Apa yang menjadi Pemicu Lahirnya Peradaban Emas Islam?

Pada zaman nya islam pernah mengalami masa-masa kejayaan atau masa peradaban emas.
Lalu, apa yang menjadi pemicu lahirnya peradaban emas Islam ?

1 Like

Setidaknya ada tiga faktor yang mendorong perkembangan ilmu di dunia islam pada masa kejayaannya yaitu:

1. Adanya suatu worldview dalam kemajuan sains merupakan unsur paling penting, dan ini bersumber dari Al-qur’an dan sunnah. Motif agama dalam mempelajari sains ini dapat kita temui dari pengakuan seorang ilmuwan terkemuka Al-Khawarizmi:

“Agamalah yang mendorong saya menyusun karya tulis singkat dalam hal hitungan dengan memakai prisip operasi hitung seperti penambahan dan pengurangan, yang berguna bagi pengguna aritmatika.”

Para ilmuwa muslim pada umumnya tidak pernah menjadikan harta dan jabatan sebagai tujuan untuk pencarian ilmu. Ibnu Rusyd, Ibn Hazm dan Ibn Kholdun adalah ilmuwan yang berasal dari keluarga kaya. Kekayaan tidak menghentikan mereka dalam pencarian ilmu begitu juga sebaliknya kemiskinan tidak pernah menghalangi kegairahan mereka terhadap ilmu.

2. Apresiasi Masyarakat

Tentunya beberapa umat muslim yang memiliki tingkat keimanan yang tinggi pasti akan menyadari bahwa betapa pentingnya ilmu tersebut, sehingga mereka mengapresiasi eksistensi ilmu yang berkembang yang berbentuk karya-karya tertulis maupun semacam seminar-seminar yang diadakan oleh penguasa.

Masyarakat islam pada saat itu begitu disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang berbau keilmuwan, mulai dari pidato-pidato para ulama sampai debat terbuka antar ulama. Masyarakat di bagdad misalnya, mereka sangat menggemari acara debat terbuka yang sering dilaksanakan ditempat-tempat umum.

3. Patronase penguasa

Patronase penguasa ini adalah upaya yang dilakukan oleh penguasa dan para orang kaya untuk memberikan perlindungan dan dukungan yang sangat loyal pada akademisi muslim untuk melakukan kegiatan-kegiatan ilmiah, sehingga mereka tidak segan-segan mengucurkan dana untuk riset mereka mendirika suatu lembaga pengajaran ilmu seperti Madrasah, perpustakaan dan lain-lain. Beberapa lembaga pendidikan yang ada di dunia islam pada masa kejayaannya yaitu Madrasah (College), Akademi, perpustakaan, rumah sakit, observatorium dan zawiyyah atau pusat-pusat latihan sufi

Dulu para penguasa dan orang-orang kaya akan mengupahinya dengan upah yang sangat mahal kepada seseorang yang berhasil membuat suatu karya ilmiah, dalamsejarahnya mereka memberikan emas seberat karya yang telah dirumuskan. Sehingga banyak dari mayarakat islam yang tertarik dengan mengadakan penelitian ilmiah, mulai dari melakukan penelitian medis, dan lain-lain.

Faktor Pendukung Perkembangan Pemikiran dan Peradaban


Perkembangan pemikiran dan peradaban memiliki keterkaitan antara yang satu dengan lainnya. Perkembangan pemikiran melahirkan peradaban, demikian juga sebaliknya, perkembangan peradaban dapat melahirkan pemikiran.

Jika dilihat dari segi pemikiran Islam, dapat dinyatakan bahwa perkembangan pemikiran Islam disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor- faktor tersebut diantaranya ialah:

  1. Pertama, sebagai usaha untuk memahami atau mengambil istinbath (intisari atau pengajaran) hukum- hukum agama mengenai hubungan manusia dengan penciptanya dalam masalah ibadah. Juga hubungan sesama manusia dalam masalah muamalah. Masalah ini menyangkut persoalan ekonomi, politik, sosial, undang-undang dan lain-lain.

  2. Kedua, sebagai usaha untuk mencari jalan keluar (solusi) dari berbagai persoalan kemasyarakatan yang belum ada pada zaman Rasulullah Saw dan zaman sahabat, atau untuk memperbaiki perilaku tertentu berdasarkan ajaran Islam.

  3. Ketiga, sebagai penyelaras atau penyesuaian antara prinsip-prinsip agama Islam dan ajaran-ajarannya dengan pemikiran asing (di luar Islam) yang berkembang dan mempengaruhi pola pemikiran umat Islam.

  4. Keempat, sebagai pertahanan untuk menjaga kemurnian akidah Islam dengan menolak akidah atau kepercayaan lain yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan menjelaskan akidah Islam yang sebenarnya.

  5. Kelima, untuk menjaga prinsip-prinsip Islam agar tetap utuh sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw untuk dilaksanakan oleh umat Islam sepanjang masa hingga akhir zaman.

