Apa yang dimaksud dengan Teori Pilihan Rasional (Rational Choice)?


(Amalia Laisa) #1

Teori pilihan rasional, kadang disebut teori pilihan atau teori tindakan rasional, adalah kerangka pemikiran untuk memahami dan merancang model perilaku sosial dan ekonomi.[1]

Asumsi dasar teori pilihan rasional adalah seluruh perilaku sosial disebabkan oleh perilaku individu yang masing-masing membuat keputusannya sendiri. Teori ini berfokus pada penentu pilihan individu (individualisme metodologis).

Teori pilihan rasional juga berasumsi bahwa seseorang memiliki preferensi di antara beberapa pilihan alternatif yang memungkinkan orang tersebut menyatakan pilihan yang diinginkannya. Preferensi tersebut dianggap lengkap (orang tersebut selalu dapat menentukan alternatif yang mereka inginkan atau tak ada alternatif yang diinginkan) dan transitif (apabila pilihan A lebih diinginkan daripada pilihan B dan pilihan B lebih diinginkan daripada pilihan C, maka A lebih diinginkan daripada C). Agen rasional kemudian mempertimbangkan informasi yang ada, kemungkinan peristiwa, dan potensi biaya dan keuntungan dari menentukan pilihan, dan bertindak konsisten dalam memilih tindakan terbaik.

Rasionalitas sering dijadikan asumsi perilaku individu dalam model dan analisis ekonomi mikro dan muncul di hampir semua penjelasan pembuatan keputusan manusia yang ada di buku pelajaran ekonomi. Rasionalitas juga penting bagi ilmu politik modern,[2] sosiologi,[3] dan filsafat.

Versi turunan dari rasionalitas adalah rasionalitas instrumental yang meliputi pencarian cara paling hemat biaya untuk meraih tujuan tertentu tanpa melihat berharga atau tidaknya tujuan tersebut. Gary Becker adalah salah satu pendukung penerapan model perilaku rasional secara luas.[4] Becker dianugerahi Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1992 atas penelitiannya tentang diskriminasi, kejahatan, dan modal manusia.[5]

Referensi :

[1] Lawrence E. Blume and David Easley (2008). “rationality,” The New Palgrave Dictionary of Economics , 2nd Edition. Abstract." by Abstract] & pre-publication copy.
Amartya Sen (2008). “rational behaviour,” The New Palgrave Dictionary of Economics, 2nd Edition. Abstract.
[2] Susanne Lohmann (2008). "rational choice and political science,"The New Palgrave Dictionary of Economics, 2nd Edition.Abstract.
[3] Peter Hedström and Charlotta Stern (2008). “rational choice and sociology,” The New Palgrave Dictionary of Economics, 2nd Edition. Abstract.
[4] Gary S. Becker (1976). The Economic Approach to Human Behavior. Chicago. Description and scroll to chapter-preview links.
[5] Nobel Prize Committee press release


(Wina Prinda Hapsari) #2

teori pilihan rasional

Karakteristik utama dari berbagai bentuk rasionalitas adalah bahwa semuanya melakukan pemilihan secara bernalar tentang perlunya mengambil arah tindakan tertentu untuk memecahkan masalah kebijakan.

Bentuk-bentuk rasionalitas menurut Paul Diesing, adalah sebagai berikut :

  1. Rasionalitas teknis
    Rasionalitas teknis merupakan karakteristik pilihan yang bernalar yang meliputi perbandingan berbagai alternatif atas dasar kemampuan masing-masing memecahkan masalah secara efektif.

  2. Rasionalitas ekonomis
    Rasionalitas ekonomis merupakan karakteristik pilihan yang bernalar yang membandingkan berbagai alternatif atas dasar kemampuan untuk menemukan pemecahan masalah yang efisien.

  3. Rasionalitas legal
    Rasionalitas legal merupakan karakteristik pilihan yang bernalar yang meliputi perbandingan alternatif menurut kesesuaian hukumnya terhadap peraturan- peraturan dan kasus-kasus penyelesaian sebelumnya.

