Apa yang dimaksud dengan Spiritualitas dalam Psikologi?

Spiritualitas dalam Psikologi

Apa yang dimaksud dengan Spiritualitas dalam Psikologi?

Spiritualitas terbentuk dari kata spiritual. Spiritual berawal dari kata spirit yang berasal dari bahasa Latin spirit us artinya nafas, gambaran hidup, ruh dan udara (Swinton, 2001; Isgandarova, 2005; McSherry, 2006). Spirit bermakna breath of life atau nafas kehidupan (Swinton, 2001). Spirit menjadi dasar pembentukan manusia yang membawa mereka dalam kehidupan dan menjadikannya hidup.

Spirit merupakan unsur transeden ( immaterial atau tidak kasat mata) yang dituhankan, dan dianggap mampu memotivasi manusia untuk mencari makna dan tujuan hidup, membuat manusia mencari tahu asal dan identitas diri, bersikap pada setiap pengalaman hidup, serta pengharapan tentang hari akhir (Ellisson dalam Swinton, 2001; McSherry, 2006).

McSherry (2006) menyatakan bahwa spirit adalah esensi dan energi keberadaan manusia. Kamus Cambridge of Philosophy mengartikan spirit sebagai suatu zat atau makhluk immaterial yang dianggap bersifat ketuhanan. Spirit ini memberi kekuatan, tenaga vitalitas, energi, membentuk disposisi, menjadi dasar moral ataupun motivasi. Spirit -lah yang mendorong manusia untuk mengembangkan keterbatasan diri untuk melampaui batas fisik hukum-hukum alam, mencapai keteraturan hidup, serta menyentuh dimensi transeden pada kehidupan nyata.

Stoll (dalam McSherry, 2006) menyatakan spirit manusia adalah Imago dei ( Image of God atau gambaran ketuhanan) yang ada pada setiap individu yang membuat setiap orang dapat berpikir, merasakan, bermoral, dan secara kreatif berusaha menjadikan dirinya bermakna kepada Tuhan dan orang lain. Pemaparan diatas menjelaskan bahwa spirit merupakan sosok transeden yang dituhankan oleh manusia yang dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku.

Keberadaan spirit dalam setiap manusia membentuk dimensi spiritual secara individual, yang artinya bekerja dengan spirit . Keyakinan diri terhadap adanya dimensi spiritual inilah yang disebut spiritualitas. Spiritualitas menekankan pada unsur, zat, atau sesuatu yang dipercayai individu memiliki kekuatan yang lebih tinggi dan dipersepsikan sebagai Tuhan hingga mampu menimbulkan suatu kebutuhan serta kecintaan terhadap-Nya (McSherry, 2006).

Murray dan Zentner (dalam McSherry, 2006) menjelaskan spiritualitas sebagai kualitas yang bersinergi dengan keterikatan religius (Tuhan), yang memberikan inspirasi, penghargaan terhadap orang lain, kekaguman, serta makna dan tujuan hidup. Spiritualias mengharmoniskan keberadaan individu dengan alam semesta, sebab memberi keyakinan akan keberadaan kekuatan maha besar ( high power ) yang jauh melebihi kekuatan manusia (Murray & Zentner, 1989, Reed, 1992 dalam McSherry, 2006).

Pemaparan tersebut dapat menjelaskan spiritualitas sebagai kualitas interaksi sosial individu dengan lingkungannya serta adanya kesadaran akan kehadiran unsur transeden yang dituhankan. Spiritualitas menurut Schreurs (2002) merupakan kepercayaan individu terhadap sosok transeden dan meyakini bahwa terdapat hubungan individual terhadapnya.

Spiritualitas mencakup inner life , idealisme, sikap, pemikiran, perasaan dan pengharapan terhadap sosok transeden yang dianggap berkuasa. Spiritualitas juga mencakup bagaimana individu mengekspresikan hubungannya dengan sosok transeden tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ekspresi ini terwujud dalam bentuk ritual atau aktifitas rutin spiritual yang dilakukan individu.

Elkins dkk. (dalam Mohamed, Wisnieski, Askar, & Syed, 2004) mengemukakan bahwa spiritualitas sebagai cara individu memahami keberadaan maupun pengalaman yang sedang terjadi padanya. Berawal dari kesadaran tentang adanya realitas transeden , individu dapat memahami eksistensi diri. Eksistensi ini mencakup pandangan dan nilai-nilai yang dikaitkan dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan proses kehidupan yang dijalani.

