© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Teori Perilaku Terencana atau Theory of Planned Behavior?

Theory of Planned Behavior

Theory of Planned Behavior (TPB) seringkali digunakan dalam berbagai penelitian (research) tentang perilaku. Biasanya TPB digunakan sebagai variabel intervening untuk menjelaskan intention (niat) seseorang yang kemudian menjelaskan perilaku orang tersebut.

Apa yang dimaksud dengan Teori Perilaku Terencana atau Theory of planned behavior?

Teori ini yang awalnya dinamai Theory of Reasoned Action (TRA), dikembangkan di tahun 1967, selanjutnya teori tersebut terus direvisi dan diperluas oleh Icek Ajzen dan Martin Fishbein.

Mulai tahun 1980 teori tersebut digunakan untuk mempelajari perilaku manusia dan untuk mengembangkan intervensi-intervensi yang lebih mengena. Pada tahun 1988, hal lain ditambahkan pada model reasoned action yang sudah ada tersebut dan kemudian dinamai Theory of Planned Behavior (TPB), untuk mengatasi kekurang dekatan yang ditemukan oleh Ajzen dan Fishbein melalui penelitian-penelitian mereka dengan menggunakan TRA (Achmat,2010).

Teori perilaku terencana memiliki 3 variabel independen.

  • Pertama adalah sikap terhadap perilaku dimana seseorang melakukan penilaian atas sesuatu yang menguntungkan dan tidak menguntungkan.

  • Kedua adalah faktor sosial disebut norma subyektif, hal tersebut mengacu pada tekanan sosial yang dirasakan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan.

  • Ketiga anteseden niat adalah tingkat persepsi pengendalian perilaku yang, seperti yang kita lihat sebelumnya, mengacu pada persepsi kemudahan atau kesulitan melakukan perilaku, dan diasumsikan untuk mencerminkan pengalaman masa lalu sebagai antisipasi hambatan dan rintangan (Ajzen, 1991).

Teori perilaku terencana membedakan antara tiga jenis kepercayaan (belief) yaitu behavioral belief, normative belief, dan control belief, dimana hal tersebut terkait dengan konstruksi sikap (attitude), norma subyektif (subjective norm), dan kontrol perilaku yang dirasakan (perceived behavior control).

Perlunya perbedaan ini, terutama perbedaan antara attitude dan normative beliefs (dan antara attitude dan subjective norm) kadang-kadang dipertanyakan (misalnya, Miniard & Cohen, 1981).

Hal tersebut cukup bisa dikatakan bahwa semua keyakinan mengasosiasikan perilaku menarik dengan atribut dari beberapa jenis, baik itu suatu hasil, harapan normatif, atau sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan perilaku.

Dengan demikian mungkin untuk mengintegrasikan semua keyakinan tentang perilaku yang diberikan untuk mendapatkan ukuran keseluruhan perilaku disposisi. Keberatan utama untuk pendekatan seperti itu adalah bahwa hal itu mengaburkan perbedaan yang menarik, baik dari teori dan dari sudut pandang praktis.

Secara teoritis, evaluasi pribadi dari perilaku (attitude), perilaku sosial yang diharapkan (norma subyektif), dan self-efficacy dengan perilaku (perceived behavioral control) adalah konsep yang sangat berbeda masing-masing memiliki tempat yang penting dalam penelitian sosial dan perilaku.

Selain itu, sebagian besar penelitian tentang Theory of Reasoned Action (TRA) dan pada Theory of Planned Behavior (TPB) telah jelas menetapkan utilitas dari perbedaan dengan menunjukkan bahwa konstruksi yang berbeda adalah hubungan antara niat dan behavior (Ajzen,1991).

TPB banyak digunakan dalam penelitian di berbagai bidang studi yang berbeda dan terbukti berhasil menjelaskan niat (intentions) ke arah melakukan perilaku (behaviors) tertentu.

Berikut bagan hubungan antar variabel yang ada pada Theory of Planned Behavior.

