Apa yang dimaksud dengan Waria?

Beberapa waktu lalu di Amerika, kaum Transgender atau di Indonesia sering disebut sebagai waria melakukan demo secara besar-besaran untuk menuntut hak mereka agar diakui oleh negara. Namun sebenarnya apa yang dimaksud dengan waria?

Waria adalah seorang laki-laki namun cenderung bertingkah laku sebagai wanita (Koeswinarno, 1996; dan P. Esty dan Sugoto, 1998). Misalnya dalam penampilannya, ia mengenakan busana dan aksesoris seperti halnya wanita. Begitu pula dalam perilaku sehari-hari, ia juga merasa dirinya sebagai wanita yang memilki sifat lemah lembut.

Menurut Elisabeth (1996)

Seorang waria adalah seseorang yang memiliki fisik laki-laki tetapi psikis wanita yang diperoleh sejak lahir.

Mereka terdiri atas dua golongan, yaitu :

  1. Interseksualita dengan organ seksual laki-laki tetapi juga mempunyai hormon perempuan.

  2. Transseksualisme sebagai seseorang yang mempunyai fisik laki-laki tetapi psikis wanita.

Istilah waria pada dasarnya memang ditujukan pada penderita transseksual atau seseorang yang memiliki fisik berbeda dengan jiwanya, yaitu secara fisik laki-laki, namun jiwanya perempuan. Oleh karena itu, mereka mempunyai keinginan yang kuat untuk mengubah alat-alat seksnya dengan jalan pembedahan dan penyuntikan hormon agar tercapai bentuk anatomis serta fisiologisnya sesuai dengan seks yang diinginkannya (Yanti dalam P. Esty dan Sugoto, 1998).

Kartono (1989) juga mengatakan bahwa

Waria termasuk dalam kelainan seksual yang disebut dengan transseksual. Seorang waria mempunyai keinginan untuk menolak sebagai laki-laki dan merasa memiliki seksualitas yang berlawanan dengan struktur fisiknya. Implikasi lebih lanjut adalah orientasi seksual mereka bukan heteroseksual melainkan homoseksual.

Jadi dapat dijelaskan bahwa waria adalah seseorang yang mempunyai fisik sempurna sebagai laki-laki, namun bersifat, bertingkah laku, serta berperasaan seperti wanita sehingga cenderung menampilkan diri sebagai wanita dan menolak sebagai laki-laki, bahkan mempunyai keinginan untuk mengubah kodratnya menjadi wanita dengan cara pembedahan dan penyuntikan hormon. Implikasi selanjutnya adalah orientasi seksual mereka cenderung homoseksual.

Waria (gabungan dari wanita-pria) adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Keberadaan waria telah tercatat lama dalam sejarah dan memiliki posisi yang berbeda- beda dalam setiap masyarakat. Walaupun dapat terkait dengan kondisi fisik seseorang, gejala waria adalah bagian dari aspek sosial transgenderisme. Seorang laki-laki memilih menjadi waria dapat terkait dengan keadaan biologisnya (hermafrodi-tisme), orientasi seksual (homoseksualitas), maupun akibat pengondisian lingkungan pergaulan. Sebutan bencong atau banci juga dikenakan terhadap waria dan bersifat negatif. Menurut Atmojo (1986) waria adalah laki–laki yang berdandan dan berperilaku sebagai wanita, istilah waria diberikan bagi penderita transeksual yaitu seseorang yang memiliki fisik berbeda dengan jiwanya.

Waria merupakan salah satu penyandang masalah kesejahteraan sosial di Indonesia, baik di tinjau dari segi psikologis, sosial, norma, maupun secara fisik. Kehidupan mereka cenderung hidup berglamour dan eksklusif atau membatasi diri pada komunitasnya saja. Mereka sering terjerumus pada dunia pelacuran dan hal-hal lain yang menurut agama, aturan, dan nilai masyarakat menyimpang. Secara fisik memang menggambarkan mereka adalah laki-laki tetapi sifat dan perilaku menggambarkan wanita.

