Apa yang kamu ketahui tentang Kerajaan Kalingga?

Kerajaan Kalingga

Kalingga berasal dari kata kalinga, nama sebuah kerajaan di india selatan, yang didirikan oleh beberapa kelompok orang lain dari india yang berasal dari orissa, mereka melarikan diri karena daerah orissa dihancurkan oleh Maharaga Asoka. Kerajaan ini didirikan pada abad ke-6 dan dibubarkan pada abad ke- 7.

Apa yang kamu ketahui tentang Kerajaan Kalingga?

Sejarah Kerajaan Kalingga


Dimulai pada abad ke-6 dan merupakan sebuah kerajaan dengan gaya India yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah. Belum diketahui secara pasti dimana pusat kerajaan ini berada, tapi beberapa ahli memprediksikan bahwa tempatnya ada di antara tempat yang sekarang menjadi Pekalongan dan Jepara. Tidak banyak yang dapat diketahui dari kerajaan ini karena sumber sejarah yang ada juga hampir nihil dan mayoritas catatan tentang sejarah kerajaan Kalingga didapat dari kisah-kisah Tiongkok, cerita turun-temurun rakyat sekitar, dan Carita Parahyangan yang menceritakan tentang Ratu Shima serta kaitan ratu tersebut dengan kerajaan Galuh. Ratu Shima juga dikenal karena peraturannya yang kejam dimana siapapun yang tertangkap basah mencuri akan dipotong tangannya.

Kalingga berasal dari kata kalinga, nama sebuah kerajaan di india selatan, yang didirikan oleh beberapa kelompok orang lain dari india yang berasal dari orissa, mereka melarikan diri karena daerah orissa dihancurkan oleh Maharaga Asoka. Kerajaan ini didirikan pada abad ke-6 dan dibubarkan pada abad ke- 7.

Kerajaan kalingga diperkirakan terletak di jawa tengah, di kecamatan keling sebelah utara gunung muria, Sekarang letak nya dekat dengan kabupaten pekalongan dan kabupaten jepara. Ibu kota dari kerajaan kalingga adalah keeling (jepara), bahasa yang digunakan kerajaan kalingga yaitu, melayu kuna sanskerta, agama yang dianut kerajaan kalingga yaitu, hindu dan buddha. Sebenarnya agama yang dianut oleh penduduk kerajaan ini umumnya buddha, karena agama buddha berkembang pesat pada saat itu,bahkan pendeta cina datang ke keling dan tinggal selama tiga tahun.

Ratu Sima adalah penguasa di Kerajaan Kalingga. Ia digambarkan sebagai seorang pemimpin wanita yang tegas dan taat terhadap peraturan yang berlaku dalam kerajaan itu. Ratu sima memerintah sekitar tahun 674-732 m.

Awal Mula Berdirinya Kerajaan Kalingga


Awal Berdirinya Kerajaan Kalingga diperkirakan dimulai pada abad ke-6 hingga abad ke-7. Nama Kalingga sendiri berasal dari kerajaan India kuno yang bernama Kaling, mengidekan bahwa ada tautan antara India dan Indonesia. Bukan hanya lokasi pasti ibu kota dari daerah ini saja yang tidak diketahui, tapi juga catatan sejarah dari periode ini amatlah langka. Salah satu tempat yang dicurigai menjadi lokasi ibu kota dari kerajaan ini ialah Pekalongan dan Jepara. Jepara dicurigai karena adanya kabupaten Keling di pantai utara Jepara, sementara Pekalongan dicurigai karena masa lalunya pada saat awal dibangunnya kerajaan ini ialah sebuah pelabuhan kuno. Beberapa orang juga mempunyai ide bahwa Pekalongan merupakan nama yang telah berubah dari Pe-Kaling-an.