Theory of Planned Behavior
Gambar Theory of Planned Behavior (Sumber Ajzen, 2005; hlm 118)

Hubungan antara ketiga dimensi penentu niat dan perilaku dapat dilihat di Gambar 1, dengan penjelasan singkat dari masing-masing komponen sebagai berikut:

1. Attitude towards the behavior, di dalam tulisan ini disebut Sikap

Ajzen (2005) mengemukakan bahwa sikap terhadap perilaku ini ditentukan oleh keyakinan mengenai konsekuensi dari suatu perilaku atau secara singkat disebut keyakinan-keyakinan perilaku (behavioral beliefs). Keyakinan berkaitan dengan penilaian subjektif individu terhadap dunia sekitarnya, pemahaman individu mengenai diri dan lingkungannya, dilakukan dengan cara menghubungkan antara perilaku tertentu dengan berbagai manfaat atau kerugian yang mungkin diperoleh apabila individu melakukan atau tidak melakukannya.

Keyakinan ini dapat memperkuat sikap terhadap perilaku itu apabila berdasarkan evaluasi yang dilakukan individu, diperoleh data bahwa perilaku itu dapat memberikan keuntungan baginya (Gambar Keyakinan sebagai sumber informasi dari intensi dan perilaku ). Ilustrasi berikut dapat memperjelas keterkaitan keyakinan dan evaluasi dalam membentuk sikap terhadap perilaku tertentu.

Misalnya, sikap terhadap penggunaan email untuk mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan (A). Salah satu manfaat yang dipersepsi individu dari menggunakan email adalah dapat mengkomunikasikan dengan cepat.

Pernyataan bahwa penggunaan email dapat membantu individu mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan dengan cepat adalah sesuatu yang netral dan bersifat objektif. Pemahaman ini dapat diperoleh individu berdasarkan pengalaman langsung atau dapat juga dari cerita dan pengalaman orang lain.

Seberapa kuat keyakinan individu mengenai penggunaan email (b) dalam mempercepat (i) komunikasi yang berkaitan dengan pekerjaannya sehari-hari bersifat subjektif. Berdasarkan evaluasi (e) yang dilakukan individu selama ini bahwa mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan dengan cepat (i) membuatnya merasa lebih puas dan senang.

Perasaan senang dan puas merupakan perasaan subjektif individu yang sangat spesifik, dapat berbeda dengan yang dirasakan orang lain karena sudah ada pengaruh harapan, dalam hal ini pekerjaan yang berkualitas maupun cepat dan nilai-nilai yang dianut individu.

Apabila karena sesuatu hal seorang individu tidak mengharapkan dapat mengkomunikasikan halhal yang berkaitan dengan pekerjaannya dengan cepat maka evaluasi yang diberikan mungkin rendah. Interaksi antara kekuatan keyakinan individu mengenai meningkatnya kecepatan komunikasi melalui email dengan rasa puas karena komunikasi yang dilakukan menjadi lebih cepat inilah yang menentukan sikap individu berupa suka atau tidak suka menggunakan email dalam bekerja.

Contoh manfaat penggunaan email yang lain misalnya adalah mudah didokumentasi (b1), dapat dilakukan di mana saja (b2), mudah digunakan (b3) dan lain-lain.

Fishbein maupun Ajzen kemudian merumuskan ke dalam model matematika, yaitu: (sumber: Ajzen, 2005; hal. 124)

image

dimana,
α = Proporsi
A = Sikap terhadap penggunaan email
b = Keyakinan
e = Evaluasi
i = Indeks

Sebagaimana layaknya variabel dalam penelitian umumnya maka keyakinan mengenai perilaku ini perlu didefinisikan secara operasional terlebih dahulu. Berhubung keyakinan ini bersifat unik individual dan akan digunakan untuk menyusun pertanyaan dalam alat pengukur berbasis TPB maka keyakinan individu mengenai perilaku yang akan diprediksi dapat diperoleh melalui studi pendahuluan, dengan cara menanyakan kepada calon responden tentang apa yang mereka yakini tentang sesuatu hal yang menjadi objek sikap

image
Gambar Keyakinan sebagai sumber informasi dari intensi dan perilaku (Sumber: Ajzen, 2005;
hlm. 126)