Waria adalah mereka yang merasa tidak nyaman dengan peran gender yang seharusnya dan hidup dengan peran gender kebalikan, namun tidak berniat melakukan operasi ganti kelamin. Waria adalah sebuah kata yang ditujukan untuk menggambarkan sosok pria dewasa yang berperilaku layaknya seorang perempuan, mereka masih berjenis kelamin laki-laki, meskipun mereka telah memiliki payudara layaknya seorang perempuan dewasa.

Permasalahan Pelayanan Sosial Terhadap Waria


Ada dua besar permasalahan pelayanan sosial terhadap waria yaitu permasalahan yang bersifat internal dan eksternal. Berikut penjelasannya :

  • Permasalahan Internal
  1. Merasa tidak jelas identitas dan kepribadiannya mengakibatkan waria berada dalam posisi kebingungan, canggung, tingkah laku berlebihan, dampak lainnya adalah semakin sulitnya mencari pekerjaan, menjadi depresi bahkan bunuh diri.
  2. Merasa terasing, dan merasa ditolak mengakibatkan para waria meninggalkan rumah, frustasi, kesepian, mencari pelarian yang seringkali makin merugikan dirinya.
  3. Merasa ditolak dan didiskriminasi mengakibatkan permasalahan terutama dalam kehidupan sosial, pendidikan, akses pekerjaan baik formal maupun informal. Implikasinya adalah banyak waria merasa kesulitan memperoleh pekerjaan, pendidikan, maupun terhambat dalam proses interaksi sosial.
  • Permasalahan Eksternal
  1. Permasalahan Keluarga
    Dalam konteks integrasi dengan keluarga, para waria seringkali dianggap sebagai aib dan mendatangkan kesialan dalam keluarga sehingga banyak diantara mereka tidak mengakui, mengucilkan, membuang, menolak, mencemooh dan bahkan mengasingkan. Selain itu, juga keluarga menutup atau menarik diri dari masyarakat.

  2. Permasalahan Masyarakat
    Para waria dan komunitasnya dianggap sebagai sosok yang melakukan penyimpangan yang banyak menimbulkan masalah di lingkungan masyarakat. Terutama dari segi permasalahan seksual yang dapat mempercepat penyebaran IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV/AIDS.

Bastaman dkk (2004) mengatakan bahwa waria ( transsexual ) yaitu keinginan untuk hidup dan diterima sebagai anggota kelompok lawan jenis, biasanya disertai dengan rasa tidak nyaman atau tidak sesuai dengan jenis kelamin anatomisnya, dan menginginkan untuk membedah jenis kelamin serta menjalani terapi hormonal agar tubuhnya sepadan dengan jenis kelamin yang diinginkan.

Kartono (1989) mengatakan bahwa transsexual ialah gejala merasa memiliki seksualitas yang berlawanan dengan struktur fisiknya. Koeswinarno (2005) mengatakan bahwa seorang transsexual secara psikis merasa dirinya tidak cocok dengan alat kelamin fisiknya sehingga mereka memakai pakaian atau atribut lain dari jenis kelamin yang lain.

Sue (1986) mengatakan bahwa transsexual yaitu seseorang yang merasa memiliki kelamin yang berlawanan dimana terdapat pertentangan antara identitas jenis kelamin dan jenis kelamin biologisnya. Crooks (1983) menjelaskan bahwa transsexual adalah seseorang yang mempunyai identitas jenis kelamin sendiri yang berlawanan dengan jenis kelamin biologisnya.

Jenis- Jenis Waria

Kemala Atmojo (Nadia, 2005) menyebutkan jenis- jenis waria sebagai berikut:

  1. Transsexual yang aseksual , yaitu seorang transsexual yang tidak berhasrat atau tidak gairah seksual yang kuat.

  2. Transsexual homoseksual , yaitu seorang transsexual yang memiliki kecenderungan tertarik pada jenis kelamin yang sama sebelum ia sampai ketahap transsexual murni.

