Apa yang dimaksud dengan Virus Corona?

Virus Corona

Virus Corona merupakan virus yang menyebar luas ke seluruh dunia, dimulai akhir tahun 2019 hingga 2020. Penyebarannya begitu luas sehingga WHO mengumumkan bahwa virus corona adalah sebuah pandemik.

Virus Corona adalah salah satu dari kelompok virus RNA. Dinamakan demikian karena mereka terlihat seperti korona atau halo bila dilihat di bawah mikroskop elektron. Korona atau halo ini disebabkan oleh serangkaian proyeksi permukaan luar virus.

Seperti apa virus corona itu ?

Referensi terkait dengan virus corona ini diambil dari buku yang berjudul Guidance for Corona Virus Disease 2019: Prevention, Control, Diagnosis and Management, yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia dengan judul Panduan Menghadapi Penyakit Corona Virus 2019 Model RRC: Pencegahan, Pengendalian, Diagnosis dan Manajemen.

Penjelasan terkait dengan virus corona dibagi menjadi 4 versi, yang antara versi pertama sampai versi terakhir merupakan perkembangan keilmuan dari virus corona itu sendiri.

Karakteristik Patogenik


Novel coronavirus 2019 (nCoV-2019) secara resmi dinamai sebagai severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 [SARS-CoV-2] oleh ICTV), termasuk genus β, memiliki envelope , berbentuk bundar atau oval dan sering pleomorfik, dengan diameter antara 60- 140 nm.

Virus ini secara genetik berbeda dengan SARSr-CoV dan MERSr-CoV. Studi terbaru menunjukkan bahwa tingkat kesamaan atau homologi antara nCoV-2019 dan bat-SARS-like coronavirus (bat-SL-CoVZC45) di atas angka 85%. Novel coronavirus 2019 dapat ditemukan dalam sel epithelial pernafasan setelah 96 jam dengan kultur in vitro , dan membutuhkan waktu sekitar 6 hari untuk dapat diisolasi dan dilakukan kultur cell line Vero E6 dan Huh-7.

Pengetahuan tentang karakteristik fisik dan kimia dari virus corona didapat dari studi sebelumnya tentang SARSr-CoV and MERSr-CoV. Virus corona sensitif terhadap sinar ultraviolet dan panas, dan secara efektif dapat dinonaktifkan dengan pemanasan pada suhu 56°C selama 30 menit dan pelarut lemak (lipid solvents) seperti eter, etanol 75%, disinfektan yang mengandung klorin, asam peroksiasetat, dan khloroform (kecuali khlorheksidin).

Karakteristik Epidemologis


Sumber infeksi

Saat ini, sumber utama infeksi adalah para pasien COVID-19. Pembawa (carrier) nCoV-2019 yang asimptomatik juga berpotensi menjadi sumber infeksi.

Rute Penularan

Corona Virus Disease umumnya ditularkan melalui kontak langsung dan percikan (droplet). Penularan lewat udara mungkin terjadi pada orang yang lama terpapar konsentrasi udara tinggi pada ruang tertutup.

Individu yang Rentan

Manusia dalam segala kategori umur pada umumnya adalah rentan terhadap virus ini.

Karakteristik Klinis


Manifestasi Klinis dan Gejala

Berdasarkan investigasi epidemologis saat ini, masa inkubasi COVID-19 berlangsung antara 1 hingga 14 hari, dan umumnya dalam waktu 3 hingga 7 hari.

Demam, kelelahan, dan batuk kering dianggap sebagai manifestasi klinis utama, sedangkan gejala seperti hidung tersumbat, hidung berair, pharyngalgia, myalgia, dan diare relatif lebih jarang. Dalam kasus yang parah, umumnya terjadi sesak nafas dan/atau hipoksemia setelah onset satu minggu.

Pada kasus terburuk, bisa secara cepat berkembang menjadi acute respiratory distress syndrome, syok septik, asidosis metabolik yang sulit dikoreksi, kelainan koagulasi dan perdarahan, multiple organ failure, dan sebagainya.

Penting dicatat bahwa pasien dengan sakit parah atau kritis hanya menunjukkan demam sedang, atau bahkan tanpa demam sama sekali.

Pada kasus ringan hanya menunjukkan demam ringan, kelelahan ringan, dan seterusnya tanpa manifestasi pneumonia.

Berdasarkan kasus-kasus yang ditangani baru-baru ini, kebanyakan pasien memiliki prognosis yang baik. Sedangkan untuk kaum lanjut usia dan orang dengan penyakit kronis, umumnya memiliki prognosis buruk. Sementara kasus pada anak-anak umumnya memiliki gejala yang relatif ringan.

Pemeriksaan Laboratorium

Pada fase awal pasien dengan COVID-19, dapat ditemukan hitung sel darah putih total yang normal maupun menurun dan hitung limfosit yang menurun. Pada beberapa pasien dapat terjadi peningkatan nilai enzim hati, LDH, enzim otot dan mioglobin; dan pada beberapa pasien yang kritis dapat ditemukan peningkatan kadar troponin. Sebagian besar pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan nilai C-Reaktif Protein dan tingkat laju endap darah, sedangkan nilai prokalsitonin normal. Pada pasien yang parah, nilai D-dimer meningkat dan limfosit darah perifer terus menurun. Selain itu, peningkatan nilai faktor inflamasi juga terjadi pada pasien yang parah dan kritis.

Asam nukleat nCoV-2019 dapat dideteksi lewat spesimen biologis seperti hapusan (swab) nasofaring, sputum (dahak), sekresi saluran pernapasan bagian bawah lainnya, darah dan feses.

Untuk meningkatkan tingkat positif deteksi asam nukleat, dianjurkan untuk mengambil dan menyimpan sputum dari semua pasien—kecuali pasien dengan intubasi trakheal (sekresi saluran pernapasan bawah yang harus diambil); dan semua spesimen harus dikirim dan diuji secepat mungkin.

Rontgen Dada ( Chest Imaging)

Di fase awal COVID-19, hasil rontgen dada menunjukkan bayangan bercak-bercak kecil ( small patched shadow) yang multipel dan perubahan interstitial, khususnya di periferal paru. Seiring perjalanan penyakit, gambaran yang muncul pada pasien berkembang menjadi bayangan perselubungan (ground glass) yang multipel dan bayangan infiltrasi pada kedua paru. Pada kasus yang parah, dapat terjadi konsolidasi paru. Jarang ditemukan efusi pleura pada pasien COVID-19.

Kriteria Diagnosis


Kasus-kasus Suspek atau Terduga (Suspected Cases)

Kasus-kasus suspek harus didiagnosis dengan mempertimbangkan kedua faktor ini, melalui riwayat epidemiologis dan manifestasi klinis:

Epidemiologi

  • Memiliki riwayat bepergian atau tinggal di daerah atau di komunitas lain yang melaporkan kasus dalam 14 hari sebelum onset; atau

  • Memiliki riwayat kontak dengan pasien (hasil tes asam nukleat nCoV-2019 positif) dalam 14 hari sebelum onset; atau

  • Memiliki riwayat kontak dengan pasien yang demam atau memiliki gejala gangguan sistem pernafasan dari daerah atau komunitas-komunitas yang melaporkan kasus dalam 14 hari sebelum onset; atau

  • Kasus-kasus klaster tertentu (clustering occurrence of cases)

Manifestasi Klinis

  • Demam dan/atau gejala ganggguan sistem pernafasan;

  • Menunjukkan gambaran rontgen pneumonia seperti sudah dijelaskan di atas;

  • Di fase awal, dapat ditemukan hitung sel darah putih total yang normal maupun menurun dan hitung limfosit yang menurun.

