Apa yang dimaksud dengan Teori Kepekaan terhadap penolakan (Rejection sensitivity)?

Penolakan merupakan keadaan yang sangat umum dan berpotensi untuk menimbulkan stress. Keinginan untuk mendapatkan penerimaan (acceptance) dan menghindari penolakan merupakan hal yang diakui menjadi kebutuhan utama manusia. Akibat dari adanya penolakan oleh seseorang dapat menyebabkan munculnya kebencian, putus asa, penarikan diri secara emosional, dan kecemburuan pada individu (Horney, 1937, dalam Downey & Feldman, 1996).

Penolakan ini meliputi penolakan secara interpersonal (peer group) maupun penolakan secara romantis. Sebagian orang merespons adanya penolakan dengan tenang, sabar, dan diam, namun ada pula beberapa orang yang merespons penolakan tersebut dengan marah, putus asa, atau bahkan menarik diri.

Apa yang dimaksud dengan Teori Kepekaan terhadap penolakan (Rejection sensitivity)?

Teori Kepekaan terhadap penolakan atau Rejection Sensitivity (RS) berkaitan dengan adanya konsep penolakan sosial. Teori ini diperkenalkan oleh Downey & Feldman (1996).

Kepekaan terhadap penolakan atau Rejection Sensitivity (RS) ini diperkenalkan untuk menjelaskan mengapa beberapa orang lebih rentan terhadap pengalaman adanya penolakan dibandingkan orang lain (Downey, dkk, 2007).

Menurut teori ini, kepekaan terhadap penolakan dan reaksi berlebihan berkelanjutan merupakan hasil dari proses belajar secara alami. Tingkat kepekaan yang tinggi merupakan hasil dari pengalaman penolakan awal dan berkepanjangan dari caregivers dan orang lain yang signifikan (Downey, dkk, 2007).

Menurut Weeks (2011) individu yang mengalami penolakan cukup tinggi dapat terlihat dari penolakan seperti apa yang dihindari selama hidupnya. Keterlibatan dan interaksi dengan keluarga, bahkan orang asing, serta pilihan aktivitas, hobi dan minat individu tersebut akan dipengaruhi oleh ketakutan akan penolakan (Weeks, 2011).

Sensitivitas sebagai bagian dari Rejection Sensitivity mengacu kepada kesadaran individu dalam persepsi mereka tentang kemungkinan penolakan. Romero-Canyas, dkk (2010, dalam Weeks, 2011) menyebutkan ada 3 komponen kesadaran, yaitu :

  • Pertama, individu yang memiliki kewaspadaan tinggi terhadap indikator penolakan akan secara terus menerus melihat tanda-tanda adanya penolakan sosial di lingkungan sekitar;

  • Kedua, individu dengan sensitivitas ini mampu mendeteksi perbedaan adanya sinyal penolakan atau sinyal-sinyal tertentu yang terjadi di dalam diri atau lingkungan sosialnya;

  • Ketiga, individu dengan sensitivitas tinggi memiliki semacam ‘reaksi alergi’ terhadap penolakan dimana ia mampu untuk memobilisasi sumber defensifnya secara cepat sehingga dapat merespons secara agresif.

Sebagai contoh, mantan narapidana yang mungkin terlihat baik dan sudah melewati masa pembinaan bertahun-tahun di dalam Lembaga Pemasyarakatan, tidak menutup kemungkinan dapat kembali bersikap agresif jika terus menerus mendapatkan dorongan berupa penolakan oleh masyarakat sekitar sehingga memunculkan dugaan untuk kembali melakukan tindakan kriminal .

Rejection Sensitivity merupakan suatu kecenderungan bagi individu untuk merasa cemas bahwa dirinya akan memperoleh penolakan dari orang lain sehingga muncul tindakan untuk
mengantisipasi penolakan tersebut (Downey & Feldman, 1996 dalam Downey & Romero-
Canyas, 2005).

Rasa cemas akan penolakan timbul dari hasil dinamika pada sistem kognitif dan afektif individu yang terjadi karena hasil belajarnya terhadap pengalaman (Romero-Canyas & Downey, 2005). Secara spesifik, pengalaman yang dimaksud adalah ketika individu berada dalam situasi yang memungkinkan terjadinya penolakan terhadap dirinya seperti misalnya saat meminta bantuan dari orang lain (Levy, Ayduk & Downey, 2001).