Pada tahun 674, kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Shima yang terkenal akan peraturan kejamnya terhadap pencurian, dimana hal tersebut memaksa orangorang Kalingga menjadi jujur dan selalu memihak pada kebenaran. Menurut ceritacerita yang berkembang di masyarakat, pada suatu hari seorang raja dari negara yang asing datang dan meletakkan sebuah kantung yang terisi dengan emas pada persimpangan jalan di Kalingga untuk menguji kejujuran dan kebenaran dari orangorang Kalingga yang terkenal. Dalam sejarahnya tercatat bahwa tidak ada yang berani menyentuh kantung emas yang bukan milik mereka, paling tidak selama tiga tahun hingga akhirnya anak dari Shima, sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung tersebut dengan kakinya. Mendengar hal tersebut, Shima segera menjatuhkan hukuman mati kepada anaknya sendiri. Mendengar hukuman yang dijatuhkan oleh Shima, beberapa orang memohon agar Shima hanya memotong kakinya karena kakinya lah yang bersalah. Dalam beberapa cerita, orang-orang tadi bahkan meminta Shima hanya memotong jari dari anaknya.

Dalam salah satu kejadian pada sejarah kerajaan Kalingga, terdapat sebuah titik balik dimana kerajaan ini terislamkan. Pada tahun 651, Ustman bin Affan mengirimkan beberapa utusan menuju Tiongkok sambil mengemban misi untuk memperkenalkan Islam kepada daerah yang asing tersebut. Selain ke Tiongkok, Ustman juga mengirim beberapa orang utusannya menuju Jepara yang dulu bernama Kalingga. Kedatangan utusan yang terjadi pada masa setelah Ratu Shima turun dan digantikan oleh Jay Shima ini menyebabkan sang raja memeluk agama Islam dan juga diikuti jejaknya oleh beberapa bangsawan Jawa yang mulai meninggalkan agama asli mereka dan menganut Islam.

Seperti kebanyakan kerajaan lainnya di Indonesia, kerajaan Kalingga juga mengalami ketertinggalan saat kerajaan tersebut runtuh. Dari seluruh peninggalan yang berhasil ditemukan adalah 2 candi bernama candi Angin dan candi Bubrah. Candi Angin dan Candi Bubrah merupakan dua candi yang ditemukan di Keling, tepatnya di desa Tempur. Candi Angin mendapatkan namanya karena memiliki letak yang tinggi dan berumur lebih tua dari Candi Borobudur. Candi Bubrah, di lain sisi, merupakan sebuah candi yang baru setengah jadi, tapi umurnya sama dengan candi Angin.

Kehidupan ekonomi kerajaan Kalingga


Perekonomian kerajaan kalingga bertumpu pada sektor perdagangan dan pertanian. Letaknya yang dekat dengan pesisir pantai utara jawa tengah menyebabkan kalingga mudah di akses oleh pedagang luar negeri.kalingga merupakan daerah penghasil kulit penyu, emas, perak, culabadak,dan gading gajah untuk dijual. Penduduk kalingga dikenal pandai membuat minuman yang berasal dari bunga kelapa dan bunga aren.

Kehidupan sosial kerajaan kalingga


Kerajaan kalingga hidup dengan teratur,berkat kepemimpinan ratu sima ketentraman dan ketertiban di kerajaan kalingga berlangsung dengan baik. Dalam menegakkan hukum, ratu sima tidak membeda-bedakan antara rakyat dengan kerabatnya sendiri.

Berita tentang ketegasan hukum ratu sima, raja yang bernama T-shih ia adalah kaum muslim arad dan persia, ia menguji kebenaran berita yang ia dengar.beliau memerintahkan anak buahnya untuk meletakkan satu kantong emas di jalan wilayah kerajaan kalingga. Selama tiga tahun kantong tersebut tidak ada yang menyentuh, jika ada yang melihat kantong itu ia berusaha menyingkir. Tetapi pada suatu hari, putra mahkota tidak sengaja menginjak kantong tersebut hingga isinya berceceran. Mendengar kejadian tersebut ratu sima marah, dan memerintahkan agar putra mahkota dihukum mati.

Tetapi karena para menteri memohon agar putra mahkota mendapat pengampunan. Akhirnya ratu sima hanya memerintahkan agar jari putra mahkota yang menyentuh kantong emas tersebut di potong,hal ini menjadi bukti ketegasan ratu sima.

Kehidupan politik kerajaan kalingga


Pada abad ketujuh masehi kerajaan kalingga dipimpin oleh ratu sima, hukum di kalingga ditegakkan dengan baik sehingga ketertiban dan ketentraman di kalingga berjalan dengan baik. Menurut naskah parahhayang, Ratu sima memiliki cucu bernama sanaha yang menikah dengan Raja Brantasenawa dari kerajaan galuh. Sanaha memiliki anak bernama sanjaya yang kelas akan menjadi raja mataram kuno. Sepeninggalan Ratu sima, kerajaan Kalingga ditaklukan oleh kerajaan Sriwijaya.

