Apa yang dimaksud Ekonomi Ekologis?

Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa. Dalam praktiknya manusia selalu membutuhkan orang lain untuk mencukupi kebutuhan barang dan jasa pada suatu wilayah. Lalu, apa yang dimaksud dengan Ekonomi Ekologis?

Ekonomi ekologi adalah bidang lintas disiplin yang sedang berkembang, antara ekonomi dan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan dan memperluas teori ekonomi dengan cara mengintegrasikan sistem alam (lingkungan), nilai-nilai manusia dan kesehatan manusia serta kesejahteraan manusia.

Dalam ekonomi konvensional, tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh industri (modal yang dibangun), dan produk domestik bruto (PDB) adalah ukuran nasional dari total nilai barang dan jasa yang dihasilkan setiap tahun.

Ekonomi ekologis melihat ekonomi dengan perspektif yang lebih luas dibandingkan ekonomi konvensional dan mengakui bahwa terdapat lebih banyak hal yang berkontribusi pada kesejahteraan manusia, bukan hanya jumlah barang, tetapi lebih banyak lagi, seperti kesehatan dan pendidikan (modal manusia), teman dan keluarga (modal sosial) dan kontribusi terhadap lingkungan, baik sistem biologis maupun fisiknya (modal alam).

Tujuan dari ekonomi ekologis adalah untuk mengembangkan pemahaman yang ilmiah dan lebih mendalam terkait dengan hubungan yang rumit dan kompleks antara sistem manusia dan lingkungannya, dan menggunakan pemahaman tersebut untuk mengembangkan suatu kebijakan yang efektif, dimana kebijakan tersebut akan mengarah kondisi ekologi yang berkelanjutan, terdapat distribusi sumber daya yang adil (baik antar kelompok dan generasi manusia serta antara manusia dengan spesies lain), dan secara efisien mengalokasikan sumber daya yang langka.

Empat jenis modal utama yang dipertimbangkan di dalam ekonomi ekologis, antara lain:

  • Modal yang dibangun (Built capital),
    Modal ini adalah jenis modal yang biasa kita pikirkan dalam ekonomi konvensional. Modal ini mengacu pada barang dan jasa yang dibuat oleh industri, misalnya ; mobil, peralatan, jalan, mainan, dll.

  • Modal alam (Natural capital)
    Modal alam adalah konsep yang mengakui pentingnya dan nilai barang dan jasa yang telah disediakan oleh alam. Hal ini di luar pertimbangan ekonomi tradisional dimana melihat produk alam sebagai bahan mentah yang akan dirubah menjadi barang yang dibutuhkan oleh masyarakat, atau barang yang bernilai ekonomis (misalnya pohon menjadi rumah atau kertas). Di dalam ekonomi ekologis, produk alam tidak hanya dihitung sebagai bahan mentah, tetapi juga mempertimbangkan fungsi-fungsi yang disediakan oleh sistem lingkungan (misalnya, udara untuk bernapas, iklim yang stabil) atau ekosistem lokal (perlindungan banjir oleh hutan mangrove, dan sumber air yang disediakan oleh hutan karena adanya pepohonan.

Kadang-kadang nilai moneter dari jasa ekosistem ini dapat dihitung secara finansial, misalnya biaya pembuatan tanggul akibat rusaknya hutan mangrove. Tetapi, beberapa fungsi yang dihasilkan oleh alam tidak ternilai harganya. Mereka sangat penting untuk kehidupan, dan tidak dapat tergantikan, misalnya udara untuk bernapas.

  • Modal sosial (Social capital)
    Modal sosial mengacu pada manfaat positif yang diperoleh melalui interaksi kita dengan orang lain (teman, keluarga, kelompok sosial) dan struktur umum masyarakat kita (bahasa, institusi, sistem pendidikan, hukum). Modal sosial memberikan kontribusi besar pada kesejahteraan sosial kita, tetapi hal tersebut sangat sulit untuk dihitung menggunakan istilah finansial. Misalnya, bisakah anda menjawa berapa harga, dalam rupiah, dari kebahagianmu ?

  • Modal manusia (Human capital)
    Modal manusia mengacu pada kesehatan kita sendiri, pengalaman pribadi, pendidikan, bakat, keterampilan, dan minat. Modal manusia kolektif (modal sosial) tidak dapat dimaksimalkan kecuali dengan adanya keadilan sosial, dimana setiap individu mempunyai akses yang setara terhadap peluang yang disediakan oleh masyarakat.

