© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan sense-making?

Sense-making

Sense-making atau Sensemaking adalah proses di mana orang memberi makna pada pengalaman kolektif mereka.

Sense-making merupakan pendekatan yang mengemukakan bahwa pencarian-informasi dan penggunaan-informasi muncul saat individu menemukan diri mereka sendiri tidak mampu maju melalui sebuah situasi khusus tanpa membentuk suatu jenis “pengertian” baru tentang sesuatu. Kebutuhan informasi itu dengan demikian terikat dengan situasi (Dervin, 1986).

Beberapa asumsi inti Sense-Making adalah diskontinuitas. Terdapat jurang antara entitas, waktu, dan ruang. Setiap individu adalah entitas bergerak melalui waktu dan ruang, berurusan dengan entitas lain yang termasuk orang lain, artefak, sistem, atau institusi. Pembuatan makna (sense) individu sebagai sebuah strategi untuk menjembatani jurang tersebut merupakan metafora sentral dari Pendekatan Sense-Making (Spurgin).

Sense-Making didefinisikan sebagai perilaku internal dan eksternal yang memungkinkan individu mengkonstruksikan dan merancang perjalannya melintasi ruang dan waktu (Atikah, 2002).

Metafora  Sense-Making
Gambar Metafora Sense-Making

Gambar diatas menunjukan metafora seorang manusia yang sedang berjalan menuju jembatan. Manusia berjalan membawa masalah (situasi problematik) dan berusaha membangun sebuah jembatan berupa informasi yang ia maknai (sensemaking). Di bawahnya ada jurang (gap) yang harus ia lewati untuk menuju situasi tujuan.

image

Secara lebih sederhana, konsep Sense-Making dapat dilihat pada Gambar diatas. Konsep ini berfokus pada triangulasi antara tiga unsur dasar pada diri manusia, yang selalu bergerak dalam ruang dan waktu. Tiga unsur dasar yang penting dalam proses tersebut adalah situasi, jurang, dan hasil/kegunaan.

Dervin mendefinisikan situasi sebagai konteks ruang dan waktu dimana sense-making dikonstruksikan. Konsep kesenjangan (gap) adalah salah satu aspek ketidakjelasan dari situasi di mana orang merasakan kebutuhan untuk mencari kejelasan agar dapat melanjutkan gerakannya. Beberapa penelitian menyamakan kesenjangan ini dengan kebutuhan informasi atau pertanyaan-pertanyaan dalam diri pemakai. Konsep manfaatkan adalah hasil yang diperoleh individu setelah terciptanya sense baru (Atikah, 2002).

Situasi tersebut merujuk pada peristiwa dalam kehidupan seseorang yang menciptakan kekurangan pengertian, atau jurang. Jurang itu, hanya dilihat dalam mata kesadaran, diterjemahkan ke dalam bentuk pertanyaan dan jawaban pada pertanyaan tersebut dapat dilihat sebagai sebuah jembatan yang melintasi jurang tersebut. Elemen ke-tiga dari model tersebut adalah kegunaan yang dibuat dari jawaban - apa yang diharapakan pencari/pengguna setelah melintasi jembatan. Ketiga elemen dilihat sebagai elemen yang terpisah tetapi terkait dari sebuah triangulasi proses sense-making (Dervin dan Dewdney).

Seperti yang jelaskan oleh Donald Walker (1981), Informasi dalam hal ini tidak intrinsik dalam data, melainkan nilai bagi pengguna yang berfungsi memenuhi kebutuhan informasi.

Untuk mengukur situasi, Dervin menggunakan beberapa variable, antara lain:

  • bentuk gerakan situasional (situasional movement state),
  • kejelasan situasi (situation clarity),
  • keterkaitan sosial (social embeddednes),
  • pentingnya situasi (situation importance),
  • pengalaman masa lalu (post experience),
  • kemampuan menghadapi situasi (ability to deal with situation),
  • kekuatan merubah situasi (power to change situation),
  • situasi dalam komunikasi yang terbuka (openness to communication in situation),
  • status situasi (status in situation),
  • jarak situasi (distance into situation).

Sementara itu kesenjangan (gap) diukur dengan beberapa variable, antara lain: 5W +1 H, waktu, valensi, entitas dan gerakan.

Konsep manfaat (uses) memiliki 2 (dua) ukuran berupa variable: sifat dari hurt (=blocking, dalam pengertian bebas adalah hambatan) dan sifat dari help (manfaat dari informasi) (Atikah, 2002).