Pasien yang memenuhi satu kriteria riwayat paparan secara epidemiologi maupun dua kriteria manifestasi klinis dapat didiagnosis sebagai suspected cases. Pasien tanpa riwayat epidemiologi yang jelas baru dapat didiagnosis sebagai suspected cases bila memenuhi seluruh tiga kriteria manifestasi klinis.

Kasus yang Terkonfirmasi (Confirmed Cases)

Kasus-kasus terduga dapat berubah statusnya menjadi kasus yang terkonfirmasi berdasarkan salah satu bukti etiologis berikut ini:

  • Hasil positif tes asam nukleat nCoV-2019 dengan real-time fluorescence RT-PCR ;

  • Urutan gen virus sangat mirip (highly homologous) dengan nCoV-2019 yang telah diketahui.

Klasifikasi Klinis (Clinical Classifications)

  • Kasus Ringan (Mild Cases). Gejala klinisnya ringan dan tidak ada manifestasi pneumonia pada rontgen.

  • Kasus Biasa (Ordinary Cases). Pasien memiliki gejala seperti demam dan gangguan sistem pernafasan, dan sebagainya. Terlihat manifestasi pneumonia pada rontgen.

  • Kasus Parah (Severe Cases). Memenuhi salah satu kriteria:

    • Respiratory distress, RR ≥30 kali nafas/menit;

    • Pulse oxygen saturation (SpO2) ≤ 93% pada udara ruangan saat istirahat (on room air at rest state);

    • Arterial partial pressure of oxygen (PaO 2) / oxygen concentration (FiO 2) ≤300 mmHg (1 mmHg = 0.133kPa).

    • Untuk daerah ketinggian (di atas 1000 m ), nilai PaO2/FiO2 harus disesuaikan dengan persamaan PaO2/FiO2 × [Tekanan Atmosfir (mmHg)/760].

    • Pasien dengan perburukan lesi rontgen dada >50% dalam 24 hingga 48 jam harus diperlakukan sebagai kasus darurat.

  • Kasus Kritis. Memenuhi salah satu kriteria:

    • Mengalami gagal nafas dan membutuhkan ventilasi mekanis;

    • Mengalami syok;

    • Mengalami komplikasi dengan organ failure lain yang membutuhkan pengawasan dan perawatan di ICU.

Diagnosis Banding


Manifestasi ringan yang disebabkan oleh COVID-19 harus dibedakan dengan infeksi pernafasan yang disebabkan oleh virus lain.

NCP harus dibedakan dengan virus pneumonia yang disebabkan oleh virus influenza, adenovirus atau respiratory syncytial virus, dan mycoplasma pneumonia . Terutama untuk kasus-kasus suspek, deteksi rapid antigen , tes asam nukleat PCR berulang dan metode lainnya harus dilakukan untuk menguji patogen pernafasan yang umum.

Selain itu, harus dibedakan dari penyakit non-infeksius seperti vaskulitis, dermatomiositis, dan organizing pneumonia .

Identifikasi dan Laporan Kasus


Staf medis di semua level dan semua tipe institusi medis harus segera mengisolasi dan menangani setiap kasus terduga yang memenuhi definisi, di sebuah ruangan terpisah ( single room ). Setelah dilakukan konsultasi dengan in-hospital expert maupun dokter tamu, orang yang masih dianggap sebagai kasus terduga perlu melapor secara daring dalam dua jam. Harus dilakukan pengambilan spesimen dan tes asam nukleat nCoV-2019.

Pasien suspek (suspected patients) harus dipindahkan ke rumah sakit rujukan secepatnya. Orang yang kontak dekat dengan pasien COVID-19 atau bahkan mereka dengan hasil positif untuk tes patogen pernafasan umum, dianjurkan untuk nantinya melakukan deteksi patogenik nCoV- 2019.

Terapi


Menentukan Lokasi Terapi sesuai Tingkat Keparahan Penyakit

  • Kasus terduga dan terkonfirmasi harus diisolasi dan ditangani di rumah sakit rujukan dengan kondisi isolasi yang efektif dan yang protektif.

  • Kasus-kasus terduga harus ditangani di ruangan terpisah, sedangkan kasus terkonfirmasi dapat diterima dalam satu ruangan ( ward ) yang sama.

  • Kasus-kasus kritis harus dirawat di ICU sesegera mungkin

Terapi Umum

Istirahatkan pasien di tempat tidur, tingkatkan terapi suportif, dan pastikan nutrisi yang adekuat. Jaga keseimbangan air dan elektrolit untuk memelihara stabilitas kondisi internal. Awasi dengan cermat tanda vital, saturasi oksigen, dan sebagainya.

Evaluasi darah rutin, urin rutin, CRP, indikator biokimiawi (enzim hati, enzim miokardial, fungsi ginjal, dan sebagainya), fungsi koagulasi, analisa gas darah arteri, rontgen dada, dan sebagainya sesuai kondisi pasien. Jika memungkinkan, lakukan tes sitokin.

Berikan terapi oksigen yang tepat dan efektif secara terukur, antara lain nasal kanul, masker oksigen, terapi nasal oksigen aliran tinggi.

Terapi Antiviral:

  • Berikan nebulisasi alfa-interferon (5 juta unit atau setara per kali untuk dewasa, tambahkan 2 mL sterile water untuk injeksi, inhalasi aerosol dua kali per hari);

  • Lopinavir / ritonavir (200 mg/50 mg per kapsul, 2 kapsul setiap kali, dua kali per hari untuk dewasa, lama terapi harus ≤ 10 hari);

  • Ribavirin (dianjurkan kombinasi dengan interferon atau lopinavir/ritonavir, 500 mg per kali untuk dewasa, disuntikkan 2-3 kali per hari secara intravena, lama terapi harus ≤10 hari).

  • Klorokuin fosfat (500 mg untuk dewasa, dua kali per hari, lama terapi harus ≤10 hari), Arbidol (200 mg untuk dewasa, tiga kali per hari, lama terapi harus ≤10 hari).

    Waspadai efek samping seperti diare, mual, muntah, dan kerusakan hati terkait lopinavir/ritonavir, serta interaksi yang berbahaya dengan obat lain. Efek obat yang dicobakan saat ini harus dievaluasi lebih lanjut selama pemakaian klinis. Penggunaan tiga atau lebih jenis antivirus secara bersamaan tidak dianjurkan dan terapi medikamentosa yang relevan harus dihentikan jika terjadi efek samping yang tak tertahankan.

Terapi Antibakteri:

  • Hindari penggunaan antibiotik yang tidak selektif atau tidak tepat terutama dalam kombinasi dengan antibiotik spektrum luas.

Terapi Kasus Parah dan Kritis

  • Prinsip Terapi: Terapi dilakukan secara simptomatik, aktif mencegah komplikasi, juga terapi penyakit yang menyertai, mencegah infeksi sekunder, dan memberi dukungan ( support ) fungsi organ secara tepat.

  • Terapi Oksigen: Pasien yang parah harus diberikan inhalasi oksigen dengan masker maupun kateter nasal. Dievaluasi secara berkala apakah gangguan pernafasan ( respiratory distress) dan/atau hipoksemia berkurang.

  • Terapi Oksigen Kateter Nasal Aliran Tinggi atau Ventilasi Mekanis Non- Invasif: Saat gangguan pernapasan dan/atau hipoksemia tidak berkurang dengan terapi oksigen standar, harus dipertimbangkan terapi oksigen kateter nasal aliran tinggi atau ventilasi noninvasif. Jika kondisi tidak membaik atau bahkan memburuk dalam waktu singkat (1-2 jam), segera lakukan intubasi endotrakeal dan ventilasi mekanik invasif.