Spiritualitas sering dikaitkan dengan religius, namun religius sangat berbeda dengan spiritual. Religius menurut Miller dan Thoresen (Ekas, Whitman & Shivers, 2009) sering dikaitkan sebagai intuisi, kepercayaan individu dan praktek keagamaan individual secara spesifik, sedangkan spiritualitas diasosiasikan dengan keterhubungan atau perasaan di dalam hati dengan Tuhan serta sinergisitas individu dengan lingkungan sosialnya. Carlozzi dkk. (2010) menyimpulkan pengertian spiritualitas dalam tiga aspek utama, yakni:

  1. Sebagai keyakinan individu terhadap sosok transeden yang dituhankan dan disertai dengan aktifitas yang bertujuan untuk mendekatkan diri dengan sosok transeden tersebut;

  2. Pencarian makna dan tujuan dalam pengalaman-pengalaman kehidupan; dan

  3. Hasrat atau rasa kebersamaan, keterikatan, dan kesatuan pada semua makhluk hidup.

Isgandarova (2005) menyatakan spiritualitas sebagai kesadaran akan keberadaan unsur transeden yang diyakini sebagai Tuhan, dan dianggap memegang kuasa penuh terhadap dirinya. Sosok Tuhan diyakini sebagai sumber keseimbangan dan rasa aman, sehingga individu merasa menjadi bagian atau sebagai kesatuan yang utuh dan integral dengan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Isgandarova (2005) juga menambahkan bahwa spiritualitas berkembang secara kontinyu. Layaknya perkembangan secara fisik dan psikologis, spiritualitas berkembang dengan proses pembelajaran, refleksi, keyakinan, dan kekaguman pada pengalaman-pengalaman tertentu. Oleh karena itu spiritualitas dapat mempengaruhi pembentukan karakter dan identitas individual.

Berdasarkan berbagai pandangan para ahli mengenai spiritualitas, peneliti menyimpulkan spiritualitas sebagai keyakinan individu terhadap keberadaan, kehadiran, dan keterlibatan sosok transeden yang dituhankan dalam kehidupan sehari-hari. Keyakinan tersebut disertai dengan aktifitas yang bertujuan untuk mendekatkan diri dengan sosok transeden (Tuhan). Spiritualitas memunculkan hasrat atau rasa kebersamaan, keterikatan, dan kesatuan pada alam dan semua makhluk hidup, sehingga menjadi jalan untuk pencarian makna dan tujuan dalam pengalaman-pengalaman kehidupan yang dilalui individu.

Manfaat spiritualitas


Handal dan Fenzel (dalam Isgandarova, 2005) membuktikan spiritualitas menjadi moderator pada hubungan antara stresor dan kepuasan hidup. Selain itu spiritualitas menjadi penengah yang konsisten dalam hubungan antara pengalaman negatif, depresi dan kecemasan. Isgandarova (2005) menyatakan bahwa spiritualitas telah dipercaya sebagai pengobatan alternatif sejak awal masehi. Avicenna (Isgandarova, 2005) menggunakan metode berdoa dan meditasi, yang merupakan ritual spiritual, sebagai salah satu metode penyembuhan fisik dan psikis yang disebutnya metode spiritual healing .

Hill, dkk. (2000) menyebutkan tiga manfaat besar spiritualitas yang telah terbukti secara ilmiah, yakni:

  1. Spiritualitas terbukti sangat berpengaruh pada kesehatan mental.
    Spiritualitas memberikan dukungan pada penyakit mental, dan membantu individu pada individu usia lanjut dalam memaknai dan membangun harapan terhadap kematian, berpengaruh pada status kesehatan fisik individu produktif, proses diet, perilaku seksual, dan dapat membentuk perilaku hidup sehat.
  1. Spritualitas terbukti dapat menurunkan tingkat penggunaan obat-obatan terlarang dan konsumsi alkohol.
    Hal ini disebabkan oleh adanya norma-norma budaya pada perkembangan spiritual dikalangan masyarakat-masyarakat tertentu.

  2. Spiritualitas membantu dalam mengoptimalkan fungsi-fungsi sosial individu.
    Spiritualitas memberikan kesejahteraan secara individual, bahkan telah terbukti dapat dijadikan dasar pembentukan kebijakan pemerintah untuk menyediakan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Spritualitas dapat menghindarkan individu dari stres, kekecewaan, depresi dan masalah-masalah psikologis lainnya, sehingga individu dapat mengoptimalkan fungsi-fungsi sosial individu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi spiritualitas


Asmadi (dalam Perdana & Niswah, 2012) mengemukakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi spiritualitas seseorang adalah sebagai berikut:

  1. Tahap perkembangan .
    Tahap perkembangan dapat menentukan proses pemenuhan kebutuhan spiritual, karena setiap tahap perkembangan memiliki cara tersendiri untuk mengembangkan keyakinan terhadap sosok transeden atau yang dianggap Tuhan.