Masa kejayaan kerajaan kalingga


Masa kepemimpinan Ratu sima menjadi masa keemasan bagi kerajaan kalingga sehingga membuat raja-raja dari kerajaan lain segan, hormat, kagum, sekaligus penasaran. Masa masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama buddha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan Ratu Sima juga sering disebut Di Hyang (tempat bersatunya dua kepercayaan hindu dan buddha).

Dalam bercocok tanam Ratu Sima mengadopsi sistem pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Ia merancang sistem pengairan yang diberi nama subak. Kebudayaan baru ini yang kemudian melahikan istilah Tanibhala, atau masyarakat yang mengolah mata pencahariannya dengan cara bertani atau bercocok tanam.

Masa kehancuran kerajaan kalingga


Kerajaan kalingga mengalami kemunduran kemungkinan akibat serangan sriwijaya yang menguasai perdagangan, serangan tersebut mengakibatkan pemerintahan kijen menyingkir ke jawa bagian timur atau mundur ke pedalaman jawa bagian tengah antara tahun 742-755 M. Bersama melayu dan tarumanegara yang sebelumnya telah ditaklukan kerajaan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.

Pada tahun 674, kerajaan Kalingga diperintah oleh Ratu shima, yang dikenal bertindak adil dan bijaksana. Pemerintahannya sangat keras dan berlandaskan kejujuran serta keadilan. Sehingga, tidak ada satu orang pun dari rakyat nya yang berani melanggar hak dan kewajiban, serta peraturan yang telah di keluarkan oleh kerajaan. Adapun peraturan yang paling terkenala adalah

“barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya”.

Bahkan, sebagai bukti ketegasan dan keadilannya, Ratu Shima sampai menghukum putra nya sendiri yang melanggar peraturan.

Ratu Shima adalah ratu kerajaan Kalingga yang sangat tegas. Ia beragama Hindu aliran siwa. Di era pemerintahannya, kerajaan Kalingga mengalami keemasan. Tedapat peninggalan (artefak) yang ditemukan didaerah Keling yang diduga sezaman dengan perkembangan pemerintahan Ratu Shima, yang memerintah dengan adil dan bijaksana saat itu.

Dalam naskah Carita Parahyangan, disebutkan bahwa maharani Shima menikah dengan putra mahkota dari kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak. Kemudian, Mandiminyak menjadi raja yang kedua dari kerajaan Galuh. Memang, dalam sejarah kerajaan yang khususnya di Indonesia, mempunyai sistem pergantian kepemimpina yang diturunkan dari sang ayah kepada anaknya. Sehingga ketika ayahnya telah meninggal otomatis sang anak akan menjadi raja.

Didalam naskah Carita Parahyangan disebutkan juga bahwa Maharani Shima memiliki cucu yang bernama sanaha. Sanaha menikah dengan raja ketiga dari kerajaan Galuh, yamg bernama Bratasenawa. Dari pernikahan Bratasenawa dan sanaha ini, muncul seorang anak yang bernama Sanjaya yang kelak akan menjadi Raja kerajaan sunda dan kerajaan Galuh.

Setelah Ratu Shima meninggal pada tahun 732 M maka sanjaya menjadi raja kerajaan Kalingga bagian Utara yang kelak bernama bumi mataram. Setelah itu, raja sanjaya mendirikan dinasti sanjaya dikerjaan mataram kuno. Maksud dari dinasti kerjaan adalah sistem kerajaan yang para pemimpin/pejabat kerajaan dan yang penerusnya diteruskan oleh anak cucunya. Sehingga, jadilah kerajaan yang rajarajanya dari masa ke masa satu turunan yang sama.

Dengan penerapan dinasti kerajaan, maka kekuasaan kerjaan di jawa barat diberikan kepada sang putra yang bernama Tamperan Barmawijaya atau ada juga yang mengatakan nama lainnya dengan Rakeyan Panaraban. Ditempat yang lain, raja sanjaya menikah dengan subiwara putri dari raja Kalingga selatan yang bernama dewasinga. Kerajaan Kalingga bagian selatan disebut juga dengan bumi sambara. Dari pernikahan raja sanjaya dengan sudiwara memiliki putra yang bernama rakai panangkaran.

