© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Waria?

Beberapa waktu lalu di Amerika, kaum Transgender atau di Indonesia sering disebut sebagai waria melakukan demo secara besar-besaran untuk menuntut hak mereka agar diakui oleh negara. Namun sebenarnya apa yang dimaksud dengan waria?

Waria adalah seorang laki-laki namun cenderung bertingkah laku sebagai wanita (Koeswinarno, 1996; dan P. Esty dan Sugoto, 1998). Misalnya dalam penampilannya, ia mengenakan busana dan aksesoris seperti halnya wanita. Begitu pula dalam perilaku sehari-hari, ia juga merasa dirinya sebagai wanita yang memilki sifat lemah lembut.

Menurut Elisabeth (1996)

Seorang waria adalah seseorang yang memiliki fisik laki-laki tetapi psikis wanita yang diperoleh sejak lahir.

Mereka terdiri atas dua golongan, yaitu :

  1. Interseksualita dengan organ seksual laki-laki tetapi juga mempunyai hormon perempuan.

  2. Transseksualisme sebagai seseorang yang mempunyai fisik laki-laki tetapi psikis wanita.

Istilah waria pada dasarnya memang ditujukan pada penderita transseksual atau seseorang yang memiliki fisik berbeda dengan jiwanya, yaitu secara fisik laki-laki, namun jiwanya perempuan. Oleh karena itu, mereka mempunyai keinginan yang kuat untuk mengubah alat-alat seksnya dengan jalan pembedahan dan penyuntikan hormon agar tercapai bentuk anatomis serta fisiologisnya sesuai dengan seks yang diinginkannya (Yanti dalam P. Esty dan Sugoto, 1998).

Kartono (1989) juga mengatakan bahwa

Waria termasuk dalam kelainan seksual yang disebut dengan transseksual. Seorang waria mempunyai keinginan untuk menolak sebagai laki-laki dan merasa memiliki seksualitas yang berlawanan dengan struktur fisiknya. Implikasi lebih lanjut adalah orientasi seksual mereka bukan heteroseksual melainkan homoseksual.

Jadi dapat dijelaskan bahwa waria adalah seseorang yang mempunyai fisik sempurna sebagai laki-laki, namun bersifat, bertingkah laku, serta berperasaan seperti wanita sehingga cenderung menampilkan diri sebagai wanita dan menolak sebagai laki-laki, bahkan mempunyai keinginan untuk mengubah kodratnya menjadi wanita dengan cara pembedahan dan penyuntikan hormon. Implikasi selanjutnya adalah orientasi seksual mereka cenderung homoseksual.

Waria (gabungan dari wanita-pria) adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Keberadaan waria telah tercatat lama dalam sejarah dan memiliki posisi yang berbeda- beda dalam setiap masyarakat. Walaupun dapat terkait dengan kondisi fisik seseorang, gejala waria adalah bagian dari aspek sosial transgenderisme. Seorang laki-laki memilih menjadi waria dapat terkait dengan keadaan biologisnya (hermafrodi-tisme), orientasi seksual (homoseksualitas), maupun akibat pengondisian lingkungan pergaulan. Sebutan bencong atau banci juga dikenakan terhadap waria dan bersifat negatif. Menurut Atmojo (1986) waria adalah laki–laki yang berdandan dan berperilaku sebagai wanita, istilah waria diberikan bagi penderita transeksual yaitu seseorang yang memiliki fisik berbeda dengan jiwanya.

Waria merupakan salah satu penyandang masalah kesejahteraan sosial di Indonesia, baik di tinjau dari segi psikologis, sosial, norma, maupun secara fisik. Kehidupan mereka cenderung hidup berglamour dan eksklusif atau membatasi diri pada komunitasnya saja. Mereka sering terjerumus pada dunia pelacuran dan hal-hal lain yang menurut agama, aturan, dan nilai masyarakat menyimpang. Secara fisik memang menggambarkan mereka adalah laki-laki tetapi sifat dan perilaku menggambarkan wanita.

Waria adalah mereka yang merasa tidak nyaman dengan peran gender yang seharusnya dan hidup dengan peran gender kebalikan, namun tidak berniat melakukan operasi ganti kelamin. Waria adalah sebuah kata yang ditujukan untuk menggambarkan sosok pria dewasa yang berperilaku layaknya seorang perempuan, mereka masih berjenis kelamin laki-laki, meskipun mereka telah memiliki payudara layaknya seorang perempuan dewasa.

Permasalahan Pelayanan Sosial Terhadap Waria


Ada dua besar permasalahan pelayanan sosial terhadap waria yaitu permasalahan yang bersifat internal dan eksternal. Berikut penjelasannya :

  • Permasalahan Internal
  1. Merasa tidak jelas identitas dan kepribadiannya mengakibatkan waria berada dalam posisi kebingungan, canggung, tingkah laku berlebihan, dampak lainnya adalah semakin sulitnya mencari pekerjaan, menjadi depresi bahkan bunuh diri.
  2. Merasa terasing, dan merasa ditolak mengakibatkan para waria meninggalkan rumah, frustasi, kesepian, mencari pelarian yang seringkali makin merugikan dirinya.
  3. Merasa ditolak dan didiskriminasi mengakibatkan permasalahan terutama dalam kehidupan sosial, pendidikan, akses pekerjaan baik formal maupun informal. Implikasinya adalah banyak waria merasa kesulitan memperoleh pekerjaan, pendidikan, maupun terhambat dalam proses interaksi sosial.
  • Permasalahan Eksternal
  1. Permasalahan Keluarga
    Dalam konteks integrasi dengan keluarga, para waria seringkali dianggap sebagai aib dan mendatangkan kesialan dalam keluarga sehingga banyak diantara mereka tidak mengakui, mengucilkan, membuang, menolak, mencemooh dan bahkan mengasingkan. Selain itu, juga keluarga menutup atau menarik diri dari masyarakat.

  2. Permasalahan Masyarakat
    Para waria dan komunitasnya dianggap sebagai sosok yang melakukan penyimpangan yang banyak menimbulkan masalah di lingkungan masyarakat. Terutama dari segi permasalahan seksual yang dapat mempercepat penyebaran IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV/AIDS.