Apakah makna dari mendirikan shalat?

Berikut ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan perintah untuk mendirikan shalat ;

QS. Al-Baqarah [2] : 177

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

QS. Al-Ma’idah [5] : 55

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

QS. Al-'Anfal [8] : 3

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

QS. An-Naml [27] : 3

(yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.

QS. Luqman [31] : 4

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.

Apakah makna dari mendirikan shalat itu sendiri ?

Secara etimologi shalat berarti do’a dan secara terminology atau istilah, para ahli fiqih mengartikan secara lahir dan hakiki. Secara lahiriah shalat berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah menurut syarat – syarat yang telah ditentukan. ( Sidi Gazalba, Asas Agama Islam, Jakarta: Bulan BIntang, 1975)

Secara hakiki, shalat ialah “berhadapan hati (jiwa) kepada Allah, secara yang mendatangkan takut kepada-Nya serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa kebesarannya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya” atau “mendahirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau dengan kedua – duanya” (Hasby Ash- Shidiqy, Pedoman Shalat, Jakarta: Bulan Bintang, 1976)

Dalam pengertian lain shalat ialah salah satu sarana komunikasi antara hamba dengan Tuhannya sebagai bentuk, ibadah yang di dalamnya merupakan amalan yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam, serta sesuai dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan syara’. (Imam Bashori Assuyuti, Bimbingan Shalat Lengkap, Jakarta: Mitra Umat, 1998)

Dari semua dalil Al-Qur’an, penggunaan kata “mendirikan” pastinya berbeda dengan kata “mengerjakan”, hal ini apabila dilihat dari unsur kata “mengerjakan” itu tidak mengandung unsur batiniah sehingga banyak mereka yang Islam dan melaksanakan shalat, tetapi mereka masih berbuat keji dan mungkar.

Sedangkan kata “mendirikan” selain mengandung unsur lahir juga mengandung unsur bathiniah sehingga apabila shalat telah mereka dirikan, maka mereka tidak akan berbuat jahat.

Ibnu Abbas ra pernah berkata, “Mendirikan sholat adalah menyempurnakan rukuk, sujud, bacaan, khusyuk, dan menghadapi sholat dengan penuh kesempurnaan.”

Pengertian shalat secara bahasa berarti do’a memohon kebaikan dan pujian. Sedangkan shalat dalam perspektif Fiqih adalah beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam, dan menurut syarat-syarat yang telah ditentukan’.

Kata As-shalah dalam bahasa Arab itu mempunyai dua makna (dua akar kata) yaitu shalla dan washala. Shalla artinya berdo’a, jadi kita memohon atau menyeru kepada Allah. Washala artinya sama dengan shilah, yaitu menyambungkan. Jadi shalat itu mempunyai makna adanya ketersambungan kita sebagai hamba dengan Allah.

Dalam pengertian lain shalat ialah salah satu sarana komunikasi antara hamba dengan Tuhannya sebagai bentuk ibadah yang di dalamnya merupakan amalan yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, serta sesuai dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan syara’. Shalat dalam pandangan Islam adalah merupakan bentuk komunikasi manusia dengan Tuhannya dan sekaligus sebagai cermin keimanan bagi seorang mukmin.

Dalam kajian tasawuf, secara umum ada dua makna sufistik shalat.

  • Pertama, shalat itu adalah mi’raj artinya mendaki, taraqqi menuju Allah. Dan setiap kali hamba Tuhan akan mendaki (mi’raj) pada saat itu Tuhan akan turun. Misalnya bagi orang yang shalat, tetapi shalat itu tidak pernah mengangkatnya maka shalatnya itu diragukan. Karena merasa tidak dekat dengan Allah. Artinya orang itu baru shalat secara lahiriyah dan secara sufistik belum menimbulkan perubahan yang ada dalam dirinya. Karena tujuan dari pada shalat bukan sekedar gerakan-gerakan badan, tetapi adanya keterkaitan hati dengan Allah.