  • Ventilasi Mekanik Invasif: Gunakan strategi ventilasi pelindung paru-paru ( lung protective ventilation ), yang berarti volume tidal kecil (4-8 mL/kg berat ideal) dan tekanan inspirasi rendah (tekanan platform < 30 cm H2O) pada ventilasi mekanis untuk mengurangi cedera paru terkait ventilator. Pada beberapa pasien, sinkronisasi manusia- mesin tidak tersedia, dan sedatif maupun relaksan otot harus digunakan secara tepat.

  • Terapi Penyelamatan ( salvage treatment ): Untuk pasien dengan ARDS parah, dianjurkan untuk melakukan ekspansi paru. Jika memungkinkan, lakukan ventilasi posisi prone ( prone position ventilation ) selama lebih dari 12 jam per hari. Bila dengan ventilasi posisi prone hasilnya buruk, segera pertimbangkan oksigenasi membran ekstrakorporeal (ECMO) jika kondisi memungkinkan.

  • Bantuan Sirkulasi: Prinsipnya resusitasi cairan yang adekuat, perbaiki mikrosirkulasi, gunakan obat vasoaktif, dan lakukan pemantauan hemodinamik bila perlu.

  • Terapi plasma konvalesen: sesuai untuk terapi kasus yang berkembang cepat, kasus parah dan kasus kritis. Pemberian terapi dan dosis mengacu pada Rencana Terapi Plasma Klinis untuk Penyakit Virus Corona 2019 Penyembuhan selama Pemulihan (Edisi Pertama Tentatif).

Perawatan Lainnya

Berdasarkan tingkat keparahan gangguan pernapasan dan perkembangan rontgen dada, glukokortikoid dapat digunakan dalam jangka waktu pendek (3-5 hari) sesuai kebutuhan. Dianjurkan metilprednisolon dengan dosis tidak melebihi 1-2 mg/kg/hari.

Perlu diperhatikan bahwa glukokortikoid dengan dosis yang lebih tinggi akan menunda klirens coronavirus akibat efek imunosupresif; Injeksi Xuebijing (obat tradisional Cina) dapat diberikan sebagai terapi dengan dosis 100 mL/hari secara intravena, dua kali sehari; persiapan mikroekologi dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan mikroekologi usus dan mencegah infeksi bakteri sekunder; jika memungkinkan pertukaran plasma (plasma exchange), absorbsi, perfusi, penyaringan darah/plasma dan teknologi pemurnian darah ekstrakorporeal lainnya harus dipertimbangkan untuk kasus kritis dengan reaksi inflamasi parah.

Kecemasan dan ketakutan umum terjadi pada banyak pasien, oleh karena itu konseling psikologis harus diperkuat.

Sumber : Komisi Kesehatan Nasional RRC, 2020, Guidance for Corona Virus Disease 2019: Prevention, Control, Diagnosis and Management, People Medical Publishing House

1 Like

Karakteristik Patogen Virus Corona


Sub-family virus corona dikategorikan ke dalam empat genus; α, β, γ, dan δ. Selain virus baru ini (COVID-19), ada tujuh virus corona yang telah diketahui menginfeksi manusia. Kebanyakan virus corona menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), tetapi Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERSr-CoV), severe acute respiratory syndrome associated coronavirus (SARSr-CoV) dan novel coronavirus 2019 (nCoV- 2019) dapat menyebabkan pneumonia ringan dan bahkan berat, dan penularannya dapat terjadi antarmanusia.

Virus corona sensitif terhadap sinar ultraviolet dan panas, dan dapat dinonaktifkan (inactivated) secara efektif dengan hampir semua disinfektan kecuali klorheksidin. Oleh karena itu, cairan pembersih tangan yang mengandung klorheksidin tidak direkomendasikan untuk digunakan dalam kasus ini.

Karakteristik Epidemiologi


Sumber infeksi pada panduan ini telah direvisi menjadi “Sumber infeksi utama saat ini adalah pasien yang positif terinfeksi COVID-19 dan pembawa (karier) COVID- 19 yang asimptomatik juga dapat menjadi sumber infeksi”.

Karakteristik Klinis


Masa inkubasi COVID-19 adalah 1 sampai 14 hari, dan pada umumnya terjadi di hari ke tiga sampai hari ke tujuh. Demam, kelelahan, dan batuk kering merupakan tanda-tanda umum infeksi corona disertai dengan gejala seperti hidung tersumbat, pilek, dan diare pada beberapa pasien. Karena beberapa pasien yang parah tidak mengalami kesulitan bernapas yang jelas dan datang dengan hipoksemia, sehingga ada perubahan dalam panduan ini menjadi

“Dalam kasus yang parah, dispnea dan/atau hipoksemia biasanya terjadi setelah satu minggu setelah onset penyakit, dan yang lebih buruk dapat dengan cepat berkembang menjadi sindrom gangguan pernapasan akut, syok sepsis, asidosis metabolik yang sulit ditangani, dan perdarahan dan disfungsi koagulasi, dll.”

Edisi ini menekankan bahwa

Pasien dengan kondisi sakit ringan hanya mengalami demam ringan, kelelahan ringan dan sebagainya, tetapi tanpa manifestasi pneumonia”.

Dalam hal pemeriksaan laboratorium, edisi terbaru ini menambahkan penjelasan sebagai berikut,

“Peningkatan kadar enzim hati, LDH, enzim otot dan mioglobin dapat terjadi pada beberapa pasien; dan peningkatan level troponin dapat dilihat pada beberapa pasien kritis” dan “Asam nukleat nCoV-2019 dapat dideteksi dalam spesimen biologis seperti apusan nasofaringeal, dahak, sekresi saluran pernapasan bagian bawah, darah dan feses”.

Pada tahap awal COVID-19, hasil rontgen menunjukkan bahwa ada beberapa bayangan pola kecil ( multiple small patches shadow ) dan perubahan interstitial, terutama di periferal paru. Seiring perkembangan penyakit, hasil rontgen pasien ini berkembang lebih lanjut menjadi beberapa bayangan tembus pandang/kaca ( multiple ground glass shadow ) dan bayangan infiltrasi di kedua paru. Pada kasus yang parah dapat terjadi konsolidasi paru. Pada pasien dengan COVID-19, jarang ditemui adanya efusi pleura.

Diagnosis Kasus


Ada perbedaan penegakan diagnosis kasus COVID-19 antara Provinsi Hubei dan provinsi lainnya.

Kasus di provinsi lain kecuali Hubei masih diklasifikasikan ke dalam “kasus suspek atau terduga (suspected cases)” dan “kasus terkonfirmasi (confirmed cases) ”. Data menunjukkan bahwa ada kasus terkonfirmasi tanpa riwayat paparan epidemiologi yang jelas, “ Mereka yang tidak memiliki riwayat paparan epidemiologi yang jelas, tetapi memenuhi tiga manifestasi klinis (demam dan atau gejala gangguan sistem pernafasan; memiliki hasil rontgen pneumonia seperti disebutkan di atas; pada tahap awal, ditemukan hitung sel darah putih normal atau menurun, dan hitung limfosit menurun)” juga termasuk dalam penyelidikan “kasus suspek infeksi virus corona”.

Kriteria diagnosis kasus yang terkonfirmasi tidak berubah. (Hasil positif tes asam nukleat nCoV-2019 melalui fluoresensi real-time RT- PCR pada spesimen saluran pernapasan atau spesimen darah, atau urutan gen virus spesimen saluran pernapasan atau spesimen darah sangat homolog dengan nCoV-2019 yang diketahui.)