2. Subjective Norm, di dalam tulisan ini disebut Norma Subjektif

Norma subjektif adalah persepsi individu terhadap harapan dari orang-orang yang berpengaruh dalam kehidupannya (significant others) mengenai dilakukan atau tidak dilakukannya perilaku tertentu. Persepsi ini sifatnya subjektif sehingga dimensi ini disebut norma subjektif. Sebagaimana sikap terhadap perilaku, norma subjektif juga dipengaruhi oleh keyakinan.

Bedanya adalah apabila sikap terhadap perilaku merupakan fungsi dari keyakinan individu terhadap perilaku yang akan dilakukan (behavioral belief) maka norma subjektif adalah fungsi dari keyakinan individu yang diperoleh atas pandangan orang-orang lain terhadap objek sikap yang berhubungan dengan individu (normative belief).

Di dalam kehidupan sehari-hari, hubungan yang dijalin setiap individu dapat dikategorikan ke dalam hubungan yang bersifat vertikal dan horizontal. Hubungan vertikal adalah hubungan antara atasan– bawahan; guru–murid; profesor–mahasiswa, atau orang tua–anak.

Hubungan horizontal terjadi antara individu dengan teman-teman atau orang lain yang bersifat setara. Pola hubungan ini dapat menjadi sumber perbedaan persepsi. Pada hubungan yang bersifat vertikal, harapan dapat dipersepsi sebagai tuntutan (injunctive) sehingga pembentukan norma subjektif akan diwarnai oleh adanya motivasi untuk patuh terhadap tuntutan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku.

Sebaliknya, pada hubungan yang bersifat horizontal harapan terbentuk secara deskriptif sehingga konsekuensinya adalah keinginan untuk meniru atau mengikuti (identifikasi) perilaku orang lain di sekitarnya. Ilustrasi berikut dapat digunakan untuk memperjelas norma subjektif.

Misalnya orang-orang yang dipersepsi menginginkan atau tidak menginginkan individu menggunakan email (SN). Pendapat bahwa seorang atasan (i) adalah orang yang menginginkan bawahannya menggunakan email karena dapat mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan lebih cepat adalah betul.

Keyakinan normatif adalah persepsi individu mengenai seberapa kuat keinginan (n) atasan (i) ini agar bawahannya menggunakan email dalam bekerja. Norma subjektif mengenai penggunaan email akan semakin kuat apabila keyakinan normatif tersebut berinteraksi dengan motivasi individu untuk memenuhi keinginan (m) atasan (i) dalam menggunakan email ini.

Ilustrasi lain mengenai norma subjektif ini adalah pendapat bahwa rekan kerja yang menggunakan email dijadikan model bagi individu. Seberapa kuat kesan yang muncul pada individu mengenai kecepatan (i) komunikasi yang dilakukan oleh rekan kerja (n) adalah keyakinan normatif yang bersifat deskriptif. Keinginan individu untuk mengidentifikasi (m) dirinya dengan rekan kerja (i) dalam menggunakan email untuk mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Interaksi antara keyakinan normatif deskriptif dengan keinginan mengidentifikasi adalah contoh lain dari norma subjektif.

Contoh orang lain yang berpengaruh secara vertikal ini adalah atasan (c1), orang tua (c2), supervisor (c3). Sedangkan orang lain yang mumpunyai hubungan horizontal adalah rekan kerja (c4), tokoh di film iklan (c5), dan lain-lain.