  2. Keluarga.
    Keluarga adalah penentu perkembangan spiritualitas individu sebab apa yang diperoleh dari lingkungan terdekat individu akan sangat berpengaruh untuk hidup.

  3. Latar belakang budaya .
    Sikap, keyakinan dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan sosial budaya. Pada umumnya seseorang akan mengikuti tradisi agama dan ritual spiritual keluarga.

  4. Pengalaman hidup .
    Pengalaman hidup yang bersifat positif ataupun negatif mempengaruhi spiritualitas seseorang. Peristiwa tertentu dalam kehidupan sering diangap sebagai suatu takdir yang diberikan Tuhan kepada manusia.

  1. Krisis dan perubahan.
    Krisis dan perubahan dapat menguatkan spiritual seseorang. Krisis sering dialami ketika seseorang menghadapi penyakit, penderitaan, proses penuaan, kehilangan dan kematian. Perubahan dalam hidup dan krisis yang dihadapi tersebut merupakan pengalaman spiritual selain juga pengalaman yang bersifat fisik dan emosional.

Aspek-aspek spiritualitas


Underwood (2006) menyatakan bahwa aspek-aspek spiritual mencakup dua dimesi, yakni hubungan antara individu dengan Tuhan dan hubungan antara individu dengan lingkungan sekitarnya. Aspek-aspek spiritualitas adalah sebagai berikut:

  1. Hubungan

    Individu merasakan hubungan dengan sosok transeden atau Tuhan adalah hal yang mendasar bagi individu yang memiliki spiritualitas. Keyakinan memiliki hubungan dengan Tuhan akan dirasakan dalam berbagai segi kehidupan, namun tidak nampak secara nyata. Hubungan dengan Tuhan dianggap sebagai penyebab terjadinya takdir dan pengambilan keputusan dibawah sadar individu. Individu akan merasa Tuhan selalu ada dalam segi kehidupan sehingga memunculkan persepsi bahwa individu tidak sendiri dan merasa didampingi dalam setiap dimensi kehidupan.

  2. Aktivitas transeden /spiritual

    Individu yang merasakan hubungan dengan Tuhan akan meyakini hal transeden dalam kehidupan sehari-hari yang dapat membawanya dalam kebahagiaan. Individu tanpa sadar akan melakukan aktivitas-aktivitas spiritual untuk memenuhi harapan-harapan yang diinginkan. Aktivitas spiritualitas yang paling sederhana adalah berdoa, dan biasanya individu akan merasa doa serta pengharapannya dikabulkan melalui serangkaian pengalaman-pengalaman yang berkesan. Pengalaman spritual atau peribadatan seperti berdoa, menyanyi dan gerakan tubuh (seperti shalat dalam islam, membungkuk atau bertekuk lutut dalam budha dan menari dalam hindu) dapat memberikan pengalaman yang kuat serta menghubungkan keyakinan kognitif serta perasaan spiritual.

  3. Rasa nyaman dan kekuatan

    Rasa nyaman selalu diasosiasikan sebagai rasa aman dan terhindar dari malapetaka. Rasa nyaman menjadi penyebab individu bertahan dalam kondisi sulit, seperti ketika mengalami sakit kronis atau tertimpa musibah dan berada dalam kesulitas. Kekuatan membuat individu lebih berani untuk menghadapi situasi sulit dan merasa tertantang untuk melakukan aktivitas baru yang tidak biasa dari yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

  4. Kedamaian
    Rasa tenang merupakan salah satu hasil dari kegiatan peribadatan. Individu mengharapkan rasa tenang dapat muncul ketika individu dalam kondisi cemas, khawatir hingga depresi atau stres. Merasa tenang merupakan salah satu penolong bagi individu jika berada dalam situasi yang tidak diinginkan.

