Apa yang dimaksud dengan Teori Belajar Sosial (Social learning theory)?

Teori pembelajaran sosial atau Social learning theory merupakan pembelajaran yang tercipta ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain. Dengan kata lain, informasi didapatkan dengan cara memperhatikan kejadian-kejadian di lingkungan sekitar. Prinsip dasar pembelajaran menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam pembelajaran sosial dan moral terjadi melalui peniruan/imitation dan penyajian contoh perilaku/modeling.

Dalam hal ini seseorang belajar mengubah perilakunya sendiri melalui penyaksian cara orang atau sekelompok orang merespon sebuah stimulus tertentu. Seseorang juga dapat mempelajari respon-respon baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku contoh dari orang lain. Bandura menganggap belajar observasi sebagai proses kognitif yang melibatkan sejumlah atribut pemikiran manusia, seperti bahasa, moralitas, pemikiran dan regulasi diri perilaku (Hergenhahn dan Olson, 2015).

Di tahun 1941, dua orang psikolog - Neil Miller dan John Dollard - dalam laporan hasil percobaannya mengatakan bahwa peniruan (imitation) di antara manusia tidak disebabkan oleh unsur instink atau program biologis.

Penelitian kedua orang tersebut mengindikasikan bahwa kita belajar (learn) meniru perilaku orang lain.

Artinya peniruan tersebut merupakan hasil dari satu proses belajar, bukan bisa begitu saja karena insting. Proses belajar tersebut oleh Miller dan Dollard dinamakan ”social learning” - ”pembelajaran sosial”.

Perilaku peniruan (imitative behavior) kita terjadi karena kita merasa telah memperoleh imbalan ketika kita meniru perilaku orang lain, dan memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya. Agar seseorang bisa belajar mengikuti aturan baku yang telah ditetapkan oleh masyarakat maka ”para individu harus dilatih, dalam berbagai situasi, sehingga mereka merasa nyaman ketika melakukan apa yang orang lain lakukan, dan merasa tidak nyaman ketika tidak melakukannya.”, demikian saran yang dikemukakan oleh Miller dan Dollard.

Dalam penelitiannya, Miller dan Dollard menunjukan bahwa anak-anak dapat belajar meniru atau tidak meniru seseorang dalam upaya memperoleh imbalan berupa permen. Dalam percobaannya tersebut, juga dapat diketahui bahwa anak-anak dapat membedakan orang-orang yang akan ditirunya. Misalnya jika orang tersebut laki-laki maka akan ditirunya, jika perempuan tidak. Lebih jauh lagi, sekali perilaku peniruan terpelajari (learned), hasil belajar ini kadang berlaku umum untuk rangsangan yang sama.

Misalnya, anak-anak cenderung lebih suka meniru orang-orang yang mirip dengan orang yang sebelumnya memberikan imbalan. Jadi, kita mempelajari banyak perilaku ”baru” melalui pengulangan perilaku orang lain yang kita lihat. Kita contoh perilaku orang-orang lain tertentu, karena kita mendapatkan imbalan atas peniruan tersebut dari orang-orang lain tertentu tadi dan juga dari mereka yang mirip dengan orang-orang lain tertentu tadi, di masa lampau.

Dua puluh tahun berikutnya, Albert Bandura dan Richard Walters (1959, 1963), mengusulkan satu perbaikan atas gagasan Miller dan Dollard tentang belajar melalui peniruan. Bandura dan Walters menyarankan bahwa kita belajar banyak perilaku melalui peniruan, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang kita terima.

Kita bisa meniru beberapa perilaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model, dan akibat yang ditimbulkannya atas model tersebut. Proses belajar semacam ini disebut ”observational learning” - pembelajaran melalui pengamatan.

Contohnya, percobaan Bandura dan Walters mengindikasikan bahwa ternyata anak-anak bisa mempunyai perilaku agresif hanya dengan mengamati perilaku agresif sesosok model, misalnya melalui film atau bahkan film karton. Bandura (1971), kemudian menyarankan agar teori pembelajaran sosial seyogianya diperbaiki lebih jauh lagi.