    Di dalam sejarah, shalatnya Nabi saw. dan para sufi, badannya gemetar, mukanya pucat, bibirnya kadang bergetar saat membaca ayat-ayat Allah. Kalau ingin memperoleh shalat yang seperti itu, maka shalatlah seperti orang yang akan meninggal besok. Shalli shalatan shalata muwatti’, shalatlah seperti orang yang akan melepaskan atau meninggalkan dunia.

    Kalau kita mengetahui besok akan mati, pasti akan menyiapkan segala sesuatunya, salah satunya dengan melakukan shalat dengan sebaik-baiknya. Seperti kata Rasul, kalau ingin memperoleh shalat yang bisa menjadi mi’raj atau shalat yang bisa menjadi kendaraan, maka syarat utamanya adalah berupaya menjadikan shalatnya sebagai yang terakhir. Sehingga orang yang shalatnya demikian, tidak akan pernah merasakan capek.4 Justru dengan shalat, akan memperoleh kenikmatan dan ketenganan di dalam batinnya.

  • Kedua, shalat yang bisa menjadi kekuatan spiritual. Dalam konteks inilah bisa dimengerti bahwa fungsi shalat dalam persepsi al-Qur’an diklaim mampu mencegah kemungkaran.

    Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut [29]: 45)

    Shalat juga sebagai sumber segala kekuatan dan penolong

    Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (QS. Al-Baqarah [2]: 45)

    Kesabaran merupakan bekal yang harus dimiliki di dalam menghadapi setiap kesulitan dan penderitaan. Kesabaran dalam arti yang positif. Sabar dalam ketahanan diri, berarti tidak boleh panik. Sabar dalam ketahanan jiwa agar tetap tegar dan mantap. Sehingga mampu menenangkan diri dan menepis kepanikan apalagi frustasi. Ketika mengalami kesulitan dalam hidup, kebingungan, keraguan, keresahan dan mengalami kegoncangan jiwa maka kerjakanlah shalat, sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

    Apabila salah satu diantara kalian mempunyai urusan (persoalan) maka shalatlah dua rakaat di luar shalat fardhu (shalat sunnah).

    Ketika kita mengalami problematika dalam kehidupan, maka kerjakanlah shalat sebagai alat komunikasi dengan Sang Khaliq. Di mana kita bisa mengadu, bersimpuh dan berdialog kepada –Nya tentang persoalan yang kita hadapi. Dengan demikian akan terjalin hubungan yang sangat kuat di dalam batinnya. Hati akan mengalami ketenangan, ketentraman dan kedamaian.

    Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Taubah [9]: 103)

    Dengan shalat dapat menjernihkan jiwa yang resah dan gelisah menghilangkan rasa dahaga, ibarat sebagai sumber mata air yang mengalir pada saat terik panas matahari. Sebagaimana terdapat dalam

    Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir. kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, (QS. Al-Ma’arij [70]: 19-23)

Shalat merupakan aktifitas jiwa (soul), sebuah proses perjalanan spiritual yang penuh makna yang dilakukan oleh seorang hamba untuk bertemu dengan Sang Khaliq. Shalat diibaratkan sebagai suatu perjalanan ruhani, karena semua gerak- gerik di dalamnya diiringi dengan niat. Dengan mendirikan shalat, manusia telah menempuh setengah perjalanan menuju Allah, ditambah dengan puasa, maka telah sampai ke pintu-Nya dan dilengkapi dengan sedekah, maka telah memasuki rumah- Nya.

Kita tidak menyadari untuk memanfaatkan shalat sebagai alat penolong, sumber hidup, penerang jiwa dan tempat di mana manusia harus bertanya dan berdialog tentang persoalan yang dihadapi atau bahkan persoalan yang sulit dipecahkan sekalipun. Oleh karena itu, shalat harus dipahami tidak hanya sebagai rutinitas kewajiban, tetapi sudah menjadi taraf kebutuhan.

