Apakah micellar water aman untuk wajah?

Micellar water adalah pembersih wajah cair yang berbahan dasar air. Pembersih ini bisa digunakan untuk menghapus makeup, menyegarkan wajah, dan cuci muka.

1 Like

Menurut dr. Debra Luftman, seorang ahli dermatologi yang diwawancarai oleh ELLE, pembersih micellar baik dan aman untuk digunakan pada wajah. Ia menambahkan bahwa produk perawatan kulit ini justru lebih aman dibandingkan pembersih wajah biasa yang akan meninggalkan zat-zat kimia yang keras dan berbahaya pada kulit. Selain itu, pada beberapa kasus lapisan kulit juga akan jadi semakin tipis karena digosok dengan pembersih wajah yang mengandung sabun, alkohol, serta pewangi.

Pakar kecantikan dan perawatan kulit dari Amerika Serikat, dr. Tabasum Mir, juga merupakan salah seorang penggemar micellar water. Seperti dilansir dari Huffington Post, dr. Tabasum Mir mengungkapkan bahwa meskipun bahan-bahannya lebih alami dari pembersih biasa, micellar water mampu mengangkat minyak berlebih yang terkumpul dan menempel pada makeup setelah seharian penuh beraktivitas. Pembersih wajah yang tidak berwarna ini juga sangat lembut dan memiliki fungsi melembapkan kulit, tidak akan membuat wajah Anda kering seperti penghapus makeup biasa. Kulit wajah Anda pun akan tetap terjaga kekenyalannya.

Sejauh ini, para ahli percaya bahwa micellar water adalah pembersih wajah yang efek sampingnya paling kecil. Belum ada kasus di mana seseorang mengalami komplikasi tertentu akibat penggunaan pembersih wajah serbaguna ini. Namun, beberapa merek micellar water yang dijual di gerai-gerai kecantikan mungkin mengandung phenoxyetanol yang berfungsi sebagai bahan pengawet kosmetik. Meskipun alergi atau reaksi terhadap zat kimia tersebut sangat jarang terjadi, beberapa orang melaporkan munculnya iritasi pada kulit atau mata.

Sumber

Sejarah micellar water secara ilmiah


menurut Alfauziyah (2018) micellar water menggunakan konsep tegangan permukaan untuk membersihkan wajah, karena selain mengandung air, micellar water juga mengandung surfaktan (surfactant/surface active agent). Surfaktan adalah suatu kelompok senyawa yang memiliki gugus hidrofilik (suka air) dan gugus hidrofobik (tidak suka air), atau disebut juga ampifilik [2,3]. Karena strukturnya ini, surfaktan bisa berikatan dengan air dan minyak sekaligus. Oleh karena itu, senyawa ini juga banyak digunakan dalam produk kosmetik lainnya. Surfaktan bukanlah sesuatu yang baru ditemukan di era modern ini. Jangan heran, bahkan kosmetik mulai dikenal sekitar 10.000 – 8.000 BCE oleh masyarakat Mesir. Surfaktan mulanya digunakan sebagai bahan utama dari sabun, yang mulai diproduksi di Mesir sekitar tahun 3000 BCE dengan komposisi minyak zaitun dan thyme. Baru pada awal abad ke-7 CE, sabun diproduksi di Nablus, Kufa, dan Basra


Sumber: Pinterpandai.com

Surfaktan diklasifikasikan berdasarkan gugus hidrofiliknya menjadi surfaktan anionik, kationik, amfoterik, dan nonionik. Surfaktan anionik (gugus hidrofilik bermuatan negatif) banyak digunakan untuk produk detergen, pembersih pakaian, dan sampo karena sifat pembersihnya yang sangat baik. Surfaktan kationik (gugus hidrofiliki bermuatan positif) terkandung dalam keratin sehingga digunakan sebagai hair conditioner. Surfaktan nonionik, merupakan kelompok surfaktan yang paling banyak, tidak larut dalam larutan air. Karakteristik utamanya adalah baik untuk kulit dan kompatibel terhadap bagian mata. Biasanya tipe surfaktan ini digunakan sebagai cleansing agent (kombinasi dengan surfaktan anionik) dan emulsifier. Paling banyak digunakan pada produk bayi atau kulit sensitif.

Diketahui bahwa surfaktan dapat menurunkan tegangan permukaan dan membentuk emulsi dari dua cairan yang berbeda kepolarannya (fase air dan fase minyak). Selain itu, fungsi surfaktan diantaranya adalah pembersih, pembasah, emulsifikasi, solubilisasi, dispersi, peningkat penetrasi, bahkan beberapa memiliki aktivitas antibakteri. Hampir setengah dari surfaktan yang ada, dipergunakan di sektor washing and cleaning .

Surfaktan dalam micellar water akan membentuk suatu misel akibat bersatunya gugus hidrofobik di bagian inti misel karena berada pada medium air, seperti terlihat pada gambar. Saat diaplikasikan pada kapas, yang cenderung hidrofil, maka gugus hidrofob akan menghadap ke atas/udara. Kemudian kapas kita usapkan ke kulit wajah yang tersusun atas lipid, maka kotoran yang menempel akan tersapu secara sempurna. Usut punya usut, micellar water pertama kali dikenal di Paris. Kala itu, wanita Paris beranggapan bahwa mencuci muka dengan air keran itu tidak sehat karena air keran kemungkinan mengandung bakteri. Oleh karena itu, terciptalah micellar water ini.

Referensi

Alfauziah, Q Tazynuil. 2018. Mengenal Kosmetik Pembersih Wajah Micellar Water dan Perkembangannya. Majalah Farmasetika, 3 (5) 2018, 94-97 https://doi.org/10.24198/farmasetika.v3i5.21635