  5. Merasakan pertolongan

    Individu yang memiliki spiritualitas akan selalu memohon pertolongan dari Tuhan. Memohon pertolongan merupakan salah satu spiritual coping bagi individu dalam kehidupan sehari-hari. Memohon perlindungan dan pertolongan Tuhan membentuk persepsi bahwa individu bekerja bersama Tuhan, sehingga aspek ini merupakan salah satu pembentuk kesejahteraan psikologis. Individu meyakini bahwa Tuhan akan memberikan bimbingan untuk permasalahan hidup yang muncul dari pengalaman sehari-hari. Salah satu bentuk permohonan pertolongan yang biasa dilakukan individu adalah berkaitan dengan pasangan hidup, aktivitas kerja, serta pengasuhan anak.

  6. Merasakan bimbingan

    Individu meyakini bahwa bimbingan dari Tuhan muncul pasca berdoa atau memohon bantuan Tuhan. Oleh karena itu memohon pertolongan seringkali berangkai dengan harapan akan bimbingan. Individu akan mengekspektasikan campur tangan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

  7. Mempersepsikan dan merasakan kasih sayang Tuhan

    Pengalaman-pengalaman individu dalam kehidupan sehari-hari dipersepskan sebagai bentuk kasih sayang dan keberkahan dari Tuhan. Persepsi terhadap kasih sayang Tuhan dirasakan melalui dua cara, yakni dirasakan secara langsung dan melalui orang lain. Individu merasa menerima berkat dari Tuhan jika berhadapan dengan situasi yang berkesan dalam kehidupan sehari-hari. Kasih sayang melalui orang lain disebabkan oleh terdapat keyakinan bahwa Tuhan bertindak atas diri manusia melalui orang lain, sehingga berkah, rejeki, dan kebahagiaan dapat diperoleh melalui interaksi dengan orang lain.

  8. Kekaguman

    Individu yang memiliki spiritualitas tinggi akan merasakan kekaguman pada fenomena kebesaran Tuhan, seperti kondisi alam atau pemandangan serta kejadian-kejadian dan peristiwa besar. Individu akan menyadari bahwa campur tangan Tuhan tidak hanya ada pada manusia, namun berlaku secara universal. Penciptaan bumi dan segala isinya merupakan kuasa Tuhan, sehingga tiap kali individu merasa terdapat kebesaran Tuhan pada objek yang direspon panca indera, individu akan merasa kagum dan bersyukur.

  9. Apresiasi dan rasa berterimakasih

    Rasa berterimakasih atau bersyukur muncul dalam kehidupan sehari-hari dalam peristiwa-peristiwa yang baik ataupun buruk. Rasa berterimakasih ini merupakan hal yang selalu dilakukan individu yang memiliki spiritualitas yang tinggi.

  10. Kepedulian terhadap sesama

    Aspek ini menjelaskan tentang sikap altruis dan motivasi individu dalam kehidupan sosial.Sikap simpatik ini merupakan komponen sentral dalam kehidupan spiritual. Individu merasa memiliki tanggung jawab sosial sehingga merasa perlu menolong dan memberi dukungan kepada orang lain terlebih jika orang tersebut mengalami kondisi yang sama. Individu mengembangkan sikap empati dan simpati serta menghargai perbedaan antar individu sebagai mahluk ciptaan Tuhan.

  11. Merasa bersatu dan dekat dengan Tuhan

    Aspek ini menunjukkan persepsi individu akan kelekatan dan kesatuannya dengan Tuhan. Individu tidak hanya merasa dekat dengan Tuhan, namun menjadi sebuah keinginan bagi individu untuk selalu dekat dengan Tuhannya. Oleh karena itu, individu akan berusaha melakukan aktivitas spiritual dengan tulus sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Pengertian Spiritualitas

Marques (2001) menjelaskan bahwa spiritualitas adalah melihat ke dalam batin menuju kesadaran akan nilai-nilai universal, sedangkan agama formal melihat keluar menggunakan ritus formal dan kitab suci. Senada dengan pernyataan itu (Cacioppe, 2000) mengatakan bahwa agama formal memiliki orientasi eksternal, sedangkan spiritualitas mencakup seseorang yang memandang ke dalam batinnya dan oleh karenanya dapat dijangkau oleh semua orang, baik yang religius maupun yang tidak. Kajian spiritualitas di tempat kerja yang berlandasakan semangat tersebut, menawarkan kondisi psikologis dalam bekerja yang jika dimiliki dan dikembangkan dalam sebuah organisasi, maka dapat membawa dampak yang positif pada kehidupan individu sendiri maupun organisasi tempat ia bekerja.