Sering kita mendengar seseorang ketika diajak shalat mengatakan: “Ah nanti saja shalatnya kalau pikiranku sudah tenang”. Hal ini menunjukkan bahwa shalat merupakan bagian rutinitas yang sangat membebani. Shalat bukan lagi bagian dari kebutuhan ruhani. Padahal shalat ibarat sumber mata air yang mengalir yang tiada habisnya pada saat terik panas matahari, sedangkan perbekalan sudah mulai habis. Justru dengan shalat mereka akan mendapatkan tempat beristirahat dan sekaligus menghilangkan rasa dahaga yang dirasakan oleh rohaninya.

Shalat bukan sekedar membungkuk, bersujud dan komat- kamit bahkan tidak sadar dengan apa yang dilakukan. Kalau shalatnya benar-benar mengingat Allah, maka akan merasakan kadamaian dan ketenangan. Shalat adalah pekerjaan jiwa, jika shalat dilakukan dengan baik, maka akan menghasilkaan etos kerja yang profesional dan penuh tanggung jawab.

Shalat sebagai Perjalanan Ruhani Menuju Allah


Sebelum melakukan perjalanan ruhani menuju Allah, kita harus benar-benar suci secara lahiriah, dan harus mampu memadukan dua kesucian (kesucian lahir dan batin). Pakaian dan tempat shalatnya harus bersih dan suci. Jadi shalat itu mempunyai rangkaian sebelum dan sesudahnya. Kalau ingin menikmati shalat, maka perlu melihat bahwa shalat itu satu paket.

Misalnya ketika berwudhu sesuai dengan tuntutan Rasul. Karena wudhu sebagai ajang pembersihan jiwa, di mana dengan berwudhu akan mendapatkan cahaya yang memancarkan sinar di dalam wajahnya. Mulailah dengan mengucapkan: “Bismillahirrah-manirrahim”. Dengan menghubungkan jiwa kepada Allah. Mencuci kedua tangan, pastikan hati tetap bersambung kepada Allah sehingga merasakan ketenangan dan kesejukan di dalam dada. Bersihkan mulut dengan berkumur- kumur, mulut adalah organ tubuh yang paling penting untuk dibersihkan. Di tempat inilah segala makanan dikunyah. Sisa- sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi akan merangsang pertumbuhan kuman-kuman yang dapat merusak kesehatan mulut.

Bersihkan kedua lubang hidung, karena bulu-bulu yang tumbuh di dinding lobang hidung tidak cukup mampu untuk menyaring kotoran-kotoran udara yang penuh dengan polusi. Dengan membersihkan kotoran-kotoran tersebut, hidung akan bersih sehingga paru-paru akan jadi sehat. Basuhlah muka dan usaplah seluruh wajah secara perlahan-lahan dengan kalimat thayyibah agar muka tetap mendapatkan getaran cahaya Ilahi, sehingga wajah semakin berseri.

Kemudian membasuh kepala yang berfungsi untuk menurunkan suhu badan sehingga pikiran menjadi jernih. Membasuh kepala bisa untuk menghindari penyakit stress dan tekanan darah tinggi, serta melancarkan aliran darah ke otak. Menyapukan air ke kepala berarti membasuh kulit kepala yang berhubungan langsung dengan pernafasan lewat pori-pori. Secara psikologis, air mempunyai efek menentramkan pikiran dan jiwa.

Mengusap telinga akan menghasilkan rasa lebih sensitif terhadap getaran suara yang ditangkap oleh sel-sel pendengaran yang berbentuk rambut-rambut halus. Bahkan jika dilakukan dengan benar, getarang gelombang pada frekwensi 20.000 Hertz – 30.000 hertz akan tertangkap dengan baik, jika dilakukan dengan jiwa yang tenang. Dengan melatih jiwa berdzikir kepada Allah, kehalusan rasa akan dapat tercapai.

