© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan saliva atau air ludah?

Saliva

Saliva adalah cairan eksoktrin yang mengandung 99% air, berbagai elektrolit ( sodium, potassium, calcium, chloride, magnesium, bicarbonate, phosphate ) dan protein, didukung oleh enzim, imunoglobin, dan antimikroba lainnya, mukosa glikoprotein, albumin, serta beberapa polipeptida dan oligopeptida yang penting untuk kesehatan mulut. Ada juga glukosa dan produk nitrogen, seperti urea dan ammonia. Komponen tersebut saling berinteraksi dan bertanggung jawab untuk berbagai macam fungsi

Saliva atau air ludah adalah cairan mulut yang dikeluarkan oleh kelenjar ludah, dikeluarkan dalam rongga mulut,dan disebarkan oleh sistem peredaran darah melalui celah di antara permukaan gigi dan gusi yaitu sulkus gingivalis.3 Jumlah dan susunan air ludah sangat berpengaruh pada kesehatan mulut, berkaitan dengan proses biologis yang terjadi di rongga mulut.

Kelenjar yang menghasilkan saliva antara lain :

  • Kelenjar ludah mayor : glandula parotis, glandula submandibularis, dan glandula sublingualis yang masing-masing berjumlah sepasang.

  • Kelenjar ludah minor : glandula labialis, glandula buccales, glandula palatina, dan glandula lingualis yang jumlah seluruhnya diperkirakan mencapai 450-750 kelenjar.

Anatomi Kelenjar Saliva
Gambar Anatomi Kelenjar Saliva

Tiap kelenjar ludah tersusun atas lobus-lobus yang terdiri dari asinus (alveoli kelenjar salivarius-asini), duktus interkalata, dan duktus striata. Sel-sel yang menyusun asini dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu sel serous, sel mukous, dan campuran antara sel serous dengan sel mukous.

Asini serous tersusun dari sel-sel berbentuk piramid yang mengelilingi lumen kecil dan memiliki membrana basalis. Dengan pengecatan hematoksilin Eosin (HE) sel ini tampak berwarna lebih merah dengan inti bulat di tengah. Hasil sekresinya berupa saliva yang jernih yang mengandung enzim ptialin.

Asini mukous tersusun dari sel-sel kuboid sampai kolumner yang mengelilingi lumen kecil dan juga memiliki membran basalis. Hasil sekresinya adalah musin/lendir, yang sangat kental. Asini campuran memiliki struktur sel serous dan sel mukous. Struktur serous menempel pada struktur sel mukous sehingga tampak sebagai bangunan berbentuk bulan sabit yang dikenal sebagai Demiluner Gianuzzi.

Histologi kelenjar saliva
Gambar Histologi kelenjar saliva

Fungsi Saliva


Fungsi saliva berkaitan dengan proses-proses biologis yang terjadi dalam rongga mulut diantaranya dalam hal:

  • Perlindungan permukaan mulut, baik mukosa maupun elemen gigi geligi. Saliva berpengaruh pada sistem buffer di mulut, melakukan pembersihan secara mekanis, proses demineralisasi-remineralisasi, memiliki aktivitas anti bakteri dan agregasi mikroorganisme mulut.

  • Pengaturan kadar air.

  • Pengeluaran virus dan hasil pertukaran zat.

  • Pencernaan makanan dan tanggapan pengecap.

  • Diferensiasi dan pertumbuhan sel-sel kulit, epitel, dan saraf.

Curah Saliva


Saliva yang disekresi oleh kelenjar saliva biasanya dinyatakan dalam satuan ml/menit. Curah saliva normal dalam keadaan istirahat biasanya 0,1-0,5 mL/menit. Sedangkan dalam sehari saliva bisa diproduksi sebanyak 0,5-1 liter. Pengaturan aktivitas sekresi kelenjar saliva tersebut diregulasi oleh saraf otonom parasimpatis dan simpatis.

Curah saliva dapat mengalami perubahan karena beberapa faktor berikut ini :

  1. Aktivitas dan Irama siang dan malam hari.
    Pada saat aktivitas minimal atau pada saat istirahat, sekresi oleh kelenjar saliva menurun bahkan pada malam hari sekresi saliva hampir berhenti. Sekresi saliva mencapai puncaknya pada siang hari saat orang banyak beraktivitas.