  4. Rasionalitas sosial
    Rasionalitas sosial merupakan karakteristik pilihan yang bernalar menyangkut perbandingan alternatif menurut kemampuannya dalam mempertahankan atau meningkatkan institusi-institusi sosial yang bernilai.

  5. Rasionalitas substantif
    Rasionalitas substantif merupakan karakteristik pilihan yang bernalar menyangkut perbandingan berbagai bentuk rasionalitas -teknis, ekonomis, legal, sosial- dengan maksud agar dapat dibuat pilihan yang paling layak di bawah kondisi yang ada.

Teori Rasionalitas Terbatas (Bounded Rationality)

Herbert A. Simon telah mengembangkan suatu teori rasionalitas yang lebih menyentuh aspek humanisme yaitu teori rasionalitas terbatas (bounded rationality). Simon berpendapat bahwa tidak mungkin perilaku individu secara sendiri mencapai suatu tingkat rasionalitas yang tinggi. Jumlah alternatif yang harus dicari sedemikian banyaknya, informasi yang dibutuhkan untuk mengevaluasi alternatif-alternatif itu sedemikian besarnya sehingga sekedar mendekati rasionalitas yang obyektif pun sulit untuk dicapai.

Formulasi yang menegaskan teori rasionalitas terbatas akan nampak ketika pengambil keputusan berusaha mengkombinasikan antara kepuasan (satisfactory) dan kecukupan (suffice) sehingga menghasilkan suatu pilihan yang dianggap paling memuaskan. Disini pengambil keputusan tidak perlu memperhatikan seluruh alternatif yang terlalu banyak, namun cukup memperhatikan alternatif yang terbukti akan menghasilkan suatu kenaikan manfaat yang dapat diterima.

Perilaku memuaskan dapat sepenuhnya rasional, jika yang kita maksud dengan rasional disini adalah proses memperkerjakan akal dalam membuat pilihan-pilihan yang memperhitungkan biaya pencarian informasi. Pada perkembangannya teori rasionalitas terbatas banyak dipergunakan dalam berbagai penelitian dengan bidang ilmu yang berbeda-beda.

Salah satu peneliti yang menggunakan asumsi rasionalitas terbatas dalam penelitiannya adalah Williamson. Penelitian yang dilakukan Williamson menjelaskan tentang biaya transaksi dengan menggunakan asumsi rasionalitas terbatas sebagai salah satu elemen utamanya. Williamson menggunakan dua asumsi yang sering digunakan ekonom, yaitu

  1. rasionalitas terbatas (boundered rationality)
  2. kesempatan (opportunity).

Asumsi pertama mengasumsikan terbatasnya kemampuan individu-individu untuk menjadi rasional seratus persen dalam menghadapi biaya-biaya informasi yang non-trivial (penting) sifatnya, sementara asumsi kedua merujuk pada perilaku pemenuhan keinginan diri sendiri dengan cara-cara yang cerdik.

Penelitian Williamson menyimpulkan bahwa apabila setiap orang dalam masyarakat memiliki rasionalitas seratus persen, berperilaku jujur dan tidak oportunistik serta memiliki informasi yang sempurna, maka pertukaran melalui mekanisme pasar adalah metode yang paling efisien.

Kenyatannya, dalam dunia nyata, tidak semua orang (bahkan mungkin tidak ada seorangpun) rasional seratus persen, lebih banyak orang yang curang dan oportunistik daripada orang yang jujur serta informasi yang dimiliki oleh aktor-aktor ekonomi masih jauh dari sempurna. Informasi yang tidak sempurna dan asimetris dapat mengarahkan pengambil keputusan yang berjiwa oportunistik dan curang pada sikap adverse selection dan moral hazards.

Sikap oportunistik dan curang akan mendorong keberadaan rasionalitas dalam memilih alternatif terbaik dari berbagai pilihan yang ditawarkan.

image

Teori Pilihan Rasional

Kerangka analisis ekonomi politik baru terutama didasarkan pada aktor individu yang memperjuangkan kepentingan pribadi, tepatnya individu-individu diasumsikan sebagai ‘goal seeking and choosing creatures’ yang beroperasi di lingkungan yang berbeda-beda.