Ketika mencuci kaki dapat melancarkan aliran darah dan berfungsi untuk menguatkan kaki.
Ketika mencuci tangan, kaki, dan mulut, maka diiringi dengan do’a: Ya Allah tanganku yang selama ini melayani aku bertahun-tahun, bimbinglah, bersihkanlah tanganku ini dari produk-produk yang baik dan suci, serta bermanfaat bagi diriku, keluargaku dan bagi masyarakat. Ini adalah sebuah pembebasan diri dari jebakan-jebakan rutunitas. Ya Allah jadikanlah mukaku, martabatku, wajahku, diriku yang bersih karena siraman cahaya- Mu.Ya Allah sucikanlah telingaku agar terbiasa mencintai hal-hal yang bagus, sehingga dapat bermanfaat setiap yang aku dengar. Jangan sampai telingaku terkontaminasi dan lebih mencintai hal-hal yang kotor.

Setelah kesucian lahir, kemudian dilanjutkan dengan kesucian batin. Di mana ketika shalat harus mempersiapkan diri menghadap Allah dengan hati yang bersih. Penyakit-penyakit, kotoran-kotoran yang melekat di dalam jiwa harus dibersihkan. Dengan memadukan kesucian lahir dan batin dalam shalat akan melahirkan ketundukan, rasa takut dan cintanyan hanya kepada Allah. Sehingga mampu melepaskan tabi’at-tabi’at kebinatangan yang mengiringinya. Shalat bukan hanya sekedar gerakan seperti ruku’, sujud, tetapi esensi shalat adalah bilamana seseorang mampu menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar (QS. Al-ankabut [29]: 45).

Shalat diawali dengan berdiri membaca takbir. Pada saat itulah kita melihat ciptaan-Nya dengan memuji kebesaran- Nya. Dan menyadari bahwa Allah lah yang menciptakan alam semesta. Dengan memuji dan memohon kepada-Nya: Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan minta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Pada saat ruku’ dan sujud adalah momen ketika melihat sifat-sifat Allah, diiringi dengan membaca tasbih; Dia lah Yang Maha Agung dan Dia lah Yang Maha Tinggi. Pada saat duduk, membaca tasyahud; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Pada akhir shalat, dengan mengucapkan salam; menyampaikan keselamatan, kesejahteraan dan berkah Allah kepada semua makhluk yang ada di sebelah kanan dan sebelah kiri.

Oleh karena itu, setelah shalat seharusnya manusia aktif menjalankkan peran kekhalifahannya dengan melakukan transformasi sosial, mengelola semua ciptaan-Nya untuk merealisasikan misi Rasulullah saw. sebagai Rahmatan lil ‘Alamin dengan membangun tatanan kehidupan dunia yang aman, adil dan sejahtera.

Pada setiap gerakan dalam shalat disertai dengan ucapan “Allahu Akbar”. Inilah sebagai nilai lebih, bahwa konsentrasi kita ada di dalam gerak. Gerak mengadakan hubungan dengan Allah, mengadakan hubungan dengan semua ciptaan-Nya, menggarap diri dan mengembangkan lingkungan merupakan momen-momen yang sangat bernilai, sebab hal itu merupakan anak tangga untuk bisa berjumpa dengan Allah

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: «Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. (QS. Al-Kahfi [18]: 110)

Di dalam shalat harus diupayakan untuk berkonsentrasi melakukan transendensi, menggapai kesadaran bahwa nilai manusia tidak pada duduk, tidak pada berdiri, tidak pada rukuk dan sujud.Tetapi nilai manusia ada di dalam gerak (perbuatannya). Oleh karena itu, di dalam al-Qur’an kata amanu selalu dirangkai dengan wa amilussholihat (beramal shaleh dengan melakukan gerak yang positif).

Shalat harus dilakukan setiap hari, karena bahaya kontaminasi itu berlangsung terus menerus. Jadikanlah shalat sebagai suatu kebutuhan, bukan suatu beban dan rutinitas. Karena manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan asasi seperti kebutuhn makan dan minum. Shalat sebagai kebutuhan ruhani secara mutlak, karena ruhani yang bahagia adalah ruhani yang mengenal Tuhannya dan menjalin hubungan (komunikasi) dengan-Nya. Shalat sebagai sebuah pendakian atau perjalanan spiritual (berdialog dengan Allah), yaitu proses transendensi (berpindahnya jiwa) menuju Allah. Di mana manusia bisa berdialog dan berkomunikasi dengan Allah. Shalat dikatakan sebagai mi’rajnya orang yang beriman yaitu naiknya jiwa (mi’raj) meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah Yang Maha Tinggi.