  2. Stimulasi
    Rangsangan mekanis seperti mengunyah makanan keras atau permen karet dan kimiawi seperti rangsangan rasa asam, manis, asin, pahit, dan pedas dapat meningkatkan sekresi saliva secara nyata.

  3. Psikis
    Stress dapat menghambat sekresi, sedangkan ketegangan dan kemarahan dapat bekerja sebagai stimulasi.

  4. Penyakit sistemik tertentu
    Pada Sindrom Sjogren, tumor kelenjar ludah, dan fibrosis sistik didapati sekresi ludah yang berkurang dan cenderung dapat menyebabkan sindroma mulut kering atau xerostomia. Suatu serangan psikotik dapat disertai oleh sekresi ludah yang berlebihan dan sangat berbusa. Hal ini juga dapat timbul pada serangan epileptik atau pada oesofagitis yang parah.

  5. Usia
    Pada anak-anak, erupsi gigi biasanya disertai dengan sekresi saliva yang meningkat. Saliva tersebut bersifat encer dan keluar terus menerus. Sedangkan pada orang dewasa atau usia yang lebih tua, sekresi saliva mengalami penurunan.

  6. Protesa Gigi
    Pemakaian protesa gigi yang pertama atau yang baru selama beberapa waktu dapat mengakibatkan mulut kering. Tetapi dalam beberapa kasus, timbul keluhan mengenai kenaikan jumlah saliva.

  7. Obat-obatan
    Obat-obatan parasimpatomimetika merangsang sistem saraf parasimpatis menyebabkan sekresi saliva yang encer seperti air dan banyak, maka sering digunakan pada penderita dengan keluhan mulut kering. Sekresi saliva juga dapat dirangsang dengan obat simpatomimetika (obat yang merangsang sistem saraf simpatis). Jika beta reseptor dirangsang, akan menghasilkan sekresi saliva yang pekat dan kaya musin. Jika alfa reseptor dirangsang, hasilnya adalah sedikit saliva yang tidak pekat tetapi kaya protein, sedangkan stimulasi pada 2 reseptor dapat mereduksi sekresi saliva.

  8. Penyinaran Radioterapi
    Radioterapi pasca bedah tumor kepala dan leher dapat mengakibatkan kerusakan sel-sel kelenjar saliva sehingga curah saliva serta pH saliva berkurang.

  9. Derajat Hidrasi
    Pada keadaan dehidrasi sekresi saliva menurun hingga dapat mencapai nol.

  10. Perubahan hormonal
    Hormon dapat mempengaruhi curah saliva dan komposisinya dengan beraksi langsung pada asinus atau elemen duktus kelenjar saliva. Hormon seks wanita misalnya pada wanita menopause menyebabkan penurunan curah saliva, begitu pula pengaruhnya pada saat terjadi kehamilan.

Saliva adalah sekresi kelenjar yang berkontak secara konstan dengan jaringan lunak dan keras dari rongga mulut. Saliva merupakan bagian yang penting untuk melindungi dan mempertahankan kesehatan rongga mulut. Setiap komponen saliva saling berinteraksi dan bertanggung jawab terhadap setiap fungsi dari saliva.

Komposisi Saliva


Saliva adalah sekresi eksokrin yang terdiri dari 99% air, dan 1% terdiri dari ion dan unsur organik. Ion penting yang terdapat dalam saliva adalah kation seperti Na+ dan K+ sedangkan anion adalah Cl- dan bikarbonat (HCO3-).

Selain itu, elektrolit lain yang terdapat di dalam saliva adalah kalsium fosfat, fluoride, tiosianat, magnesium sulfat, dan iodin. Unsur organik yang terdapat di dalam saliva adalah seperti protein, karbohidrat, lemak dan molekul organik kecil.

Fungsi Saliva


Saliva merupakan cairan yang kompleks dan serbaguna yang penting untuk berbagai fungsi fisiologis didalam rongga mulut. Fungsi saliva antara lain adalah:

  1. Memfasilitasi proses bicara.

  2. Membasahi makanan di dalam rongga mulut sehingga mempermudah proses mastikasi dan penelanan makanan.

  3. Membantu persepsi rasa dengan melarutkan makanan secara kimia yang merupakan langkah awal untuk stimulasi reseptor taste bud, sifat hipotonisitas dari saliva memungkinkan taste bud untuk mempersepsikan rasa yang berbeda, protein saliva juga penting untuk pertumbuhan dan maturasi dari taste bud tersebut.