  3. Transsexual yang heteroseksual , yaitu seorang transsexual yang pernah menjalani kehidupan heteroseksual sebelumnya, misalnya pernah menikah.

Ciri-Ciri Waria

Menurut Maslim (2003), ciri-ciri transsexual adalah :

  1. Identitas transsexual harus sudah menetap selama minimal dua tahun, dan harus bukan merupakan gejala dari gangguan jiwa lain seperti skizofrenia, atau berkaitan dengan kelainan interseks, genetic atau kromosom.

  2. Adanya hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari kelompok lawan jenisnya, disertai perasaan risih atau tidak serasi dengan anatomi seksualnya.

  3. Adanya keinginan untuk mendapatkan terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan.

Faktor Pendukung Terjadinya Waria

Sue, dkk (1986), faktor-faktor yang mendukung terjadinya transsexual adalah:

  1. Orangtua selalu mendorong anak bertingkahlaku seperti wanita dan tergantung dengan orang lain.

  2. Perhatian dan perlindungan yang berlebihan dari seorang ibu.

  3. Tidak adanya kakak laki-laki sebagai contoh.

  4. Tidak adanya figur ayah.

  5. Kurang mendapatkan teman bermain laki-laki.

  6. Dukungan pemakaian pakaian yang menyimpang.

Pengertian Waria

Waria (gabungan dari Wanita-pria) adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Keberadaan waria telah tercatat lama dalam sejarah dan memiliki posisi yang berbedabeda dalam setiap masyarakat. Walaupun dapat terkait dengan kondisi fisik seseorang, gejala waria adalah bagian dari aspek sosial transgenderisme. Seorang laki-laki memilih menjadi waria dapat terkait dengan keadaan biologisnya (hermafrodi-tisme), orientasi seksual (homoseksualitas), maupun akibat pengondisian lingkungan pergaulan. Sebutan bencong atau banci juga dikenakan terhadap waria dan bersifat negatif. Menurut Atmojo (1986) waria adalah laki– laki yang berdandan dan berperilaku sebagai wanita, istilah waria diberikan bagi penderita transeksual yaitu seseorang yang memiliki fisik berbeda dengan jiwanya

Waria merupakan salah satu penyandang masalah kesejahteraan sosial di Indonesia, baik di tinjau dari segi psikologis, sosial, norma, maupun secara fisik. Kehidupan mereka cenderung hidup berglamour dan eksklusif atau membatasi diri pada komunitasnya saja. Mereka sering terjerumus pada dunia pelacuran dan hal-hal lain yang menurut agama, aturan, dan nilai masyarakat menyimpang. Secara fisik memang menggambarkan mereka adalah laki-laki tetapi sifat dan perilaku menggambarkan wanita.

Waria adalah mereka yang merasa tidak nyaman dengan peran gender yang seharusnya dan hidup dengan peran gender kebalikan, namun tidak berniat melakukan operasi ganti kelamin. Waria adalah sebuah kata yang ditujukan untuk menggambarkan sosok pria dewasa yang berperilaku layaknya seorang perempuan, mereka masih berjenis kelamin laki-laki, meskipun mereka telah memiliki payudara layaknya seorang perempuan dewasa.

Faktor-Faktor Penyebab Seseorang Menjadi Waria

Social Learning Theory menjelaskan bahwa perilaku manusia melalui pendekatan dalam arti sebuah interaksi yang berkelanjutan dan seimbang antara kognitif, behavioural, dan faktor-faktor utama lingkungan. Ada tiga faktor penyebab seseorang menjadi waria yaitu:

a. Biogenik

Seseorang menjadi waria disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor biologis atau jasmaniah, dimana yang bersangkutan menjadi waria dipengaruhi oleh lebih dominannya hormon seksual perempuan dan merupakan faktor genetik seseorang. Selain itu, neuron yang ada di waria sama dengan neuron yang dimiliki perempuan. Dominannya neuron dan hormon seksual perempuan mempengaruhi pola perilaku seseorang menjadi feminim dan berperilaku perempuan.

