Apakah yang dimaksud dengan Konsep Pemasaran Holistik (Holistic Marketing)?

Dalam teori marketing terdapat konsep holistic marketing. Apakah maksud dari konsep Pemasaran Holistik atau holistic marketing? Bagaimana contoh di skenario nyata?

2 Likes

Marketing is “The process by which companies create value for customers and build strong customer relationships in order to capture value from customers in return.” (Kotler dan Arrmstrong, 2012)

Pemasaran tidak hanya berorientasi kepada penjualan dan iklan, tetapi lebih menitikberatkan kepada pemuasan kebutuhan pelanggan melalui penciptaan dan penyampaian nilai (value) dengan menciptakan hubungan yang erat dengan pelanggan sehingga akan dapat diperoleh nilai (value) dari pelanggan sebagai balasannnya (penjelasan dapat dilihat pada gambar di bawah ini).


Gambar Model Proses Pemasaran

Konsep pemasaran

Konsep pemasaran (Marketing Concept) menitikberatkan kepada pencapaian tujuan perusahaan melalui pemahaman kebutuhan dan keinginan konsumen atau target pasar dan memberikan kepuasan yang diinginkan konsumen lebih dari pesaing. Pada konsep pemasaran, keuntungan dapat dicapai dengan fokus kepada konsumen.

Konsep pemasaran merupakan filosofi yang berpusat kepada konsumen dengan cara “sense and respond”, merasakan dan merespon. Tujuannya adalah mencari produk yang tepat bagi pelanggan, bukan mencari pelanggan yang tepat bagi produk perusahaan.

Konsep Pemasaran
Gambar Konsep Pemasaran

Konsep Pemasaran Holistik

Konsep Pemasaran Holistik (Holistic Marketing Concept) didasari pada pengembangan, perancangan, dan implementasi dari aktivitas, proses dan program pemasaran yang memahami keluasan dan keterkaitannya.

Pada gambar dibawah ini dapat dilihat empat komponen yang membedakan konsep pemasaran holistik, yaitu relationship marketing, integrated marketing, internal marketing, dan performance marketing.

Konsep Pemasaran Holistik
Gambar Konsep Pemasaran Holistik

1. Relationship Marketing

Tujuan dari pemasaran adalah untuk membangun lebih dalam, mementingkan hubungan dengan orang lain dan perusahaan lain yang baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kesuksesan aktivitas pemasaran perusahaan. Relationship marketing bertujuan untuk membangun hubungan jangka panjang yang berkualitas dengan semua pihak terkait dengan maksud untuk dapat menghasilkan dan mempertahankan usaha mereka sebaik mungkin.

Empat konstituen kunci dalam relationship marketing yaitu pelanggan, karyawan, rekanan (channels, suppliers, distributors, dealers, agencies), dan anggota komunitas keuangan (shareholders, investors, analysts).

Pemasar harus dapat menciptakan kemakmuran kepada semua konstituen dan mengembalikannya kepada semua stakeholders. Untuk membangun hubungan yang kuat dibutuhkan pemahaman atas kemampuan dan sumber daya, kebutuhan, tujuan dan hasrat mereka.

Hasil dari semua ini adalah aset perusahaan yang disebut jaringan pemasaran (marketing network), yang melibatkan perusahaan dan stakeholders, yaitu pelanggan, karyawan, pemasok, distributor, pengecer, dll. Kuncinya adalah membangun hubungan dalam jaringan secara efektif dengan stakeholders, dan keuntungan dapat diraih dengan mudah.

Semakin banyak perusahaan yang memilih memiliki merek (brands) dibandingkan memiliki aset fisik dan melimpahkan aktivitas produksinya kepada perusahaan lain yang dianggap mempunyai kemampuan lebih baik. Buavita adalah merek produk sari buah dalam kemasan, yang semula dimiliki oleh Ultrajaya, lalu merek (brand) tersebut diakuisisi oleh Unilever pada tahun 2007, tetapi produksi tetap dilakukan di Ultrajaya.

