© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan sense of humor?

sense of humor

Istilah humor pada awal abad 18 digunakan untuk mengeksprsikan rasa simpatik, toleransi, dan dukungan. Istilah humor juga digunakan bagi individu agar tidak terlalu serius atau hanyut dalam permasalahan yang sedang dihadapi. Dengan adanya humor, individu dapat membuat jarak dan lebih objektif dalam memandang kondisi yang sedang dihadapi.

Sense of humor adalah kemampuan seseorang menggunakan humor sebagai cara menyelesaikan masalah, keterampilan menciptakan humor, kemampuan menghargai atau menanggapi humor.

Martin mendefinisikan sense of humor merupakan kemampuan setiap orang dalam mempersepsikan, mengekspresikan, dan menikmati humor.

Menurut Shade, terdapat lima elemen yang selalu ada dalam sense of humor seseorang, yaitu:

  • Penghargaan terhadap humor, bidang afektif setelah elemen yang mengandung humor dipahami.

  • Identifikasi humor, adalah pengenalan empat bentuk humor, yaitu: figural, verbal, visual, dan auditori.

  • Pemahaman humor, memerlukan aspek kognitif untuk memahami sebuah lelucon.

  • Respon terhadap kegembiraan humor, refleks fisik secara spontan terhadap stimulus humor, biasanya berbentuk senyuman dan/atau gelak tawa.

  • Produksi humor, merupakan kemampuan individu untuk memproduksi humor.

O’Connell menyatakan bahwa humor merupakan kemampuan untuk mengubah perseptual-kognitif secara tepat pada kerangka berpikir. Sense of humor dapat digunakan sebagai salah satu alternatif bentuk katarsis yang cukup praktis, efektif, dan efisien sebab hampir setiap individu memiliki sense of humor ini, meskipun dengan kadar atau tingkatan yang berbeda antara individu yang satu dengan individu lainnya.

Aspek-aspek Sense of Humor


Adapun aspek-aspek sense of humor menurut Thorson, Powell, dan Brdar adalah sebagai berikut :

  • Menciptakan humor, yaitu membuat, menghasilkan humor dari buah pikiran sendiri, bukan sekedar mencontoh atau meniru.

  • Mengatasi masalah dengan humor, yaitu penggunaan humor sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah yang menimpa diri seorang individu.

  • Penghargaan terhadap humor, yaitu memberikan perhatian lebih terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan humor.

  • Sikap menyenangi humor, yaitu menerima segala sesuatu yang berhubungan dengan humor.

Eysenck menyatakan bahwa batasan-batasan yang digunakan dalam sense of humor terdiri dari tiga, yaitu:

  • The Conformist Sense, yaitu tingkat kesamaan antara individu satu dengan yang lainnya dalam mengapresiasi materi-materi humor. Hal ini menunjukkan kemampuan individu dalam menanggapi atau pun memberikan penghargaan humor.

  • The Quantitative Sense, yaitu seberapa sering individu tersenyum dan tertawa, serta seberapa mudah individu merasa gembira. Hal ini menunjukkan kemampuan individu dalam menggunakan humor sebagai cara dalam menyelesaikan masalah, karena efek senyum dan tertawa akan mengurangi ketegangan dan kekakuan.

  • The Productive Sense, yaitu seberapa banyak individu menceritakan cerita-cerita lucu dan membuat individu lain gembira. Dalam hal ini menunjukkan kemampuan atau keterampilan individu dalam menciptakan suatu humor.

Teori Humor


Banyak teori yang telah mengembangkan tentang apa alasan orang tertawa dan yang mengontrol sense of humor. McGhee mengatakan bahwa beberapa teori mencoba menunjukkan bahwa humor disebabkan oleh perasaan individu, fungsi humor adalah untuk melepaskan emosi internal atau untuk melepaskan emosi yang menyenangkan.

Terdapat tiga teori humor terkemuka yang paling sering digunakan, yaitu (Whisonant, 1998):

  • Teori Ketidaksesuaian (incongruity theory)
    Teori ini mengatakan bahwa sesuatu disebut lucu karena kejadian (misalnya: lelucon, gerakan tubuh, pernyataan) bertentangan dengan dugaan kita dan karena pertentangan kognitif yang menciptakan ketidaksesuaian. Adanya dua pandangan lebih atau yang tidak sesuai dari suatu kejadian, dimana ketidaksesuaian itu muncul dalam satu objek yang komplek atau kumpulan orang atau sebuah kejadian yang ganjil, dimana ia menaruh perhatian terhadap objek tersebut.