b. Psikogenik

Seseorang menjadi waria juga ada yang disebabkan oleh faktor psikologis, dimana pada masa kecilnya, anak laki-laki menghadapi permasalahan psikologis yang tidak menyenangkan baik dengan orang tua, jenis kelamin yang lain, frustasi hetereseksual, adanya iklim keluarga yang tidak harmonis yang mempengaruhi perkembangan psikologis anak maupun keinginan orang tua memiliki anak perempuan namun kenyataannya anaknya adalah seorang laki-laki. Kondisi tersebut, telah menyebabkan perlakuan atau pengalaman psikologis yang tidak menyenangkan dan telah membentuk perilaku laki-laki menjadi feminim bahkan kewanitaan.

c. Sosiogenik

  1. Keadaan lingkungan sosial yang kurang kondusif akan mendorong adanya penyimpangan perilaku seksual. Berbagai stigma dan pengasingan masyarakat terhadap komunitas waria memposisikan diri waria membentuk atau berkelompok dengan komunitasnya. Kondisi tersebut ikut mendorong para waria untuk bergabung dalam komunitasnya dan semakin matang menjadi seorang waria baik dalam perilaku maupun orientasi seksualnya.

  2. Dalam beberapa kasus, sulitnya mencari pekerjaan bagi para lelaki tertentu di kota besar menyebabkan mereka mengubah penampilan menjadi waria hanya untuk mencari nafkah dan atau yang lama kelamaan menjadi permanen.

  3. Pada keluarga tertentu, kesalahan pola asuh yang diterapkan oleh keluarga terhadap anggota keluarganya terutama yang dialami oleh anak laki-lakinya dimasa kecil. Seperti keinginan orang tua memiliki anak perempuan, sehingga ada sikap dan perilaku orang tua yang mempersepsikan anak lelakinya sebagai anak perempuan dengan memberikan pakaian anak perempuan, maupun mendandani anak laki-lakinya layaknya seperti anak perempuan.

Permasalahan Pelayanan Sosial Terhadap Waria

Ada dua besar permasalahan pelayanan sosial terhadap waria yaitu permasalahan yang bersifat internal dan eksternal. Berikut penjelasannya:

a. Permasalahan Internal.

  1. Merasa tidak jelas identitas dan kepribadiannya mengakibatkan waria berada dalam posisi kebingungan, canggung, tingkah laku berlebihan, dampak lainnya adalah semakin sulitnya mencari pekerjaan, menjadi depresi bahkan bunuh diri.

  2. Merasa terasing, dan merasa ditolak mengakibatkan para waria meninggalkan rumah, frustasi, kesepian, mencari pelarian yang seringkali makin merugikan dirinya.

  3. Merasa ditolak dan didiskriminasi mengakibatkan permasalahan terutama dalam kehidupan sosial, pendidikan, akses pekerjaan baik formal maupun informal. Implikasinya adalah banyak waria merasa kesulitan memperoleh pekerjaan, pendidikan, maupun terhambat dalam proses interaksi sosial.

b. Permasalahan eksternal

  1. Permasalahan keluarga. Dalam konteks integrasi dengan keluarga, para waria seringkali dianggap sebagai aib dan mendatangkan kesialan dalam keluarga sehingga banyak diantara mereka tidak mengakui, mengucilkan, membuang, menolak, mencemooh dan bahkan mengasingkan. Selain itu, juga keluarga menutup atau menarik diri dari masyarakat.

  2. Permasalahan masyarakat. Para waria dan komunitasnya dianggap sebagai sosok yang melakukan penyimpangan yang banyak menimbulkan masalah di lingkungan masyarakat. Terutama dari segi permasalahan seksual yang dapat mempercepat penyebaran IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV/AIDS.

Referensi

http://digilib.uinsby.ac.id/454/4/Bab%202.pdf