Perusahaan juga mengelola penawaran, pelayanan, dan pesan yang terpisah kepada pelanggan berdasarkan informasi transaksi di masa lalu, demografi, psikografi, dan kecenderungan media dan distribusi. Dengan berfokus kepada pelanggan yang paling menguntungkan, produk dan saluran, perusahaan berharap mencapai pertumbuhan keuntungan, mendapatkan bagian dari pembelanjaan konsumen dengan membangun loyalitas konsumen yang tinggi.

Menarik perhatian pelanggan baru memakan biaya lima kali lebih tinggi dibandingkan memelihara pelanggan yang sudah ada, sehingga relationship marketing juga menekankan pada pemeliharaan pelanggan.

Perusahaan membangun pangsa pasar dengan menawarkan variasi produk yang lebih banyak kepada pelanggan aktual, melatih karyawan dalam hal penjualan. Pemasaran juga harus dapat melaksanakan customer relationship management (CRM), dan partner relationship management (PRM) dengan baik.

Perusahaan mendalami kerjasama dengan pemasok dan distributor dengan lebih baik, dan memandang mereka sebagai rekan kerja dalam menyampaikan nilai (value) kepada pelanggan sehingga semua pihak mendapatkan manfaat (benefits).

2. Integrated Marketing

Integrated marketing muncul pada saat pemasar membagi aktivitas pemasaran dan menyatukan program pemasaran untuk menciptakan, berkomunikasi dan menyampaikan nilai kepada konsumen dengan prinsip “the whole is greater than the sum of its parts,” bahwa menyeluruh akan lebih baik.

Ada dua tema, yaitu

  1. banyak aktivitas pemasaran yang berbeda dapat menciptakan, berkomunikasi dan menyampaikan nilai dan
  2. pemasar harus merancang dan mengimplementasikan aktivitas pemasaran dengan aktivitas lain.

Sebagai contoh, apabila sebuah rumah sakit membeli perangkat MRI dari divisi sistem medis General Electric, maka mereka berharap mendapatkan dukungan instalasi yang baik, pemeliharaan, serta layanan pelatihan dalam paket pembeliannya. Semua komunikasi pemasaran harus terpadu (integrated). Menggunakan strategi komunikasi yang terpadu berarti memilih cara komunikasi yang dapat memperkuat dan mendukung satu sama lain.

Pemasar akan memilih secara selektif penggunaan media televisi, radio, dan iklan cetak, hubungan masyarakat dan events, dan komunikasi Humas dan Web site sehingga setiap alat akan dapat bekerja masing-masing dengan baik dan membantu serta dapat meningkatkan keefektifan satu sama lain. Setiap alat komunikasi juga diharapkan dapat menyampaikan secara konsisten pesan merek (brand message) pada setiap pelaksanaannya. Perusahaan juga membangun strategi saluran terpadu.

Perusahaan harus dapat menilai setiap pilihan saluran atas dampak langsung pada penjualan produk dan ekuitas merek (brand equity), juga dampak tidak langsung melalui interaksi dengan pilihan saluran yang lain. Pemasar harus dapat menimbang antara menggunakan terlalu banyak saluran, karena akan timbul konflik dan kesulitan dukungan, dan apabila menggunakan terlalu sedikit, yang dapat menimbulkan kesulitas menangkap peluang yang muncul.

3. Internal Marketing

Internal marketing, adalah elemen dari holistic marketing, tugasnya adalah mempekerjakan, melatih, dan memotivasi karyawan yang ingin melayani pelanggan dengan baik. Memastikan bahwa setiap orang dalam perusahaan memahami prinsip pemasaran dengan baik, terutama manajemen senior.

Pemasar yang cerdas mengenali bahwa aktivitas pemasaran di dalam perusahaan sebagai sesuatu yang sangat penting, sama pentingnya atau bahkan lebih penting dibandingkan dengan pemasaran ke luar perusahaan. Tidaklah mungkin untuk menjanjikan pelayanan yang prima sebelum karyawan perusahaan tersebut siap.