  4. Membentuk suatu lapisan seromukosa yang dapat melubrikasi dan melindungi mukosa oral dari agen yang mengiritasi.

  5. Mengencerkan dan membersihkan rongga mulut dengan membilas debris, sisa makanan dan bakteri dari rongga mulut sehingga aktivitas bakteri di rongga mulut menjadi terbatas.

  6. Sebagai buffer yang dapat menetralkan dan membersihkan asam untuk menjaga integritas enamel dengan mencegah terjadinya demineralisasi enamel.

Gambaran Klinis Gingiva Normal


Gambaran klinis gingiva normal perlu diketahui sebagai dasar untuk mengetahui perubahan patologis pada gingiva. Gambaran klinis gingiva normal tidak mempunyai patokan yang jelas karena gambaran klinis gingiva normal antara setiap individu berbeda.

Gambaran klinis gingiva normal antara lain adalah berwarna merah jambu (coral pink) dan berkonsistensi kenyal. Gingiva cekat yang normal mempunyai permukaan yang berbintik-bintik seperti kulit jeruk. Selain itu, gingiva normal punya besar dan kontur gingiva yang bervariasi.

Saliva merupakan cairan yang disekreksikan ke dalam rongga mulut oleh tiga pasang kelenjar liur mayor (parotis, submandibula, dan sublingual), kelenjar liur minor, serta cairan dari sulkus gingiva. Saliva memiliki aksi proteksi terhadap karies gigi dan karakteristik ini bergantung terutama pada aksi pembersihan mekanis dan netralisasi asam plak melalui sistem dapar.

Kondisi saliva di dalam rongga mulut bisa berada dalam keadaan tidak terstimulasi atau dalam keadaan terstimulasi. Saliva tidak terstimulasi adalah saliva yang disekresikan ke dalam rongga mulut tanpa adanya rangsang dari luar seperti rasa atau aktivitas mengunyah. Sedangkan saliva terstimulasi adalah saliva yang disekresikan sebagai respon terhadap rangsang dari luar.8
Jumlah total saliva yang disekskresikan mencapai ± 500-1200 ml/hari. Setengah dari jumlah tersebut dihasilkan pada keadaan istirahat dan sisanya dihasilkan di bawah pengaruh rangsang.

Komposisi Air Liur


Kandungan air di dalam saliva mencapai 99%, sementara sisanya berupa komponen yang tersusun atas bahan organik, bahan anorganik, dan molekul- molekul makro, termasuk bahan-bahan antimikroba. Komponen-komponen tersebut berfungsi untuk menjaga integritas jaringan di dalam rongga mulut. Komposisi dari masing-masing komponen penyusun saliva berbeda-beda pada setiap individu, bergantung kepada jenis kelenjar yang menghasilkannya; macam, lama, dan jenis rangsang; kecepatan aliran saliva, makanan, ritme biologi, obat- obatan, dan beberapa penyakit tertentu yang dapat mempengaruhi saliva.

Bahan organik yang menyusun saliva terdiri dari urea, glukosa bebas, asam amino bebas, asam lemak, dan laktat. Sementara itu bahan anorganik saliva
terdiri dari sejumlah besar kalsium (Ca2+), klorida (Cl-), bikarbonat (HCO -), natrium (Na+), kalium (K+), amonium (NH4+), dan asam fosfat (H2PO4- dan HPO42-); serta sedikit magnesium (Mg2+), sulfat, iodida, dan fluoride (F-). Sedangkan makromolekul penyusun saliva terdiri dari protein, gula glikoprotein, lemak (kolesterol, trigliserida, lesitin, dan fosfolipid), amilase, lisozim, peroksidase, dan imunoglobulin (IgA, IgG, dan IgM).

Fungsi Air Liur


Saliva di dalam rongga mulut berfungsi tidak hanya membantu dalam pengunyahan, tetapi juga memiliki aksi pelindung, yaitu menjaga kesehatan gigi dan mulut.8 Saliva melindungi jaringan di dalam rongga mulut melalui pembersihan mekanis, melapisi setiap jaringan di dalam rongga mulut, pengaruh dapar, dan aktivitas antibakteri.