Mi’raj itu artinya terbang, melintasi atau transend. Mi’raj adalah satu perjalanan meninggalkan bumi menuju Allah. Istilah mi’raj adalah terkait dengan peristiwa di mana Nabi Muhammad mengalami perjalanan dari Masjidil Haram menuju ke Masjidil Aqsha. Esensi mi’raj itu adalah satu perjalanan dari alam dunia (alam manusia) menuju ke haribaan Allah yang tujuannya untuk bertemu dengan Allah.
Shalat sebagai perjalanan ruhani, di mana naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam diri manusia menuju kehadirat Allah. Manusia harus bergerak di sebuah ruangan yang mana Allah sebagai poros sumbunya, seperti orang yang sedang thawaf mengelilingi Ka’bah. Thawaf adalah miniatur orang yang bergerak menjalani titah hidup di dunia ini. Sumbunya adalah Ka’bah sebagai miniatur spiritual ke- Esaan Allah. Orang yang telah mampu memahami bahwa Allah sebagai sumbu segala gerak hidupnya, dialah sebetulnya yang telah mengalami kebebasan. Sebab kebebasan secara spiritual merupakan kemampuan manusia menaklukan ego duniawinya dan desahan setan yang selalu tampak menggiurkan.

Manusia setelah mengalami proses transendensi berkomunikasi dengan Allah (lewat shalat), dituntut untuk aktif di dunia, memelihara kedamaian bagi umat manusia, menjaga kahermonisan alam, menyebarkan berkah dan selalu berpihak pada kebenaran dan keadilan. Dengan demikian, gerak kesadaran kehambaannya akan seirama dengan gerak kesadaran kekhalifahannya.
Kesadaaran penghambaan ini meniscayakan seluruh manusia untuk selalu tunduk, patuh dan mengorientasikan segala laku dan aktivitasnya hanya kepada Allah. Manusia bila sudah mampu mengorientasikan segala apa yang ada pada dirinya hanya kepada Allah, sebagai konsekuensi dari kehambaannya, maka dirinya akan menjadi manusia yang merdeka. Mampu keluar dari hegemoni kepentingan hawa nafsu yang cenderung menjauhkan diri dari Allah.

Metafor Jalaluddin Rumi mengenai manusia sejati seperti ngengat yang senantiasa mendekati lilin (Allah), memberi penjelasan bahwa manusia secara fitri diniscayakan untuk selalu mengorientasikan segala yang ada pada dirinya hanya kepada Allah sebagaimana ketulusan Nabi Ibrahim menerima perintah untuk menyembelih Isma’il.

Rasul mengajarkan kepada umatnya agar meluruskan arah jiwanya hanya kepada sang pencipta langit dan bumi (QS. Al- An’am [6]: 79). Karena dalam keadaan demikian setan tidak mampu mampu menembus alam keikhlasan orang mukmin. Setan hanya mampu menembus jiwa manusia ketika berada di alam rendah. Sebab pada alam tersebut masih terdapat alam keakuan dan kesombongan sehingga setan mampu mengendalikan pikiran, perasaan dan batin manusia.

Pada saat shalat manusia secara total menghadap Tuhannya, baik secara lahir maupun batin, tubuh, akal maupun ruh. Karena pada dasarnya hakikat diciptakannya manusia untuk mengabdi kepada Allah.

dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Az-Dzariyat [51]: 56)

Kesadaaran penghambaan ini meniscayakan seluruh manusia untuk selalu tunduk, patuh dan mengorientasikan segala laku dan aktivitasnya hanya kepada Allah. Manusia bila sudah mampu mengorientasikan segala apa yang ada pada dirinya hanya kepada Allah, sebagai konsekuensi dari kehambaannya, maka dirinya akan menjadi manusia yang merdeka. Mampu keluar dari hegemoni kepentingan hawa nafsu yang cenderung menjauhkan diri dari Allah.