Blue Bird Group, sebuah perusahaan penyedia jasa transportasi taksi, memberikan penghargaan lencana dan piagam kesetiaan atas loyalitas karyawan yang bekerja dengan masa bakti yang cukup lama (8, 16, 24, 32 bahkan 40 tahun) serta memberikan beasiswa pendidikan kepada putra-putri dari karyawan mereka sampai dengan tingkat sarjana, lalu semua karyawan juga diberikan standar pelayanan pelanggan yang baku, sehingga semua karyawan di semua departemen turut melakukan kegiatan pemasaran kepada pelanggan.

Pemasaran bukan hanya tanggung jawab satu departemen, tetapi menjadi tanggung jawab perusahaan secara keseluruhan yang akan membawa kepada visi, misi, dan perencanaan strategis perusahaan. Akan berhasil apabila semua departemen dalam perusahaan bekerja sama untuk mencapai tujuan pelanggan, pada saat bagian rekayasa merancang produk, bagian keuangan menyediakan dana yang cukup, bagian pembelian membeli bahan yang tepat, bagian produksi membuat produk yang tepat pada saat yang tepat dan bagian akunting mengukur keuntungan secara tepat.

Merupakan harmoni antar departemen yang hanya dapat benar-benar dicapai bersamaan, pada saat manajemen berkomunikasi secara jelas mengenai visi tentang bagaimana orientasi pemasaran perusahaan dan filosofi perusahaan dalam melayani pelanggan. Internal marketing membutuhkan penyesuaian secara vertikal dengan senior management dan penyesuaian horizontal dengan department lain, sehingga semua bagian memahami, menghargai, dan mendukung upaya pemasaran.

4. Performance Marketing

Performance marketing membutuhkan pemahaman pengembalian materi dan non materi kepada perusahaan juga masyarakat melalui program dan aktivitas pemasaran. Para pemasar puncak mulai melihat lebih jauh dari sekedar peningkatan penjualan dalam menilai pencapaian hasil pemasaran dan menerjemahkan apa yang terjadi dan terlihat terhadap pangsa pasar, tingkat kehilangan pelanggan, kepuasan pelanggan, kualitas produk dan alat ukur lainnya. Mereka juga mempertimbangkan dampak program dan aktivitas pemasaran terhadap hukum, sosial dan lingkungan.

  • Financial accountability, para pemasar diminta untuk memperlihatkan investasi mereka dalam bentuk finansial dan keuntungan, sama besarnya dengan membangun brand dan meningkatkan jumlah pelanggan. Mereka menggunakan lebih banyak variasi ukuran finansial untuk menilai nilai langsung maupun tidak langsung dari upaya pemasaran mereka sehingga mereka dapat melihat apakah nilai pasar perusahaan muncul dari aset tak berwujud, terutama brand, basis pelanggan, karyawan, hubungan dengan distributor dan pemasok, serta modal intelektual.

    Ukuran pemasaran dapat membantu perusahaan mengukur dan membandingkan kinerja pemasaran mereka dalam dimensi yang lebih luas. Riset pemasaran dan analisis statistik dapat menilai efisiensi dan keefektifan setiap aktivitas pemasaran. Akhirnya, perusahaan dapat menggunakan proses dan sistem untuk membantu meningkatkan nilai dari analisis ukuran yang berbeda.

  • Social responsibility marketing, karena dampak dari kegiatan pemasaran dapat sangat luas bahkan melampaui perusahaan dan pelanggan secara keseluruhan, para pemasara harus dapat mempertimbangkan sisi etika, lingkungan, dan sosial atas aktivitas dan peran mereka. Tugas perusahaan adalah menentukan kebutuhan, keinginan, dan ketertarikan target pasar dan memuaskan mereka secara efektif dan efisien dibandingkan para pesaing dimana pada saat yang sama menjaga dan meningkatkan kelangsungan hidup konsumen dan masyarakat luas dalam jangka panjang.

Program CSR dari PT Djarum seperti Trees for Life, penanaman seribu pohon trembesi di pulau Jawa, juga beasiswa pendidikan Beswan Djarum, dan sekolah bulutangkis PB Djarum, lalu contoh lainnya, di akhir tahun 2013 program revitalisasi taman kota di Bandung serta beberapa upaya juga dilakukan oleh beberapa perusahaan di Bandung sebagai bagian dari program CSR perusahaan mereka, seperti pengadaan internet nirkabel (wi-fi) gratis di setiap taman kota tematik dan rumah ibadah yang merupakan sumbangan PT Telkom Indonesia, juga pengadaan bis wisata bertingkat BANDROS (BANDung touR On buS), yang salah satunya adalah sumbangan PT Telkomsel, adalah merupakan beberapa upaya perusahaan dalam melaksanakan konsep pemasaran holistik terutama social responsibility marketing dalam komponen performance marketing.