Dia mengatakan bahwa teori pembelajaran sosial yang benar-benar melulu menggunakan pendekatan perilaku dan lalu mengabaikan pertimbangan proses mental, perlu dipikirkan ulang. Menurut versi Bandura, maka teori pembelajaran sosial membahas tentang :

  • Bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan melalui penguat (reinforcement) dan observational learning,
  • Cara pandang dan cara pikir yang kita miliki terhadap informasi,
  • Bagaimana perilaku kita mempengaruhi lingkungan kita dan menciptakan penguat (reinforcement) dan observational opportunity - kemungkinan bisa diamati oleh orang lain.

Berikut penjelasan terkait social learning dari Fuseuniversal,

Pendekatan belajar sosal ini didasarkan pada teori belajar social yang dikemukakan oleh Bandura. Dikatakan bahwa individu dapat memiliki stereotip tentang kelompok tertentu dan prasangka tehaclap kelompok tertentu melalui proses pembelajaran social.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Kryznowsk & Stewin 1985 dalam Feldman (1998) bahwa dalam pandangan belajar social individu membangun prasangka dan stereotip mengenai anggota suatu kelompok tertentu sesuai dengan apa yang mereka pelajari dari pengetahuan atau sikap individu lain terhadap anggota kelompok tersebut.

Model yang individu tiru sikapnya adalah individu lain yang ada disekitarnya, misalnya orang tua, teman, dan guru.

Dengan menggunakan reinforcement yang diberikan kepada individu secara langsung atau mengamati reinforcement yang diberikan kepada individu lain maka seorang anak belajar membentuk sikap dan memperoleh pengetahuan atau kelyakinan mengenai anggota suatu kelompok tertentu.

Misalkan saja, apabila seorang anak laki-laki hidup dilingkungan yang menganggap perempuan sebagai warga kelas dua, maka terbentuk perilaku dan sikap anak terhadap perempuan yang sama seperti orang-orang yang ada dilingkungannya.

Teori pembelajaran sosial banyak dipengaruhi oleh teori Stimulus-Response. Oleh karenanya, pada teori pembelajaran sosial akan banyak ditemukan berbagai konsep yang berasal dari teori S-R, seperti imbalan (reward), hukuman (punishment), dan penguat (reinforcement).

  • Stimulus adalah setiap kejadian yang bisa berasal dari dalam (internal) atau luar (eksternal) individu yang bisa mengubah perilaku individu. Sebagai contoh individu yang lapar (stimulus internal) akan berupaya mencari makanan, demikian pula individu yang tiba-tiba melihat sinar matahari yang sangat terang (stimulus eksternal) akan memejamkan matanya.

  • Perubahan perilaku ini – mencari makanan dan memejamkan mata – disebut respons. Demikian pula seorang anak yang semula menyukai, senang, dan asyik bermain-main dengan kucing bisa saja tiba-tiba tidak mau lagi bermain dengan kucing yang sama setelah ia dicakar kucing dengan akibat luka. Terjadi perubahan pada diri anak tadi – dari mendekati menjadi menjauhi kucing – menunjukkan telah berlangsung pembelajaran pada diri anak.

Dalam perkembangan selanjutnya, boleh jadi anak tadi tidak hanya menjauhi atau tidak mau bermain lagi dengan kucing kesayangannya karena pengalaman buruk dengan kucingnya (punishment), melainkan menghindari semua kucing.

Ini berarti, pada anak tersebut telah terjadi penggeneralisasian stimulus (stimulus generalization). Contoh lain adalah seorang gadis yang telah dikhianati oleh pria idamannya (ada gadis lain sebagai pacarnya), sangat boleh jadi ia akan membenci semua pria.

Berbeda dengan penggeneralisasian stimulus, pada anak bisa terbentuk pemilahan stimulus (stimulus discrimination), yaitu proses pembelajaran untuk berespons secara berbeda terhadap berbagai stimulus. Pada contoh anak yang digigit kucing tadi, ia telah belajar untuk tidak lagi bermain dengan kucing, tetapi ia akan bermain dengan binatang kesayangan lainnya, seperti anjing, kelinci, dan burung peliharaannya.

Selanjutnya, meskipun teori pembelajaran sosial mendasarkan diri atau menggunakan berbagai konsep teori S-R, namun teori pembelajaran sosial menekankan unsur individu pada teori S-R. Sebab, menurut teori pembelajaran sosial manusia bukan makhluk yang serta-merta berespons tatkala ia menghadapi stimulus.

