© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Teori Razim (Regime Theory)?

Regime Theory

Teori rezim adalah sebuah teori hubungan internasional yang berasal dari tradisi liberal. Teori rezim berpendapat bahwa organisasi internasional atau rezim internasional memengaruhi perilaku negara dan pelaku internasional lainnya. Teori ini menyatakan bahwa kerja sama mungkin terjadi dalam sistem anarki dunia karena rezim sendiri adalah hasil dari kerja sama internasional.

Apa yang dimaksud dengan Teori Razim (regime theory) ?

Rezim internasional didefinisikan sebagai seperangkat norma-norma, peraturan-peraturan dan prosedur pembuatan keputusan baik yang eksplisit maupun implisit dimana semua harapan para aktor berkumpul dalam hubungan internasional (1981).

Rezim internasional dianggap memiliki kemampuan mengkoordinasikan prilaku negara .

Rezim harus dipahami sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar ”perjanjian sementara” (temporary agreement) yang mengalami perubahan setiapkali terjadi perpindahan atau pergeseran dalam ”power” atau ”interest” 4 (empat) hal yang mutlak ada dalam Rezim Internasional sekaligus menjadi cirinya adalah :

1. Principles
Yaitu kepercayaan atas fact, causation, dan rectitude.

2. Norms
Adalah standar perilaku yang dituangkan dalam hak dan kewajiban

3. Rules
Adalah bentuk ketentuan dan larangan yang spesifik berkenaan dengan perilaku tadi.

4. Decision Making Procedures
Adalah praktek umum untuk membuat dan mengimplementasikan keputusan bersama (Collective Choices).

NORMA DALAM REZIM INTERNASIONAL

Berdasarkan perilaku dalalm membuat prosedur pengambilan keputusan dan perilaku dalam merumuskan serta mengimplementasikan peraturan, ada dua bentuk norma:

  1. Substantive Norms
    Menyediakan standarisasi yang spesifik mengenai aturan prilaku

  2. Procedural Norms
    Memberikan panduan bagaimana negara harus merancang dan mempergunakan mekanisme pembuatan keputusan.

Sedangkan norma berdasarkan asal-usulnya dibagi berdasarkan:

  1. Sovereignity Norms
    Norma-norma yang lahir atau dibentuk oleh struktur dasar politik internasional

  2. Interdependence Norms
    Norma yang muncul dari interdependensi negara dalam isu-isu tertentu yang meningkatkan kebutuhan negara berkolabolari dalam mengejar kesejahteraan.

SIFAT DAN JENIS REZIM INTERNASIONAL

Dilihat dari resiko/uncertainty dalam Rezim, maka ada beberapa tipe Rezim internasional:

  1. Control-oriented Regimes
    Hampir seluruh rezim internasional memiliki sifat control-oriented Masing-masing anggota mempertahankan tingkat pengawasan perilaku masing-masing untuk mengurangi ketidakpastian dan kecurangan dalam aktivitas yang tidak terkondisikan.

    Tipe rezim ini memiliki dua bentuk regulasi:

    1. Internal Regulation
      Diperuntukan pada pengaturan pola dan perilaeku diantara anggota rezim

    2. Environmental Regulation
      Diperuntukan sebagai aturan bagi anggota berperilaku diluar lingkungan rezim.

  2. Mutual-Oriented Regimes
    Tipe ini tidak terlalu banyak dan biasanya disebut sebagai Insurance Regimes.

Menurut Stephen D. Krasner (1982), pengertian rezim internasional adalah suatu tatanan yang berisi kumpulan prinsip, norma, aturan, proses pembuatan keputusan yang bersifat eksplisit maupun implicit dan saling berkaitan dengan ekspektasi atau pengharapan aktor-aktor dan memuat kepentingan aktor tersebut dalam hubungan internasional.