Rumus matematika mengenai norma subjektif yang dikembangkan oleh Fishbein dan Ajzen (1975) dan Ajzen (2005) adalah sebagai berikut:

image
(Sumber: Ajzen, 2005; hlm. 125)

dimana,
α = proporsi
SN = Norma subjektif
n = Keyakinan normatif
m = Motivasi
i = Indeks

Norma subjektif mengenai suatu perilaku akan tinggi apabila keyakinan normatif maupun motivasi untuk memenuhi harapan orang-orang yang berhubungan secara vertikal ini sama-sama tinggi. Untuk hubungan yang bersifat horizontal, norma subjektif akan tinggi apabila keyakinan individu bahwa rekan kerja sangat diuntungkan karena menggunakan email untuk berkomunikasi dan keinginan mengidentifikasi perilaku rekan kerja dalam menggunakan email tersebut sangat kuat.

3. Perceived behavioral control, di dalam tulisan ini disebut Persepsi kontrol perilaku

Persepsi kontrol perilaku atau dapat disebut dengan kontrol perilaku adalah persepsi individu mengenai mudah atau sulitnya mewujudkan suatu perilaku tertentu (Ajzen, 2005).

Untuk menjelaskan mengenai persepsi kontrol perilaku ini, Ajzen membedakannya dengan locus of control atau pusat kendali yang dikemukakan oleh Rotter (1975; 1990). Pusat kendali berkaitan dengan keyakinan individu yang relatif stabil dalam segala situasi. Persepsi kontrol perilaku dapat berubah tergantung situasi dan jenis perilaku yang akan dilakukan. Pusat kendali berkaitan dengan keyakinan individu tentang keberhasilannya melakukan segala sesuatu, apakah tergantung pada usahanya sendiri atau faktor lain di luar dirinya (Rotter, 1975).

Jika keyakinan ini berkaitan dengan pencapaian yang spesifik, misalnya keyakinan dapat menguasai keterampilan menggunakan komputer dengan baik disebut kontrol perilaku (perceived behavioral control). Konsep lain yang agak dekat maksudnya dengan persepsi kontrol perilaku adalah self efficacy atau efikasi diri yang dikemukakan Bandura (dalam Ajzen, 2005).

Efikasi diri adalah keyakinan individu bahwa ia akan berhasil menguasai keterampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu (Bandura, 1977; Pajares, 1996).

Konsep persepsi kontrol perilaku yang dikemukakan oleh Ajzen ini dipengaruhi oleh riset yang dilakukan oleh Bandura mengenai efikasi diri dengan menambahkan pentingnya kontrol yang dimiliki individu terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk mewujudkan perilaku tertentu (Ajzen, 2002).

Dalam TPB, Ajzen (2005) mengemukakan bahwa persepsi kontrol perilaku ditentukan oleh keyakinan individu mengenai ketersediaan sumberdaya berupa peralatan, kompatibelitas, kompetensi, dan kesempatan (control belief strength) yang mendukung atau menghambat perilaku yang akan diprediksi dan besarnya peran sumber daya tersebut (power of control factor) dalam mewujudkan perilaku tersebut.

Semakin kuat keyakinan terhadap tersedianya sumberdaya dan kesempatan yang dimiliki individu berkaitan dengan perilaku tertentu dan semakin besar peranan sumberdaya tersebut maka semakin kuat persepsi kontrol individu terhadap perilaku tersebut.

Individu yang mempunyai persepsi kontrol tinggi akan terus terdorong dan berusaha untuk berhasil karena ia yakin dengan sumberdaya dan kesempatan yang ada, kesulitan yang dihadapinya dapat diatasi. Misalnya jika ada dua orang yang sama-sama ingin belajar menggunakan komputer, walaupun keduanya mencoba dan berlatih, individu yang mempunyai kontrol perilaku tinggi tahu mengenai tindakan yang perlu diambilnya pada saat mengalami kesulitan.

Ia tahu mengenai beberapa hal yang perlu dipersiapkan, kepada siapa ia meminta bantuan apabila mengalami kesulitan sehingga individu ini akan terus berusaha lebih keras. Itulah sebabnya Ajzen (2005) mengemukakan bahwa kontrol perilaku ini bersama dengan intensi erat hubungannya dengan dilakukan atau tidak dilakukannya sebuah perilaku.