Ashmos & Duchon (2000) mendefinisikan secara sistematis bahwa spiritualitas di tempat kerja merupakan pemahaman diri individu sebagai makhluk spiritual yang jiwanya membutuhkan pemeliharaan di tempat kerja dengan segala nilai yang ada dalam dirinya; mengalami pengalaman akan rasa bertujuan dan bermakna dalam pekerjaannya; serta juga mengalami perasaan saling terhubung dengan orang lain dan komunitas di tempat individu bekerja.

Menurut (Milliman, dkk, 2003; dalam Yogatama, 2015) spiritualitas di tempat kerja mencakup level personal (pekerjaan yang bermakna/meaningful work), level komunitas (perasaan terhubung dengan komunitas/sense of community), dan level organisasi (penegakkan serta pemeliharaan nilai personal dan kesesuaiannya dengan nilai organisasi/alignment of values). Kajian mengenai spiritualitas di tempat kerja terinspirasi oleh gagasan Maslow (Maslow, dkk, dalam Yogatama, 2015) mengenai pentingnya makna hidup dalam dunia kerja. Dirks (dalam Widyarini, 2010) mengungkapkan bahwa kajian tentang spiritualitas di tempat kerja mulai gencar di Amerika sejak tahun 1990-an. Berkembangnya minat terhadap spiritualitas kerja di Amerika dapat dilihat dari merebaknya publikasi berupa jurnal cetak maupun online, buku dan konferensi dengan tema spiritualitas di tempat kerja. Namun demikian, di Eropa hal ini kurang mendapat perhatian serius (Krasteva, 2007). Bagai-manapun sebagian orang masih meragukan penerapan spiritualitas di tempat kerja, dianggap sebagai hal yang tidak pada tempatnya. Beberapa artikel mengemukakan kritik yang cukup tajam mengenai spiritualitas di tempat kerja, menganggap spiritualitas kerja sebagai upaya memanipulasi secara terorganisir terhadap kepercayaan dan praktik disiplin karyawan, sehingga secara sistematis meningkatkan perilaku pencarian dan pencapaian tujuan-tujuan organisasi (Case & Gosling, 2010). Spiritualitas adalah pembawaan lahir dan bersama mencari makna transeden dalam kehidupan seseorang (Ashar & Lane-Maher, 2004). Spiritualitas tidak lagi terbatas pada lembaga keagamaan tetapi juga dapat ditemukan di organisasi tempat kerja. Spiritualitas di tempat kerja melibatkan keinginan individu untuk melakukan pekerjaan dengan tujuan melayani orang lain dan menjadi bagian dari komunitas. Menurut (Ashmos & Duchon, 2000), spiritualitas di tempat kerja adalah pengakuan bahwa seorang karyawan memiliki kehidupan batin yang memelihara dan dipelihara oleh pekerjaan yang bermakna yang mengambil tempat dimana dalam konteks ini adalah komunitas.

Spiritualitas dalam pekerjaan didefinisikan sebagai kerangka kerja dari nilai-nilai budaya organisasi yang mendorong pengalaman transenden para karyawan melalui proses bekerja, memfasilitasi perasaan terhubung mereka dengan orang lain sekaligus memberikan mereka perasaan lengkap dan bahagia (Giacalone dan Jurkiewicz, 2003; dalam Khasan, 2018). (Marques, dkk, 2007) mendefinisikan spiritualitas di tempat kerja sebagai pengalaman yang ditimbulkan oleh makna yang melekat dalam pekerjaan sehingga menghasilkan motivasi yang lebih besar dan kesuksesan organisasi. Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa spritualitas adalah makna dari identitas individu yang ada dalam sebuah organisasi perusahan sebagai makhluk ciptaan tuhan yang mempunyai hati nurani dan akal pikiran dan mempunyai perasaan terhubung dalam organisasi serta pemaknaan dari setiap tindakan dalam bekerja sehingga dapat memberikan efektivitas kerja yang positif bagi perusahaan dan terjalankannya organisasi secara lebih baik demi mencapai kesuksesan dalam organisasi perusahaan. Dimensi Spiritualitas Ashmos & Duchon (dalam Sufya, 2015) membagi spiritualitas di tempat kerja menjadi tiga dimensi, yaitu:

  1. Kehidupan batin Kehidupan batin adalah pemahaman mengenai kekuatan Ilahi dan bagaimana cara menggunakannya untuk kehidupan lahiriah yang lebih memuaskan. Duchon dan Plowman (2005) mengemukakan bahwa orang-orang membawa seluruh diri mereka untuk bekerja dan semakin terlihat seluruh diri mereka termasuk diri spiritual. Dengan demikian, dimensi penting dari spiritualitas di tempat kerja adalah gagasan bahwa karyawan memiliki kebutuhan rohani (kehidupan batin) dan tidak hanya memiliki kebutuhan fisik, emosional, dan kognitif.

