Apakah ada batasan dalam mengonsumsi tanaman Toga?

Masyarakat Indonesia telah mengenal Tanamam Toga sejak lama, dikonsumsi untuk menyembuhkan penyakit maupun menjaga stamina. Keluarga saya sendiri telah memercayakan tanaman toga sejak lama untuk mengobati penyakit seperti kolesterol dan darah tinggi. Namun apakah ada batasan dalam mengonsumsi Tanaman Toga? Apakah ada efek samping untuk penderita penyakit tertentu? dan Apakah pemerintah sendiri memiliki program untuk membudidayakan konsumsi tanaman toga?

Sampai saat ini belum ada penelitian lebih lanjut mengenai efek samping tanaman obat namun dibalik khasiatnya, kita tetap harus membatasi konsumsi tanaman obat, karena kita tidak pernah tau dosis yang sesuai untuk dikonsumsi.Efek samping tanaman obat diantaranya :

1.Ketika mengkonsumsi tanaman obat sebagai obat samping bersamaan dengan obat-obatan resep, kekuatan obat menjadi berlipat ganda dan merugikan tubuh kita
2.Dikhawatirkan menimbulkan keracunan dan kontaminasi,karena berdasarkan Psu.edu, zat kimia aktif di dalam tanaman yang dipakai sebagai obat-obatan penyakit manusia bisa jadi memiliki fungsi berbeda pada tanaman. Contohnya, bahan kimia tersebut dipakai tanaman untuk memproteksi diri dari hama, sehigga bersifat insektisida alami,jika obat ini diminum terus menerus dan terjadi akumulasi obat dalam tubuh manusia. dikhawatirkan akan berakibat buruk bagi manusia.

Mengenai program pemerintah, saya sendiri masih sangat awam namun dari artikel yang saya temukan bahwasanya Budidaya TOGA telah lama dilakukan oleh instansi terkait seperti Dinas Pertanian dan Peternakan Kabuaten Buleleng dengan kerjasama PKK, BKBPP dan Dinas Kesehatan.Terdapat Sosialisasi terhadap pemanfaatan di tingkat keluarga melalui program pengembangan TOGA untuk tujuan menunjang upaya peningkatan kesehatan oleh masyarakat secara optimal.

Sumber :

Pemanfaatan Toga untuk dikonsumsi ada baiknya di cari tahu sebelum dikonsumsi. Tidak semua tanaman toga bisa dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama dan intens. Contohnya kunyit dapat dikonsumsi sepanjang waktu tertentu maksimal 8 minggu. Kini terdapat penelitian dan jurnal ilmiah mengenai tanaman toga namun tak semua kalangan masyarakat dapat memahami isinya. Di sinilah tantangannya untuk mengedukasi masyarakat dalam memahami tanaman toga mulai dari cara menanam, merawat, memanen, pasca panen, dan pengolahan tanaman toga serta pola konsumsi yang baik.

Dari pemerintah sendiri, sebenarnya sudah dilakukan program kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan Toga. Salah satunya di suatu desa mempunyai tiga program utama, yaitu pengembangan SDM untuk pelayanan kesehatan berbasis terapi herbal, pengembangan rumah sehat, dan program promosi kesehatan. Program ini bagian dari PT Vale bermitra dengan Pemerintah Daerah Lutim dan menggandeng konsultan Yayasan Aliksa Organik SRI. Meskipun begitu tidak semua desa memiliki program seperti ini.

Sumber : http://www.vale.com/indonesia/BH/aboutvale/program-pengembangan-sosial/berita/Pages/toga-yang-memberdayakan-warga-desa.aspx

Pada dasarnya sesuatu yag berlebihan tidaklah baik, begitu juga dengan mengonsumsi tanaman toga. Belum pernah ada penelitian mengenai hal ini, sehingga kita tidak pernah mengetahui dosis dan konsentrasi yang pas untuk mendapatkan efektivitas obat.

Nah, tanaman obat juga dikhawatirkan menimbulkan keracunan dan kontaminasi. Menurut Psu.edu, zat kimia aktif di dalam tanaman yang dipakai sebagai obat-obatan penyakit manusia bisa jadi memiliki fungsi berbeda pada tanaman. Contohnya, bahan kimia tersebut dipakai tanaman untuk memproteksi diri dari hama, sehigga bersifat insektisida alami. Jika obat ini diminum terus menerus dan terjadi akumulasi obat dalam tubuh manusia. dikhawatirkan akan berakibat buruk bagi manusia.