Apa yang dimaksud dengan Tasawuf Irfani ?

sufi
tasawuf

(Bima Satria) #1

Tasawuf Irfani

Tasawuf ‘Irfani adalah tasawuf yang berusaha menyikap hakikat kebenaran atau ma’rifah diperoleh dengan tidak melalui logika atau pembelajaran atau pemikiran tetapi melalui pemberian Allah (mauhibah). Ilmu itu diperoleh karena seseorang berupaya melakukan tasfiyat al-Qalb. Dengan hati yang suci seseorang dapat berdialog secara batini dengan Tuhan sehingga pengetahuan atau ma’rifah dimasukkan Allah ke dalam hatinya, hakikat kebenaran tersingkap lewat ilham (intuisi).

Apa yang dimaksud dengan Tasawuf Irfani ?


(Bhanu Wayan Mehrunisa) #2

Secara etimologis, kata ‘irfan merupakan kata jadian (mashdar) dari kata ‘arafa’ (mengenal / pengenalan). Adapun secara terminologis, ‘irfan diidentikkan dengan makrifat sufistik. Orang yang ‘irfan/ makrifat kepada Allah adalah yang benar-benar mengenal Allah melalui dzauq dan kasyf (ketersingkapan). Ahi ‘irfan adalah orang yang bermakrifat kepada Allah. Terkadang kata itu diidentikkan dengan sifat-sifat inheren tertentu yang tampak pada diri seorang ‘ arif (yang bermakrifat kepada Allah), dan menjadi hal baginya. Dalam konteks ini, Ibn ‘Arabi berkata, “Arif adalah seseorang yang memperoleh penampakan Tuhan sehingga pada dirinya tampak kondisi-kondisi hati tertentu (ahwal).

‘Irfan diperoleh seseorang melalui jalan al-idrak al-mubasyir al-wujdani (penangkapan langsung secara emosional), bukan penangkapan langsung secara rasional. Pembicaraan tentang ’irfan atau makrifat di kalangan sufi dimulai sekitar abad III dan IV H. Tokoh sufi yang sangat menonjol membicarakannya adalah Dzu An-Nun Al-Mishri (w. 245 H/859 M). Sementara Al-Ghozali diposisikan sebagai tokoh sufi yang pertama kali mendalaminya secara intens.

Sebagai sebuah ilmu, ‘irfan memiliki dua aspek, yakni aspek praktis dan aspek teoritis. Aspek praktisnya adalah bagian yang menjelaskan hubungan dan pertanggungjawaban manusia terhadap dirinya, dunia, dan Tuhan. Sebagai ilmu praktis, bagian ini menyerupai etika. Bagian praktis ini juga disebut dengan sayr wa suluk (perjalanan rohani). Bagian ini menjelaskan bagaimana seorang penempuh rohani (salik) yang ingin mencapai tujuan puncak kemanusiaan, yakni tauhid, harus mengawali perjalanan, menempuh tahapan-tahapan (maqam) perjalanannya secara berurutan, dan keadaan jiwa (hal) yang bakal dialaminya sepanjang perjalanannya tersebut.

Sementara itu, ‘irfan teoretis memfokuskan perhatiannya pada masalah wujud (ontologi) , mendiskusikan manusia, Tuhan serta alam semesta. Dengan sendirinya, bagian ini menyerupai teosofi (falsafah Ilahi) yang juga memberikan penjelasan tentang wujud. Seperti halnya filsafat, bagian ini mendefinisikan berbagai prinsip dan problemnya. Namun, jika filsafat hanya mendasarkan argumennya pada prinsip-prinsip rasional, ‘irfan mendasarkan diri pada ketersikaban mistik yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa rasional untuk menjelaskannya.

Tokoh-Tokoh Tasawuf Irfani

  • Rabi’ah Al-Adawiyah (95-185 H).
  • Dzu An-Nun Al-Mishri (180-246 H).
  • Abu Yazid Al-Bushtami (874-947 M).
  • Abu Manshur Al-Hallaj (855-922 M).