Perbedaan tingkat Rejection Sensitivity (RS) sangat bergantung dari hasil belajar individu mengenai aktivitas interpersonal yang telah dilaluinya. Downey dan Feldman (1996) menekankan bahwa timbulnya RS dapat diprediksi dari pengalaman yang diperolehnya di masa kecil. Pada penelitian lain menambahkan bahwa perbedaan tingkat RS tidak hanya sekedar dipengaruhi oleh pengalaman di masa lalu, namun lebih tepatnya oleh pengalaman penolakan yang terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja (McLachlan, Zimmer-Gembeck, & McGregor, 2010 dalam Bernstein & Benfield, 2013).

Selain itu dalam konteks hubungan romantis, jenis kelamin juga berpengaruh terhadap perbedaan tingkah laku yang ditunjukan oleh individu dengan tingkat RS tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh Downey dan Feldman (1996 dalam Regan, 2011) menunjukan bahwa laki-laki akan cenderung menunjukan sikap cemburu, curiga, dan membatasi pasangannya untuk bergaul dengan orang lain, sedangkan perempuan akan bersikap tidak adil karena selalu menyalahkan pasangannya dan tidak mendukung pasangannya.

Individu dengan Tingkat Kepekaan Terhadap Penolakan yang Tinggi

Individu dengan tingkat RS tinggi dan rendah dapat dibedakan dari ciri-ciri yang dimilikinya. Individu dengan High Rejection Sensitivity (HRS) akan cenderung bertindak sangat waspada terhadap tanda-tanda timbulnya penolakan pada dirinya (Downey & Feldman, 1996).

Levy, Ayduk dan Downey (2001) mengatakan bahwa individu dengan HRS akan cenderung merasa cemas dan berpikir mengenai respon orang lain yang ambigu sebagai tanda-tanda timbulnya penolakan pada dirinya.

Pada umumnya, tindakan yang dilakukan oleh individu dengan HRS berupa tindakan yang penuh dengan amarah, bersifat putus asa, berupa penarikan diri, cemburu, dan berbagai bentuk usaha yang tidak wajar untuk mengontrol tingkah laku orang lain (Downey & Feldman, 1996).

Orientasi nya terhadap penolakan sangat kuat sehingga individu tidak dapat menerima penjelasan alternatif mengenai tingkah laku ambigu yang dilakukan orang lain pada dirinya. Dengan begitu, tidak jarang tindakan waspada yang dilakukannya membuat individu menerima ‘false alarm’
atau salah menginterpretasikan tingkah laku orang lain (Levy, Ayduk & Downey, 2001).

Individu dengan Tingkat Kepekaan Terhadap Penolakan yang Rendah

Berbeda dengan individu yang termasuk dalam kategori Low Rejection Sensitivity(LRS) yang cendrung memiliki rasa cemas terhadap penolakan lebih rendah jika dibandingkan dengan individu dengan HRS (Regan, 2001). Tindakan negatif yang dilakukan oleh individu dengan HRS juga mungkin dapat ditemui pada individu dengan LRS, namun intensitas dan frekuensinya cenderung lebih rendah.

Variabel Rejection Sensitivity ini dapat diukur dengan menggunakan Rejection Sensitivity Questionnaire (RSQ) yang dirumuskan oleh Downey dan Feldman pada tahun 1996 di Amerika Serikat.

Perumusan alat ukur ini dilakukan dari hasil wawancara terbuka dengan 20 mahasiswa. Pada proses wawancara, partisipan diberikan 30 gambaran interaksi antar individu dan diminta untuk mendeskripsikan perasaannya dan juga menggambarkan ekspektasi terhadap peristiwa yang akan terjadi dari hasil interaksi tersebut.

Hasil jawaban partisipan dikelompokan ke dalam dua kategori yang dijadikan subskala pada alat ukur ini yaitu degree of anxiety and concern about the outcome dan expectations of acceptance or rejection. Gambaran interaksi dengan hasil wawancara yang tidak dapat dikategorikan ke dalam dua bagian tersebut dieliminasi, sehingga tersisa 18 gambaran interaksi yang menjadi item dari RSQ.

Dengan begitu, alat ukur Rejection Sensitivity Questionnaire tersusun dari 18 item
dengan masing-masing item mencakup dua pertanyaan yaitu a dan b yang merupakan subskala dari alat ukur ini, sehingga total keseluruhan menjadi 36 item.

Berikut contoh Rejection Sensitivity Questionnaire (RSQ) untuk orang dewasa.

Rejection Sensitivity Questionnaire - Adult Version (A-RSQ).pdf (221.7 KB)