Klasifikasi “ kasus terdiagnosis klinis ” telah ditambahkan di Provinsi Hubei. Selain itu, standar “kasus suspek” direvisi menjadi, “ Pasien dengan atau tanpa riwayat epidemiologis dapat dianggap sebagai kasus terduga bila memenuhi dua manifestasi klinis yakni: demam dan atau gejala gangguan sistem pernafasan dan pada tahap awal, hitung sel darah putih total normal atau menurun dan hitung limfosit menurun”.

Ini berarti bahwa kriteria diagnosis kasus suspek infeksi COVID-19 telah diperlonggar. Kasus suspek dengan gambaran rontgen pneumonia merupakan kasus terdiagnosis secara klinis. Kriteria diagnostik untuk kasus yang terkonfirmasi tidak berubah.

Klasifikasi Klinis


Berdasarkan ada tidaknya gejala klinis atau pneumonia, tingkat keparahan pneumonia, ada tidaknya gagal nafas atau syok, dan ada tidaknya gagal fungsi organ, kasus-kasus COVID-19 dibagi menjadi:

  • Kasus ringan (kasus dengan gejala klinis ringan dan tanpa gejala pneumonia dari hasil rontgen);

  • Kasus biasa (dengan gejala seperti demam dan saluran pernapasan, dll. dan terlihat gambaran pneumonia pada rontgen);

  • Kasus parah (gangguan sistem pernapasan, RR ≥30 kali/menit; level saturasi oksigen nadi (SpO2) ≤93% pada suhu ruang saat istirahat, tekanan parsial oksigen arteri (PaO2)/konsentrasi oksigen (FiO2) ≤300 mmHg);

  • Kasus kritis (terjadi gagal nafas dan diperlukan ventilasi mekanis; syok, komplikasi dengan kegagalan organ lain yang membutuhkan pemantauan dan perawatan di ICU)

Diagnosis Banding


Ada lebih dari 100 spesies patogen yang menyebabkan pneumonia didapat dari komunitas, dimana 30% berasal dari virus, dan virus-virus lain yang menyebabkan pneumonia memiliki kesamaan dengan virus influenza biasa, virus parainfluenza, adenovirus, respiratory synctial virus , rhinovirus , metapneumovirus manusia, SARS-CoV, dll. Karena kemiripan dari manifestasi klinis dan hasil rontgen, perlu dilakukan uji patogen.

Identifikasi Kasus, Laporan dan Eksklusi


Provinsi Hubei berbeda dari provinsi-provinsi lainnya.

Di provinsi-provinsi selain Hubei, prosedur identifikasi dan pelaporan kasus sama dengan diagnosis dan rencana terapi revisi keempat, tetapi edisi terkini menekankan keamanan transfer dan transfer pasien suspek COVID-19 ke rumah sakit rujukan secepat mungkin.

Di Provinsi Hubei, tenaga kesehatan pada semua level dan jenis institusi kesehatan diminta untuk segera mengisolasi dan merawat kasus terduga dan kasus terdiagnosis secara klinis yang memenuhi definisi kasus tersebut. Setiap kasus terduga atau kasus terdiagnosis secara klinis harus diisolasi pada sebuah kamar tunggal. Pengumpulan spesimen dilakukan secepat mungkin untuk uji patogen.

Kasus terduga dapat dieksklusi/disingkirkan setelah dua kali berturut-turut tes asam nukleat untuk patogen pernapasan hasilnya negatif (interval pengambilan sampel minimal sehari).

Terapi


Terapi meliputi isolasi, terapi simptomatik, dan pemantauan ketat perubahan kondisi, khususnya laju pernapasan dan tingkat saturasi oksigen jari ( finger pulse oxygen saturation ).

  • Setiap kasus terduga harus ditangani dalam satu kamar tunggal, sementara kasus terkonfirmasi dapat ditangani di dalam bangsal yang sama.

  • Kasus kritis harus dirawat di ICU sesegera mungkin.

  • Penggunaan antibiotik: penggunaan antibiotik secara blind dan tidak tepat harus dihindari, khususnya dalam kombinasi dengan antibiotik spektrum luas.

  • Pengobatan antivirus: edisi ini menambahkan deskripsi dari “tidak ada terapi antivirus yang saat ini terkonfirmasi efektif”. Berdasarkan penggunaan obat inhalasi aerosol alfa-interferon dan lopinavir/ritonavir, ditambahkan “ atau penambahan ribavirin”.

    Setelah diskusi penuh oleh Kelompok Ahli Penanganan Medis COVID-19 Nasional, dosis ribavirin telah disesuaikan menjadi 500 mg setiap kali pemberian untuk dewasa, dengan 2 hingga 3 kali infus intravena per hari, karena mempertimbangkan keamanan pasien terkait dosis yang tinggi. Perlu diperhatikan juga efek samping lopinavir/ ritonavir, seperti diare, mual, muntah, dan interaksi dengan obat lain.

  • Kunci untuk mengurangi tingkat fatalitas kasus adalah keberhasilan pengobatan kasus parah dan kritis. Pencegahan dan pengobatan komplikasi secara aktif, mengobati penyakit utama, mencegah infeksi sekunder, dan memberikan bantuan fungsi organ secara tepat. Pasien selalu merasa cemas dan takut sehingga perlu dilakukan konseling psikologis.

  • Tentang pemantauan penyakit, “deteksi sitokin terhadap orang-orang yang telah terinfeksi ” telah ditambahkan dalam panduan ini.

  • Bantuan Pernapasan:

    1. Terapi oksigen: pasien yang parah harus disediakan inhalasi oksigen dengan masker wajah atau nasal kanul, dan mengkaji secara berkala apakah gangguan pernapasan dan/atau hipoksemia membaik;

    2. Terapi nasal kanul aliran oksigen tinggi atau ventilasi mekanis non-invasif: jika gangguan pernapasan dan/atau hipoksemia tidak dapat distabilkan melalui terapi oksigen standar, harus dipetimbangkan terapi nasal kanul aliran tinggi atau ventilasi non-invasif. Hal yang perlu diingat sebagaimana di panduan ini ditekankan bahwa

      jika kondisi tidak meningkat atau bahkan memburuk dalam waktu singkat (1-2 jam), intubasi endotrakeal dan ventilasi mekanik invasif harus dilakukan segera”.

    3. Ventilasi mekanik invasif: strategi ventilasi pelindung paru ( lung protective ventilation ) harus digunakan, yang berarti volume tidal kecil (4-8 mL/kg berat ideal) dan tekanan inspirasi rendah (tekanan platform <30 cmH2O) pada ventilasi mekanis untuk mengurangi cedera paru terkait ventilator.

    4. Pada pasien dengan ARDS parah, dianjurkan untuk melakukan ekspansi paru. Jika memungkinkan, harus dilakukan ventilasi posisi prone selama lebih dari 12 jam per hari. Bagi mereka dengan hasil ventilasi posisi prone yang buruk, oksigenasi membran ekstrakorporeal (ECMO) harus dipertimbangkan segera jika kondisinya memungkinkan.

  • Bantuan sirkulasi: Prinsipnya resusitasi cairan yang adekuat, meningkatkan sirkulasi mikro, menggunakan obat vasoaktif, dan melakukan pemantauan hemodinamik jika diperlukan.

