Apakah masyarakat Indonesia sudah mengerti mengenai kesetaraan gender dan menerapkannya?

whatsapp-image-2021-01-04-at-01-18-59-5ff2d9398ede48161273fa62

Kesetaraan gender kerap menjadi perbincangan publik hingga saat ini. Hal tersebut dapat terjadi karena pro dan kontra mengenai kesetaraan gender tersebut. Kesetaraan gender adalah pandangan bahwa semua gender menerima perlakuan yang sama dan setara, serta tidak mengalami diskriminasi berdasarkan gender mereka. Mereka yang berada di sisi pro berpendapat bahwa kesetaraan gender sangat diperlukan karena dapat memberikan perlakuan yang sama bagi semua gender. Mereka yang pro dengan kesetaraan gender dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Di sisi lain, ada juga mereka yang kontra dengan kesetaraan gender. Mereka berpendapat bahwa laki-laki selalu berada lebih tinggi dari perempuan, serta laki-laki juga mendapatkan banyak privilege daripada perempuan. Pro dan kontra tersebut masih hadir hingga saat ini.

Nah, menurut Youdics gimana nih?

Referensi

Sumber dari Budaya Patriaki sebagai Penghalang Isu Kesetaraan Gender di Indonesia - Kompasiana.com

1 Like

Sebenarnya kalau patokannya zaman dahulu yang patriarkinya sangat kental gender equality di Indonesia saat ini sudah lebih baik sih namun tidak cukup baik juga sebenarnya. Berdasarkan survey dari 2016 Women’s Health and Life Experiences Survey, satu dari tiga wanita yang berusia 15-64 tahun pernaah mengalami kekerasan fisik/seksual dalam hidupnya. Survey yang diadakan pada tahun 2017 juga menyatakan bahwa hanya 51% wanita (pada usia kerja) yang memiliki pekerjaan, sangat jauh jika dibandingkan dengan pria yang mencapai 80%. Maka dari itu, kesetaraan gender di Indonesia masih jauh dari kata memuaskan.

Referensi:
Gender equality in Indonesia and related gender data

Bisa dibilang… fifty fifty, atau mungkin baru 40%. Contoh terdekat, jika Indonesia sudah mengerti dan membuka pandangannya tentang gender equality, sudah pasti RUU PKS segera disahkan. Dalam artian, orang yang menjadi korban kekerasan seksual pun juga mendapat perlindungan. MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Puspayoga menyebut tingkat kesetaraan gender di Indonesia masih rendah. Hal ini tecermin dari indeks kesetaraan gender yang dirilis Badan Program Pembangunan PBB (UNDP). Indonesia berada pada peringkat 103 dari 162 negara, atau terendah ketiga se-ASEAN. Adapun mengacu data lain, seperti Indeks Pembangunan Gender (IPG) di Indonesia per 2018 berada di angka 90,99. Kemudian, Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) berada pada angka 72,1. Kesetaraan gender berdampak langsung pada target kesetaraan pembangunan. Ketimpangan gender pun semakin terlihat di masa pandemi covid-19. Perempuan sebagai kelompok rentan yang seharusnya mendapatkan perlindungan, harus menghadapi berbagai tantangan. Seperti, beban sebagai pendidik, pencari nafkah, hingga ancaman kekerasan rumah tangga.

Referensi

Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/351154/kesetaraan-gender-di-indonesia-masih-rendah

Isu kesetaraan gender di Indonesia terutama perjuangan kaum perempuan agar dapat memiliki posisi yang setara dengan kaum laki-laki sebenernya menjadi isu yang banyak menuai pro-kontra. Di satu sisi, penelitian yang dilakukan oleh lembaga penelitian asal Singapura yang bernama ValueChampion menunjukkan hasil bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua di wilayah Asia-Pasifik sebagai negara yang paling tidak aman bagi kaum perempuan. Cakupan tidak aman tersebut adalah rendahnya jaminan kesehatan, perlindungan hukum, dan kesetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari. Lebih lanjut lagi, data dari UNICEF menunjukkan bahwa angka pernikahan di bawah umur bagi kaum perempuan di Indonesia masih tinggi. Sebanyak 14% anak di Indonesia telah menikah di umur 18 tahun, dimana pernikahan tersebut dapat sangat membatasi hak kebebasan mereka untuk mendapatkan pendidikan, meraih cita-cita, dan lebih rawan untuk mendapatkan kekerasan.

Namun, isu kesetaraan gender di Indonesia (terutama bagi perempuan) memiliki sisi yang lain. Hingga hari ini, Indonesia sangat banyak memiliki tokoh perempuan yang menduduki jabatan penting. Kita semua mengenal Megawati Soekarnoputri sebagai presiden wanita pertama di Indonesia, Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan wanita yang telah mendunia, serta Susi Pudjiastuti sebagai mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia yang menjadi inspirasi sosok pemimpin wanita yang tegas. Lebih lanjut lagi, kita juga mengenal para pemimpin wanita pada zaman penjajahan seperti Kartini dan Cut Nya Dien. Sosok-sosok tersebut menjadi bukti bahwa tidak selamanya kaum perempuan di Indonesia selalu tertindas dan tidak dapat memimpin.

Mungkin kita juga lupa bahwa isu kesetaraan gender tidak hanya dialami oleh kaum perempuan. Contoh isu kesetaraan gender bagi kaum laki-laki adalah adanya lowongan pekerjaan yang khusus bagi perempuan. Menurutku, baiknya sebuah lowongan pekerjaan jangan hanya mengkhususkan untuk salah satu jenis kelamin. Jika kita ingin setara, maka setiap laki-laki dan perempuan hendaknya memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan. Jika mungkin kaum perempuan ingin setara dengan laki-laki, maka mereka juga harus dapat bersaing kualitasnya terutama dalam dunia pekerjaan.

Sumber

Bharwadj, G. & Dunstan, I. (2019, 20 Mei). How Women are Transforming Indonesia. Diakses pada 23 Juli 2021, dari How Women are Transforming Indonesia.

Heriyanto, D. (2019, 6 Maret). Indonesia ranked second-most dangerous place for women in Asia Pacific: Study. Diakses pada 23 Juli 2021, dari Indonesia ranked second-most dangerous place for women in Asia Pacific: Study - National - The Jakarta Post.