Tabel Fungsi saliva.

No. Fungsi Komponen Aktif Keterangan
1. Cairan lubrikasi Glikoprotein dan air Saliva menyelubungi mukosa dan membantu melindunginya dari iritasi mekanis, suhu, dan kimia. Saliva dapat membantu dalam pengunyahan dan pengucapan.
2. Penyimpan ion Saliva merupakan larutan berisi ion-ion yang dapat memfasilitasi remineralisasi gigi.
3. Kemampuan dapar Fosfat dan bikarbonat Saliva dapat membantu menetralkan pH plak setelah makan sehingga mengurangi waktu terjadinya demineralisasi gigi.
4. Pembersih (cleansing) Saliva berfungsi membersihkan makanan di dalam rongga mulut sehingga dapat mengurangi akumulasi plak serta membantu dalam penelanan.
5. Aksi antimikroba Imunoglobulin A dan lisozim Saliva memiliki mekanisme antimikroba spesifik (misalnya: sIgA) dan nonspesifik (misalnya: lisozim, laktoferin, dll) yang dapat mambantu mengontrol mikroflora oral.
6. Aglutinasi Saliva dapat mengagregasi dan mempercepat pembersihan sel-sel bakteri di dalam rongga mulut.
7. Pembentuk pelikel Glikoprotein Protein saliva dapat membentuk penahan difusi protektif pada gigi.
8. Pencernaan (digestion) Amilase Melalui enzim amilase yang terkandung di dalam saliva, sisa-sisa makanan berkarbohidrat (starchy food debris) pada gigi dapat dihancurkan.
9. Rasa Air dan gustin Saliva bertindak sebagai pelarut yang memungkinkan interaksi bahan makanan dengan taste buds pada lidah untuk memfasilitasi rasa.
10. Keseimbangan air Pada saat dehidrasi, aliran saliva akan berkurang sehingga menyebabkan keadaan rongga mulut menjadi kering. Pada kondisi ini, informasi dari osmoreseptor akan diterjemahkan menjadi penurunan produksi urin dan cairan sehingga menyebabkan keinginan untuk minum bertambah.

pH Saliva


Dalam kondisi normal, pH saliva tidak terstimulasi memiliki nilai rata-rata 6,7 dalam rentang berada di antara 6,4 sampai dengan 6,9. Konsentrasi bikarbonat pada saliva yang tidak terstimulasi tidak begitu besar, paling tinggi hanya mencapai 50% dari kapasitas dapar total; sedangkan konsentrasi bikarbonat pada saliva terstimulasi cukup besar, mencapai 85% dari keseluruhan kapasitas dapar saliva.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi nilai pH saliva antara lain:

  1. Diet (makanan)
    Adanya material eksogen berupa karbohidrat yang dapat difermentasi dengan cepat seperti gula dapat menurunkan kapasitas dapar saliva sehingga metabolisme bakteri dalam menghasilkan asam akan meningkat. Sedangkan makanan yang kaya akan protein memiliki efek yang dapat meningkatkan kapasitas dapar saliva melalui pengeluaran zat-zat basa seperti amonia.

  2. Penurunan kapasitas dapar saliva
    Penurunan kapasitas dapar dapat terjadi pada orang tua, penderita penyakit sistemik, dan pengguna obat-obatan tertentu. Selain itu, kapasitas dapar dan sekresi saliva pada wanita biasanya lebih rendah dibandingkan pada pria.

  3. Ritme biologis (irama siang-malam)
    Kapasitas dapar dan pH saliva yang tidak terstimulasi memiliki nilai terendah pada saat tidur dan nilai tertinggi saat segera setelah bangun, kemudian nilai ini bervariasi setelahnya. Sedangkan pada kapasitas dapar dan pH saliva yang terstimulasi, ¼ jam setelah stimulasi keduanya memiliki nilai paling tinggi, dan dalam kurun waktu 30-60 menit kemudian akan kembali turun.