Sedangkan Donald Puchala dan Raymond Hopkins berpendapat bahwa rezim ada di setiap substantif isu-area dalam hubungan internasional di mana pun ada keteraturan dalam perilaku, beberapa jenis prinsip, norma atau harus ada aturan untuk menjelaskannya.

Dalam perkembangannya, Stephen Haggard dan Beth A. Simmons (1987) mengatakan bahwa selama sepuluh tahun terakhir, rezim internasional muncul sebagai fokus terpenting dan utama dari hasil penelitian secara empiris dan debat teoritis di dalam hubungan internasional.

Akan tetapi, menurut Young ada beberapa komponen dasar yang terdapat dalam sebuah rezim, yaitu konsep subtantif, prosedural dan implementasi.

  • Pertama, komponen subtantif menetapkan hak-hak dan aturan-aturan rezim.
  • Kedua, komponen prosedural merupakan pengaturan yang telah diakui bersama, menyangkut cara-cara mengambil pilihan kolektif dalam keadaan yang membutuhkan penyelesaian bersama.
  • Ketiga, implementasi, mengacu pada mekanisme-mekanisme dalam rezim yang dapat membuat para anggotanya patuh pada kepentingan yang telah dicapai bersama.

Rezim ini dibentuk oleh kedua negara untuk mengatur kerjasama agar menjadi lebih efektif mengingat tingkat interdependensi antar kedua negara yang semakin rumit dan kompleks. Oleh karena itu, dibentuknya rezim internasional merupakan sebuah upaya untuk menciptakan kerangka kerjasama internasional dan untuk memfasilitasi proses pembuatan kebijakan yang dapat dilakukan bersama.

Berdasarkan Donald J. Puchala dan Raymond F. Hopkins yang juga mendukung pernyataan Oran, menyatakan bahwa rezim internasional mempunyai 5 ciri utama, yaitu:

  • Rezim mempunyai kemampuan untuk membentuk perilaku kepatuhan terhadap prinsip-prinsip, norma dan aturan. Rezim bersifat subjektif, dia hanya bisa eksis berdasarkan pemahaman, ekspektasi dan keyakinan para partisipannya mengenai legitimasi, kelayakan atau perilaku yang bermoral;

  • Rezim internasional dapat menciptakan mekanisme atau prosedur bagi pembuatan kebijakan. Karakteristik ini menunjukkan bahwa rezim internasional bukan hanya sekedar berisikan norma substantif. Tapi lebih dari itu, rezim internasional adalah tentang bagaimana prinsip-prinsip tersebut dibuat yang melibatkan unsur-unsur seperti siapa partisipannya, kepentingan apa yang mendominasi atau yang menjadi prioritas dan aturan apa yang dapat melindungi dari dominasi dalam proses pembuatan kebijakan;

  • Sebuah rezim selalu mempunyai prinsip-prinsip yang dapat menguatkannya, sebagaimana halnya sebuah norma dapat menetapkan kebenaran dan melarang perilaku yang menyimpang;

  • Dalam setiap rezim selalu terdapat aktor yang berperan di dalamnya. Partisipan (aktor utama) dalam kebanyakan rezim internasional adalah pemerintahan negara-bangsa, akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga ada dari aktor-aktor non-negara. Peran mereka sebagai partisipan sangat krusial, yakni menciptakan, menjalankan dan mematuhi aturan yang telah dibuat;

  • Eksistensi rezim internasional adalah untuk mencocok nilai-nilai, tujuan-tujuan, dan prosedur pembuatan kebijakan yang dapat mengakomodir kepentingan dan kebutuhan semua partisipan.

Referensi

T. Haggard & Beth A. Simmons, 1987, “ Theories of International Regimes”, International Organization, Vol. 41, No. 3 (Summer, 1987).
Oran R. Young, 1982, ”Regime Dynamics: The Rise And Fall Of International Regimes”, dalam International Organization, Vol. 36, No. 2, International Regimes,published by The MIT Press.