Ekonomi Ekologis


Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang dilengkapi dengan fitrahnya, yaitu makhluk yang memiliki jasad dan potensi rohaniah. Yang dimaksud potensi jasad adalah fisik dan diraba. Dalam jasad itu, manusia disebut yaitu makhluk fisik yang tumbuh dari bayi, anak-­anak, dewasa dan akhirnya mati. Sebagai makhluk yang memiliki jasad atau fisik, dituntut untuk memenuhi kebutu fisiknya sebagai makhluk ekonom ini berarti tugas manusia sebagai makhluk ekonomi adalah mengelola sumber daya alam sehingga bernilai ekonomi dan dapat dimamfaatkan dalam kaidah dan nilai dasar ilahiyah.

Manusia dalam mengelola sumberdaya alam itu akan berbenturan dengan pergeser ekologi. Pada hal, ekonomi dan ekologi berasal dari satu kata yaitu oikos dan logos sedangkan ekonomi berasal dari kata iokonomos, adalah manajer atau pengelola rumah tangga, dan rumah­ tangga yang dimaksud adalah rumah tanpa produksi. Sehingga ilmu ekonomi dewasa ini, mencakup keduanya (ekonomi dan ekologi).

Perbedaan keduanya ini terletak dari tokoh yang pertama memperkenalkan istilah ini, ekologi diperkenalkan oleh ahli biologi Jerman (maksud ekolog adalah economy of nature) sebuah ilmu yang berakar dari pengetahuan ekonomi dan teori evolusi, khususnya teori biologi Darwin.

Ekologi di atas diartikan sebagai ekonomi mengenai makhluk hidup yakni ekonomi yang mempertimbangkan makhluk hidup lainnya, seperti flora dan fauna. Ekonomi telah dicerminkan oleh perkembangan pengetahuan mengenainya, memfokuskan perhatiannya hanya kepada kepentingan manusia sehingga kerapkali dianggap melanggar kepentingan makhluk hidup lainnya (Salim, 1990).

Ilmu ekonomi yang membahas kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa yang mendasarkan diri pada asumsi berlakunya pasar bebas, dimana permintaan dan penawaran bertemu sebenarnya secara implisit mengakui adanya persaingan hidup. Perjuangan untuk hidup dalam ekonomi tak lain adalah persaingan bebas. Persaingan bebas itu diartikan agar pengusaha mendapatkan kebaikan dan masyarakat pada umumnya. Dimana jika pengusaha bersaing secara bebas untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan konsumen maka yang diuntungkan adalah konsumen atau masyarakat.

Pasar bebas sebenamya mengandung asumsi yang sangat menguntungkan. Asumsinya adalah laissez faire dirnaksudkan untuk menghasilkan kebahagiaan sebesar­besarnya bagi orang banyak. Sejarah perekonomian telah menyodorkan bahwa sistem pasar bebas telah menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, melalui industrialisasi. Akan tetapi, sesudah berkecamuknya perang dunia I, terjadi pula pertumbuhan ekonomi, namun bukan pada negara­negara yang menganut sistem ekonomi pasar (ekonomi sistem perencanaan sentral, sistem ekonomi campuran, dan antara sistem ekonomi bebas dan berbagai jenis perencanaan) .

Dari semua sistem di atas memiliki ciri yang sama yaitu pola eksploitasi terhadap sumberdaya alam dan manusia melalui pembangunan teknologi dan manajemen. Dimana sasaran eksploitasi manusia dan sumberdaya alam sejak abad 18 telah dialihkan dari masyarakat dan kawasan Barat ke masyarakat dan kawasan lain, melalui kolonialisme dan imprialisme. Itulah sebabnya, kapitalisme bisa bertahan karena proses pemiskinan bisa dicegah di Eropa melalui kolonialisme dan imperialisme. Walaupun demikian, dampak sistem eksploitasi dapat dirasakan di Barat. Para pengamat ekologi sangat merasakan akibat dari persaingan di antara kekuatan­kekuatan ekonomi dalam memperoleh teritori dan mempertahankan kelangsungan hidup.

Perkembangan ekonomi di bidang teknologi telah memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam berbagai aspek, namun juga memberikan kegerian yang begitu mengerikan dari dampak yang ditimbulkan. Tapi kita tidak menjadai pesimis, karena pertumbuhan ekonomi yang ditopang dengan teknologi, tetap mencari solusi untuk menata ekologi dan mengurangi dapak yang ditimbulkan.