Sekitar pada abad ke-5 muncul kerajaan dengan nama HO-LING yang memang nama kerajaan ini sangat berbau nama dari china. Kerajaan holing akhirnya menjadi nama kerajaan Kalingga. Kerajaan ini diperkirakan oleh ahli sejarah terletak di daerah jawa tengah bagian utara. Adapun sumber bukti yang autentik tentang kerajaan HO-LING didapat dari catatan peniggalan dari negeri china. Kerajaan Kalingga (atau bernama HO-LING dalam sebutan orang china) diserang besar besaran oleh kerajaan Sriwijaya. Akhirnya, pada tahun 752 M, kerajaan Kalingga takluk oleh kerajaan Sriwijaya.

Sebelumnya kerajaan Sriwijaya juga telah menaklukkan kerajaan Tarumanegara. Sehingga, penakluk banyak kerajaan yang dilakukan oleh kerajaan memperkuat jaringan perdagangan Sriwijaya hingga Melayu. Berita keberadaan HO-LING juga dapat diperoleh dari berita yang berasal dari zaman dinasti Tang dan catatan I-Tsing. Cerita china pada zaman dinasti Tang (618-906 M) memberikan tentang keterangan Ho-Ling sebagai berikut :

  1. Ho-Ling, atau disebut Jawa, terletak dilautan selatan. Disebelah utranya, terletak Ta Hen La (kamboja). Di sebelah timurnya, terletak Po-Li (pulau bali). Dan, disebelah barat, terletak pulau Sumatra.

  2. Ibu kota Ho-Ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.

  3. Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading

  4. Penduduk kerjaan Ho-Ling sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapa.

  5. Daerah Ho-Ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading gajah.

Catatan dari berita Cina juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho_ling diperintah oleh ratu HIS-mo (shima). Ia adalah seorsng ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya, kerajaan Ho-Ling sangat aman dan tentram.

Selain catatan dari dinasti Tang, catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) juga menyebutkan bahwa pada abad ke 7, tanah jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama buddha hinayana. Di Ho-Ling, terdapat, pendeta china bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha kedalam bahasa china. Ia bekerja sama dengan pendta jawa bernama janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita nirwana dalam agama Buddha Hinayan.

Keberadaan kerajaan Kalingga atau Ho-Ling juga dapat diketahui dari berbagai peninggalannya. Berikut adalah beberapa peninggalan kerajaan Ho-Ling:

  1. Prasasti Tukmas
    Prasasti tukmas ditemukan dilereng barat gunung merapi, tepatnya didusun dakawu, desa lebak kecamatan grabag, magelang, jawa tengah. Prasati ini bertuliskan huruf pallawa yang berbahsa sansekerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jerni. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan sungai gangga india. Pada perasasti itu, terdapat gambargambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra, dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa hindu.

  2. Prasasti sojomerto
    Prasasti sojomerto ditemukan didesa sojomerto, kecamatan raban, kabupaten batang, jawa tengah. Prasasti ini beraksara kawi, berbahsa melayu kuno dan berasal dari sekitar abad ke-7 Masehi. Prasasti ini bersifat keagamaan siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya dapunta selendra, yaitu bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan wangsa sailendra yang berkuasa di kerajaan mataram hindu.

  3. Candi Angin
    Candi angin ditemukan di desa Tempur, kecamatan Keling, kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

  4. Candi Bubrah
    Candi Bubrah ditemukan di desa Tempur, Kecamatam Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Kedua temuan prasati ini (candi Angin dan Bubrah) menunjukkan bhwa kawasan pantai utara Jawa Tengah dahulu berkembang kerajaan yang bercorak Hindu Siwais. Catatan ini menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan Wangsa Sailendra atau Kerajaan Medang yang berkembang kemudian din Jawa Tengah.

Kerajaan Kalingga

Diperkirakan berdiri pada masa abad ke-6, Kerajaan Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) merupakan kerajaan bercorak Hindu-Budha yang mendiami di Jawa Tengah. Lokasi pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang.