Dengan kata lain, manusia bukanlah ”robot” yang secara otomatis berespons terhadap suatu stimulus melainkan ia mengolah dahulu stimulus berdasarkan pengalamannya, seperti anak yang dicakar kucing dalam contoh terdahulu.

Maka teori pembelajaran sosial memasukkan unsur individu dalam teori S-R sehingga perumusannya menjadi S-O-R (Stimulus-Organism-Response).

Neal Miller dan John Dollard (1941) meletakkan dasar teori pembelajaran sosial modern dengan mengemukakan bahwa peniruan (imitation) dapat dijelaskan melalui konsep stimulus, respons, dan penguat.

Seorang anak kecil yang meniru kakaknya pada saat memanggil ibu mereka dengan kata ”mamah” mendapat penguat secara sengaja atau tidak sengaja dari ibunya, yakni ibunya datang mendekati anaknya. Demikian pula seorang adik yang mengucapkan ”terima kasih” tatkala diberi kue oleh ibunya tidak lain merupakan hasil peniruan dari kakaknya yang juga mengucapkan ”terima kasih” pada waktu diberi kue oleh ibunya.

Oleh karena ucapan ”terima kasih” (respons) mengakibatkan diperolehnya kue (penguat) maka mengucapkan ”mamah” dan ”terima kasih” lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan bagi anak.

Demikianlah seluruh proses sosialisasi pada anak (perilaku menolong, sopan santun, agresif, dan lain-lain), menurut Miller dan Dollard, merupakan hasil peniruan terhadap perilaku orang lain (ayah, ibu, kakak, orang dekat dalam rumah si anak) yang didukung oleh faktor penguat (reinforcement).

Tokoh teori pembelajaran sosial lain yang terkenal adalah Albert Bandura yang beranggapan bahwa pembelajaran bisa berlangsung pada diri individu dengan cara mengamati perilaku individu lain. Sebagai contoh seorang anak perempuan yang asyik menyisir rambutnya dan membedaki wajahnya karena ia sering melihat ibunya berias di depan cermin. Demikian pula halnya bila anak tadi berperilaku agresif maka perilakunya tersebut disebabkan oleh anak tersebut mengamati perilaku kakaknya yang agresif.

Dalam hubungan ini, Bandura menyebut ibu dan kakak dari anak tersebut sebagai ”model”. Sejauh mana anak akan mengikuti perilaku ibunya atau kakaknya, menurut Bandura ditentukan baik oleh daya tarik model maupun fungsi perilaku yang diikuti oleh pengamat.

Makin tinggi daya tarik model dan makin fungsional perilaku yang diambil alih oleh pengamat, makin besar kebolehjadian pengamat mengikuti perilaku model. Selain ini proses mentransfer perilaku model menjadi perlaku pengamat ditentukan juga oleh faktor kemampuan (abilitiy) pengamat dan faktor penguat.

Dalam contoh seorang anak yang agresif setelah mengamati perilaku kakaknya yang agresif terdahulu maka kebolehjadian sang adik berperilaku agresif seperti kakaknya ditentukan oleh daya tarik kakaknya, manfaat dari berperilaku agresif, dan keterampilan memukul, serta dilarang atau tidaknya sang adik berperilaku agresif oleh orang tuanya (faktor penguat).

Teori Pembelajaran Sosial ( Social Learning Theory ) diperkenalkan pertama kali oleh Neil Miller dan John Dollard (1941) berdasarkan hasil penelitian mereka yang mengindikasikan bahwa manusia belajar ( learn ) meniru orang lain. Tingkah laku meniru ( imitative behavior ) merupakan hasil dari suatu proses belajar di mana individu merasa memperoleh imbalan ketika meniru tingkah laku orang lain, dan memperoleh hukuman ketika tidak menirunya.

Albert Bandura dan Richard Walters (1959; 1963) memperbaiki gagasan Miller dan Dollard tersebut dan mengemukakan bahwa manusia belajar suatu tingkah laku melalui peniruan tanpa harus ada penguatan ( reinforcement ) yang diterima, melainkan melalui pengamatan terhadap tingkah laku model, dan akibat yang ditimbulkan atas model tersebut.

Proses belajar ini disebut dengan observational learning . Sebagai contoh, banyak anak yang bertingkah laku agresif karena mengamati tingkah laku agresif dari sosok model yang ada di film atau kartun.