Perkembangan pemikiran dan peradaban umat Islam mencapai puncak kejayaannya pada masa Dinasti Abbasiyah. Untuk mencapai kejayaan tersebut, tergambar bahwa strategi dan aktivitas yang efektif dilakukan oleh para Khalifah Dinasti Abbasiyah adalah:

  • Pertama, keterbukaan. Jika dibandingkan dengan masa kekhalifahan Umayyah yang sangat membatasi diri dengan pihak luar, keadaan pemerintah Dinasti Abbasiyah sebaliknya. Bentuk pemerintahan Dinasti Umayyah lebih menonjol kepada pemerintahan Arab, sedangkan politik Dinasti Abbasiyah merupakan pemerintahan campuran dari segala bangsa.

  • Kedua, kecintaan pada ilmu pengetahuan. Pada masa Dinasti Abbasiyah, ilmu pengetahuan Islam banyak digali oleh para ulama (intelektual) Islam. Sebab para Khalifahnya sangat senang dengan ilmu pengetahuan. Karena itu dinasti ini sangat besar jasanya dalam memajukan peradaban Islam di mata dunia.

  • Ketiga, toleran dan akomodatif. Corak kehidupan orang-orang Abbasiyah lebih banyak meniru tata cara kehidupan bangsa Persia. Pada masa ini kebudayaan Persia berkembang sangat maju, sebab bangsa Persia mempunyai kedudukan yang baik di kalangan keluarga istana. Banyak orang Persia yang dipilih untuk mengendalikan pemerintahan Dinasti Abbasiyah (Yunus Ali Al Muhdar & Bey Arifin, 1983: 135).

Menurut Harun Nasution (1985), ada beberapa faktor yang menyebabkan masa ini dikenal sebagai masa kejayaan intelektual, di antaranya adalah:

  • Pertama, banyaknya cendikiawan yang diangkat menjadi pegawai pemerintahan untuk membantu para khalifah Abbasiyah. Misalnya, al- Mansur banyak mengangkat para cendikiawan Persia sebagai pegawai pemerintahan, seperti keluarga Barmak, jabatan wazir diberikan kepada Khalid bin Barmak yang kemudian turun kepada anak dan cucunya. Mereka berasal dari Bactra, keluarga yang gemar pada ilmu pengetahuan dan filsafat. Di samping sebagai wazir mereka juga menjadi pendidik anak-anak khalifah.

  • Kedua, pada masa Khalifah al-Makmun, Muktazilah diakui sebagai maszhab resmi negara. Muktazilah adalah paham yang menganjurkan kemerdekaan dan kebebasan berpikir kepada manusia. Aliran ini berkembang dan banyak memajukan gerakan intelektual dengan mengedepankan ratio dalam penerjemahan ilmu-ilmu dari luar dan memadukannya dengan ajaran Islam. Namun pada masa Khalifah Mutawakkil kebijakan ini berubah, karena khalifah mengubah mazhab negara dari Muktazilah kepada Sunni. Walapun demikian, aliran Muktazilah tetap berjasa besar dalam gerakan intelektual, karena mereka telah membuka cakrawala berpikir, menggunakan rasio/logika tajam yang sangat dibutuhkan untuk memahami ilmu-ilmu lain (lihat K.Ali, 1976 dan Muntoha dkk, 2002).

  • Ketiga, meningkatnya kemakmuran umat Islam pada masa ini juga menjadi faktor berkembangnya gerakan pemikiran Islam. Menurut Ibnu Khaldun, ilmu itu ibarat industri, banyak atau sedikitnya tergantung kepada kemakmuran, kebudayaan dan kemewahan masyarakat. Kemakmuran Dinasti Abbasiyah ini, diceritakan dalam hikayat Alfu Lailah wa Lailah (A. Hasjmi, 1993).

  • Keempat, setelah wilayah Islam konversi dengan Romawi dan Persia, dan penduduknya menjadi muslim yang taat, maka terjadi asimilasi besar-besaran antara Arab dan `ajam (non-Arab). Kemudian mereka melahirkan para intelektual yang menjadi pelopor akulturasi budaya Islam dan lokal. Keturunan indo ini memiliki keistimewaan dalam bentuk tubuh, kecerdasan akal, kecakapan berusaha, berorganisasi, bersiasat, dan terkemuka dalam segala bidang kebudayaan (Muntoha dkk, 2002). Bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Misalnya, pengaruh Persia sangat kuat di bidang pemerintahan dan berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui penerjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat. Sebagai contoh, Khalifah al-Mansur memboyong Nubakht al-Zardasyi (ahli astrologi) dari Persia ke Baghdad. Nubahkt ditempatkan di istana, kemudian berketurunan dan melahirkan sejumlah gubernur, teolog, penerjemah, dan astronom. Nubakht dan putranya, Abu Sahal, menulis buku tentang pergerakan bintang dan planet (Ali Akbar Velayati, 2010).

  • Kelima, kepribadian para khalifah pada awal berkembangnya Dinasti Abbasiyah, seperti khalifah al-Mansur, Harun al-Rasyid dan al- Makmun adalah sosok pribadi yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, sehingga kebijakannya sangat mendukung kebebasan dan kemajuan gerakan intelektual.