Berikut contoh pemasaran holistik pada Starbucks

Sumber : Edi Nurtjahjadi, Holistic Marketing Concept: Evolusi Konsep Pemasaran

Didasarkan pada pengembangan, perancangan, dan implementasi program pemasaran, proses pemasaran, dan kegiatan-kegiatan pemasaran yang mengakui keluasan dan interdependensi mereka. Ada empat komponen dari pemasaran holistik yakni pemasaran hubungan, pemasaran terpadu, pemasaran internal, dan pemasaran yang bertanggung jawab sosial (Kotler dan Keller, 2009).

konsep Pemasaran Holistik menjadi empat macam yaitu pemasaran internal, pemasaran kinerja, pemasaran terintegrasi dan pemasaran hubungan, berikut gambar dari Pemasaran Holistik.
image

Pemasaran holistik adalah filosofi pemasaran bisnis yang menganggap bisnis dan semua bagiannya sebagai satu kesatuan tunggal dan memberikan tujuan bersama untuk setiap kegiatan dan orang yang terkait dengan bisnis tersebut.

Sebuah bisnis seperti tubuh manusia: ia memiliki bagian yang berbeda, tetapi ia hanya dapat berfungsi dengan baik ketika semua bagian itu bekerja bersama menuju tujuan yang sama. Konsep pemasaran holistik menegakkan keterkaitan ini dan percaya bahwa perspektif yang luas dan terpadu sangat penting untuk mencapai hasil terbaik.

Filosofi pemasaran holistik memiliki beberapa fitur

  1. Tujuan Bersama
    Konsep pemasaran holistik percaya bahwa bisnis dan semua bagiannya harus fokus pada satu tujuan tunggal yang merupakan pengalaman pelanggan yang hebat.

  2. Kegiatan selaras
    Semua layanan, proses, komunikasi, dan kegiatan bisnis lainnya harus diarahkan ke tujuan bersama tersebut.

  3. Kegiatan Terpadu
    Semua kegiatan harus dirancang dan diintegrasikan sedemikian rupa sehingga dapat menciptakan pengalaman pelanggan yang terpadu, konsisten, dan mulus.

Komponen Pemasaran Holistik

Pemasaran holistik berfokus pada strategi pemasaran yang dirancang untuk memasarkan merek ke setiap orang yang terkait dengannya, baik itu karyawan, pelanggan lama atau pelanggan potensial, dan mengomunikasikannya secara terpadu sambil tetap mengingat tanggung jawab sosial dari bisnis (Corporate Social Responsibillity).

  1. Hubungan Pemasaran (Marketing relationship)
    Aspek hubungan pemasaran dari filosofi pemasaran holistik berfokus pada hubungan dan keterlibatan tujuan pelanggan jangka panjang daripada tujuan jangka pendek seperti akuisisi pelanggan dan penjualan individu. Strategi ini berfokus pada penargetan kegiatan pemasaran pada pelanggan yang ada untuk menciptakan koneksi pelanggan yang kuat, emosional, dan abadi. Koneksi ini semakin membantu bisnis dalam mendapatkan penjualan berulang, pemasaran gratis dari mulut ke mulut dan lebih banyak prospek.

  2. Pemasaran Terpadu (Intergrated marketing)
    Pemasaran terpadu adalah suatu pendekatan untuk menciptakan pengalaman terpadu dan tanpa hambatan bagi konsumen untuk berinteraksi dengan merek dagang, dengan merancang dan mengarahkan semua komunikasi (iklan, promosi penjualan, pemasaran langsung, hubungan masyarakat, dan pemasaran digital) sedemikian rupa sehingga semua bekerja sama sebagai kekuatan terpadu dan berpusat di sekitar citra merek yang kuat dan fokus.