Ilustrasi yang dapat digunakan untuk memperjelas pemahaman mengenai kontrol perilaku ini adalah perilaku penggunaan email untuk mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan (PBC). Salah satu faktor yang memungkinkan penggunaan email dalam bekerja adalah tersedianya alat yang memungkinkan penggunaan email, misalnya komputer dengan koneksi internet. Individu yang memiliki komputer yang terhubung dengan internet (ci) setiap saat merasa yakin dapat menggunakan email akan memiliki keyakinan kontrol yang tinggi. Kepemilikan komputer yang terhubung dengan internet ini dipersepsi individu sebagai syarat utama (pi) untuk dapat mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan melalui email.

Faktor lain yang dapat dijadikan contoh mempengaruhi keyakinan individu dalam menggunakan email misalnya kompetensi dalam mengoperasikan software email (c1), ketersediaan waktu (c2), dan lain-lain. Ajzen mengemukakan rumus matematika untuk menjelaskan kontrol perilaku yang dipersepsi ini adalah sebagai berikut:   ipi PCB c

image
(sumber: Ajzen, 2005; hlm. 125)

dimana,
α = proporsi
PBC = kontrol perilaku
c = faktor kontrol.
p = kekuatan pengaruh faktor kontrol
i = indeks

Dari rumusan tersebut di atas, seorang individu dapat menggunakan email bila ia memiliki komputer dengan koneksi internet (c1), dapat mengoperasikan software email (c2), memiliki cukup waktu untuk menulis email (c3), dan tahu kemana atau kepada siapa meminta bantuan pada saat mengalami gangguan dalam menggunakan email (c4) akan memiliki keyakinan kontrol (control belief) yang tinggi.

Keyakinan individu bahwa ia memiliki kompetensi yang baik disertai dengan tersedianya fasilitas dapat meningkatkan kontrol perilaku. Ajzen (2005) mengatakan bahwa pada kondisi kontrol perilaku kuat dan meyakinkan, individu mempunyai informasi yang jelas mengenai perilaku dimaksud, kemudian ia dapat mencoba dan berlatih sehingga semakin yakin akan kemampuannya dalam bidang tersebut (self efficacy), maka kontrol perilaku ini memperkuat motivasi sehingga secara langsung menentukan perilaku (lihat garis putus-putus pada Gambar Keyakinan sebagai sumber informasi dari intensi dan perilaku).

Sebaliknya, apabila kontrol perilaku ini lemah sehingga individu tidak mendapat cukup kesempatan mencoba dan tidak tahu kepada siapa ia dapat memperoleh bantuan pada saat mengalami hambatan, maka keyakinan kontrol tidak secara langsung mempengaruhi perilaku tetapi hanya memperkuat intensi saja.

Sumber : Neila Ramdhani, “Penyusunan Alat Pengukur Berbasis Theory of Planned Behavior

Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior) dikembangkan oleh Ajzen dan koleganya (Ajzen dan Madden 1986) yang merupakan pengembangan dari teori perilaku terencana Theory of Reasoned Action (TRA). Teori perilaku terencana ini menekankan pada niat perilaku sebagai akibat atau hasil kombinasi beberapa kepercayaan. Niat merupakan konsepsi dari tindakan terencana dalam mencapai tujuan berperilaku.

Ada beberapa tujuan dan manfaat dari teori ini, antara lain adalah untuk meramalkan dan memahami pengaruh-pengaruh motivasi terhadap perilaku yang bukan dibawah kendali atau kemauan individu sendiri. Untuk mengidentifikasi bagaimana dan kemana mengarahkan strategi-strategi untuk perubahan perilaku dan juga untuk menjelaskan pada tiap aspek penting beberapa perilaku manusia seperti mengapa seseorang membeli mobil baru, memilih seorang calon dalam pemilu, mengapa tidak masuk kerja atau mengapa melakukan hubungan pranikah. Teori ini menyediakan suatu kerangka untuk mempelajari sikap terhadap perilaku. Berdasarkan teori tersebut, penentu terpenting perilaku seseorang adalah intensi untuk berperilaku.