Aktor individu diasumsikan mempunyai sifat-sifat khusus yang spesifik, termasuk di dalamnya seperangkat selera atau perangkingan preferensi dan kemampuan mengambil keputusan secara rasional atau kemampuan memilih alternative terbaik yang paling efisien dari berbagai pilihan yang ada.

Dalam hal aplikasi, ekonomi politik baru dapat diaplikasikan bukan hanya dalam berbagai keputusan ekonomi, namun juga diaplikasikan untuk berbagai fenomena social politik lainnya termasuk sikap wajib pajak dan sikap pemerintah dalam proses pengambilan keputusan bagi kebijakan publik. Paradigma pilihan rasional (rational choice) pertama kali dikemukakan oleh Kenneth Arrow (1951) dalam bukunya Social Choice and Individual Values.

Kaum klasik sudah mengembangkan asumsi manusia rasional yang selalu berusaha memilih alternatif terbaik dari berbagai pilihan yang tersedia. Kemudian, pakar Neoklasik mengembangkan lebih jauh konsep rasionalitas tersebut ke proses-proses dan institusi-institusi politik.

Konsep-konsep rasionalitas berkaitan erat dengan kesukaan atau preferensi (preference), kepercayaan (beliefs), peluang (opportunities), dan tindakan (action).

Menurut William H. Riker65 dalam Political Science and rational Choice (1994), model pilihan rasional terdiri dari elemen – elemen :

  1. Para aktor dapat merangking tujuan-tujuan, nilai-nilai, selera dan strategi- strategi mereka
  2. Para aktor dapat memilih alternatif terbaik yang bisa memaksimumkan kepuasan mereka.

Berdasarkan elemen-elemen tersebut diatas, komponen pilihan rasional dapat ditentukan sebagai berikut :

  1. Perangkingan, dalam melakukan perangkingan, perangkat alternatif diasumsikan tertentu dan tetap jumlahnya, sedangkan hal-hal yang dapat diabaikan atau dipercaya tidak relevan dikategorikan sebagai pilihan-pilihan yang tidak mungkin;

  2. **Kepercayaan (beliefs)**, Elster mengungkapkan : ‘ in order to know what to do, we first have to know what to believe with respect to the relevant factual matters. Hence a theory of rational choice must be supplemented by a theory of rational beliefs’. Tekanan pada kepercayaan menunjukkan bahwa individu- individu tidak bertindak semata – mata berdasar kebiasaan dan emosi, tetapi juga atas dasar kepercayaan tentang struktur sebab akibat dunia nyata;

  3. Kesempatan (opportunity), yang terkait dengan sumber daya dan kendala. Tiap orang punya banyak keinginan, tetapi tidak semua keinginan bisa dicapai karena sumber daya dan kemampuan untuk memperoleh yang diinginkan terbatas adanya. Pada suatu waktu, kita hanya akan memperoleh hasil tertentu sesuai keterbatasan logika, fisik, dan ekonomi yang ada ;

  4. Tindakan itu sendiri, yaitu pilihan oleh agen-agen yang diamati. Tujuan teori pilihan rasional adalah untuk menjelaskan pilihan-pilihan yang dilakukan oleh agen-agen, di mana preferensi-preferensi dan kepercayaan-kepercayaan yang diasumsikan tidak ditentukan dari dalam melainkan dari luar dan bersifat tetap, sedangkan pilihan-pilihan adalah hasil respons terhadap perubahan-perubahan dalam insentif dan biaya-biaya.

Elster mengemukakan : the essence of rational choice explanation embodies a conception of how preferences, beliefs, resources and actions stand in relation to one another. Hubungan ini dapat dipecah atas dua bagian yaitu :

  1. Terdapat sebuah kriteria yang konsisten yang dapat diaplikasikan terhadap struktur preferensi-preferensi dan kepercayaan-kepercayaan
  2. Terdapat serangkaian persyaratan yang mengikat.

Dapat dikatakan bahwa suatu aksi disebut rasional jika dapat memperlihatkan keterkaitan dengan preferensi-preferensi, kepercayaan-kepercayaan, dan sumber- sumber daya.