  • Pertimbangan terapi lain: glukokortikoid dapat digunakan dalam terapi jangka pendek (3-5 hari) sesuai dengan tingkat keparahan gangguan pernapasan dan perkembangan rontgen dada. Dosis metilprednisolon yang direkomendasikan tidak boleh melebihi 1-2 mg/kg/hari. Perlu diperhatikan bahwa glukokortikoid dosis tinggi akan menunda klirens virus corona karena efek imunosupresif. Injeksi Xuebijing (obat tradisional Cina) dapat digunakan untuk terapi dengan pemberian 100 mL/hari secara intravena, dua kali sehari.

    Persiapan mikroekologi dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan mikroekologi usus dan mencegah infeksi bakteri sekunder. Terapi plasma konvalesen juga dapat digunakan. Untuk pasien kritis dengan respon inflamasi tinggi, dapat dipertimbangkan teknologi pemurnian darah ekstrakorporeal bila kondisi memungkinkan.

  • Terapi dengan obat Cina: COVID-19 termasuk dalam kategori penyakit epidemi pengobatan tradisional Cina. Penyakit ini disebabkan oleh faktor patogen epidemik, dan terletak di paru. Patogenesis utama COVID-19 ditandai oleh kelembaban, panas, racun, dan endapan. Daerah yang berbeda dapat merujuk pada skema berikut untuk terapi secara dialektik, sesuai dengan kondisi penyakit, karakteristik iklim lokal, dan kondisi fisik yang berbeda.

Pelepasan Isolasi dan Standar Pemulangan Pasien


Berdasarkan “ dengan suhu tubuh normal selama lebih dari 3 hari, dan gangguan sistem pernapasan membaik secara signifikan”, dimana “dengan gambaran absorbsi inflamasi yang jelas pada rontgen paru” telah ditambahkan dalam revisi panduan ini.

Selain itu, pasien juga harus memenuhi kriteria hasil negatif dari tes asam nukleat patogen pernapasan selama dua kali berturut-turut (interval pengambilan sampel minimal 1 hari). Hanya jika pasien memenuhi semua kriteria di atas, pasien dapat dilepaskan dari rumah sakit atau dipindahkan ke departemen terkait untuk penyakit lain sesuai dengan kondisi mereka.

Prinsip Pemindahan Pasien

Untuk memastikan keamanan transportasi, pasien harus diangkut dalam kendaraan khusus, selain itu para petugas yang membantu pemindahan pasien harus menggunakan alat pelindung diri dan disinfeksi kendaraan harus dilakukan.

Sumber : Komisi Kesehatan Nasional RRC, 2020, Guidance for Corona Virus Disease 2019: Prevention, Control, Diagnosis and Management, People Medical Publishing House

“COVID-19 terutama ditularkan melalui droplets/percikan dari saluran pernapasan saat bersin/batuk dan kontak ” diubah menjadi “ COVID-19 terutama ditularkan melalui droplets/percikan dari mulut saat bersin/batuk dan kontak dekat ”.

Dengan kata lain, kata “dekat” telah ditambahkan di belakang “kontak”. Selain itu, “penularan melalui aerosol dimungkinkan ketika manusia telah lama terpapar dengan aerosol konsentrasi tinggi dalam ruang yang relatif tertutup” juga ditambahkan.

Karakteristik Klinis

Dalam kasus yang parah, selain “ berkembang pesat menjadi sindrom gangguan pernapasan akut, syok septik, kesulitan dalam memperbaiki asidosis metabolik, dan disfungsi perdarahan dan koagulasi ”, “ kegagalan banyak organ ” juga dapat terjadi pada [kasus/ kondisi] yang lebih buruk.

Sedangkan untuk pemeriksaan laboratorium, ditekankan bahwa “Untuk meningkatkan tingkat positif deteksi asam nukleat, dianjurkan untuk mengumpulkan dan mempertahankan dahak pada pasien umum kecuali yang dilakukan dengan intubasi trakea (sekresi saluran pernapasan bawah harus dikumpulkan); dan semua spesimen harus dikirim dan diuji secepat mungkin.”

Diagnosis Kasus

Perbedaan kriteria diagnosis antara Provinsi Hubei dan provinsi lain dihapus dan disatukan sebagai “kasus yang diduga” dan “kasus yang terkonfirmasi”.

Ada dua penilaian terhadap kasus yang diduga.

  • Pertama, “pasien memenuhi salah satu dari riwayat keterpaparan epidemiologis serta dua manifestasi klinis (demam dan/atau gejala pernapasan; memiliki fitur penggambaran pneumonia yang disebutkan di atas; pada tahap awal, normal atau penurunan total putih jumlah sel darah dan penurunan jumlah limfosit dapat ditemukan).

  • Kedua, “pasien tanpa riwayat paparan epidemiologis yang pasti tetapi memenuhi tiga manifestasi klinis (demam dan/atau gejala pernapasan; memiliki fitur penggambaran pneumonia yang disebutkan di atas; pada tahap awal, normal atau penurunan total jumlah sel darah putih dan penurunan jumlah limfosit dapat ditemukan)”.

Bukti patogen positif diperlukan untuk kasus yang dikonfirmasi (hasil positif dari asam nukleat nCoV-2019 oleh fluoresensi RT-PCR real-time , atau urutan gen virus sangat homolog dengan nCoV-2019 yang diketahui).

Klasifikasi Klinis


Kasus masih dibagi lagi menjadi kasus ringan, kasus biasa, kasus parah, dan kasus kritis. “Untuk daerah dataran tinggi (ketinggian di atas 1000 m), nilai PaO2/FiO2 harus disesuaikan berdasarkan persamaan PaO2/ FiO2 × [Tekanan Atmosfer (mmHg) / 760]” ditambahkan dalam deskripsi tekanan parsial arteri oksigen (PaO2)/konsentrasi oksigen (FiO2) ≤ 300 mmHg.

Pasien dengan > 50% perkembangan lesi dalam 24 hingga 48 jam dalam rontgen paru harus diperlakukan sebagai kasus yang parah.

Perbedaan Diagnosis


Diagnosis banding harus dilakukan sesuai dengan kasus COVID-19 dan NCP yang ringan.

Sebagai contoh, manifestasi ringan yang disebabkan oleh COVID-19 harus dibedakan dari infeksi pernapasan yang disebabkan oleh virus lain. NCP harus dibedakan dari infeksi pneumonia yang disebabkan oleh virus influenza, adenovirus atau virus syncytial pernapasan, dan pneumonia mikoplasma.

Khusus untuk kasus yang dicurigai, deteksi antigen cepat, beberapa tes asam nukleat PCR dan metode lain harus diadopsi untuk memeriksa patogen pernapasan umum. ” disorot dalam edisi ini.

Identifikasi Kasus dan Laporan


Persyaratan penyelesaian untuk kasus diagnosis klinis di Provinsi Hubei ” dihapus.

Selain itu, “ Kriteria Pengecualian untuk Kasus yang Diduga ” juga dihapus. Standar pelepasan isolasi untuk kasus yang dicurigai disesuaikan dengan “ Standar Pelepasan Isolasi Kasus Terkonfirmasi ”.

Tindakan (Treatment)

Tentukan tempat perawatan sesuai dengan tingkat keparahan penyakit. “ Kasus yang diduga dan kasus yang dikonfirmasi ” dihapus dan “ Kasus harus diisolasi dan dirawat di rumah sakit yang ditunjuk dengan kondisi isolasi dan perlindungan yang efektif. Kasus yang dikonfirmasi dapat dimasukkan ke bangsal yang sama .“ ditambahkan.

Perawatan antivirus. Deskripsi “ tidak ada pengobatan antivirus yang efektif telah dikonfirmasi saat ini ” dihapus. “ Klorokuin fosfat (500 mg untuk dewasa, dua kali per hari) ” dan “ Arbidol (200 mg untuk dewasa, tiga kali per hari) ” ditambahkan sebagai obat percobaan.