Theory of Planned Behavior dikembangkan untuk memprediksi perilaku-perilaku yang sepenuhnya tidak di bawah kendali individu.

Pada intinya Theory of Planned Behavior didasarkan pada asumsi bahwa manusia adalah makhluk yang rasional dan menggunakan informasi- informasi yang mungkin baginya, secara sistematis. Orang memikirkan implikasi dari tindakan mereka sebelum mereka memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku-perilaku tertentu.

Theory of Planned Behavior memperhitungkan bahwa semua perilaku tidaklah di bawah kendali dan sepenuhnya di luar kendali. Sebenarnya perilaku-perilaku tersebut berada pada suatu titik dalam suatu kontinum dari semulanya di bawah kendali menjadi tidak terkendali. Dalam keadaan ekstrim, mungkin sama sekali tidak terdapat kemungkinan untuk mengendalikan suatu perilaku karena tidak adanya kesempatan, karena tidak adanya sumber daya atau ketrampilan. Faktor-faktor pengendali tersebut terdiri atas faktor internal dan eksternal.

  • Faktor-faktor internal antara lain keterampilan, kemampuan, informasi, emosi, stres, dan sebagainya.
  • Faktor-faktor eksternal meliputi situasi dan faktor-faktor lingkungan.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Ajzen memodifikasi TRA dengan menambahkan anteseden intensi yang ke tiga yang disebut perceived behavioral control (PBC). Dengan tambahan anteseden ke tiga tersebut, ia menamai ulang teorinya menjadi Theory of Planned Behavior (TPB). PBC menunjuk suatu derajat dimana seorang individu merasa bahwa tampil atau tidaknya suatu perilaku yang dimaksud adalah dibawah pengendaliannya. Orang cenderung tidak akan membentuk suatu intensi yang kuat untuk menampilkan suatu perilaku tertentu jika ia percaya bahwa ia tidak memiliki sumber atau kesempatan untuk melakukannya meskipun ia memiliki sikap yang positif dan ia percaya bahwa orang-orang lain yang penting baginya akan menyetujuinya.

PBC dapat mempengaruhi perilaku secara langsung atau tidak langsung melalui intensi. Jalur langsung dari PBC ke perilaku diharapkan muncul ketika terdapat keselarasan antara persepsi mengenai kendali dan kendali yang aktual dari seseorang atas suatu perilaku. Theory of Planned Behavior dapat digambarkan melalui gambar sebagai berikut:


Gambar Diagram Theory of Planned Behavior

Gambar diatas menjelaskan bahwa Model teoritik dari Theory Planned Behavior (perilaku yang direncanakan) mengandung berbagai variabel yaitu :

  1. Latar belakang (background factors), seperti usia, jenis kelamin, suku, status sosial ekonomi, suasana hati, sifat kepribadian, dan pengetahuan. Itu dapat mempengaruhi sikap dan perilaku individu terhadap sesuatu hal. Di dalam kategori ini Ajzen memasukkan tiga faktor latar belakang, yaitu Personal, Sosial, dan Informasi. Faktor personal adalah sikap umum seseorang terhadap sesuatu, sifat kepribadian (personality traits), nilai hidup (values), emosi, dan kecerdasan yang dimilikinya. Faktor sosial antara lain adalah usia, jenis kelamin (gender), etnis, pendidikan, penghasilan, dan agama. Faktor informasi adalah pengalaman, pengetahuan dan ekspose pada media.

  2. Keyakinan Perilaku (Behavioral Belief) yaitu hal-hal yang diyakini oleh individu mengenai sebuah perilaku dari segi positif dan negatif, sikap terhadap perilaku atau kecenderungan untuk bereaksi secara efektif terhadap suatu perilaku, dalam bentuk suka atau tidak suka pada perilaku tersebut.

