, retorika melibatkan sebuah rhetor atau pengguna simbol yang menciptakan sebuah teks atau artefak khusus untuk audensi, bermasalah dengan ragam desakan situasinal. Banyak orang memandang retorika sebagai sinonim istilah komunikasi dan keputusan untuk menggunakan istilah retorika bergantung pada tradisi filosofis yang Anda diidentifikasika.

Pada kenyataannya, kita tidak perlu terfokus pada pembahasan retorika karena mempunyai tradisi yang terpisah dari teori komunikasi dan kita tidak dapat membahas keduanya. Sementara itu, retorika sangat penting untuk ilmu komunikasi, sehingga kita memasukannya sebagai sebuah tradisi pada bab ini.

Keragaman dalam Tradisi Retorika

Retorika mempunyai makna yang berbeda dalam periode yang berbeda sehingga menyababkan kekacauan dalam permaknaan kata. Kita akan mengidentifikasi beberapa periode tersebut untuk memperlihatkan beragam kemungkinan dari tradisi retorika: klasik, pertengahan, Renaissance, Pencerahan, Kontemporer, dan post-modern.

Asal retorika di zaman klasik, dari abad ke-5 sampai abad ke-1 sebelum masehi, didominasi oleh usaha-usaha untuk mendefinisikan dan menyusun peraturan dari seni retorika. Guru-guru pengembara disebut Sophist mengajarkan seni berdebat di sisi kedua sisi ada sebuah kasuas insruksi retorika paling awal di Yunani.

Plato tidak menyukai pendekatan relativistik Sophist terhadap pengetahuan yang meyakini adanya kemungkinan ideal atau kebenaran absolut. Dialog-dialog Plato tentang retorika telah menyelamatkan sebagian besar bidang retorika dari nama buruk. Aristoteles, murid Plato, mengambil pendekatanyang lebih pragmatis lagi terhadap seni, mengaturnya dalam buku catatan kuliahnya yang telah disusun menjadi apa yang kita kenal sebagai Rhetorika. Tulisan tentang retorika seorang Yunani telah disaring dan diperinci oleh orang Romawi, termasuk Isocrates, Quintilian, dan Cicero.

Zaman pertengahan (400-1400 Masehi) memandang kajian retorika yang berfokus pada permasalahan penyusunan dan gaya. Retorika zaman pertengahan telah merendahkan praktik dan seni pagan, serta berlawanan dengan Kristen yang memandang kebenaran itu sendiri sebagai sebuah keyakinan. Augustine, seorang pelajar retorika yang pindah agama menjadi Kristen, mengembalikan tradisi retorika dengan bukunya On Christian Doctrine. Dalm bukunya, ia berpendapat bahwa penceramah harus dapat mengajar, menyenangka, dan bertindak konsepsi Cicero terhadap kewajiban dari seorang orator.

Orientasi pragmatis terhadap retorika pertengahan juga buktilain kegunaan dari retorika Zaman Pertengahan-untuk penulisan surat. Penulisan surat menjadi sangat penting sebagai sebuah sarana pencatatan karena banyak keputusan yang dibuat secara pribadi dalam dekrit dan surat. Permasalahan tentang gaya ditekankan dalam pengajaran mengadaptasi pelapisan, bahasa, dan format untuk audiensi khusus.

Renaissance (sekitar 1300-1600 Masehi) yang disokong oleh Zaman Pertengahan, memandang sebuah kelahiran kembali dari retorika sebagai filosofi seni. Para penganut Humanisme yang tertarik dan berhubungan dengan semua aspek dari manusia, biasa menemukan kembali teks retorika klasik dalam sebuah usaha unrtuk mengenal dunia manusia.

Rasionalisme telah menjadi tren yang dimulai selama zaman Renaissance, tetapi karakteristik secara khususnya pada retorika periode berikutnya-Zaman Pencerahan (1600-1800 Masehi). Selama era ini, para pemikir seperti Rene Descartes mencoba untuk menemukan apa yang dapat diketahui secara absolut dan objektif oleh pikiran manusia. Francis Bacon, mencari persepsi petunjuk dengan penelitian empiris, berpendapat bahwa kewajiban retorika adalah untuk “lebih baik mengaplikasikan alasan dengn imajinasi supaya sesuai dengan keinginan.” Logika atau pengetahuan juga terpisah dari bahasa dan retorika hanya menjadi cara unyuk menyampaikan kebenaran tersebut diketahui. Perpecahan ini-memisahakan isi dari perhatian retorika-ditambahkan pada definisi-definisi negatif retorika yang terjadi saat ini.