Kombinasi ribavirin dan interferon atau lopinavir/ritonavir direkomendasikan. Kursus pengobatan dengan obat percobaan harus ≤ 10 hari. Efek obat percobaan direkomendasikan untuk dievaluasi selama penggunaan klinis. Penggunaan simultan dari tiga atau lebih jenis obat antivirus tidak dianjurkan dan pengobatan relatif harus dihentikan jika terjadi efek samping yang tak tertahankan.

Adapun pengobatan untuk kasus yang parah dan kritis, “ terapi pemulihan plasma ” ditambahkan dan direkomendasikan untuk mengobati kasus yang berkembang pesat, kasus parah dan kasus kritis. Administrasi dan dosis mengacu pada Rencana Terapi Plasma Klinis untuk Penyakit Virus Corona 2019 yang pulih selama Pemulihan (Edisi Pertama Tentatif)

Perawatan lain. “ Teknologi pemurnian darah ekstrakorporeal harus dipertimbangkan jika memungkinkan ” diubah menjadi “ Perubahan plasma, adsorpsi, perfusi, penyaringan darah/plasma dan teknologi pemurnian darah ekstrakorporeal lainnya harus dipertimbangkan jika memungkinkan ” untuk kasus kritis dengan reaksi inflamasi parah.

Perawatan Pengobatan China. Rencana Diagnosis dan Perawatan Penyakit Virus Corona 2019 (Edisi Revisi Kelima Tentatif) dimodifikasi dan dilengkapi berdasarkan pengamatan mendalam dan pengobatan kasus, ringkasan dan analisis resep nasional tradisional Pengobatan China, skrining pengalaman dan resep yang efektif, dan pengumuman Rekomendasi Sup Paru-Kliring dan Detoksifikasi dalam Pengobatan Penyakit Virus Corona 2019 oleh Pengobatan Tradisional Cina dan Barat, Rencana Diagnosis dan Perawatan Penyakit Virus Corona Parah dan Kritis 2019 Kasus (Edisi Kedua Tentatif), dan Peraturan Manajemen Kasus Virus Corona Ringan dan Umum 2019.

Klasifikasi tahap penyakit konsisten dengan edisi kelima dan pengobatan tradisional Cina dibagi menjadi periode observasi medis dan periode perawatan klinis (untuk kasus yang dikonfirmasi), yang selanjutnya dibagi menjadi periode ringan, umum, berat, kritis, dan pemulihan. Obat paten China direkomendasikan untuk periode observasi terapi medis, sementara resep obat yang biasa digunakan, sup untuk membersihkan paru dan sup untuk detoksifikasi dianjurkan untuk digunakan saat periode perawatan klinis. Interpretasi dari manifestasi klinis, resep yang direkomendasikan dan dosis serta metode asupan disediakan secara terpisah untuk periode ringan, umum, berat, kritis, dan pemulihan. Penggunaan khusus obat paten China (termasuk injeksi obat tradisional China) untuk kasus yang parah dan kritis ditambahkan sementara itu. Daerah yang berbeda dapat merujuk pada resep yang direkomendasikan untuk perawatan dialektik sesuai dengan kondisi penyakit, karakteristik iklim lokal, dan kondisi fisik yang berbeda.

Pelepasan dari Isolasi dan Catatan setelah Pasien Dipulangkan


Pelepasan dari isolasi harus memenuhi empat standar berikut:

  • Memiliki suhu tubuh normal selama lebih dari 3 hari;

  • Dengan gejala pernapasan yang pulih secara signifikan;

  • Pencitraan paru menunjukkan penyerapan dan pemulihan yang jelas dari lesi eksudatif akut;

  • Dengan hasil negatif dari tes asam nukleat patogen pernapasan selama dua kali berturut-turut (interval pengambilan sampel minimal 1 hari).

Catatan setelah pasien dipulangkan ” ditambahkan:

  • Rumah sakit yang ditunjuk harus memperkuat komunikasi dengan lembaga kesehatan primer di tempat tinggal pasien, berbagi catatan medis, dan meneruskan informasi kasus pasien yang telah dipulangkan ke komite lingkungan yang relevan dan lembaga kesehatan primer.

  • Untuk kasus pasien yang telah dipulangkan, mereka dianjurkan untuk tetap memantau kondisi kesehatannya secara terus-menerus selama 14 hari, memakai masker wajah, tinggal di kamar sendiri yang berventilasi, mengurangi frekuensi kontak dekat dengan anggota keluarga, makan sendirian, menjaga kebersihan tangan dan menghindari kegiatan di luar ruangan karena sistem imunitasnya sudah terganggu dan risiko terinfeksi patogen lain.

  • Disarankan untuk melakukan kunjungan tindak lanjut dan kunjungan ulang pada minggu kedua dan keempat setelah dipulangkan.

Sumber : Komisi Kesehatan Nasional RRC, 2020, Guidance for Corona Virus Disease 2019: Prevention, Control, Diagnosis and Management, People Medical Publishing House

Berikut infografik terkait dengan virus corona

Etiologi


Dalam Diagnosis awal dan Rencana Perawatan Penyakit Virus Corona 2019 ( Edisi Pertama Tentatif), deskripsi etiologi coronavirus didasarkan pada pemahaman sifat fisikokimia dari penemuan virus corona sebelumnya. Dari penelitian yang terus- menerus dan mendalam, edisi kedua menambahkan “coronavirus tidak dapat dinonaktifkan secara efektif oleh chlorhexidine”, juga ditambahkan dalam edisi keempat,

nCov-19 adalah genus b, dengan envelope, bentuk bulat dan sering berbentuk pleomorfik, dan berdiameter 60-140 nm. Karakteristik genetiknya jelas berbeda dari SARSr-CoV dan MERSr- CoV. Homologi antara nCoV-2019 dan bat-SL-CoVZC45 lebih dari 85%. Ketika dikultur in vitro, nCoV-2019 dapat ditemukan dalam sel epitel pernapasan manusia setelah 96 jam, sementara itu membutuhkan sekitar 6 hari untuk mengisolasi dan membiakkan VeroE6 dan jaringan sel Huh-7“, serta ”corona virus sensitif terhadap sinar ultraviolet“.

Karakteristik Epidemiologis


Berdasarkan kasus yang ditelusuri ketika COVID-19 awal menyebar, deskripsi epidemiologinya dalam edisi pertama terbatas pada “ sebagian besar kasus yang ditangani saat ini memiliki riwayat terpapar makanan laut pasar Wuhan Huanan, dan beberapa kasus muncul dalam agregasi keluarga” .

Karakteristik epidemiologis” telah ditambahkan dan dijelaskan secara terpisah di edisi keempat. Sumber infeksi, rute penularan dan individu yang rentan dijelaskan bahwa:

Sumber utama infeksi adalah pasien dengan COVID-19, dan sebagian besar ditularkan melalui percikan/droplet saat dahak, juga melalui rute kontak. Lansia dan pasien dengan penyakit bawaan berkembang ke kondisi yang lebih serius setelah terinfeksi, dan bahwa hanya ada sedikit kasus nCOV-19 pada anak-anak dan bayi ”.

Berdasarkan edisi keempat, sumber infeksi telah diubah menjadi

“sumber infeksi utama adalah pasien dengan COVID-19, dan pembawa asimptomatik nCov-19 juga bisa menjadi sumber infeksi” di edisi kelima.

Deskripsi rute transmisi telah diubah menjadi

COVID- 19 terutama ditularkan oleh droplet saat bernapas dan kontak dan rute lain seperti aerosol dan gastrointestinal harus tetap dikonfirmasi ”.