  3. Keyakinan Normatif (Normative Beliefs), yang berkaitan langsung dengan pengaruh lingkungan. Menurut Ajzen, faktor lingkungan sosial khususnya orang-orang yang berpengaruh bagi kehidupan individu (significant others) dapat mempengaruhi keputusan individu.

  4. Norma subjektif (Subjective Norm) adalah sejauh mana seseorang memiliki motivasi untuk mengikuti pandangan orang terhadap perilaku yang akan dilakukannya (Normative Belief). Kalau individu merasa itu adalah hak pribadinya untuk menentukan apa yang akan dia lakukan, bukan ditentukan oleh orang lain disekitarnya, maka dia akan mengabaikan pandangan orang tentang perilaku yang akan dilakukannya. Fishbein & Ajzen (1975) menggunakan istilah motivation to comply untuk menggambarkan fenomena ini, yaitu apakah individu mematuhi pandangan orang lain yang berpengaruh dalam hidupnya atau tidak.

  5. Keyakinan bahwa suatu perilaku dapat dilaksanakan (control beliefs) diperoleh dari berbagai hal, pertama adalah pengalaman melakukan perilaku yang sama sebelumnya atau pengalaman yang diperoleh karena melihat orang lain (misalnya teman atau keluarga dekat) melaksanakan perilaku itu sehingga ia memiliki keyakinan bahwa ia pun akan dapat melaksanakannya. Selain pengetahuan, ketrampilan, dan pengalaman, keyakinan individu mengenai suatu perilaku akan dapat dilaksanakan. Selain itu ditentukan juga oleh ketersediaan waktu untuk melaksanakan perilaku tersebut, tersedianya fasilitas untuk melaksanakannya, dan memiliki kemampuan untuk mengatasi setiap kesulitan yang menghambat pelaksanaan perilaku.

  6. Persepsi kemampuan mengontrol (Perceived Behavioral Control), yaitu keyakinan (beliefs) bahwa individu pernah melaksanakan atau tidak pernah melaksanakan perilaku tertentu, individu memiliki fasilitas dan waktu untuk melakukan perilaku itu, kemudian individu melakukan estimasi atas kemampuan dirinya apakah dia punya kemampuan atau tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan perilaku itu. Ajzen menamakan kondisi ini dengan “persepsi kemampuan mengontrol” (perceived behavioral control).

Niat untuk melakukan perilaku (Intention) adalah kecenderungan seseorang untuk memilih melakukan atau tidak melakukan sesuatu pekerjaan. Niat ini ditentukan oleh sejauh mana individu memiliki sikap positif pada perilaku tertentu, dan sejauh mana kalau dia memilih untuk melakukan perilaku tertentu itu, dia mendapat dukungan dari orang-orang lain yang berpengaruh dalam kehidupannya.

Teori ini memiliki fondasi terhadap perspektif kepercayaan yang mampu mempengaruhi seseorang untuk melaksanakan tingkah laku yang spesifik. Perspektif kepercayaan dilaksanakan melalui penggabungan beraneka ragam karakteristik, kualitas dan atribut atas informasi tertentu yang kemudian membentuk kehendak dalam bertingkah laku (Yuliana, 2004). Intensi (niat) merupakan keputusan dalam berperilaku melalui cara yang dikehendaki atau stimulus untuk melaksanakan perbuatan, baik secara sadar maupun tidak (Corsini, 2002). Intensi inilah yang merupakan awal terbentuknya perilaku seseorang. Teori planned behavior cocok digunakan untuk mendeskripsikan perilaku apapun yang memerlukan perencanaan (Ajzen, 1991).

Planned behavior theory adalah peningkatan dari reasoned action theory. Reasoned action theory memiliki bukti-bukti ilmiah bahwa niat untuk melaksanakan perbuatan tertentu diakibatkan oleh dua alasan, yaitu norma subjektif dan sikap terhadap perilaku (Fishbein dan Ajzen, 1975). Beberapa tahun kemudian, Ajzen (1988) menambahkan satu faktor yaitu kontrol perilaku persepsian individu atau perceived behavioral control. Keberadaan faktor tersebut mengubah reasoned action theory menjadi Planned behavior theory.