1 Like

Saliva

Saliva merupakan cairan yang berasal dari kelenjar saliva mayor dan kelenjar saliva minor dan ditambah dengan konstituen yang bukan berasal dari kelenjar saliva yaitu cairan krevikuler, serum, sel darah merah, bakteri dan produknya, sel-sel epitel yang rusak, virus dan jamur, komponen sel yang rusak sisa makanan, dan cairan bronkus.
Saliva diproduksi oleh tiga pasang kelenjar saliva besar, yaitu kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis dan beberapa kelenjar saliva kecil. Volume saliva yang dihasilkan tiap hari berkisar antara 1-1,5 L dengan komposisi yang bervariasi berupa unsur-unsur organic dan anorganik.

Komposisi Saliva

Saliva terdiri dari 94%-99,5% air, bahan organik dan anorganik. Komponen saliva antara lain Na+, K+, Ca2+, Mg2+, Cl-, SO42-, H+, PO4, dan HPO42- . Sedangkan komponen organik utama adalah protein. Selain itu ditemukan juga lipida, glukosa, asam amino, ureum, amoniak, dan vitamin. Faktor protektif alami dari saliva yaitu: ion Ca2+ dan HPO42-, pelikel, buffer dengan karbonat, laju aliran saliva, dan ion fluoride dapat membantu proses remineralisasi.

Saliva juga mengandung imunoglobulin sekretori (Ig A) yaitu sejenis imunoglobulin yang juga terdapat dalam air mata dan kolostrum. Ig A mempunyai kemampuan menetralisasi virus dan dapat bertindak sebagai suatu antibodi terhadap antigen bakteri dan antigen makanan. Tetapi komposisi saliva juga sangat bergantung pada beberapa faktor, antara lain:

  • irama siang malam,
  • sifat dan kekuatan rangsang,
  • keadaan psikis, diet, hormon, ritme biologis, latihan, penyakit, dan obat-obatan.

Fungsi Saliva

Saliva berperan untuk membasahi jaringan mulut dan berfungsi sebagai pelumas untuk menjaga mukosa dari iritasi mekanis, termis, dan kimia. Selain itu, saliva juga berfungsi membantu pengunyahan, berbicara, menelan, dan membersihkan makanan, membantu rasa oleh aktifitas ion pelarut dan protein misalnya gustin. Salah satu peran penting saliva adalah menjaga kesehatan mulut dan proses terjadinya karies. Saliva dapat mengkompensasi asam dari dental plak, asam dari makanan dan minuman asam misalnya wine atau cola , membantu remineralisasi oleh ion kalsium, fosforus, dan flouride, mengontrol mikroflora mulut melalui imunologi (Ig A), enzimatik, peptida, dan mediator kimia.

Selain bertugas untuk mempertahankan integritas jaringan, saliva juga memiliki banyak fungsi berhubungan dengan saluran pencernaan atas. Jadi saliva membantu menguraikan bahan perasa makanan, membersihkan dan mengalirkan debris dan bakteri, membilas mulut, membantu mengunyah dan menelan. Jadi apabila terjadi gangguan pada fungsi kelenjar saliva, pasti akan mengganggu fungsi oral dan kesehatan.

Kecepatan Aliran Saliva

Kecepatan aliran saliva merupakan faktor penting terhadap terjadinya karies, karena dapat mempengaruhi pH dan jumlah konstituen yang ada dalam saliva, yang kemudian akan mempengaruhi kapasitas dapar saliva.

Kecepatan aliran saliva adalah kemampuan saliva mengalir dalam kurun waktu tertentu dihitung dalam menit. Kecepatan aliran saliva sangat penting, karena dapat menjaga dan melindungi rongga mulut dalam keadaan fisiologis. Kecepatan sekresi saliva akan langsung mempengaruhi derajat keasaman dalam mulut sehingga dapat mempengaruhi demineralisasi gigi.

Kecepatan aliran saliva dapat sangat bervariasi pada setiap orang, namun umumnya pada orang dewasa dalam keadaan istirahat kecepatan sekresi saliva rata-rata adalah 0,3 – 0,5mL per menit, sedangkan kecepatan sekresi saliva yang dirangsang adalah 1-1,5mL per menit.17 Jumlah sekresi saliva per hari tanpa dirangsang adalah sekitar 300mL.15 Apabila kecepatan aliran saliva seseorang kurang dari 0,1mL per menit dan saat dirangsang hanya 0,5 mL per menit pada pria dan 0,7mL per menit pada wanita, maka bisa dicurigai sebagai hyposalivasi.