  • Teori Superioritas (superiority theory)
    Teori ini menyatakan bahwa sesuatu disebut lucu karena individu dibuat merasa superior terhadap orang lain. Humor adalah sarana mendorong ego seseorang atau rasa harga diri orang lain.

  • Teori pembebasan atau pelepasan (relief theory)
    Teori pembebasan atau pelepasan disebut pula dengan teori psikoanalitis yang dipopulerkan oleh Freud. Berdasarkan teori ini, humor adalah sarana yang diterima secara sosial melepaskan emosi dan rasa gelisah. Setiap individu pasti memiliki rasa ketidaknyamanan, ketakutan, dan/atau rasa malu, dan humor menjadi sarana untuk mengurangi hal-hal tersebut.

Jenis-jenis Humor


Jenis-jenis humor menurut Setiawan dapat dibedakan menurut kriterium “bentuk ekspresi”. Sebagai bentuk ekspresi dari kehidupan kita, humor dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  • Humor personal: kecenderungan tertawa pada diri sendiri, misalnya bila kita melihat sebatang pohon yang bentuknya mirip orang yang sedang buang air besar.

  • Humor dalam pergaulan: misalnya senda gurau antar teman, kelucuan yang diselipkan dalam pidato atau ceramah di depan umum.

  • Humor dalam kesenian atau seni humor. Humor jenis ini dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:

    1. humor lakuan, misalnya lawak, tari humor, dan pantomim lucu;
    2. humor grafis, misalnya kartun, karikatur, foto jenaka, dan patung lucu;
    3. humor literatur, misalnya cerpen lucu dan sajak jenaka.

Manfaat Humor


Meskipun mungkin tampak tidak serius dan sembrono, humor memiliki beberapa fungsi psikososial yang penting. Manfaat humor antara lain :

  • Memunculkan emosi positif
    Fredickson telah mengusulkan untuk “memperluas dan membangun” model psikologis fungsi emosi positif, termasuk humor yang berhubungan dengan kegembiraan. Tidak seperti emosi negatif seperti marah atau takut yang cenderung mempersempit fokus individu.

    Emosi positif dalam hal ini berfungsi untuk memperluas lingkup fokus perhatian individu, memungkinkan untuk lebih kreatif dalam pemecahan masalah dan berbagai peningkatan respon perilaku, membangun sumber daya fisik, intelektual, dan sosial yang tersedia bagi individu untuk menghadapi tantangan hidup.

    Manfaat psikologis lainnya dari humor yakni dapat menginduksi emosi positif dalam suatu masyarakat yang cenderung individual dan membangun hubungan sosial yang efektif.

  • Membangun komunikasi interpersonal
    Fungsi lain dari humor yang berkaitan dengan peran pentingnya dalam komunikasi interpersonal dan pembentukan, pemeliharaan, dan hubungan sosial. Pengalaman tertawa bersama-sama dapat meningkatkan perasaan tertarik antara masyarakat dan memperluas ikatan interpersonal dan kohesi kelompok.

    Selain itu, humor sering digunakan untuk mengkomunikasikan pesan yang mungkin sulit untuk disampaikan menggunakan modus yang lebih serius dari komunikasi. Pesan yang dinyatakan dalam cara yang lucu dapat ditarik kembali jika tidak baik diterima, sehingga kedua pembicara dan pendengar bisa saling memahami, itu yang penting.

  • Mengatasi stres dan kesulitan
    Fungsi selanjutnya dari humor adalah perannya dalam mengatasi stres dan kesulitan. Kemampuan menemukan humor, bahkan dalam situasi kehidupan yang paling sulit sering dilihat sebagai mekanisme koping.

    Karena inheren melibatkan keganjilan dan multitafsir, humor menyediakan cara bagi individu untuk menggeser perspektif tentang situasi stres, menilai kembali dari sebuah titik yang baru. Selain itu, emosi positif kegembiraan yang menyertai humor menggantikan perasaan kecemasan, depresi, atau kemarahan yang seharusnya terjadi.

    Lefcourt menjelaskan bahwa dengan adanya humor, individu merasakan kehadiran individu lain. Individu merasa dirinya tidak sendiri atau tidak terisolasi. Humor merupakan indikasi adanya penerimaan sosial terhadap diri individu.

    Terkadang, materi humor berhubungan dengan situasi stres yang sedang dialami oleh individu. Materi humor yang mencerminkan kondisi stres yang sedang dialami individu lain, membuat individu merasa dirinya tidak sendiri. Individu merasa bahwa ada individu lain yang merasakan hal (kondisi stres) yang serupa. Kesamaan terhadap kondisi yang disampaikan oleh individu lain melalui humor, membuat individu merasakan adanya perasaan dekat satu sama lain.