  3. Pemasaran Internal (Internal Marketing)
    Ada dua jenis pelanggan untuk setiap bisnis: internal dan eksternal. Sementara berfokus pada pelanggan eksternal harus menjadi prioritas utama untuk setiap bisnis, pelanggan internal tidak boleh diabaikan begitu saja karena pelanggan internal (karyawan) ini memainkan peran penting dalam memasarkan merek dan produk ke pelanggan eksternal bisnis.

    Pemasaran Internal memperlakukan karyawan dan staf sebagai pelanggan internal yang harus diyakinkan tentang visi dan nilai perusahaan sama agresifnya dengan pelanggan eksternal. Ini juga melibatkan proses kerajinan yang membuat mereka memahami peran mereka dalam proses pemasaran.

  4. Pemasaran yang bertanggung jawab secara sosial (Socially responsible marketing)
    Aspek pemasaran yang bertanggung jawab secara sosial dari konsep pemasaran holistik melibatkan perhatian yang lebih luas dari masyarakat luas. Ini mengharuskan bisnis untuk mengikuti etika bisnis tertentu dan berfokus pada kemitraan dengan organisasi amal dan komunitas. Bisnis dianggap sebagai bagian dari masyarakat dan diharuskan membayar kembali hal yang sama.

    Pemasaran yang bertanggung jawab secara sosial mendorong dampak positif pada pemangku kepentingan perusahaan.

Referensi
  1. Nugraha, A D. 2014. Analisis Strategi Pemasaran Restoran Agricafe Di Kota Bogor. Skripsi. Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi Dan Manajemen IPB, Bogor.
  2. Pahwa, Aashish. 2018. Holistic Marketing : Meaning, Concept, and Importance. https://www.feedough.com/holistic-marketing/. Diakses 12 mei 2020.
    Sari, A I. 2013. Analisis Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Volume Penjualan Mobil Toyota Pada Pt.Hadji Kalla Cabang Urip Sumoharjo Di Makassar. Skripsi. Jurusan Manajemen FEB UNHAS, Makassar

Konsep pemasaran holistik merupakan suatu pendekatan terhadap suatu pemasaran yang mencoba mengakui dan mendamaikan lingkup dan kompleksitas kegiatan pemasaran.
Konsep pemasaran holistik menekankan nilai penting adanya keterkaitan semua aspek dalam perusahaan serta menjadikan semua program, proses dan aktivitas menjadi bagian dari aktivitas pemasaran.

Kotler dan Keller (2006) menjabarkan hal ini ”the holistic marketing concept is based on the development, design, and implementation of marketing programs, processes, and activities that recognizes their breadth and interdependencies. Holistic marketing recognizes that ’everything matters’ with marketing, and that a broad, integrated perspective is often necessary.”

Konsep ini melangkahkan pemasaran lebih jauh lagi dari sekedar memuaskan pelanggan dan memperhatikan lingkungan masyarakat. Bahwa perusahaan memiliki pemangku kepentingan lain yang juga harus dipuaskan.

Perusahaan harus dapat menjalin hubungan baik tidak hanya kepada konsumen serta kepada lingkungan-masyarakat, namun juga menjalin hubungan baik dengan karyawannya, pemasok, pemerintah serta mitra kerja.

Di awal perumusannya, konsep pemasaran holistik yang diajukan Kotler dan Keller (2006) cenderung memeiliki kedekatan dengan orientasi pasar yakni memiliki orientasi pasar internal dan eksternal.

Konsep pemasaran holistik tersebut memiliki 4 komponen utama yakni pemasaran internal (internal marketing), bauran pemasaran yang terintegrasi (integrated marketing), pemasaran relasional (relationship marketing) serta pemasaran dengan tanggung jawab sosial (socially responsible marketing).

Dalam perkembangannya, Kotler dan Keller (2009) mengganti komponen pemasaran dengan tanggung jawab sosial dengan pemasaran dengan perhatian pada hasil (performance marketing).

