© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan tindakan ekonomi rasional?

tindakan ekonomi rasional

Tindakan yang rasional merupakan tindakan yang berdasarkan keputusan yang dipikirkan secara matang, dan dilandasi oleh informasi yang akurat dan objektif.

1 Like

Tindakan ekonomi Rasional merupakan setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling menguntungkan, dan kenyataannya demikian.

Rasional merupakan konsep normatif yang mengacu pada kesesuaian keyakinan seseorang dengan alasan seseorang untuk percaya, atau tindakan seseorang dengan alasan seseorang untuk bertindak. Namun, istilah “rasionalitas” cenderung digunakan secara berbeda dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk diskusi khusus ekonomi, sosiologi, psikologi, biologi evolusioner dan ilmu politik. Sebuah keputusan yang rasional adalah salah satu yang tidak hanya beralasan, tetapi juga optimal untuk mencapai tujuan atau memecahkan masalah.

Menentukan optimal untuk perilaku rasional membutuhkan formulasi diukur dari masalah, dan membuat beberapa asumsi utama.

Teori ekonomi mainstream memandang homoekonomikus adalah manusia yang rasional (Simon, 1955). Setiap tindakan yang dilakukan homoekonomikus diasumsikan dilandasi oleh dua hal.

  • Pertama, setiap tindakan dilakukan untuk meraih tujuan, yaitu mendapatkan manfaat setinggi-tingginya dari setiap keputusan yang diambil (utility maximization). Dalam konteks lain prinsip ini bisa disebut sebagai prinsip mengambil keuntungan sebaik-baiknya dalam setiap keputusan (profit maximization).

  • Kedua, bahwa individu adalah agen yang mampu memper- hitungkan konsekuensi setiap alternatif tindakan (Simon, 1982). Thaler (1987, 1988, 1990) dan Simon (1955) menambahkan karakter lain dari homoekonomikus, yaitu memiliki preferensi yang stabil dan well-defined, memiliki kemampuan melakukan perhitungan secara sempurna (perfect computational ability), mengutamakan kepentingan pribadi (unbounded selfishness), dan memiliki daya kemauan tanpa batas atau unbounded will-power .

Perilaku homoekonomikus dalam mengambil keputusan yang rasionalitas merupakan inti dari utility theory. Teori ini pertama kali dirumuskan oleh Daniel Bernoulli pada tahun 1738 sebagai utility theory , diterjemahkan dan dipublikasikan ulang pada jurnal Econometrica sebagai Bernoulli (1954). Teori ini dikembangkan sebagai expected utility theory oleh Von Neumann dan Morgenstern (1947). Perluasan teori ke arah subjective probability dilakukan oleh Savage (1954). Ulasan terhadap utility theory dan turunan- turunannya sudah banyak dilakukan, di antaranya Edward (1954), Coombs, Dawes, dan Tversky (1970), Schoemaker (1982), dan Hunt (2007). Uraian ringkas di bawah ini bersumber dari tulisan-tulisan tersebut.

Rasionalitas terungkap dalam pengambilan keputusan nir-risiko, atau riskless choice, maupun keputusan berisiko, atau riskychoice (Edwards, 1955).

Pengambilan keputusan nir-risiko dapat digambarkan sebagai berikut. Ketika menghadapi pilihan antara dua hal, A atau B, keputusan individu bisa dipastikan ke dalam salah satu di antara ketiga kemungkinan ini. Pertama, individu memilih A dan bukan B, yang berarti A lebih disukai – atau A memberikan utilitas lebih besar – dibanding B. Kemungkinan kedua adalah sebaliknya, yaitu individu memilih B, yang berarti B lebih disukai – atau B memberikan utilitas lebih besar – dibanding A. Kemungkinan ketiga, pilihan A dan B masing-masing memiliki bobot yang sama satu dengan lainnya. Ketiga alternatif pilihan ini dapat diungkapkan secara matematis sebagai A ~ B atau A ~ B atau A ≈ 𝐵. Tanda ≈ menunjukkan hubungan yang “kira-kira” antara kedua pilihan.

Ketiga bentuk relasi ini disebuat sebagai aksioma comparability (Schoemaker, 1982), atau aksioma konek- tivitas (Coombs, et al., 1970).

Edwards (1954) memberikan ilustrasi yang menarik tentang penerapan aksioma ini. Bayangkan situasi yang sedang dihadapi oleh seorang anak kecil yang sedang berdiri di depan toko permen. Dia sedang memikirkan dua keadaan, A atau B, untuk dipilih. Keadaan A , dia tetap memiliki uang Rp.10.000,00 dan tidak memiliki permen lolipop yang dia tahu sangat enak dikulum. Keadaan B, dia tinggal memiliki Rp2.500,00 dan sebuah permen lolipop seharga Rp7.500,00.

Sebagai homoekonomikus yang rasional, si anak ini diasumsikan tidak hanya mengetahui semua pilihan tindakan yang bisa dia pilih, tetapi juga hasil atau manfaat apa saja yang melekat pada setiap pilihan tindakan itu. Berikutnya, dia juga diasumsikan memiliki sensitivitas yang sangat tinggi, dalam tataran tingkat sensitivitas tanpa batas (infinitely sensitive). Dengan demikian dia bisa menilai dan membandingkan bahwa manfaat dari lolipop seharga Rp7.500,- itu setara tiga kali manfaat uang Rp2.500,00 yang masih dimilikinya.

Bila ada teman lain yang menawarkan permen itu dengan satu permen lolipop seharga Rp5.000,00 dan satu permen coklat seharga Rp2.550,00, dia akan menerima tawaran itu karena terpaut Rp50,00 lebih tinggi dari lolipop yang telah dimilikinya, dengan catatan dia menyukai lolipop sama besarnya dengan permen coklat. Dengan property seperti homo ekonomikus bisa mengambil keputusan dengan rasional ketika memilih dua hal atau lebih yang berbeda. Dia selalu bisa membandingkan dengan ukuran yang cermat hal-hal yang harus dipilihnya, dan pilihannya selalu memaksimalkan suatu manfaat bagi dirinya sendiri.

Prinsip serupa dapat diterapkan dalam pengambilan keputusan berisiko. Menurut Kahneman dan Tversky (1979), keputusan berisiko dapat dipandang sebagai pilihan antara dua prospek atau lebih, atau dua pertaruhan (gamble) atau lebih. Sebuah prospek didefinisikan sebagai (x 1, p 1; …; x n,p n) adalah sebuah ikatan atau kontrak yang menghasilkan x i dengan probabilitas p i, di mana p 1 + p 2 + … + p n = 1 . Ketika atribut kedua dari prospek adalah hasil 0, atau tidak memberikan apa-apa secara positif maupun negatif, maka notasi bisa disederhanakan sebagai (x,p) untuk menggambarkan prospek (x,p; 0, 1-p), di mana prospek x dengan sebagai sebuah kepastian, atau p = 1, dituliskan sebagai (x).

Pembuktian yang dilakukan secara matematik oleh Von Neumann dan Moregenstern (1947) menunjukkan bahwa keputusan individu dalam situasi yang berisiko bersifat rasional bila memenuhi enam asumsi. Dua di antara enam asumsi itu bersifat teknis, yaitu asumsi continuity dan comparability .

Keempat asumsi substantif dalam pengambilan keputusan berisiko adalah

  • asumsi konsistensi atau pengguguran (cancellation)
  • asumsi transitivitas (transitivity)
  • asumsi dominansi (dominance )
  • asumsi invarians ( invariance) (Schoemacker, 1982; Miljkovic, 2005).