Planned behavior theory menjelaskan bahwa sikap terhadap perilaku merupakan pokok penting yang sanggup memperkirakan suatu perbuatan, meskipun demikian perlu dipertimbangkan sikap seseorang dalam menguji norma subjektif serta mengukur kontrol perilaku persepsian orang tersebut. Bila ada sikap yang positif, dukungan dari orang sekitar serta adanya persepsi kemudahan karena tidak ada hambatan untuk berperilaku maka niat seseorang untuk berperilaku akan semakin tinggi (Ajzen, 2005).

Seseorang yang memiliki sikap yang positif pada investasi saham, mendapat dukungan dari orang disekitarnya dan adanya persepsi kemudahan karena tidak ada hambatan untuk berinvestasi saham maka niat seseorang untuk berinvestasi saham akan semakin tinggi.

Theory of Planned Behavior (TPB) tampaknya sangat cocok untuk menjelaskan niat whistleblowing, dalam hal ini adalah tindakan yang dilakukan didasarkan pada proses psikologis yang sangat kompleks (Gundlach et al, 2003). Selanjutnya Ajzen’s mengatakan TPB telah diterima secara luas sebagai alat untuk menganalisis perbedaan antara sikap dan niat serta sebagai niat dan perilaku.

Ajzen dan Fishben (1988) menyempurnakan Theory of Reasoned Action (TRA) dan memberikan nama TPB. TPB menjelaskan mengenai perilaku yang dilakukan individu timbul karena adanya niat dari individu tersebut untuk berperilaku dan niat individu disebabkan oleh beberapa faktor internal dan eksternal dari individu tersebut. Sikap individu terhadap perilaku meliputi kepercayaan mengenai suatu perilaku, evaluasi terhadap hasil perilaku, Norma Subyektif, kepercayaan normatif dan motivasi untuk patuh (Sulistomo, 2012).

Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia adalah makhluk yang rasional yang akan memperhitungkan implikasi dari tindakan mereka sebelum mereka memutuskan untuk melakukan suatu perilaku yang akan mereka lakukan. TPB menjelaskan bahwa niat individu untuk berperilaku ditentukan oleh tiga faktor, yaitu :

1. Sikap Terhadap Perilaku

Sikap bukanlah perilaku, namun sikap menghadirkan suatu kesiapsiagaan untuk tindakan yang mengarah pada perilaku (Lubis,2010). Individu akan melakukan sesuatu sesuai dengan sikap yang dimilikinya terhadap suatu perilaku. Sikap terhadap perilaku yang dianggapnya positif itu yang nantinya akan dipilih individu untuk berperilaku dalam kehidupannya. Oleh karena itu sikap merupakan suatu wahana dalam membimbing seorang individu untuk berperilaku.

2. Persepsi Kontrol Perilaku

Dalam berperilaku seorang individu tidak dapat mengkontrol sepenuhnya perilakunya dibawah kendali individu tersebut atau dalam suatu kondisi dapat sebaliknya dimana seorang individu dapat mengkontrol perilakunya dibawah kendali individu tersebut. Pengendalian seorang individu terhadap perilakunya disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan juga faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri individu tersebut seperti keterampilan, kemauan, informasi, dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal berasal dari lingkungan yang ada disekeliling individu tersebut. Persepsi terhadap kontrol perilaku adalah bagaimana seseorang mengerti bahwa perilaku yang ditunjukkannya merupakan hasil pengendalian yang dilakukan oleh dirinya.

3. Norma Subyektif

Seorang individu akan melakukan suatu perilaku tertentu jika perilakunya dapat diterima oleh orang-orang yang dianggapnya penting dalam kehidupannya dapat menerima apa yang akan dilakukannya. Sehingga, normative beliefes menghasilkan kesadaran akan tekanan dari lingkungan sosial atau Norma Subyektif.