Deskripsi kelompok rentan juga telah diubah menjadi

“manusia semua umur pada umumnya rentan”.

Sumber infeksi pada edisi keenam telah diubah dari

“COVID-19 terutama ditularkan oleh droplet pernapasan dan kontak”

menjadi

“COVID-19 terutama ditransmisikan oleh percikkan/droplet pernapasan dan kontak dekat”, dengan kata lain, kata dekat telah ditambahkan di depan kontak .

Selain itu, “Transmisi Aerosol dimungkinkan ketika manusia lama terpapar dengan konsentrasi aerosol yang tinggi di ruang tertutup“ (ditambahkan dalam edisi keenam).

Karakteristik Klinis


Edisi keempat menambahkan “3 hingga 7 hari, hingga 14 hari” dalam deskripsi periode masa inkubasi yang telah dimodifikasi menjadi

“1 hingga 14 hari, dan umumnya dalam 3 hingga 7 hari “ di edisi kelima sesuai dengan hasil investigasi epidemiologi.

Edisi pertama menggambarkan gejala sebagai “demam, kelelahan, batuk kering, dll.” dan edisi keempat menambahkan “beberapa pasien dengan gejala seperti hidung tersumbat, pilek, dan diare”.

Dengan pemahaman patogenesis pasien kritis, edisi keempat menekankan bahwa kasus yang parah adalah biasanya diperburuk 1 minggu setelah timbulnya penyakit, disertai dengan dispnea, dan edisi kelima menambahkan hipoksemia sebagai manifestasi yang parah.

Adapun kasus ringan, edisi kelima menggambarkannya secara terpisah dan mengubah “kasus kematian lebih umum pada lansia dan mereka dengan penyakit kronis.” Dalam edisi keempat dengan “lansia dan penderita penyakit kronis bawaan memiliki prognosis yang buruk“.

Deskripsi bahwa “sebagian besar pasien memiliki prognosis yang baik, beberapa pasien sakit kritis, dan bahkan meninggal” belum berubah dari edisi pertama sampai edisi keenam.

Pemeriksaan Laboratorium

Bahwa penurunan limfofenia dikaitkan dengan beberapa kasus parah yang telah ditekankan dalam semua edisi.

“Peningkatan troponin dapat dilihat pada beberapa pasien kritis, “ secara bertahap dipastikan berdasarkan pengetahuan “peningkatan kadar enzim hati, enzim otot dan mioglobin, dan fungsi koagulasi yang abnormal”.

Edisi keempat menambahkan bahwa

“asam nukleat nCoV-2019 dapat dideteksi dalam apusan faring, dahak, sekresi saluran pernapasan bawah, spesimen darah” sementara “spesimen tinja dimana asam nukleat nCoV-2019 juga dapat dideteksi ” ditambahkan di edisi kelima.

Edisi keenam menekankan

“untuk meningkatkan tingkat positif asam nukleat yang dideteksi, disarankan untuk mengumpulkan dan mempertahankan dahak pada pasien umum kecuali yang dilakukan dengan intubasi trakea (sekresi saluran pernapasan bawah harus dikumpulkan); dan semua spesimen harus dikirim dan diuji secepat mungkin.“ Deskripsi rontgen dada sedikit berubah dari edisi pertama sampai edisi keenam.

Diagnosis Kasus


Definisi kasus diklasifikasikan ke dalam “kasus yang diawasi” dan “kasus yang dikonfirmasi” dalam edisi pertama.

  • Definisi kasus yang diawasi adalah seseorang harus memenuhi riwayat terpapar secara epidemiologis (memiliki riwayat perjalanan di Wuhan, atau pasar lokal yang relevan, terutama yang memiliki riwayat kontak langsung atau tidak langsung dengan petani di pasar dua minggu sebelum timbulnya penyakit) dan definisi klinis virus pneumonia yang tidak dapat dijelaskan pada tahun 2007 (demam, radiografi fitur pneumonia, atau jumlah sel darah putih normal atau menurun pada tahap awal, atau jumlah limfosit menurun, atau kondisinya tidak meningkat secara signifikan atau semakin diperburuk setelah 3 hari mendapatkan standar pengobatan dengan antibiotik).

  • Definisi kasus yang dikonfirmasi, spesimen saluran pernapasan, seperti dahak dan usap oral, harus dikumpulkan dari kasus yang diamati untuk sekuensi seluruh genom dan harus sangat homolog dengan coronavirus baru.

Sejak peningkatan kasus tidak lagi berhubungan dengan paparan pasar makanan laut di Wuhan Huanan dan sejarah paparan epidemiologis menekankan pada “memiliki sejarah perjalanan di Wuhan dalam waktu 14 hari sebelum timbulnya penyakit“, edisi kedua diubah “kasus yang diawasi” menjadi “kasus yang dicurigai/suspek” , dan “memiliki riwayat perjalanan di Wuhan dalam 14 hari sebelum timbulnya penyakit” plus manifestasi klinis virus pneumonia dapat dianggap sebagai kasus yang diduga/suspek.

“Pengobatan antibakteri 3 hari tidak valid” telah dihapus. Sensitivitas deteksi dini kasus ditingkatkan. Terlebih lagi, kasus yang dikonfirmasi adalah terdeteksi dengan real time RT-PCR fluoresensi.

Definisi kasus berbeda antara Provinsi Hubei dan provinsi lainnya kecuali Hubei dalam edisi kelima. Kasus masih diklasifikasikan ke dalam “kasus yang diduga (suspected cases)” dan “kasus yang dikonfirmasi (confirmed cases) ” di provinsi kecuali Hubei. Tapi “kasus yang didiagnosis secara klinis” didefinisikan sebagai kasus yang diduga dengan karakteristik khusus . nCOV-19 telah ditambahkan dalam klasifikasi kasus di Provinsi Hubei. Selain itu, kriteria untuk kasus yang dicurigai diperluas ke orang-orang dengan “gejala demam dan/atau gejala gangguan pernapasan” dan “jumlah sel darah putih normal atau menurun, atau penurunan jumlah limfosit pada tahap awal”.

Definisi kasus yang berbeda untuk Provinsi Hubei dan provinsi lain kecuali Hubei dihapus dalam edisi keenam dan disatukan sebagai “kasus yang diduga (suspected cases)” dan “kasus yang terkonfirmasi (confirmed cases)”.

Definisi kasus yang dicurigai didasarkan pada 2 (dua) skenario yang berbeda:

  1. “Bertemu dengan seseorang dengan riwayat epidemiologis terpapar dan dihubungkan dengan adanya 2 (dua) manifestasi klinis (demam dan/atau gejala gangguan saluran pernapasan; memiliki gambaran pneumonia yang disebutkan di atas; jumlah leukosit normal atau menurun, atau jumlah limfosit menurun pada tahap awal penyakit).” dan

  2. “Memenuhi ketiga manifestasi klinis (demam dan/atau gejala pernapasan; memiliki gambaran pneumonia yang disebutkan di atas; jumlah leukosit normal atau menurun, atau limfosit hitung menurun pada tahap awal penyakit) tetapi tanpa epidemiologi spesifik riwayat paparan.”

“Kasus parah” telah ditambahkan ke klasifikasi kasus sejak edisi kedua, dan definisi kasus kritis tetap/tidak berubah. Tipe biasa “ditambahkan pada edisi keempat dan definisi kasus parah dimodifikasi ( “rontgen paru menunjukkan beberapa lesi lobar, atau > 50% perkembangan lesi dalam waktu 48 jam dan kondisi klinis lainnya yang membutuhkan rawat inap “telah dihapus).