Shalat merupakan ibadah yang paling besar, karena dalam shalat terdapat simbol tiga kegiatan dan kekuatan, yaitu tubuh, akal dan ruh (jiwa). Kegiatan tubuh dengan melakukan gerakan- gerakan shalat, kegiatan akal akan tampak ketika kita membaca, merenungkan dan memikirkan makna-makna yang terdapat dalam bacaan shalat. Sementara kegiatan ruh akan tampak ketika kita bertawajuh dan berserah diri kepada Allah.

Ketika shalat jiwa kita tidak akan terjebak oleh bisikan setan

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS. Zukhruf [43]: 36)

Oleh sebab itu, Allah menurunkan cara yang paling mudah untuk mengembalikan kesadaran agar jiwa kembali kepada fitrah. Dan setan tidak akan mampu menjangkau keadaan jiwa yang berserah diri kepada Allah

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaanNya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaanNya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya Jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS An-Nahl [16]: 99-100)

Rasul setelah melakukan mi’raj, beliau harus turun ke bumi. Kali ini turun menjadi khalifatullah fil ard yang mempunyai untuk membuat struktur atau tatanan kehidupan dunia aman, adil dan sejahtera. Pada prinsipnya khalifatullah fil ardh itu adalah bahwa setiap mukmin mempunyai tugas untuk menjadi reformis yaitu dituntut untuk mampu memberikan kedamaian dan keharmonisan di muka bumi.
Abdul Quddus seorang sufi dari anak Benua India mengatakan: saya bersumpah, demi Allah kalau sekiranya saya mengalami mi’raj seperti yang dialami oleh Rasulullah, maka saya tidak akan turun ke bumi. Karena perjumpaannya dengan Allah adalah merupakan pengalaman yang paling puncak dari pengalaman keberagamaan seseorang. Namun Rasulullah tidak demikian, Rasul tidak bersifat egois, setelah bertemu dengan Allah lewat mi’raj kemudian turun ke bumi. Rasul menjalankan fungsi kerasulannya dengan potensi yang dimiliki sebagai hasil mi’raj atau pertemuannya dengan Allah.

Rasulullah setelah mengalami mi’raj kemudian turun ke bumi melakukan aksi-aksi sosialnya dengan melakukan transformasi sosial, mengurus orang-orang yang lemah, orang- orang yang berada di garis kemiskinan dan kebodohan serta sebagai aktor dalam perkembangan peradaban manusia baik secara sosial, ekonomi, politik dan sebagainya.

Kita harus bercermin sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasul. Shalat kita harus mampu menyerap energi Ilahi ke dalam tubuh sehingga berhasil dengan baik. Dengan demikian gerak aktivitas kita akan mengeluarkan energi yang bermanfaat bagi sesama dan alam semesta. Orang-orang yang telah mampu menyerap energi Ilahi di ambang fajar inilah yang dijelaskan oleh al-Qur’an sebagai orang yang mempunyai posisi terpuji. Layaknya matahari dan bulan, matahari adalah benda langit yang mempunyai cahaya sendiri, sedangkan bulan sejatinya tidak bercahaya. Mengapa bulan bercahaya? Karena bulan berhasil mengahadapkan dirinya dengan tepat ke arah matahari yang bercahaya, sehingga ia mampu mengeluarkan cahaya yang indah di bumi.

Setelah melakukan proses penyerapan energi Ilahi dalam wujud konkretnya adalah dengan meneladani sifat-sifat Allah dalam kehidupan sehari-hari. Allah adalah Maha Pengasih dan Penyayang, maka kita pun mestinya bersifat saling menyayangi dan mengasihi kepada sesama.

Banyak orang bertanya-tanya kenapa orang yang shalat, bahkan hajinya berkali-kali, tetapi perilakunya tidak berubah? Al-Qur’an kah yang keliru?