Sebuah tindakan dikatakan rasional jika :

  1. dapat dibuktikan (secara ex- ante daripada ex-post) sebagai tindakan terbaik yang mungkin dilakukan untuk memenuhi preferensi-preferensi agen sesuai kepercayaan-kepercayaan,

  2. bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut rasional sesuai bukti-bukti yang ada, dan

  3. jalan atau proses dan kualitas dari bukti-bukti yang tersedia dapat dijustifikasi sesuai rasio biaya dan keuntungan.

Kaum klasik menegaskan bahwa manusia rasional adalah yang selalu berusaha memilih alternative terbaik dari berbagai pilihan yang tersedia, sesuai kendala dan keterbatasan yang dimiliki. Menurut Jurgen Habermas dalam The Theory of Communicative Action , tindakan rasional adalah tindakan yang disengaja untuk mencapai hasil maksimal dengan menciptakan kondisi yang kondusif dan institusi- institusi yang mendukung sehingga dapat dilakukan tindakan dengan tingkat kesalahan minimal.

Meskipun terdapat beberapa kritik terhadap teori rasionalitas, William H. Riker (1994) menawarkan suatu jalan keluar yaitu dengan mengasumsikan bahwa perangkat pilihan sudah berisikan semua alternatif yang mungkin relevan. Dengan berlandaskan asumsi tersebut, maka semua pilihan yang ada aktor bisa memilih sebuah alternatif yang dianggap terbaik.

Dalam hal ini bisa saja aktor keliru dalam menafsirkan alternatif-alternatif yang ada, atau salah dalam memilih alternatif yang tidak sesuai dengan tujuan utama mereka, atau aktor tidak memilih alternatif yang terbaik karena kurangnya informasi.

Untuk menghilangkan keragu-raguan dalam menetukan pilihan, Riker membedakan procedural rationality atau revealed preference (di mana tidak ada tujuan ataupun hasil yang sudah dispesifikasikan sebelumnya) dengan substantive rationality atau posited rationality (dimana tujuan-tujuan tertentu sudah ditentukan sebelumnya.

Dengan adanya pembedaan procedural rationality dari substantive rationality tersebut, maka model pilihan rasional bisa menggeneralisasi pilihan-pilihan yang persis sama dengan peristiwa-peristiwa pengambilan harga dalam pasar ekonomi dan yang lebih penting lagi, mampu menggeneralisasi tujuan dari para aktor.

Pada tahun 1989, Coleman mendirikan jurnal Rationality and Society yang bertujuan menyebarkan pemikiran yang berasal dari perspektif pilihan rasional. Jurnal tersebut bersifat interdisipliner karena teori pilihan rasional adalah satu-satunya teori yang mungkin menghasilkan integrasi berbagai paradigma kehidupan sosial.

Coleman menginginkan karya penelitian dilakukan bertolak dari perspektif pilihan rasional yang mempunyai kaitan praktis dengan kehidupan social yang sedang berubah. Fenomena makro harus dapat dijelaskan oleh faktor internalnya sendiri, khususnya faktor individual. Fenomena ini juga menjelaskan bahwa data biasanya dikumpulkan di tingkat individual dan kemudian disusun untuk menghasilkan data di tingkat sistem sosial.

Gagasan mendasar dari teori pilihan rasional Coleman adalah tindakan perseorangan mengarah kepada sesuatu tujuan dan tujuan itu (dan juga tindakan) ditentukan oleh nilai atau pilihan (preferensi). Terdapat dua unsur utama dalam teori Coleman yaitu aktor dan sumber daya. Konsep yang lebih tepat secara teoritis mengenai aktor rasional adalah aktor yang dapat memilih tindakan untuk memaksimalkan kegunaan atau yang memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka. Sumber daya adalah sesuatu yang menarik perhatian dan yang dapat dikontrol oleh aktor.

Coleman menjelaskan interaksi antara aktor dan sumber daya secara rinci menuju ke tingkat sistem sosial :

Basis minimal untuk sistem sosial tindakan adalah dua orang aktor, masing- masing mengendalikan sumber daya yang menarik perhatian pihak yang lain. Perhatian satu orang terhadap sumber daya yang dikendalikan orang lain itulah yang menyebabkan keduanya terlibat dalam tindakan saling membutuhkan… terlibat dalam sistem tindakan… Selaku aktor yang mempunyai tujuan, masing- masing bertujuan untuk memaksimalkan perwujudan kepentingan yang memberikan ciri saling tergantung atau ciri sistemik terhadap tindakan mereka.

