Apa yang dimaksud dengan working self-concept?

Working self-concept digunakan untuk mendenotasikan aspek khusus dari identitas seseorang yang diaktifkan oleh peran yang dimainkannya pada momen tertentu.

Apa yang dimaksud dengan working self-concept ?

Working self concept adalah konsep diri yang sedang diaktivasi tersebut sebagai konsep diri yang sedang bekerja. Perubahan konsep diri antar situasi tersebut terlihat dari cara individu menggambarkan diri mereka yang berubah-ubah tergantung situasi yang dihadapi.

Contohnya, individu akan mengatakan “Saya sedih”, “Saya optimis”, “Saya orang gagal” atau “Saya orang rajin” pada kesempatan yang berbeda-beda.

Beberapa hasil penelitian mendukung anggapan tersebut. Penelitian Markus dan Kunda (1986) menunjukan bahwa individu selalu mengubah konsepsi dirinya ketika berhubungan dengan orang berbeda.

Penelitian ini menemukan bahwa ketika individu merasa dirinya unik ia akan merekrut konsepsi-konsepsi diri yang sama dengan orang lain. Sebaliknya, ketika individu merasa dirinya sama dengan orang lain, ia akan merekrut konsepsi-konsepsi diri yang membuat mereka unik.

Penelitian Harter (1999) pada beberapa remaja perempuan juga menghasilkan temuan serupa. Remaja yang menjadi subjek penelitian ini menunjukkan bahwa ketika bersama teman dekat mereka merasa tenang, nyaman, menjadi peduli dan pengertian, serta dapat menjadi dirinya sendiri.

Ketika bersama ayah mereka merasa ada jarak, merasa serius, kurang terbuka, hormat, kagum, dan defensif. Sementara ketika bersama ibunya mereka merasa dekat, tentram, serta menjadi keras kepala, jujur dan lebih terbuka. Ketika bersama pasangan romantis mereka merasa malu, gugup, sensitif, tidak menjadi dirinya sendiri, serta dapat menjadi pendengar yang baik.

Ketika di tengah kelompok teman-temannya, mereka menjadi orang yang banyak bicara, ceria,asertif, sarkastis, ramah dan suka ramai. Sedangkan ketika di kelas mereka menjadi orang yang serius, kooperatif, frustrasi, bertanggung jawab, menarik diri, serta hormat.

Di sisi lain, penelitian Nurius dan Markus (1990) menunjukkan bahwa konteks sosial lebih dari sekedar mempengaruhi konsepsi-konsepsi tentang diri tetapi juga mempengaruhi penilaian individu mengenai deskripsi-deskripsi diri yang sedang berlangsung, dirinya di masa lalu, serta harapan-harapan mengenai diri mereka di masa depan.

Partisipan yang membayangkan pengalaman sukses cenderung mendeskripsikan dirinya dengan gambaran diri positif. Sebaliknya, individu yang membayangkan pengalaman gagal lebih banyak menggambarkan dirinya secara negatif. Gambaran diri yang demikian juga subjek munculkan ketika mereka menggambarkan dirinya di masa lalu dan masa depan.