Dimensi Pemasaran Holistik


image

Keempat dimensi pemasaran holistik, dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Pemasaran Internal berkaitan dengan upaya menjadikan semua elemen dalam organisasi terlibat dan berpartisipasi dalam aktivitas pemasaran. Bahwa menjadikan semua sumber daya manusia internal sebagai pemasar yang berfokus pada pelanggan harus dilakukan untuk dapat melakukan aktivitas ke pihak eksternal dengan baik. Pemasaran internal memiliki 2 level utama dalam operasionalisasinya yakni menyiapkan SDM di tingkat departemen pemasaran sendiri dan dan untuk departemen lain (Kotler dan Keller 2009).

  2. Pemasaran Terintegrasi berkaitan dengan upaya mengintegrasikan berbagai aktivitas pemasaran (bauran pemasaran) kepada pelanggan. Berbagai alternatif bauran produk, penetapan harga, bauran promosi dan saluran distribusi harus dapat diarahkan untuk memberikan sinergi yang memberikan nilai superior bagi pelanggan (Kotler dan Keller 2012).

  3. Pemasaran Hubungan ditujukan untuk membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dengan pihak-pihak yang menjadi unsur kunci. Unsur-unsur kunci yang dimaksud antara lain: pelanggan, karyawan, mitra pemasaran (supplier, ritel, grosir) dan mitra keuangan (pemilik saham, investor, perbankan). Hasil nyata dari pemasaran hubungan ini diharapkan adalah adanya jaringan (marketing network) yang saling menguntungkan (Kotler 2012).

  4. Pemasaran dengan perhatian pada kinerja berkaitan dengan pemahaman terhadap nilai penting pengukuran kinerja sebagai dampak dari berbagai aktivitas pemasaran baik secara finansial maupun nonfinansial. Dengan demikian dampak yang dimaksud dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok yakni: pengukuran dalam akuntabilitas keuangan dan tanggung jawab sosial (Kotler dan Keller 2012).

    Adanya akuntabilitas keuangan inilah yang menjadikan adanya perubahan dimensi dari pemasaran holistik yang diajukan Kotler dan Keller tahun 2006 (yakni adanya dimensi pemasaran dengan tanggung jawab sosial) dengan yang diajukan tahun 2009 (menjadikan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari penilaian kinerja).

Konsep Pemasaran Holistik ini diperkenalkan pertama kali oleh Kotler dan Keller (2007), yang kemudian menjadi mantra baru dalam disiplin ilmu pemasaran. Konsep pemasaran holistik menekankan nilai penting adanya keterkaitan semua aspek dalam perusahaan serta menjadikan semua program, proses dan aktivitas menjadi bagian dari aktivitas pemasaran.

Konsep ini melangkahkan pemasaran lebih jauh lagi dari sekedar memuaskan pelanggan dan memperhatikan lingkungan masyarakat. Bahwa perusahaan memiliki pemangku kepentingan lain yang juga harus dipuaskan. Perusahaan harus dapat menjalin hubungan baik tidak hanya kepada konsumen serta kepada lingkungan-masyarakat, namun juga menjalin hubungan baik dengan karyawannya, pemasok, pemerintah serta mitra kerja.

Di awal perumusannya, konsep pemasaran holistik yang diajukan Kotler dan Keller (2006) cenderung memeiliki kedekatan dengan orientasi pasar yakni memiliki orientasi pasar internal dan eksternal. Konsep pemasaran holistik tersebut memiliki 4 komponen utama yakni pemasaran internal ( internal marketing ), bauran pemasaran yang terintegrasi ( integrated marketing ), pemasaran relasional (relationship marketing) serta pemasaran dengan tanggung jawab sosial ( socially responsible marketing) . Dalam perkembangannya, Kotler dan Keller (2009) mengganti komponen pemasaran dengan tanggung jawab sosial dengan pemasaran dengan perhatian pada hasil ( performance marketing ).

Dimensi Pemasaran Holistik

Keempat dimensi pemasaran holistik, dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Pemasaran Internal berkaitan dengan upaya menjadikan semua elemen dalam organisasi terlibat dan berpartisipasi dalam aktivitas pemasaran. Bahwa menjadikan semua sumber daya manusia internal sebagai pemasar yang berfokus pada pelanggan harus dilakukan untuk dapat melakukan aktivitas ke pihak eksternal dengan baik. Pemasaran internal memiliki 2 level utama dalam operasionalisasinya yakni menyiapkan SDM di tingkat departemen pemasaran sendiri dan dan untuk departemen lain (Kotlerdan Keller, 2009).