Coleman mengakui bahwa dalam kehidupan nyata orang tak selalu berperilaku rasional, namun hal tersebut tak mempengaruhi teori yang telah dikemukakannya. Coleman lebih melihat pilihan rasional sebagai perilaku kolektif, berdasarkan norma yang berlaku dan terdapat aktor korporat didalamnya.

Meskipun teori Coleman menuai banyak kritik, namun teori pilihan rasional diyakini akan mampu menganalisis dan menerangkan masalah tingkat mikro dan makro maupun peran yang dimainkan oleh faktor tingkat mikro dalam pembentukan fenomena tingkat makro.

Referensi :

  • Diesing, Paul, 1962, Reason and Society, Urbana, IL : University of Illinois Press
  • Simon, Herbert A., 1945, Administrative Behaviour, New York : Macmillan
  • Arrow, Kenneth. 1951. Social Choice and Individual Values. New Haven, Conn : Yale University Press.
  • Riker, William H., 1980. ‘Implications from the Disequilibrium of Majority Rule for the Study of Institutions’
  • Americans Politicals Science Review, no 74 ;
  • Habermas, Jurgen. 1981. The Theory of Communicative Action, publised in 2 volumes, first Reason and the
  • Rationalization of Society (Handlungsrationalität und gesellschaftliche Rationalisierung) and the second Lifeworld and System: A Critique of Functionalist Reason (Zur Kritik der funktionalistischen Vernunft).
  • Coleman, James, 1989, Rationality and Society,
  • Coleman, James,1990, Faundations of Social Theory. Cambridge : Belknap Press Of Harvard University Press.

(Johan Kusuma Wijaya) #3

Teori pilihan rasional berasal dari ekonomi klasik. Teori pilihan rasional memusatkan perhatian pada aktor. Aktor dipandang sebagai rnanusia yang mempunyai maksud. Hal tersebut dimaksudkan aktor mempunyai tujuan dan tindakannya tertuju pada upaya untuk mencapai tujuan itu. Aktorpun dipandang mempunyai pilihan (atau nilai, keperluan). Teori pilihan rasional tidak rnenghiraukan apa yang menjadi pilihan atau apa yang menjadi sumber pilihan aktor. Hal terpenting adalah kenyataan bahwa tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan tingkatan pilihan aktor.

Ritzer menerangkan, meskipun teori pilihan rasional berawal dari tujuan atau maksud aktor, namun teori ini memperhatikan sekurang-kurangnya dua pemaksa utama tindakan.

  • Pertama adalah keterbatasan sumber. Aktor mempunyai sumber yang berbeda-beda maupun akses yang berbeda terhadap sumberdaya yang lain. Bagi aktor yang mempunyai sumberdaya yang besar, pencapaian tujuan mungkin relatif mudah. Tetapi bagi aktor yang mempunyai sumberdaya sedikit, pencapaian tujuan akan sukar atau sulit. Aktor dipandang berupaya mencapai keuntungan maksimal dan tujuan mungkin meliputi gabungan antara peluang untuk mencapai tujuan utama dan apa yang telah dicapai pada peluang yang tersedia untuk mencapai tujuan kedua yang paling bernilai.

  • Kedua atas tindakan aktor individual adalah lembaga sosial. Hambatan kelembagaan ini menyediakan baik sanksi positif maupun sanksi negatif yang membantu mendorong aktor untuk melakukan tindakan tertentu dan menghindarkan tindakan lain.

Selanjutnya, Friedman dan Hecthter mengemukakan dua gagasan lain yang menjadi dasar teori pilihan rasional.

  • Pertama, adalah kumpulan mekanisme atau proses yang menggabungkan tindakan aktor individual yang terpisah untuk menghasilkan akibat sosial.

  • Kedua, bertambahnya pengertian tentang pentingnya informasi dalam membuat pilihan rasional.