Kecepatan aliran saliva bergantung pada beberapa faktor yaitu:

  • macam rangsang,
  • intensitas, dan lamanya rangsang,
  • irama sirkadian,
  • umur,
  • jenis kelamin,
  • penyakit sistemik
  • ukuran kelenjar saliva,
  • makanan dan obat-obatan

Kapasitas Dapar Saliva

Salah satu fungsi saliva yang penting adalah mempertahankan pH agar tetap stabil di mulut. Kemampuan saliva untuk menjaga pH ini disebut kapasitas dapar. Saliva merupakan buffer yang efektif, karena memiliki sifat basa sehingga dapat melindungi jaringan mulut terhadap asam dari makanan atau plak.

Kapasitas dapar saliva adalah kemampuan saliva untuk mempertahankan keseimbangan asam dan basa dalam rongga mulut. Dengan demikian penambahan asam atau basa diharapkan tidak mengubah konsentrasi H+ dan OH- dalam larutan, sehingga pH selalu konstan. Derajat keasaman saliva sangat penting karena pH saliva akan mempengaruhi proses demineralisasi dan remineralisasi jaringan keras gigi. Bikarbonat, urea, dan protein merupakan kandungan saliva yang berperan dalam fungsi buffer. Bikarbonat lebih besar peranannya daripada fosfat dan protein saliva. Konsentrasi bikarbonat bervariasi berdasarkan kondisi fisiologi sekitar 2- 5mM pada saliva tidak terstimulasi dan bisa meningkat seperti pada kadar di plasma, sekitar 28mM pada saliva yang terstimulasi.

Kapasitas dapar saliva dapat memperbaiki perubahan pH akibat perubahan konsentrasi asam, misalnya karena fermentasi gula dan bergantung pada konsentrasi disosiasi asam atau basa yang melemah dan reaksinya dengan proton ion hidroksil yang ada. Peran saliva dalam memperbaiki keadaan ini adalah dengan kapasitas daparnya dan kerja unsur lainnya, misalnya flour dan protein saliva. Jadi pasien yang mempunyai kapasitas dapar yang lebih tinggi mempunyai kecenderungan memiliki tingkat resiko karies lebih rendah.

Kecepatan sekresi sesuai dengan kapasitas dapar, yang berarti peningkatan kecepatan sekresi akan diikuti dengan peningkatan kapasitas dapar, hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah bikarbonat bersamaan dengan naiknya kecepatan sekresi. Kapasitas dapar akan mencapai puncaknya pada pH 6.

Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi kapasitas dapar saliva antara lain:
pH saliva, kecepatan sekresi, irama sirkardian, diet, umur, penyakit tertentu, obat- obatan, jenis kelamin, dan keberadaan jamur. Kapasitas dapar menjadi tinggi segera setelah bangun dan kemudian cepat turun. Begitu juga seperempat jam setelah makan dan turun setelah 30-60 menit.

pH Saliva

Derajat keasaman suatu larutan dinyatakan dengan pH. pH dipakai untuk menunjukkan konsentrasi ion-ion hydrogen dalam sel serta cairan tubuh. Sorensen mendefinisikan pH sebagai log negatif dari konsentrasi ion hidrogen :
pH = - log [H+].

Suatu larutan dikatakan asam jika pH < 7 sedangkan dikatakan basa jika pH > 7. pH saliva yang terstimulasi dan terstimulasi biasanya akan berbeda hingga dua unit dan biasanya berkisar antara pH dari saliva ditentukan dengan adanya konsentrasi bikarbonat . Jadi pH akan bervariasi bergantung konsentrasi bikarbonat yang ada. Hal ini digambarkan menurut persamaan dari Henderson-Hasselbach seperti berikut :

HCO - + H+ H CO pH = pK + log [HCO3-] / [H2CO3]

Konsentrasi ion bikarbonat pada saliva saat istirahat adalah 1 mmol/L dan akan meningkat sampai 50 mmol/L jika distimulasi. Beberapa komponen saliva juga berkontribusi terhadap kemampuan saliva untuk menetralkan asam, khususnya asam yang diproduksi dari dental plak. Fosfat dan protein dalam saliva berkontribusi dalam jumlah kecil dalam kapasitas dapar dari saliva. Peran mereka adalah membantu meningkatkan produksi amin yang dapat memberikan efek basa karena amin dapat memecah protein pada saliva dan bakteri.