  2. Makna dan tujuan bekerja Menurut Fox (dalam Ashmos & Duchon, 2000), hidup dan mata pencaharian bukan dua hal yang terpisah melainkan berasal dari sumber yang sama yaitu spirit. Spirit berarti hidup. Hidup maupun pekerjaan yang menyangkut kehidupan dengan makna, tujuan, kedamaian dan perasaan memiliki kontribusi terhadap komunitas yang lebih luas. Spiritualitas kerja menyangkut bagaimana membawa hidup dan pekerjaan berjalan bersama. Gerakan spiritualitas di tempat kerja menyangkut kerja yang lebih bermakna, hubungan antara jiwa dan pekerjaan, dan bagaimana mendapatkan perhatian dari perusahaan bahwa memupuk jiwa pada saat kerja dapat berdampak baik bagi bisnis.

  3. Perasaan terhubung dengan komunitas Spiritualitas di tempat kerja tidak hanya bagaimana mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan batin dengan mencari pekerjaan yang bermakna melainkan bagaimana hidup dapat terhubung dengan orang lain. Merasa menjadi bagian dari suatu komunitas adalah bagian yang penting dalam perkembangan spiritual. Menurut Vail (dalam Ashmos & Duchon, 2000), hubungan kekerabatan dapat membantu atasan dan bawahan menghadapi kesendirian, kekecewaan, sakit hati di dalam organisasi dan untuk menentukan seharusnya kondisi ini tidak berlanjut di dalam organisasi dan orang-orang yang terlibat di dalam organisasi tersebut.

Referensi

Sumber Artikel: https://www.universitaspsikologi.com/2020/02/teori-spiritualitas-psikologi.html

Spiritualitas berasal dari kata spirituality , yang merupakan suatu kata benda, turunan dari kata sifat spiritual. Spiriualitas adalah suatu hal yang sulit untuk diungkapkan dan dijelaskan. Spiritualitas berasal dari bahasa latin yang artinya nafas kehidupan.

Spiritualitas adalah suatu cara untuk menjalani sesuatu yang dapat muncul dari kesadaran terhadap dimensi transenden dengan dicirikan sikap penghormatan terhadap diri sendiri, orang lain, alam, kehidupan serta sesuatu yang dianggap sebagai yang tertinggi.

Spiritualitas adalah suatu keyakinan hubungan antara manusia dengan yang maha kuasa dan maha pencipta yang dapat memberikan arti dan tujuan hidup serta perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan Yang Maha Tinggi.

Karakteristik Spiritualitas

Spiritualitas memeliki suatu karakter, dari sinilah dapat diketahui bagaimana tingkat spiritualias dari seseorang. Beberapa karakteristik tersebut adalah, :

  1. Hubungan dengan diri sendiri
  • Pengetahuan mengenai diri sendiri (siapa dirinya, apa yang bisa dilakukannya)

  • Sikap ( kepercayaan pada diri sendiri, kehidupan, atau masa depan, harmoni atau keselarasan diri)

  1. Hubungan dengan alam
  • Mengetahui mengenai lingkunga sekitar, makhluk hidup lain seperti tumbuhan, margasatwa dan iklim.

  • Dapat berkomunikasi dengan alam, mengabadikan dan melindungi alam

  1. Hubungan dengan orang lain atau sesama manusia
  • Harmonis

Harmonis yang dimaksud disini adalah ketika seseorang dapat berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik, mengasuh anak, orang tua dan orang sakit, meyakini kehidupan dan kematian

  • Tidak harmonis

Contoh hubungan tidak harmonis antar sesama manusia adalah terjadi konflik dengan orang lain, resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan, hubungan dengan ketuhanan yang kurang baik.

  • Agamis atau tidak agamis

Contoh dari agamis atau tidak agamis adalah sembahyang /berdoa/meditasi, memiliki perlengkapan keagamaan, dapat bersatu dengan alam.

Manifestasi Spiritulitas

Cara seseorang untuk memahami spiritual secara nyata disebut dengan manifestasai spiritual. Manifestasi spiritual dapat dilihat melalui bagaimana cara seseorang berhubungan dengan diri sendiri, orang lain, dengan Yang Maha Kuasa, dan hubungan antar kelompok.