Sumber sejarah kerajaan ini kebanyakan diperoleh dari sumber catatan Tiongkok, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.

Catatan sejarah mengenai keberadaan Kerajaan Kalingga didapatkan dari dua sumber utama, yaitu dari kronik sejarah Tiongkok, serta catatan sejarah manuskrip lokal, ditambah dengan tradisi lisan setempat yang menyebutkan mengenai Ratu legendaris bernama Ratu Shima.

Pada abad ke-5 muncul Kerajaan Ho-ling (atau Kalingga) yang diperkirakan terletak di utara Jawa Tengah. Keterangan tentang Kerajaan Ho-ling didapat dari prasasti dan catatan dari negeri Cina. Pada tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini menjadi bagian jaringan perdagangan Hindu, bersama Malayu dan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.

Kisah Lokal

Terdapat kisah yang berkembang di Jawa Tengah utara mengenai seorang Maharani legendaris yang menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kebenaran dengan keras tanpa pandang bulu. Kisah legenda ini bercerita mengenai Ratu Shima yang mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak keras kejahatan pencurian. Ia menerapkan hukuman yang keras yaitu pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri. Pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan mendengar mengenai kemashuran rakyat kerajaan Kalingga yang terkenal jujur dan taat hukum. Untuk mengujinya ia meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar. Tak ada sorang pun rakyat Kalingga yang berani menyentuh apalagi mengambil barang yang bukan miliknya. Hingga tiga tahun kemudian kantung itu disentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ratu Shima demi menjunjung hukum menjatuhkan hukuman mati kepada putranya. Dewan menteri memohon agar Ratu mengampuni kesalahan putranya. Karena kaki sang pangeranlah yang menyentuh barang yang bukan miliknya, maka sang pangeran dijatuhi hukuman dipotong kakinya.

Berita Tiongkok

Berita keberadaan Ho-ling juga dapat diperoleh dari berita yang berasal dari zaman Dinasti Tang dan catatan I-Tsing.

Cerita Cina pada zaman Dinasti Tang (618 M – 906 M) memberikan tentang keterangan Ho-ling sebagai berikut.

a. Ho-ling atau disebut Jawa terletak di Lautan Selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Pulau Bali) dan di sebelah barat terletak Pulau Sumatera.

b. Ibukota Ho-ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.

c. Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading.

d. Penduduk Kerajaan Ho-ling sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapa

e. Daerah Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.

Catatan dari berita Cina ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh Ratu Hsi-mo (Shima). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram.

Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agamaBuddha Hinayana. Di Ho-ling ada pendeta Cina bernama Hwining , yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam Bahasa Tionghoa. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra . Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.

Peninggalan

Prasasti Tukmas

Prasasti Tukmas ditemukan di ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa yang berbahasa Sanskerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.

Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno dan berasal dari sekitar abad ke-7 masehi. Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu. Kedua temuan prasasti ini menunjukkan bahwa kawasan pantai utara Jawa Tengah dahulu berkembang kerajaan yang bercorak Hindu Siwais. Catatan ini menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan Wangsa Sailendra atau kerajaan Medang yang berkembang kemudian di Jawa Tengah Selatan.

Candi Angin

Candi Angin ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Candi Bubrah

Candi Bubrah ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Situs Puncak Sanga Likur Gunung Muria

Di Puncak Rahtawu (Gunung Muria) dekat dengan Kecamatan Keling di sana terdapat empat arca batu, yaitu arca Batara Guru, Narada, Togog, dan Wisnu. Sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan bagaimana mengangkut arca tersebut ke puncak itu mengingat medan yang begitu berat. Pada tahun 1990, di seputar puncak tersebut, Prof Gunadi[4] dan empat orang tenaga stafnya dari Balai Arkeologi Nasional Yogyakarta (kini Balai Arkeologi Yogyakarta) menemukan Prasasti Rahtawun. Selain empat arca, di kawasan itu ada pula enam tempat pemujaan yang letaknya tersebar dari arah bawah hingga menjelang puncak. Masing-masing diberi nama (pewayangan) Bambang Sakri, Abiyoso, Jonggring Saloko, Sekutrem, Pandu Dewonoto, dan Kamunoyoso.