Pada saat istirahat pH saliva biasanya agak asam, bervariasi dari 6,4-6,9. Konsentrasi bikarbonat pada saliva saat istirahat rendah sehingga sumbangan bikarbonat untuk proses buffer hanya 50 sedangkan jika distimulasi bikarbonat dapat menyumbang hingga 85 . Pada saliva saat istirahat perbandingan antara bikarbonat dengan H2CO3 juga akan turun. Hal ini jelas terlihat pada kelenjar parotid.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi perubahan derajat keasaman dan kapasitas dapar dari saliva, yaitu :

  • Irama siang dan malam (irama sirkadian)
    pH saliva dan kapasitas daparnya akan tinggi segera setelah bangun (keadaan istirahat), tetapi kemudian akan cepat turun. Pada saat setelah makan juga akan tinggi, tetapi dalam waktu 30-60 menit akan turun lagi. Selain itu, sampai malam hari akan naik, lalu kemudian akan turun lagi.

  • Diet
    Diet berpengaruh dalam kapasitas dapar saliva. Diet yang kaya karbohidrat akan menurunkan kapasitas dapar karena menaikkan metabolisme produksi asam oleh bakteri-bakteri mulut, sedangkan diet yang kaya sayur-sayuran akan cenderung menaikkan kapasitas dapar.

  • Perangsangan kecepatan sekresi
    Hal ini berkaitan dengan ion bikarbonat yang akan meningkat jika terjadi peningkatan dari laju alir saliva sehingga kapasitas dapar dari saliva juga akan meningkat.

  • Jenis kelamin
    Berdasarkan penelitian yang dilakukan, laju aliran saliva perempuan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan pria. Hal ini disebabkan karena kelenjar saliva yang dimiliki oleh perempuan lebih kecil jika dibandingkan dengan pria.

  • Status psikologis
    Pada keadaan-keadaan tertekan akan terjadi penurunan dari kecepatan sekresi saliva dan dengan demikian hal ini akan mempengaruhi pH dari saliva tersebut yang akan turun.

  • Usia
    Secara umum, penurunan laju aliran saliva diakibatkan oleh faktor usia. Namun, dalam penelitian sebelumnya, membuktikan bahwa laju aliran saliva parotid tidak menurun seiring bertambahnya usia. Akan tetapi, ada beberapa bukti bahwa terjadi atrofi kelenjar submandibula seiring bertambahnya usia yang mengakibatkan penurunan sekresi saliva. Oleh karena itu, penurunan laju aliran saliva akibat penuaan sangat kecil jika dibandingkan dengan penurunan akibat penyakit atau medikasi tertentu.

  • Perubahan Hormonal
    Pada saat wanita menopause, status hormon-hormon kelamin akan berubah. Hal ini membuat sekresi saliva akan menurun sehingga laju aliran saliva juga akan menurun dan membuat pH lebih rendah.

  • Penyakit sistemik
    Salah satu penyakit sistemik yang mempengaruhi produksi dari saliva adalah diabetes mellitus. Pada penderita diabetes mellitus, kelenjar saliva kurang dapat menerima stimulus sehingga mengurangi kemampuan kelenjar saliva untuk mensekresikan saliva. Akibatnya pH saliva akan turun akibat menurunnya laju alir saliva.

  • Radioterapi
    Perawatan radioterapi dapat mengakibatkan rusaknya sel-sel sekresi kelenjar ludah sehingga gejala mulut yang kering dapat terjadi. Akibatnya laju alir saliva akan menurun sehingga pH saliva juga akan menurun.

  • Medikasi tertentu
    Ada beberapa obat-obatan yang dapat menyebabkan kekeringan pada rongga mulut. Obat-obatan tersebut antara lain antikolinergik, anti-adrenergik, dan beberapa obat-obatan lain. Kemoterapi dan obat- obatan sitotoksik yang berfungsi mengatasi malignansi biasanya juga menyebabkan gejala mulut kering yang akut.

3 Likes