  2. Pemasaran Terintegrasi berkaitan dengan upaya mengintegrasikan berbagai aktivitas pemasaran (bauran pemasaran) kepada pelanggan. Berbagai alternatif bauran produk, penetapan harga, bauran promosi dan saluran distribusi harus dapat diarahkan untuk memberikan sinergi yang memberikan nilai superior bagi pelanggan (Kotler dan Keller 2012).

  3. Pemasaran Hubungan ditujukan untuk membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dengan pihak-pihak yang menjadi unsur kunci. Unsur-unsur kunci yang dimaksud antara lain: pelanggan, karyawan, mitra pemasaran (supplier, ritel, grosir) dan mitra keuangan (pemilik saham, investor, perbankan). Hasil nyata dari pemasaran hubungan ini diharapkan adalah adanya jaringan (marketing network) yang saling menguntungkan (Kotler 2012)

  4. Pemasaran dengan perhatian pada kinerja berkaitan dengan pemahaman terhadap nilai penting pengukuran kinerja sebagai dampak dari berbagai aktivitas pemasaran baik secara finansial maupun nonfinansial. Dengan demikian dampak yang dimaksud dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok yakni: pengukuran dalam akuntabilitas keuangan dan tanggung jawab sosial (Kotler dan Keller, 2012). Adanya akuntabilitas keuangan inilah yang menjadikan adanya perubahan dimensi dari pemasaran holistik yang diajukan Kotler dan Keller tahun 2006 (yakni adanya dimensi pemasaran dengan tanggung jawab sosial) dengan yang diajukan tahun 2009 (menjadikan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari penilaian kinerja).

Perubahan yang dilakukan Kotler dan Keller (2012, hal 47) dengan versi baru model pemasaran holistik bukan hanya berkaitan dengan dimensi dari pemasaran holistik. Perubahan yang lebih revolusioner bahkan dilakukan Kotler dan Keller (2012) terhadap pemaknaan 4 Ps. 4 Ps tradisional (Product, Price, Promotion dan Place) hanya menjadi salah satu bagian saja dari bauran pemasaran 4 Ps baru yakni di bagian Program (Programs).

Adapun 3 P lainnya adalah orang-orang (People), proses (Processes) dan kinerja (Performance). 4 P baru ini sangat berkaitan erat dengan konsep pemasaran holistik. Karena orang-orang merupakan obyek dari pemasaran internal; 4 P tradisional merupakan obyek dari aktivitas pemasaran terintegrasi yang diarahkan kepada konsumen; kinerja merupakan hasil akhir yang harus diukur dalam pemasaran dengan perhatian pada kinerja; sedangkan proses dinyatakan sebagai kreativitas, disiplin serta struktur dalam mengelola aktivitas pemasaran.

Pemasaran Holistik 3.0

Pemasaran holistik berusaha menggambarkan bahwa aktivitas pemasaran sudah berada dalam tahapan strategik korporasi dan tidak hanya menjadi tanggung jawab departemen pemasaran semata. Konsep kolaborasi berbagai pihak internal dan eksternal terkait serta dan integrasi berbagai elemen dan departemen menjadi faktor kunci untuk menjadikan kesuksesan dalam jangka panjang. Dan aspek penting yang tidak dapat diabaikan adalah bahwa seluruh aktivitas untuk berkolaborasi menjalin sinergi dengan semua pihak terkait serta aktivitas mensinergikan aktivitas bauran pemasaran harus dapat diukur dan dinilai kinerjanya.

la ditilik lebih dalam, upaya pemodelan pemasaran holistik pada dasarnya belum sepenuhnya menyeluruh. Belum menyeluruhnya komponen yang dibahas setidaknya terlihat dalam komponen pemasaran relasional. Relasi yang diusulkan untuk dibina dalam jangka panjang adalah hubungan dengan 4 konstituen kunci yakni pelanggan, karyawan, mitra saluran distribusi dan supplier serta mitra keuangan.