  • Keenam, permasalahan yang dihadapi umat Islam semakin kompleks dan berkembang, sehingga memerlukan pengkajian ilmu pengetahuan di berbagai bidang, baik ilmu naqli seperti ilmu agama, bahasa, adab dan lainnya, maupun ilmu aqli seperti kedokteran, mantiq, antariksa dan lainnya yang pengkajiannya telah dimulai dengan metode yang sistematis (M.Abdul Karim, 2009). Sebab, suatu pemikiran akan berkembang jika ada permasalahan baru yang muncul dan memerlukan solusi.

Peradaban Emas Islam (Bayt al Hikmah)

Faktor–faktor intern yang dimaksud adalah:

  1. Terciptanya stabilitas politik, kemakmuran ekonomi dan adanya dukungan
    dari khalifah Abbasiyah, karena mempunyai kecenderungan kepada ilmu pengetahuan, sebagai pendorong utama laju berkembangnya lembaga Bayt al Hikmah sejak masa khalifah al Ma’mun. Khalifah ini selalu berupaya mendukung kegiatan Bayt al Hikmah, seperti memberi penghargan tinggi bagi sarjana-sarjana yang mempunyai reputasi yang tinggi dan bidangnya. Ia telah memberikan gaji yang cukup tinggi kepada para penerjamah yang ditugaskan di Bayt al Hikmah.

  2. Adanya kebebasan keintektualan dan interaksi positif antara orang- orang Arab Muslim dan non-Muslim, serta toleransi dan suasana penuh keterbukaan.

  3. Adanya respon umat Islam terhadap usaha pengembangan Ilmu pengetahuan
    yang diikuti dengan adanya semangat keagamaan dan disertai pemikiran yang rasional.

  4. Menurut Azzumardi Azra dalam bukunya; Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam Tinggi yang mengatakan:
    “Kemajuan pendidikan seperti yang ada di Bayt al Hikmah ini, disamping didorong ajaran-ajarannya Islam yang menuntut penganutnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan,juga karena kemampuan masyarakat mewujudkan situasi keilmuan yang dinamis. Pendidikan tinggi Islam tidak bersifat eksklusif, ia terbuka terhadap pikiran-pikiran non-muslim. Objektifitas keilmuan yang direfleksikan dengan penerimaan diktum-diktum ilmiah secra kritis melalui perdebatan-perdebatan intelektual meratakan jalan bagi kemajuan pikiran Islam. Pendidikan tinggi Islam sebagai pusat intelektual tidak berubah menjadi “menara gading” yang steril dan terasing dari lingkungan masyarakatnya. Ia responsif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan yang mengitarinya. Sebagaimana terlihat, ia terbuka bagi setiap pencinta ilmu, tanpa dibarengi oleh birokrasi-birokrasi dan formalitas yang ketat” (Azra, 1998).

  5. Adanya pertentangan di kalangan kaum muslimin sendiri dan terpecahnya mereka menjadi golongan-golongan, di mana tiap-tiap golongan berusaha untuk mempertahankan wujud dirinya, dan memerlukan bahan-bahan perdebatan. Hal ini terjadi antara Mu’tazilah dan golongan Ahlu Sunnah wal Jama’ah (Hanafi, 1990: 41).

  6. Situasi politik saat itu, dimana setiap tokoh yang berkuasa harus bisa mengambil hati rakyatnya agar tetap menaruh simpati pada pemimpinnya. Itulah para khalifah Abbasiyah telah mengalihkan perhatian rakyat pada pentingnya ilmu pengetahuan yang memang begitu diminati masyarakat Arab pada waktu itu.

  7. Terpadunya peranan Bayt al Hikmah sebagai lembaga penerjemahan, akademi, perpustakaan dan observatorium, menyebabkan lembaga tersebut dapat mengoptimalkan perannya dalam transmisi ilmu pengetahuan.

Sedangkan beberapa faktor intern yang berperan besar dalam pendirian dan pengembangan Bayt al Hikmah ini adalah:

  1. Adanya kesepakatan antara Kaisar Romawi dan Khalifah al Ma’mun yang isinya telah memperkenankan kepada khalifah al ma’mun untuk menjalin berbagai buku langka peninggalan Yunani kono yang ada di wilayah imperium Romawi dan membawa buku-buku tersebut ke Bayt al Hikmah di Bagdad.

  2. Kesediaan orang-orang Kristen Nestorius untuk bekerja di Bayt al Hikmah dan membantu khalifah dalam menerjemahkan buku-buku asing tersebut ke dalam bahasa Arab seperti yang telah dilakukan oleh Hunain bin Ishaq dan murid-muridnya.

  3. Muncul dan berkembangnya pemikiran Yunani dan Persia yang sangat mempengaruhi model pemerintahan khalifah Abbasiyah (Mahmudunnasir, 1991). Sebab pemikiran tersebut sangat mendukung untuk mmeperkenalkan idealnya manusia mengenai pengukuhan diri kalangan aristokrasi. Seorang aristokrat haruslah seorang yang menguasai berbagai bidang pengetahuan, kepustakaan, sejarah, filsafat, dan agama (Lapidus, 1999).