Jadi sesungguhnya bukanlah shalat bagi orang-orang yang shalatnya itu tidak dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Sehingga janganlah heran, meskipun shalat itu dirancang oleh Allah untuk melatih manusia agar terhindar dari perbuatan keji (kotor) dan munkar, tetapi sehari- hari tetap saja melakukan hal-hal yang tercela. Kenapa? Karena mereka belum memahami tentang hakikat shalat, sehingga tidak memberikan dampak dan pengaruh kepada perilakunya.

Para sufi mengatakan, Allah sebetulnya memberikan kekuatan spiritual kepada manusia yang shalat, karena dengan shalat bisa menjadi benteng bagi dirinya. Seandainya shalat kita belum mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar, maka belum dikatakan shalat secara ruhani.

Ada sebagian orang yang beranggapan, bahwa shalat dianggap sebagai sesuatu yang memberatkan dan menjemukan. Padahal dengan shalat, Allah akan menyambut doa-doa dari hamba-Nya. Allah akan menurunkan ketenangan kepada jiwa- jiwa yang resah, gelisah dan menerangi hati yang gelap. Bagi orang mukmin, shalat ibarat sumber mata air yang mengalir yang tiada habisnya pada saat terik panas matahari. Allah telah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk menegakkan shalat. Shalat merupakan sebuah konsep meditasi yang sesuai dengan fitrah manusia, di mana pada saat shalat ruh dibiarkan lepas tanpa hambatan.

Islam menempatkan Zat yang Maha Mutlak sebagai puncak tujuan ruhani, sandaran istirahatnya jiwa, sumber hidup, sumber kekuatan, dan sumber mencari inspirasi. Dengan mengarahkan jiwa kepada Allah, ruhani akan mengalami pencerahan karena ia berada pada ketinggian yang tak terbatas, sehingga jiwa kembali pada kondisi seperti semula. Ketika shalat, ruhani bergerak menuju Zat yang Maha Mutlak. Pikiran terlepas dari keadaan riil dan panca indra melepaskan diri dari segala macam keruwetan. Melalui shalat kita bisa bertemu dengan Allah

Hai manusia, Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, Maka pasti kamu akan menemui-Nya. (QS. Al-Insyiqaq [84]: 6)

Shalat itu buahnya ada dua. Pertama, adalah akhlak pribadi dalam arti shalat itu bisa betul-betul mencegah dari perbuatan keji dan munkar.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut [29]: 45)

Kalau shalat kita – sebagai proses mi’raj – hanya sebagai kesadaran kehambaan dan belum sampai pada kesadaran kekhalifahan, maka yang muncul hanya kekuatan mengajak, belum sampai kepada keberanian untuk mencegah.

Ada perbedaan arti antara fakhsa’ dan munkar. Kalau fakhsa’ itu kejelekan yang bersifat universal, kejelekan yang memang jelek. Kalau munkar itu jelek juga, tetapi tergantung pada suatu nilai yang berkembang dalam masyarakat. Allah menjanjikan kepada manusia, bahwa shalat dapat mencegah pelakunya dari dua keburukan. Keburukan yang bersifat universal dan keburukan yang sifatnya tergantung dari tata nilai yang ada pada masyarakat tertentu.

Kedua, buah dari pada shalat adalah mempunyai rasa empati terhadap orang-orang yang lemah, sehingga mampu mengulurkan tangan untuk berbagi kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang kelaparan.21 Sebagai tolok ukur apakah shalat kita sudah benar artinya sudah mampu mencegah perbuatan keji dan munkar. Maka perlu melihat apakah akhlak kita semakin baik. Apakah hati kita selalu tergerak untuk menyantuni mereka yang membutuhkannya, ada keprihatinan, kepedulian atau empati kepada orang-orang yang lemah.

Rasul mengajarkan kepada umatnya agar meluruskan arah jiwanya hanya kepada sang pencipta langit dan bumi.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. Al- An’am [6]: 79)

Karena dalam keadaan demikian setan tidak mampu mampu menembus alam keikhlasan orang mukmin. Setan hanya mampu menembus jiwa manusia ketika berada di alam rendah. Sebab pada alam tersebut masih terdapat alam keakuan dan kesombongan sehingga setan mampu mengendalikan pikiran, perasaan dan batin manusia.