Dalam edisi kelima, definisi “tipe ringan” ditambahkan, yaitu, gejala klinis ringan, dan tidak ada tanda-tanda pneumonia diamati juga sebagai gambaran diagnosis.

Identifikasi kasus dan laporan


Edisi keempat menyederhanakan prosedur diagnosis, pelaporan, identifikasi, dan rujukan kasus yang diduga.

Edisi kelima memisahkan Provinsi Hubei dengan provinsi lain. “Untuk area dengan ketinggian tinggi (di atas 1 kilometer), nilai PaO 2/ FiO 2 seharusnya disesuaikan berdasarkan persamaan PaO 2/ FiO 2 × Tekanan Atmosfer (mmHg)/760 ” ditambahkan dalam “PaO 2/ FiO 2 ≤300 mmHg (1 mmHg = 0,133 kPa)” di edisi keenam. Pasien dengan “> 50% perkembangan lesi dalam 24 hingga 48 jam pada rontgen paru ” harus diperlakukan sebagai kasus yang parah.

Dibandingkan dengan edisi keempat, identifikasi kasus dan prosedur pelaporan kasus sama di provinsi kecuali Hubei pada edisi kelima, tetapi menekankan bahwa pasien yang dicurigai/suspek harus dipindahkan segera ke rumah sakit yang ditunjuk dengan tujuan rujukan yaitu keselamatan.

Untuk Provinsi Hubei, staf medis di semua tingkatan dan jenis harus segera diisolasi dan diobati bagi yang dicurigai dan didiagnosis secara klinis memenuhi definisi kasus. Setiap orang yang dicurigai atau yang memenuhi syarat diagnosis klinis harus diisolasi dalam satu ruangan dan spesimennya harus dikumpulkan untuk pengujian patogenik sesegera mungkin.

“Persyaratan disposal yang dibutuhkan untuk kasus diagnosis klinis di Provinsi Hubei” dihapus dalam edisi keenam, serta “kriteria pengecualian untuk kasus yang dicurigai”. Standar untuk isolasi pada kasus yang dicurigai berhubungan dengan “Penghapusan Standar Isolasi”. “Khusus untuk kasus yang diduga, deteksi dengan antigen cepat, Multiple PCR asam nukleat dan metode lain harus diadopsi untuk memerika patogen pernapasan umum” ditekankan dalam edisi keenam.

Perawatan


Disarankan bahwa “tempat perawatan harus ditentukan sesuai dengan tingkat keparahan penyakit“, ”setiap kasus yang dicurigai harus dirawat di satu kamar“, dan “kasus kritis harus dimasukkan ke ICU sesegera mungkin”.

Dalam hal terapi antivirus, tidak ada terapi antivirus yang efektif ditekankan, tetapi inhalasi aerosol α-interferon, lopinavir/ritonavir, dan ribavirin direkomendasi sebagai obat uji coba.

Edisi kelima menjelaskan secara detail perawatan kasus yang parah dan kritis. Dukungan pernapasan menekankan pemantauan ketat oksigen jari-saturasi, pemberian terapi oksigen dan dukungan pernapasan yang tepat waktu, terutama jika kondisinya tidak membaik atau bahkan memburuk setelah “highflow terapi oksigen kateter hidung atau ventilasi mekanis non-invasif” untuk jangka waktu singkat (1-2 jam), intubasi endotrakeal dan mekanik invasif ventilasi harus dilakukan segera.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat harus dihindari, terutama dalam kombinasi dengan antibiotik spektrum luas. Perlu dicatat bahwa dosis glukokortikoid yang lebih tinggi akan menunda pemusnahan coronavirus. Bahwa “untuk pasien dengan penyakit kritis respon inflamasi yang tinggi, teknologi pemurnian darah ekstrakorporeal bisa dipertimbangkan ketika kondisi memungkinkan” telah ditambahkan/lengkapi”.

“Klorokuin fosfat (500 mg untuk dewasa, dua kali sehari)” dan “Arbidol (200 mg untuk dewasa, tiga kali sehari) ”ditambahkan sebagai obat uji coba pada edisi keenam. Kombinasi ribavirin dan interferon atau lopinavir/ritonavir direkomendasikan. Pengobatan dengan obat uji coba harus ≤ 10 hari dan efek obat uji coba direkomendasikan untuk dinilai selama penggunaan klinis. Penggunaan secara bersamaan tiga atau lebih jenis obat antivirus tidak direkomendasikan dan pengobatan relatif harus dihentikan jika terjadi efek yang tidak diharapkan.

Adapun pengobatan untuk kasus-kasus parah dan kritis, “terapi plasma penyembuhan” ditambahkan dalam edisi keenam untuk mengobati kasus yang berkembang cepat, parah, dan kasus kritis. “Teknologi pemurnian darah—extrakorporeal dapat dipertimbangkan jika memungkinkan” diubah menjadi “pertukaran plasma, adsorpsi, perfusi, penyaringan darah/plasma dan teknologi pemurnian darah ekstrakorporeal lainnya harus dipertimbangkan jika memungkinkan” untuk kasus sulit dengan rekasi peradangan parah.

Pengobatan Cina


Edisi ketiga menambahkan pengobatan tradisional Cina. Pengobatan nCoV-19 juga dapat dianggap sebagai bagian dari pengobatan tradisional Cina pada penyakit epidemi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor patogen epidemi itu terletak di paru- paru. Dasar Patogenesis nCoV-19 ditandai oleh kelembaban, panas, racun, dan lanau.

Daerah yang berbeda dapat merujuk ke skema yang berbeda untuk perawatan dialektiknya sesuai dengan kondisi penyakit, karakteristik iklim lokal, dan kondisi fisik yang berbeda. Empat resep dan dosis direkomendasikan, dan rekomendasi untuk periode pengamatan medis, periode menengah dan periode berat ditambahkan.

Setelah Isolasi/Pemulangan dan Catatan setelah Isolasi


Standar untuk mengakhiri isolasi sama sejak edisi pertama hingga edisi keempat, yaitu:

Suhu tubuh kembali ke normal selama lebih dari 3 (tiga) hari; gejala-gejala pernapasan pulih secara signifikan; kondisi paru-paru terlihat jelas penyerapannya dan pemulihan lesi eksudatif akut; dan deteksi pernapasan-asam nukleat patogen negatif pada kedua tes berturut- turut (dimana pengambilan sampel dengan interval minimal 1 hari).

Edisi keenam menambahkan “catatan setelah isolasi” :

  • Rumah sakit yang ditunjuk harus memperkuat komunikasi dengan fasilitas kesehatan dasar di tempat tinggal pasien, menginformasikan catatan medis, dan meneruskan informasi kasus yang telah diisolasi ke fasilitas kesehatan dasar dan faskes yang relevan.

  • Pasien/kasus yang telah selesai direkomendasikan untuk dimonitor secara berkelanjutan selama 14 hari, memakai masker, tinggal di ruangan terpisah dengan ventilasi, mengurangi kontak dekat dengan anggota keluarga, makan dipisahkan, menjaga kebersihan tangan/higiene dan menghindari kegiatan/aktivitas di luar rumah karena gangguan kekebalan tubuh (compromised immunocom) dan risiko infeksi patogen lain.

  • Tindak lanjut dan kunjungan balik pada minggu kedua dan keempat setelah pemulangan/isolasi direkomendasikan.

Sumber : Komisi Kesehatan Nasional RRC, 2020, Guidance for Corona Virus Disease 2019: Prevention, Control, Diagnosis and Management, People Medical Publishing House