Salah satu contoh manifestasi spiritualitas adalah kebutuhan spiritual individu. Kebutuhan spiritual individu ini meliputi mencari makna hidup, harapan, mengekspresikan perasaan kesedihan maupun kebahagiaan, untuk bersyukur, dan untuk terus berjuang dalam kehidupan. Selain itu kebutuahan spiritual individu untuk mendapatkan maaf atau pengampuna, mencintai, menjalin hubungan penuh rasa percaya dengan tuhan.

Skala tingkat spiritualitas

Tingkat spiritualitas dapat diukur dengan kuesioner seperti Spirituality and Spiritual Care Rating Scale (SSCRS) yang dibuat oleh McSherry pada tahun 1997 , kuesioner ini terdiri dari 17 pertanyaan, akan tetapi hanya 4 item pertanyaan yang menunjukkan pengukuran tingkat spiritualitas.

Kuesioner lainnya yaitu Daily Spiritual Experience Scale (DSES) yang dibuat oleh Lynn Underwood pada tahun 2002. Pada kuesioner ini tingkat spiritualitas seseorang bisa diukur dengan pengalaman spirirtualitas sehari-hari yaitu diantaranya dengan melibatkan 16 item sebagai indikator penilaian yang dilakukan dimana indikator-indikator ini tertuang dalam kuesioner DSES:

  1. Merasakan kehadiran Tuhan

  2. Merasakan mempunyai hubungan dengan semua kehidupan

  3. Merasakan kegembiraan ketika beribadah sehingga tidak merasakan kekhawatiran dalam kehidupan sehari-sehari

  4. Menemukan kekuatan dalam agama dan spiritualitas

  5. Menemukan kenyamanan dalam agama dan spiritualitas

  6. Merasakan kedamaian batin yang mendalam atau kerukunan

  7. Meminta bantuan ditengah-tengah aktivitas sehari-hari

  8. Merasakan dibimbing oleh Tuhan ditengah aktivitas sehati-hari

  9. Merasakan cinta kepada Tuhan secara langsung

  10. Merasakan cinta Tuhan melalui orang lain

Definisi Spiritualitas

Spiritual berasal dari kata spirit yang berarti “semangat, jiwa, roh, sukma, mental, batin, rohani dan keagamaan”. Sedangkan Anshari dalam kamus psikologi mengatakan bahwa spiritual adalah asumsi mengenai nilai-nilai transcendental2 . Dengan begini maka, dapat di paparkan bahwa makna dari spiritualitas ialah merupakan sebagai pengalaman manusia secara umum dari suatu pengertian akan makna, tujuan dan moralitas. Spiritualitas atau jiwa sebagaimana yang telah digambarkan oleh tokohtokoh sufi adalah suatu alam yang tak terukur besarnya, ia adalah keseluruhan alam semesta, karena ia adalah salinan dari-Nya segala hal yang ada di dalam alam semesta terjumpai di dalam jiwa, hal yang sama segala apa yang terdapat di dalam jiwa ada di alam semesta, oleh sebab inilah, maka ia yang telah menguasai alam semesta, sebagaimana juga ia yang telah diperintah oleh jiwanya pasti diperintah oleh seluruh alam semesta

‘Jiwa’ adalah ‘ruh’ setelah bersatu dengan jasad penyatuan ruh dengan jasad melahirkan pengaruh yang ditimbulkan oleh jasad terhadap ruh. Sebab dari pengaruh-pengaruh ini muncullah kebutuhan-kebutuhan jasad yang dibangun oleh ruh. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa jiwa merupakan subjek dari kegiatan “spiritual”. Penyatuan dari jiwa dan ruh itulah untuk mencapai kebutuhan akan Tuhan. Dalam rangka untuk mencerminkan sifat-sifat Tuhan dibutuhkan standarisasi pengosongan jiwa, sehingga eksistensi jiwa dapat memberikan keseimbangan dalam menyatu dengan ruh.

Ruh merupakan jagat spiritualitas yang memiliki dimensi yang terkesan Maha Luas, tak tersentuh (untouchable), jauh di luar sana (beyond). Disanalah ia menjadi wadah atau bungkus bagi sesuatu yang bersifat rahasia. Dalam bahasa sufisme ia adalah sesuatu yang bersifat esoterisme (bathiniah) atau spiritual. Dalam esoterisme mengalir spiritualitas agama-agama. Dengan melihat sisi esoterisme ajaran agama atau ajaran agama kerohanian, maka manusia akan dibawa kepada apa yang merupakan hakikat dari panggilan manusia. Dari sanalah jalan hidup orang-orang beriman pada umumnya ditujukan untuk mendapatkan kebahagiaan setelah kematian, suatu keadaan yang dapat dicapai melalui cara tidak langsung dan keikutsertaan simbolis dalam kebenaran Tuhan, dengan melaksanakan perbuatan-perbuatan yang telah ditentukan.