Fokus pada rasional selama Zaman Pencerahan juga berarti bahwa selagi retorika dibatasi karena gayanya memunculkan pergerakan belles lettres-yang artinya harfianya surat-surat indah atau menarik. Belles lettres mengacu pada karya sastra dan semua karya seni murni-retorika, puisi, drama, musik, dan bahkan berkebun-dan semua ini dapat di uji menurut kriteria estetika yang sama. Dengan ketertarikan dalam gaya, selera, dan estetika tidak mengherankan jika sebuah gerakan seni deklamasi mengajarkan penghafalan serta sistem gerak tubuh dan gerakan untuk pembicaraan juga muncul ke permukaan.

Para pendeklamasi memiliki dua tujuan utama: untuk memulihkan peraturan-peraturan penyampaian yang sebagian besar diabaikan sejak era klasik, untuk menigkatkan gaya penyampaian yang buruk dari pembicara pada masa tersebut; dan untuk berkontribusi secara ilmiah untuk memahami manusia dengan meneliti pengaruh-pengaruh dari berbagai aspek penyampaian pada pikiran audiensi.

Abad ke-20-dan retorika kontemporer yang mengiringinya-menunjukan sebuah kenaikan pertumbuhan dalam retorika ketika jumlah, jenis, dan pengaruh simbol-simbol meningkat. Ketika sebuah abad dimulai dengan sebuah penekanan pada nilai berbicara dimuka umum bagi masyarakat yang ideal, penemuan media massa menghadirkan fokus baru dalam visual dan verbal. Retorika bergeser fokusnya dari pidato kesemua jenis pengguna simbol. Selama masa dua perang dunia, lembaga-lembagamedia massa dibangun untuk meneliti propaganda, mulai meneliti periklanan, dan pesan-pesan melalui media massa. Saat ini, televisi dan film-film, papan iklan dan video games, situs-situs internet dan komputer grafis diteliti oleh para ahli retorika, sama banyaknya seperti naskah-naskah yang tidak saling berhubungan. Secara harfiah, tidak ada bentuk penggunaan simbol yang tidak dapat diteliti oleh para akademisi retorika.

Hal yang paling penting, periode kontemporer nampaknya juga kembali pada sebuah pemahaman mengenai retorika sebagai epistemika-sebagai sebuah cara untuk mengetahui dunia, bukan hanya sebuah cara untuk menyampaikan sesuatu tentang dunia. Sebagian besar ahli teori retorika saat ini menganut paham pada beberapa tingkatan dengan gagasan bahwa manusia menciptakan dunia-dunia mereka melalui simbol-simbol bahwa dunia yang kita kenal merupakan salah satu yang ditawarkan kepada kita oleh bangsa kita. Bentuk kuat posisi ini menyatakan bahwa kondisi-kondisi material di sekitarkita kurang penting dibandingkan dengan kata-kata yang kita gunakan untuk menyebutkan kenyataan dan bahwa mengubah tanda sesuatu atau simbol secara harfiah dapat menghasilkan sebuah dunia lain dengan menciptakan sebuah sudut pandang yang berbeda atau tutik yang lebih lemah hanya menyatakan peran penting yang dimainkan kita melakukan pendekatan terhadap dunia.

Kecenderungan lain yang muncul pada akhir abad ke-20 pada awal awal abad ke-21 telah menjadi jembatan antara retorika post-modernisme, terutama pada apresiasi post-modern dan penilaian pendirian yang berbeda. Sebagai contoh, ahli-ahli teori retorika post-modern mengistimewakan pendirian ras, kelas, gender, dan seksualitas ketika mereka masuk ke dalam pengalaman kehidupan khusus seseorang dari pada mencari teori-teori yang luas dan pewnjelasan-penjelasan mengenai retorika. Penganut paham feminis dan praktik-pratik retorika gender seringkali masuk dalam bigang post-modern, sama seperti teori queer (ganjil), pada kondisi para akad4emis retorika menguji fitur-fitur yang berbeda dari penyampaian keganjilan publik dan bentuk-bentuk retorika lain untuk memahami perbedaan-perbedaan yang ditawarkan oleh queef rethor. Pembuatan semua jenis retorika pengganti-Afrosentris, Afrosentris, suku asli Amerika, suku Aborigin- merupakan bagian priyek post-modern dan telah membantu dalam mengubah karakter konterporer tradisi retorika.

Selanjutnya, retorika jauh berbeda dengan tanpa arti, kosong, atau pembicaraan ornamental. Hal ini merupakan seni dasar dan praktik komunikasi manusia. Ketika retorika berhubungan dengan praktik pidato menurut standar tunggal yang dikembangkan di Yunani, saat ini kita mengetahui ke beradaaan banyak ahli pidato yang masing-masing menawarkan subut pandang yang berbeda dalam penggaunaan simbol. Akan tetapi, karena buku ini berfokus pada teori-teori komunikasi dalam bidang ilmu, kita tidak akan memasukkan banyak teori yang secarta tradisional di anggap retorik. Jadi, kita memiliki satu bagian untuk tradisi retorik ketika kita melewati beragam konteks komunikasi; teori-teori retorik tersebut akan dicangkup dalm tradisi lain yang sesuai.