Dalam dunia kesufian ‘jiwa’ atau ‘ruh’ atau ‘hati’ juga merupakan pusat vital organisme kehidupan dan juga, dalam kenyataan yang lebih halus, merupakan “tempat duduk” dari suatu hakikat yang mengatasi setiap bentuk pribadi. Para sufi mengekspresikan diri mereka dalam suatu bahasa yang sangat dekat kepada apa yang ada dalam al-Qur’an dan ekspresi ringkas terpadu mereka yang telah mencakup seluruh esensi ajaran. Kebenaran-kebenaran ajarannya mudah mengarah pada perkembangan tanpa batas dan karena peradaban Islam telah menyerap warisan budaya pra Islam tertentu, para guru sufi dapat mengajarkan warisannya dalam bentuk lisan atau tulisan. Mereka menggunakan gagasan-gagasan pinjaman yang telah ada dari warisan-warisan masa lalu cukup memadai guna menyatakan kebenaran-kebenaran yang harus dapat diterima jangkauan akal manusia waktu itu dan yang telah tersirat dalam simbolisme sufi yang ketat dalam suatu bentuk praktek yang singkat.

Dari warisan-warisan yang telah ada yaitu kebenaran-kebenaran hakiki dari para kaum sufi, maka terciptalah prilaku-prilaku yang memiliki tujuan objektif (Tuhan) tidak lain seperti halnya esoterisme dalam agama-agama tertentu, langkah awal untuk menjadikan umatnya mencari tujuan yang objektif, mereka memiliki metode-metode khusus untuk menggali tingkat spiritualitasnya. Oleh karena itu, penelitian mengenai pengalaman keagamaan merupakan kegiatan yang tidak pernah surut dari sejarah. Hal ini disebabkan karena pengalaman keagamaan, tidak akan pernah hilang, dan tidak pernah selesai untuk diteliti. Dari pengalamanpengalaman keagamaan (religiusitas) itulah akan memberikan dampak positif bagi individu yang menjalaninya.

Sebagaimana telah tampak bahwa kegersangan spiritual semakin meluas hal itu terdapat pada masyarakat modern, maka pengalaman keagamaan semakin didambakan orang untuk mendapatkan manisnya spiritualitas the taste of spirituality. The taste of spirituality, bukanlah diskursus pemikiran, melainkan ia merupakan diskursus rasa dan pengalaman yang erat kaitannya dengan makna hidup.4 Dalam khazanah Islam, pengalaman keagamaan tertinggi yang pernah berhasil dicapai oleh manusia adalah peristiwa “mi’raj” Nabi Muhammad SAW., sehingga peristiwa ini menjadi inspirasi yang selalu dirindukan hampir semua orang, bahkan apapun agamanya.

Di sinilah muncul salah satu alasan bahwa pengalaman spiritualitas sangat didambakan oleh manusia dengan berbagai macam dan bentuknya. Dan untuk menggapai pengalaman-pengalaman spiritualits itu, maka diperlukan upacaraupacara khusus guna mencapainya. Sebab dari pengalaman keagamaan itu, umumnya muncul hati yang mencintai yang ditandai dengan kelembutan dan kepekaan. Sehingga sifat cinta itu akan melahirkan “kasih” kepada sesama makhluk tanpa membedakan ras serta keberagamaan yang berbeda. Secara substansi (esoterisme) agama-agama pada hakekatnya sama dan satu. Perbendaannya terletak pada aplikasi dari esoterisme yang kemudian memunculkan “eksoterisme” agama. Pada aspek eksoterik inilah muncul pluralitas agama. Di mana setiap agama memiliki tujuan yang sama dan objektif yaitu untuk mencapai kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Antropologi spiritual Islam memperhitungkan empat aspek dalam diri manusia, yaitu meliputi :

  1. Upaya dan perjuangan “psiko-spiritual” demi pengenalan diri dan disiplin.

  2. Kebutuhan universal manusia akan bimbingan dalam berbagai bentuknya.

  3. Hubungan individu dengan Tuhan.

  4. Hubungan dimensi sosial individu manusia.

Referensi

http://digilib.uinsby.ac.id/6413/7/Bab%202.pdf